Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Rencana Ratih


__ADS_3

Cinta memilin tangannya. Pikiran dan hatinya berkecamuk saat keluarga besar mantan suaminya itu tengah duduk mengelilinginya. Cinta merasa tersudut, tak mungkin dia bisa lari atau menghindar dari sini sementara jarum infus masih tertanam di tangannya.


"Cinta, kamu pasti tahu apa yang akan kita semua bicarakan, bukan?" Sultan membuka suara.


Arya yang biasanya mendominasi, kini menjadi pendengar setia. Ratih dan Hanum duduk mengapit Cinta, sementara Sultan dan William duduk di hadapannya.


"Soal apa Pa?" Cinta memberanikan diri untuk bertanya, padahal sejujurnya dia sudah tahu mengenai apa yang akan mereka bicarakan saat ini.


"Soal ..."


"Pa. Biar aku saja yang bicara," ujar William memotong ucapan ayahnya.


"Ya, sekarang memang sudah saatnya kau bicara. Sudah terlalu lama kau diam," balas Sultan.


Hening sejenak. Semua orang diam, bersiap mendengarkan apa yang akan William bicarakan. Pemuda itu menarik napas panjang sebelum membuka mulutnya.


"Cinta, aku meminta maaf atas semua yang telah terjadi padamu. Hari ini, dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, aku menginginkanmu untuk kembali padaku. Izinkan aku untuk memperjuangkanmu Cinta, berikan aku kesempatan untuk menebus semua perbuatanku padamu. Aku mengatakan ini bukan semata karena ada anakku dalam kandunganmu."


William menghembuskan napas berat. Ia menjeda sejenak kalimatnya, matanya sibuk menelisik sesuatu yang Cinta sembunyikan di kedalaman matanya.


"Sejak kepergianmu, ada banyak sekali kejadian yang harus aku lalui. Awalnya aku tak begitu memahaminya karena yang aku tahu sejak dulu hanya ada Raisa di hatiku, tapi ternyata aku salah. Aku menderita, kesepian dan merasa sangat kehilangan. Aku mencoba bangkit untuk bertahan karena aku pikir semuanya akan segera berlalu dan baik-baik saja, tapi lagi-lagi aku salah. Aku tidak bisa hidup tanpamu Cinta, maafkan aku yang terlambat menyadari kalau cinta ini telah sepenuhnya menjadi milikmu. Kaulah yang menempati ruang dalam hatiku, sekarang dan selamanya."


Kedua insan itu saling beradu pandang. William melihat sorot mata penuh luka ketika Cinta menatapnya, tapi disamping itu, ada sorot tak terbaca. Mata teduh itu menatapnya penuh cinta, sama seperti ketika mereka menikah dulu sebelum adanya prahara yang mengguncang bahtera mereka.

__ADS_1


Pun dengan Cinta. Bibir wanita itu terkatup rapat. Mencoba mencari kebenaran dalam setiap ucapan William, dan Cinta terkejut saat mendapati pria itu tengah menatapnya penuh Cinta. Ketulusan dan kejujuran dapat Cinta rasakan pada sorot mata William yang meredup.


"Maukah kamu kembali padaku Cinta?"


Ingin sekali rasanya Cinta mengangguk, tapi seketika badai itu kembali menghantam dadanya hingga membuatnya kembali merasakan lara tak berkesudahan. Cinta membisu. Sungguh, dia tak tahu apa yang harus dia perbuat.


Cinta berada dalam dilema. Mau menolak ataupun menerima, dua-duanya adalah pilihan yang sama-sama berat. Belum lagi hatinya yang masih berat untuk menerima bahwa lelaki yang amat dicintainya yang menyebabkan ibunya meninggal. Rasa kecewa dan sakit masih tertanam dalam relung hati Cinta.


"Cinta," panggil Hanum, lembut.


"Iy ... Iya Ma," Cinta tergagap.


"Semua orang nungguin jawaban kamu."


"Biarkan dia istirahat dulu. Kalian semua sebaiknya keluar, kita bicarakan ini lagi nanti ya," Ratih menyela.


"Ya sudah, kami akan keluar. Papa dan keluarga besar ini menaruh harapan yang besar sama kamu Cinta. Sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu, sambil menunggu keputusan dari dokter apakah kau sudah diperbolehkan untuk pulang atau belum," ujar Sultan.


Arya berjalan membuntuti anaknya, sementara William terlihat enggan meninggalkan ruangan itu. Mata William sejak tadi terus tertuju pada Cinta.


Setelah memastikan tak ada pria yang tertinggal di sana, buru-buru Hanum mengunci pintu. Wanita itu duduk mendekati Cinta dan ibu mertuanya.


"Oma tahu apa yang kamu rasakan saat ini Sayang, maka dari itu Oma punya usul," cetus Ratih.

__ADS_1


"Maksud Mami?" Tanya Hanum.


"Mami punya rencana Han," ujar Ratih. Wanita tua itu beralih menatap Cinta. "Dengarkan Oma baik-baik Cinta. Kamu harus membalas perbuatan William, pria itu tidak bisa dibiarkan saja."


"Maksud Oma?" Cinta sama sekali tak mengerti dengan ucapan Ratih.


"Oma tahu kamu sangat mencintai William, benar kan? Hanya saja rasa sakit hati dan kecewa yang kamu rasakan begitu mendalam dan itu membuatmu tak lagi bisa mempercayai William," oceh Ratih.


Keterdiaman Cinta cukup menjawab pertanyaan Ratih.


"Oma punya solusi untuk mengatasi permasalahan ini."


"Apa itu Oma?"


"Akan Oma kasih tahu jika kau percaya pada Oma."


Hanum diam mendengarkan pembicaraan dua wanita di hadapannya.


"Kau percaya sama Oma?" Tanya Ratih.


"Iya Oma, aku percaya," jawab Cinta, mantap.


"Mari kita jalankan rencana ini. Kita buat William menyesal dan beri dia pelajaran," cetus Ratih. Seringai licik terbentuk di wajahnya yang mulai berkeriput.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2