
Sultan berlari menyusul istrinya dan menyerobot masuk ke dalam lift sebelum akhirnya pintu ruang angkut tersebut tertutup sempurna. Dia mengatur ritme nafasnya yang tak beraturan, di tatapnya wajah sembab Hanum. Sultan membuka kedua tangannya kemudian mendekap erat tubuh istrinya, untunglah hanya ada mereka berdua di sana. Pun jikalau ada orang, dia tidak akan peduli, dia hanya ingin memeluk Hanum saat ini.
Hanum meronta, berusaha melepaskan diri dari kungkungan suaminya meskipun usahanya sia-sia, tenaganya kalau jauh ketimbang Sultan. Tangisnya sudah tak terbendung lagi, bulir bening yang berusaha dia tahan kini luruh seketika bagai manik-manik yang putus talinya.
"Pukul aku, hukum aku sepuasmu! lakukan apapun yang bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik," ucap Sultan.
"Pengecut kamu Mas!" Hanum memukuli dada suaminya.
"Ya, aku memang pengecut." masih mendekap tubuh Hanum.
"Jahat! keterlaluan!"
"Maki aku, katakan saja. Jangan ragu untuk memakiku, semuanya ... keluarkan semua isi hatimu, aku ingin mendengarnya."
"Lepaskan aku! aku tidak mau di sentuh oleh pecundang sepertimu." kali ini Hanum mendorong tubuh Sultan sampai punggung pria itu membentur dinding lift. "Sungguh, aku pikir kamu benar-benar mencintaiku. Tapi nyatanya ..."
"Sejauh apa aku mencintaimu, sedalam apa perasaanku padamu. Aku yakin kau sudah mengetahuinya." Sultan mendekati istrinya, berusaha meraih tangan Hanum meskipun berakhir dengan penolakan karena Hanum selalu menepis kasar tangan suaminya.
"Aku memang sudah mengetahuinya, tapi aku takut ... aku takut tidak bisa menerima kenyataan kalau suamiku tidak bisa melepaskan wanita yang selalu dia sebut sebagai temannya itu." Hanum menyeka wajahnya. "Selama ini aku selalu bersabar, aku juga selalu mengalah, menerima semua kelakuanmu dengan lapang dada. Apakah masih kurang? selama ini kamu terus memintaku untuk bersabar. Mas pikir ada berapa banyak stok sabar yang aku miliki? apa kamu lupa kalau sabarku juga bisa habis kalau terus menerus kamu minta. Sabarku sudah mati Mas, bersamaan dengan seringnya kamu mengecewakan aku."
"Katakan! apa yang harus aku lakukan?" Sultan meraih bahu istrinya.
"Aku sudah sering mengatakannya padamu, aku juga sudah mengatakan semua yang ... begitu mengganjal di sini." menyentuh dadanya. "Sayangnya egomu yang terlampau tinggi sehingga aku tidak bisa mencapainya. Sekarang terserah padamu, apapun yang akan kamu lakukan, aku sama sekali tidak peduli."
Tring ...
Pintu lift terbuka dan Hanum segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, di susul Sultan yang terus mengekor di belakangnya.
"Sayang, hati-hati! pelan-pelan saja jalannya."
Hanum sama sekali tidak mengindahkan perkataan suaminya, dia terus berjalan dan malah makin mempercepat langkahnya.
Sultan benar-benar telah kehilangan akal, tidak tahu mesti dengan cara apalagi dia membujuk istrinya. Dan ketika kesabarannya telah habis, tanpa aba-aba dia segera membopong tubuh Hanum. Tidak peduli meskipun Hanum terus meronta, Sultan tetap membopongnya dan membawanya menuju mobil.
Sultan sedikit terkejut ketika mereka sampai di parkiran dan ternyata pak Dadang masih setia menunggu di mobilnya.
"Pak Dadang masih di sini?" tanyanya begitu melihat pria tua itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Non Hanum yang menyuruh saya untuk menunggu, Tuan."
"Oh ... seharusnya Bapak pulang saja kalau sampai lebih dari satu jam istri saya tidak turun." Sultan masuk ke bangku penumpang di bagian belakang kemudian duduk dan memaksa Hanum untuk duduk di pangkuannya. "Maafkan saya ya Pak karena tidak memberitahu Bapak sebelumnya, Pak Dadang jadi menunggu lama."
"Tidak apa-apa Tuan," jawabnya sopan.
"Aku bisa duduk sendiri." Hanum berusaha untuk turun dari atas paha suaminya tapi lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil karena Sultan terus melingkarkan tangannya pada perut gadis itu.
"Saat ini kamu sedang membutuhkan perhatian khusus dari seorang suami, jadi biarkan aku menjalankan tugasku sebagai seorang suami yang baik."
"Suami yang baik tidak akan berduaan dengan perempuan lain sekalipun itu sahabatnya sendiri. Lagi pula sahabat macam apa itu yang menginginkan suami orang untuk menjadi milik nya?"
"Sahabat yang gila mungkin," jawab Sultan sekenanya kemudian tertawa kecil.
"Berarti kamu sama gila-nya dengan perempuan itu." Hanum mencebik.
"Aku?"
"Tentu saja, mau menyangkal bagaimana pun, kamu memang sudah gila. Kamu gila." Hanum menekankan kata 'gila' lebih dalam lagi.
"Baiklah, aku akui aku memang sudah gila."
"Huh, baru sadar Pak?" Hanum mengejek suaminya.
__ADS_1
"Ya sekarang aku mengakui itu, aku sudah gila, dan aku gila karenamu."
Mendengar gombalan yang terlontar dari mulut suaminya membuat Hanum menghadiahkan sebuah jeweran di telinga pria itu.
"Auw, sakit Yang ... bukannya di cium malah di jewer, kamu tuh makan apa sih? kenapa sekarang jadi suka sekali mencubit atau menjewer telingaku?"
"Itu belum seberapa, akan lebih sakit lagi kalau sampai aku memotong punyamu." melirik ke arah benda yang tersembunyi di balik celana suaminya.
Pak Dadang yang sedang menyetir pun sampai tidak bisa berkonsentrasi dengan baik karena pasangan suami istri itu terus menerus bertengkar hingga membuatnya sakit telinga.
Hanum sudah turun dari pangkuan sang suami, dia memilih duduk di sudut bangku, menjauhi suaminya. Pandangannya terus tertuju pada pemandangan di luar jendela mobil.
.
"Benar-benar tidak waras perempuan itu, muka tembok kali ya? tidak punya rasa malu sama sekali," ucap Ajeng ketika selesai mendengarkan cerita Hanum.
Sehari sejak pertikaian yang terjadi antara Hanum dan Mauryn juga dengan suaminya, siang ini Hanum tengah berada di rumah sahabatnya. Rasanya dia begitu merindukan Bening, bayi perempuan mungil nan lucu yang sangat di sayanginya. Lagi pula dia akan merasa bosan kalau terus menerus berdiam diri di rumah. Jadilah dia bertandang ke rumah Ajeng, banyak hal yang ingin dia ceritakan pada temannya. Tentang berita kehamilannya, juga tentang kejadian tempo hari di kantor yang kembali melibatkan tokoh antagonis yang sama.
"Aku sampai bingung mesti berbuat apa lagi Jeng, rasanya segala upaya telah aku lakukan tapi ..." Hanum menghela nafas panjang.
"Yang kamu lakukan pada perempuan gila itu sudah benar Num, tinggal suamimu saja yang harus mengambil tindakan untuk menghentikan perempuan itu agar tidak sampai berbuat lebih jauh lagi. Disini aku menyalahkan suamimu yang sedang dalam keadaan rumit seperti ini masih juga belum melakukan apapun. Aku tidak habis pikir, kalau Mas Adam yang ada dalam posisinya, aku yakin suamiku akan mengambil tindakan yang bisa menghentikan Mauryn sampai perempuan itu tidak bisa berkutik lagi."
"Sudahlah, jangan membahas soal itu lagi. Membuatku semakin kesal saja."
" Ah ... iya, aku lupa kalau kau sedang hamil. Tidak baik untukmu terlalu banyak berpikir." Ajeng menyerahkan segelas air untuk temannya. "Bagaimana kalau kita ke mall? barang kebutuhan dapur sama keperluan Bening sudah habis, temani aku belanja ya?" pinta Ajeng pada temannya.
"Baiklah, tapi omong-omong kalau kita pergi, Bening bagaimana?"
"Ikut saja, nanti aku ajak pengasuhnya sekalian."
"Ya sudah kalau begitu."
Sementara menunggu Ajeng bersiap siap, Hanum meraih ponselnya yang sejak tadi dia biarkan tergeletak begitu saja di atas meja. Gadis itu mengerucutkan bibirnya manakala melihat banyaknya pesan masuk yang dikirim oleh suaminya. Dia sama sekali tidak berniat untuk membalasnya, kemudian dia pun memasukkan benda pipih itu ke dalam tas.
Kebetulan Ajeng telah selesai merapikan diri, tak lupa dengan pengasuh yang sedang menggendong Bening di sebelahnya. Mereka pun segera meluncur menuju salah satu pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari rumah Ajeng.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, sampailah mobil yang di tumpangi mereka di tempat parkir sebuah bangunan megah.
"Pertama-tama kita mau apa dulu, ini?" tanya Hanum saat mereka mulai menginjakkan kaki di lantai dasar gedung tersebut.
"Belanja kebutuhan dapur dulu saja ya, sekalian beli susu formula sama popok buat Bening. Nanti kebutuhan yang lain kita beli di baby shop di lantai atas."
"OK."
Ajeng sibuk mengambil barang dari rak yang berjajar rapi disana, dia sama sekali tidak kerepotan untuk memilihnya karena memang pembantu di rumahnya sudah menuliskan nama barang apa saja yang perlu di beli oleh Ajeng.
Selesai membeli keperluan dapur, mereka kemudian naik ke lantai atas menuju baby shop untuk membeli kebutuhan baby Bening.
Begitu mereka sampai di sebuah toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan bayi, Hanum langsung tertarik untuk melihat baju-baju bayi yang menurutnya sangat indah.
"Wah ... baju-baju bayi di sini sangat indah, Jeng. Modelnya juga beragam dengan berbagai macam jenis warna-warna yang cantik." Hanum meraih sebuah baju bayi perempuan dengan potongan model rok kodok berwarna soft pink dan memperlihatkannya pada Ajeng.
"Semua barang yang dijual di toko ini memang bagus Num, harganya juga lumayan mahal, sesuai lah dengan kualitasnya."
Hanum melihat price tag yang terselip di bagian dalam baju tersebut, dan alangkah terkejutnya dia saat mengetahui harga yang fantastis untuk sebuah baju yang saat ini masih di pegangnya.
"Luar biasa." Hanum terkekeh, "Ambil ini ya?aku yang akan membayarnya."
"Tidak perlu, sudah banyak baju-baju yang kamu berikan untuk Bening. Bukan hanya baju saja, mainan yang kamu kasih juga sudah menumpuk di kamar Bening. Aku sampai bingung mau menaruhnya di mana lagi."
"Tidak apa-apa, ambil saja! ya?" Hanum terus menatap temannya yang masih terdiam seolah sedang berpikir. "Baju ini sangat cantik Jeng, aku juga suka modelnya."
__ADS_1
"Ya sudahlah, lagian percuma juga aku melarang, toh kamu tetap akan membelinya."
Dan ketika mereka berdua masih asyik memilih beberapa baju panjang untuk Bening, tiba-tiba pengasuhnya mendekat.
"Nyonya, Non Bening sepertinya buang air besar," ucap perempuan itu kepada Ajeng.
"Ya sudah, aku ke toilet dulu sebentar ya Num, bantuin Mbak Sari, takutnya dia kerepotan kalau ganti popok di tempat umum begini."
"Iya sudah sana."
"Kamu tunggu disini saja ya, jangan kemana-mana," kata Ajeng.
"Ya, aku akan menunggu disini, mana mungkin aku pergi sebelum kamu memberikan aku makanan sebagai imbalan karena telah menemanimu belanja." canda Hanum.
"Ya sudah."
Ajeng dan Sari mulai berjalan meninggalkan Hanum, dan sesosok orang yang sejak tadi terus mengikuti mereka pun, akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
Orang itu terus mengikuti Hanum sampai di tempat yang agak sepi, tiba-tiba dia menarik kasar tubuh Hanum dan menghempasnya ke tembok.
Hanum yang tak menyadari ada orang yang sedang menguntitnya pun terkejut, hampir saja dia jatuh kalau saja dia tidak berpegangan pada rak baju yang ada di sampingnya. Hanum semakin syok saat mengetahui siapa orang yang baru saja mendorongnya.
"Kenapa? apa kau takut? kemarin kau seperti seorang singa yang terlihat begitu garang, ada apa denganmu sekarang? apa kau telah kehilangan cakarmu?" ejek Mauryn.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi wanita gila sepertimu." Hanum berjalan hendak meninggalkan Mauryn namun secepat kilat Mauryn kembali mencekal tangan Hanum dan terus menyudutkan Hanum sampai Hanum tidak bisa bergerak lagi karena punggungnya telah membentur dinding tembok. "Apa maumu sebenarnya?"
"Kau mau tahu apa yang aku inginkan darimu?" Mauryn mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Aku mau menyingkirkan kamu dan bayimu, jika kalian semua mati maka tidak ada yang akan menghalangiku untuk mendapatkan Chanu."
Mauryn menunjukkan sebuah suntikan berisi cairan berwarna merah yang Hanum perkiraan itu adalah darah. Mauryn terus mendekatkan benda itu pada Hanum, berusaha menakuti Hanum.
"Apa kau tahu suntikan apa yang saat ini kupegang?" Mauryn tertawa licik, "Ini adalah darah yang sengaja aku ambil dari seorang penderita H*V. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi padamu dan juga bayimu kalau sampai aku menyuntikkannya di tubuhmu?"
"Jangan gila kamu! asal kamu tahu, perasaanmu pada Mas Sultan bukanlah cinta, melainkan hanya sebuah obsesi."
"Aku tidak peduli."
"Kalau kau pikir dengan membunuhku kamu bisa mendapatkan Mas Sultan? kamu salah, karena sampai kapanpun, cinta Mas Sultan cuma buatku. Selamanya, cintanya hanya akan menjadi milikku, hanya milikku."
Mendengar Hanum berkata seperti itu membuat Mauryn semakin emosi.
"Kau pikir aku main-main?" bersiap mengarahkan jarum suntik itu kepada Hanum.
Hanum ketakutan, biar bagaimanapun dia tidak bisa meremehkan Mauryn, melihat sikap perempuan itu selama ini, tidak memungkinkan kalau apa yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu memang benar adanya. Orang seperti Mauryn akan bisa berbuat apa saja terhadap orang yang dia anggap bisa menghalangi jalannya mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.
Hanum mendorong tubuh Mauryn hingga gadis itu terjerembab di atas lantai, kemudian Hanum berlari dari sana dan mencari perlindungan ke tempat yang lebih aman. Dia merutuki kesalahannya sendiri yang terus saja penasaran memilih beberapa baju bayi sampai dia tak sadar kalau dia menginjakkan kakinya di ruangan yang cukup sepi. Mungkin akan berbeda ceritanya jika disana ada banyak orang.
Mauryn yang semakin geram pun bangkit untuk secepat mungkin mengejar Hanum, dia sampai lupa kalau jarum suntik yang dia bawa terlempar entah kemana saat dia jatuh tadi.
Hanum yang memang dalam keadaan hamil muda tentu saja tidak bisa berlari dengan cepat sehingga memudahkan Mauryn untuk mengejarnya.
"Mau lari kemana kamu?" ucapnya begitu dia berhasil meraih tangan Hanum.
"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu." Hanum menepis kasar tangan Mauryn kemudian menampar pipi perempuan itu sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras dan meninggalkan bekas lima jari di wajah mulus itu.
"Kurang ajar!" pekik Mauryn, dia pun bersiap melayangkan tamparan untuk membalas Hanum sampai tiba-tiba seseorang mencekal tangannya.
Hanum menoleh, rasa penasaran untuk melihat siapa orang yang telah menolongnya saat ini membuatnya ingin segera melihat sosok itu. Matanya membulat dengan mulut menganga ketika melihat malaikat penolongnya yang ternyata adalah ....
.
Bagi vote nya dong guys 🥰 jangan lupa tekan Like dan tinggalkan jejak. Terimakasih 🙏🙏🙏😘😘😘
__ADS_1