
Raisa langsung menarik Willmar ke dalam pelukannya begitu pria itu masuk ke dalam kamar hotel. Ternyata saat tiba di kamar dengan fasilitas super mewah itu, Raisa yang lebih dulu sampai.
"Ah, Sayang. Kamu bikin aku kaget aja deh."
"Kangen Mas," ujar Raisa dengan gayanya yang manja.
"Baru juga nggak ketemu berapa jam, masa udah kangen."
"Sumpah Mas." melingkarkan tangannya di punggung Willmar.
"Kenapa kamu ngajakin aku ketemuan di hotel? kita udah mirip pasangan selingkuh lho." pria itu terkikik mendengar ucapannya sendiri.
"Ya mau senang-senang lah Mas, emangnya biasa kalau orang ke hotel itu mau apa?"
"Ya tapi kita juga masih bisa melakukannya di rumah."
"No! Di sini lebih aman Mas. Aku nggak mau ya kita saingan desahan sama Kak Cinta dan suaminya," balas Raisa.
Willmar tergelak. "Kamu beneran mau melakukannya di sini?"
"Iya lah, aku udah bayar mahal juga."
"Ya udah aku mandi dulu. Nggak enak mau makan dalam keadaan kotor begini," goda Willmar. Pria itu gegas menuju bilik kecil di sana untuk membersihkan diri.
"Jangan lama-lama ya Mas," ucap Raisa setengah berteriak.
"Oke Sayang. Sambil aku mandi kamu bisa tolong pesan makanan buat makan malam. Aku nggak mau persediaan tenagaku habis pas kita tempur nanti."
Raisa tertawa renyah. Ia meraih gagang telepon dan mulai menghubungi pihak pengelola restoran untuk meminta diantar makanan. Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Raisa pun memutuskan untuk bersiap-siap. Dia harus tampil maksimal malam ini.
Tak lama berselang, bel pintu pun berbunyi. Raisa gegas membuka pintu dan membiarkan petugas hotel membawa meja dorong berisi makanan itu untuk masuk.
"Terima kasih Bang," ucapnya seraya memberikan selembar uang kertas pada petugas itu.
"Terima kasih kembali Nona. Permisi," ucapnya pamit dan berlalu dari sana.
Raisa duduk anggun sambil melipat kakinya di kursi, meraih ponsel suaminya lalu menonaktifkan benda itu karena tak ingin malam indah yang akan dilalui mereka terganggu.
"Sayang."
Willmar berjalan mendekati istrinya, mengecup pipi wanita itu dan bergabung dengan duduk di sampingnya.
"Pakai bajumu dulu Mas, udah aku siapin di atas kasur." Raisa menunjuk setumpuk pakaian yang dia letakkan di pembaringan.
"Buat apa? ujung-ujungnya kamu lepas juga," jawab Willmar dengan santainya.
"Tapi kan kita musti makan dulu sebelum tempur. Benar begitu kan?"
"Bagaimana kalau aku ingin mencicipi hidangan utamanya terlebih dulu?"
"Oh, tentu saja." Raisa mencondongkan tubuhnya agar bisa meraih piring di atas meja dorong.
Belum sempat tangan wanita itu menyentuh piring, Willmar telah lebih dulu menahan gerakannya. Pria itu menarik Raisa ke dalam dekapannya, lalu menaruh dagunya di ceruk leher Raisa, menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam.
__ADS_1
"Katanya mau langsung makan." Raisa sedikit menyingkirkan kepala Willmar dari lehernya karena dia mulai kegelian.
"Iya. Aku mau makan hidangan utamanya dulu sebelum mencicipi yang lain," bisik Willmar.
"Ya udah aku ambilkan dulu Mas."
"Nggak perlu."
Jawaban Willmar membuat kedua alis Raisa saling bertautan. Bagaimana bisa pria itu makan jika dia dilarang untuk mengambil makanannya?
"Hidangan utamanya adalah ini yang aku maksud."
"Argh! Mas Willmar!"
Raisa hampir terjatuh karena sofa sempit itu tak sanggup menampung tubuhnya dan juga tubuh Willmar saat dia meronta. Willmar dengan cepat menarik tali baju tidur yang dipakai istrinya dan langsung melahap puncak dada Raisa, tentu saja membuat wanita itu kelabakan karena tak memiliki persiapan sebelumnya.
"Eumh ... pelan-pelan aja Mas, aku nggak ke mana-mana. Kita bisa melakukannya sebanyak yang kamu mau," ujar Raisa saat merasakan Willmar begitu liar menikmati tubuhnya.
Tak mengindahkan ucapan istrinya, Willmar terus melanjutkan atraksinya. Ia menggendong tubuh mungil Raisa dan menindihnya. Tak Willmar biarkan Raisa mengambil jeda, ia langsung meraup bibir Raisa dan menyesapnya tanpa ampun. Raisa dibuat tak berkutik, suaminya benar-benar seperti singa lapar yang menemukan makanan setelah berpuasa untuk waktu yang lama.
Erangan demi erangan yang terdengar membuat merinding siapa saja yang mendengarnya. Willmar akan memastikan istrinya menerima kenikmatan yang terus dia berikan hingga wanita itu pasrah di bawah kungkungannya. Malam ini, Raisa akan menjadi miliknya sepenuhnya mengingat tak ada Jayden di antara mereka.
Keesokan paginya.
Raisa malas sekali untuk bangun. Badannya serasa remuk dan dia tak memiliki kekuatan bahkan untuk sekedar mengubah posisinya.
"Mas," panggilnya, membangunkan pria yang saat ini memenjarakannya dalam pelukan. "Mas Willmar," ulangnya.
"Hm. Apa Sayang? mau lagi?"
"Baiklah, sepuluh menit lagi."
"Sekarang," rengek Raisa.
"Nggak sabaran banget istriku yang cantik ini."
"Mas," desis Raisa.
"Iya, oke Sayang."
Willmar gegas menjalankan titah sang ratu sebelum wanita itu marah padanya.
.
.
"Hai, anak Mama yang ganteng. Kamu udah makan siang belum Nak? maafin Mama ya, Mama kelamaan ya perginya?"
Seperti biasa, Raisa akan sangat antusias jika bertemu dengan Jayden. Wanita itu sempat mengomel karena Willmar kembali menjebaknya hingga berakhir di ranjang untuk melayani pria itu hingga dua kali putaran lagi, membuat mereka pulang saat matahari berada di puncak langit.
"Maafin Papa juga Sayang." dengan cepat Willmar mengambil Jayden dari pangkuan saudara kembarnya.
"Ehm, yang udah jalan-jalan ke surga semalaman, akhirnya bisa pulang juga. Untung nggak nyasar," sindir William.
__ADS_1
"Cie ... Yang udah gulat di kasur. Pasti sensasinya lebih seru karena kebut-kebutan biar nggak ketauan sama Jayden." Willmar membalas serangan kakak kembarnya.
Cinta tersedak ludahnya sendiri. Wanita itu terus terbatuk mendengar kekonyolan suami dan iparnya.
"Tandanya apa yang aku bilang ini nyata, ya kan Kak?" Willmar ganti menggoda kakak iparnya.
"Ya ampun Mas, udah deh nggak usah godain Kak Cinta lagi, kasihan dia," lerai Raisa.
Mereka berempat belum pernah berinteraksi seakrab ini sebelumnya. Suasana ruang tengah itu menjadi ramai akibat perselisihan pria kembar yang masih saling serang dengan menyindir.
"Tuh kan, ganteng jadi nangis? Udah sini? mau aku kasih makan dulu," omel Raisa, membopong Jayden.
"Jayden udah aku kasih makan Rai, mungkin dia nangis karena ngantuk mau tidur," beritahu Cinta.
"Biarin dia tidur di kamarku ya Kak," pinta Raisa.
"Oke."
"Nah, sekarang kalian bisa bebas lanjut acara yang semalam. Puas-puasin sana Kak mumpung Jayden sama aku. Aku janji nggak akan gangguin kalian kok." Willmar masih melancarkan aksinya menggoda kakaknya.
Si bungsu itu berlari terbirit menghindari serangan William yang terus melemparinya dengan bantal kecil.
"Mas, udah Mas. Ih, kayak anak kecil deh." Cinta menahan bantal yang hendak William lemparkan pada Willmar lagi.
"Dia duluan yang mulai Yang."
"Terus apa salahnya? apa yang dibilang Willmar ada benarnya juga kok."
"Kok kamu belain dia Yang? ih, nyebelin."
"Mas ... Mas, gitu doang ngambek."
"Ya lagian kamu lebih bela kembaranku dari pada suami kamu ini."
"Ish, siapa yang bela dia sih? Malu sama umur, malu sama Jayden. Apa yang dia pikirkan saat melihat tingkah kekanak-kanakan ayahnya?"
"Ih, nyebelin," ketus William.
Cinta menghela napas panjang melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya. Ia pun bangkit dari sana untuk menyusul William yang telah lebih dulu masuk ke kamar. Tanpa Cinta tahu jika sebenarnya William hanya sedang berakting saja. Faktanya, pria itu langsung menggarap Cinta begitu wanita itu menyusulnya ke kamar.
Matahari mulai turun, udara sudah jauh lebih sejuk dibandingkan beberapa jam yang lalu. Cinta dan Raisa tengah asyik bermain dengan Jayden, sedangkan para pria sedang terlibat obrolan serius tentang pekerjaan.
Jayden terus tertawa melihat Raisa menggodanya. Sesekali wanita itu mencubit gemas pipi Jayden, menggelitiki perutnya hingga bayi itu tak henti tertawa.
"Kamu senang ya Mama udah pulang? Kamu pasti kangen kan sama Mama?" pipi gembul Jayden pun tak lolos dari kecupan Raisa. "Baiklah, nanti malam kita bisa tidur bersama lagi, dengan papa juga," imbuhnya.
"Boleh kan Bunda?" Raisa menanyai kakak iparnya.
"Tentu saja boleh," jawab Cinta.
"Tidak! aku tidak akan mengizinkan Jayden tidur bersama kalian."
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, mereka dibuat terkejut mendengar ucapan yang lebih mirip dengan peringatan keras itu.
__ADS_1
Bersambung ....