
William menundukkan tubuhnya agar memudahkan sang istri membuat simpul dasi di kerah kemejanya. Sesekali dengan jahilnya dia meniup mata Cinta, tak peduli sesering apapun Cinta mencubitnya, pria itu tak pernah kapok.
"Mas," panggil Cinta.
"Apa? mau ikut ke kantor?"
"Bukan itu."
"Terus apa?"
"Nanti jam tiga sore aku ada kelas senam hamil."
"Kalau misalnya aku nggak bisa jemput, aku minta tolong Pak Dadang buat antar kamu ya."
"Itu dia masalahnya Mas, khusus senam hamil sore ini para istri wajib bawa suaminya," beritahu Cinta.
"Begitu?"
"Iya, aku sih nggak maksa kalau semisalnya kamu nggak bisa hadir. Aku tahu kamu sib ..."
"Aku pasti datang," sambar William, memotong ucapan istrinya.
"Nggak usah kalau misalnya kamu sibuk."
"Siapa bilang? kerja emang penting, tapi kamu jauh lebih penting. Jam berapa kegiatannya dimulai?"
"Jam tiga."
"Oke. aku pulang jam dua nanti ya."
Cinta tak lagi protes saat William mengecup keningnya. Sebelum hubungan keduanya membaik, Cinta selalu menjaga jarak dengan pria itu. Disentuh pun Cinta seolah enggan, tapi melihat ketulusan William padanya lambat laun membuat Cinta luluh. Dia mulai merindukan hal kecil seperti saat William mengecup keningnya, mengiriminya pesan, atau hal kecil seperti memberikan bangku untuknya duduk.
"Pagi ibu hamil? Sini duduk dekat Mama," kata Hanum.
"Pagi Mama, Pa, Opa, Oma." Cinta menyapa semua orang yang ada di sana.
"Pagi Sayang." jawab mereka serempak.
"Lho, Rai mana Ma?"
"Semalam dia nggak pulang Sayang. Kemarin pulang kerja dia sama suaminya mampir ke rumah orang tuanya, tapi katanya disuruh nginap sekalian," jelas Hanum.
"Ooh."
Cinta menyuapkan potongan melon ke dalam mulutnya. Selama tinggal di rumah Sultan memang dia tak pernah merasa kesepian dan kekurangan, tapi ada satu hal yang selalu membuatnya rindu pada mendiang ibunya. Meskipun Hanum sangat menyayanginya, tetap saja Cinta masih belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Tania. Impian wanita itu untuk memiliki cucu harus pupus sebelum terwujud karena Tuhan jauh lebih menyayanginya.
"Aku berangkat ya, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku." William menaruh lap makannya di meja.
"Iya Mas, hati-hati."
"Nanti jam dua Mas pulang."
Cinta mengangguk. William tak mengizinkan istrinya mengantar sampai ke depan.
.
.
__ADS_1
Setumpuk pekerjaan juga padatnya jadwal William hari ini sungguh menyita tenaganya. Sedari tadi dia hanya mengambil jeda sebentar untuk beristirahat. Kepalanya tak bisa fokus karena terus terpikir akan janjinya dengan Cinta tadi pagi.
William bahkan sampai melewatkan jam makan siangnya demi bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum ia pulang.
"Telat nggak ya sampai rumah," gumamnya pelan sembari membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Diliriknya arloji yang membelit pergelangan tangannya, jam dua lebih lima belas menit. William terlambat lima belas menit dari yang dia janjikan. Seharusnya dia sudah dalam perjalanan sekarang.
Sementara itu di rumah Cinta mulai tak sabar menunggu kepulangan William. Teman sesama ibu hamil di kelas senam hampir semuanya berasal dari istri pengusaha. Cinta tahu pasti banyak para suami yang tetap mengusahakan datang demi menemani istrinya.
"Sayang," panggil William.
"Aku pikir kamu nggak jadi pulang Mas," kata Cinta.
"Yang lain pada ke mana? kok rumah sepi?"
"Mama lagi ada acara sama teman-temannya, opa sama oma mengunjungi panti asuhan."
"Ya ampun, kamu ditinggal sendirian?"
"Ya enggaklah, kan ada Mbok Darmi sama yang lain juga."
"Mas ganti baju dulu ya, kamu tunggu sebentar."
"Oke."
William mempersingkat acara mengganti baju, dan langsung menekan pedal mobilnya menuju tempat kelas senam hamil Cinta. William meminta sang istri untuk menyuapinya karena perutnya terasa perih.
"Lagian jam istirahat bukannya makan," omel Cinta.
"Nggak sempat Sayang, ini aja udah aku usahakan untuk kebut ternyata telat juga kan?"
"Ya enggaklah. Masih ada banyak waktu sebelum kelas dimulai. Pelan-pelan makannya."
Cinta menggeleng pelan melihat kelakuan suaminya. Mobil terus melaju, Cinta berhasil menyuapi suaminya sampai makanan dalam box itu habis tak tersisa.
Mereka pun turun dan memasuki bangunan berlantai dua tempat senam hamil itu dilaksanakan.
William begitu antusias mendampingi istrinya mengikuti senam yang ada beberapa gerakan yang memang membutuhkan peran suami. Lepas acara senam itu, masih ada satu acara lagi, yaitu berenang.
Dalam beberapa kolam terpisah, sedikitnya empat pasang suami istri diharuskan berenang. Sang suami sebagai pendamping. Acara ditutup dengan coffe break hingga pukul lima sore barulah acara itu benar-benar berakhir.
William membukakan pintu untuk istrinya masuk ke mobil. Kendaraan roda empat itu melaju seiring dengan bumi yang mulai gelap.
"Huh, capek banget," keluh Cinta sembari memijit kakinya.
"Tapi seru, nanti aku pijitin ya." William mengusap puncak kepala Cinta. "Mau mampir makan dulu?"
Cinta terdiam, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada William, tapi entah mengapa dia merasa sangat malu.
"Sayang?"
"Hah? Apa Mas?" lamunan Cinta buyar.
"Mas tanya, mau mampir buat makan malam enggak? atau mau makan di rumah sekalian?"
Cinta mengigit bibir bawahnya, membuat hasrat William meronta. Pria itu tak percaya hanya dengan gerakan sepele yang dilakukan Cinta, mampu memantik gairah kelelakiannya.
'Otak mesuum.' William memaki dirinya.
__ADS_1
"Mas ..."
"Apa Sayang?"
"kita ... aku ... maksudku ..." ucap Cinta tersendat.
"Kamu mau ngomong apa? bilang aja sama aku, nggak usah ragu gitu."
"Itu ..."
"Itu apa?" tanya William, tak sabar.
"Sebenarnya aku ... aku pengin ..."
"Ngomong yang jelas Cinta, mana aku ngerti kalau kamu ngomong sepotong-sepotong begitu," desak William.
"Mas aku pengen banget bulan madu sebelum aku melahirkan," cetus Cinta. Setelah mengatakannya, gadis itu menunduk malu.
"Mas kira apa Sayang. Boleh kok, mau bukan madu ke mana? kita berangkat besok ya?"
"Hah? besok?" Cinta mengerjap tak percaya.
"Iya. Perkiraan kamu melahirkan aja udah tinggal dua Minggu lagi, kalau semakin diundur yang ada nggak kesampaian nanti."
"Beneran nggak apa-apa Mas? Aku takut ngrepotin kamu."
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, aku hukum." William mengancam istrinya. "Jadi mau bulan madu ke mana?"
"Di hotel," cetus Cinta.
"Apa? di hotel?"
"Kenapa emangnya Mas?"
"Mas pikir sebaiknya kita menginap di villa di puncak, masa di hotel? bulan madu di hotel, begitu?" William menggeleng tak percaya.
"Aku kan udah hamil besar, nggak mungkin dibolehin bepergian jauh sama keluarga kamu Mas."
"Oh ya ya. Ya udah, mau di hotel mana?"
"Yang deket aja."
William terkekeh geli. "Kenapa kamu punya keinginan bulan madu di hotel? kenapa juga nggak ngomong dari kemarin-kemarin Sayang?"
"Nggak apa-apa, aku cuma ingin merasakan aja bagaimana rasanya bulan madu di hotel." suara Cinta berkabut sendu.
Pria itu melirik Cinta, teringat kejadian setelah mereka menikah untuk pertama kalinya, dulu.
"Baiklah, kita langsung ke hotel malam ini juga," putus William.
"Serius Mas?"
"Iya, tapi nggak gratis lho. Bayarannya mahal," goda William.
"Oke. Mau berapa ronde?" tantang Cinta.
William terbelalak, ia menatap istrinya tanpa berkedip. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan wanita itu. Seandainya saja dia sedang tidak mengemudi saat ini, mungkin William sudah menyambar bibir Cinta dan ********** dengan rakus. Dalam hati William terus bersorak gembira, setelah sekian lama akhirnya kegiatan ranjangnya aman sebelum Cinta melahirkan.
__ADS_1
Senyum di bibir pria itu terus terkembang, kepalanya mulai sibuk memikirkan gaya apa yang akan dia coba malam ini. Tentu posisi yang tetap membuat istrinya merasa nyaman dan bayinya tak terganggu.
Bersambung ....