Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Malaikat kecil pelengkap kebahagiaan


__ADS_3

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, Sultan tak bisa tidur dengan nyenyak. Sudah seminggu yang lalu sejak hari dimana Hanum melahirkan kedua buah hatinya dan Sultan benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang malam. Pria itu begitu menikmati peran barunya menjadi seorang ayah. 


Terbangun di tengah malam begini sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan, pria itu bergegas mendekati box bayinya jika mendengar salah satu atau bahkan kedua bayinya menangis secara bersamaan. 


"Kenapa kau menangis Sayang?" Sultan mendekati box bayi yang berisi si sulung. "Apa popokmu basah? Atau kau haus?" 


Tanpa sadar Sultan terus bertanya, seolah bayinya itu sudah bisa menjawab pertanyaannya saja.


Sultan pun mengangkat baby William dan membawanya menuju kasur. Ia segera memeriksa popok bayi laki-laki mungil yang saat ini masih terus memandangi wajahnya.


"Kenapa kamu menatap wajah papa sampai sebegitunya?" Sultan mencubit pipi gembul William.


Dan begitu tangannya berhasil membuka popok bayi itu, ternyata benar. Sesuai dugaannya, William menangis karena popoknya telah basah.


Sultan kemudian mengelap bagian bawah bayi itu dengan tisu basah sebelum mengganti popoknya dengan yang baru. Pria itu terlihat lihai memakaikan popok pada bayinya.


Hanum bersyukur karena suaminya termasuk orang yang mudah mempelajari segala hal, dari cara Sultan mengurus bayinya, orang tidak akan menyangka jika pria itu baru seminggu ini menjadi ayah. Sultan begitu pandai dan telaten mengurus semua hal yang berhubungan dengan kedua bayinya.


Hanum membuka matanya begitu dia mendengar suaminya sedang berceloteh. Dan benar saja, begitu wanita itu membalikkan badannya, dia melihat Sultan sedang mengajak bicara bayinya.


"Mas ...," panggil Hanum dengan suaranya yang parau.


"Eh, lihat itu Sayang, Mamamu sampai terbangun karena mendengar obrolan kita," kata Sultan pada bayinya.


Hanum tersenyum, tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain memiliki anugerah berupa pasangan yang pengertian dan tulus mencintainya ditambah lagi dengan anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaannya. 


Ini adalah fase puncak dimana Hanum merasakan kebahagiaan sepanjang hidupnya dan rasanya kebahagiaan yang tengah dia rasakan itu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanyanya pada sang suami.


"Kau kan sudah lelah seharian ini mengurus kedua bayiku jadi mana tega aku membangunkanmu," balas Sultan.


"Kamu lebih lelah lagi, pekerjaanmu di kantor tidak sedikit. Belum lagi kamu juga masih harus lembur dari rumah, sanggah Hanum.


"Kau tahu, perasaan lelah, kesal atau bahkan ketika sedang marah sekalipun akan lebur begitu saja ketika aku melihatmu dan juga anak-anakku."


Sultan mengecup puncak kepala istrinya.


"Berikan dia padaku, sepertinya dia sudah mengantuk," kata Hanum.


Hanum menyusui William, tangannya terus ia gunakan untuk membelai wajah putra pertamanya itu sementara bibirnya terus menyenandungkan lagu pengantar tidur untuk bayinya.


"Lihatlah wajahnya, kenapa dia begitu mirip denganmu? Aku yang telah susah payah mengandung dan melahirkannya, tapi kau begitu serakah sampai tidak menyisakan satu pun untukku? Matanya mirip denganmu, alisnya, hidungnya begitu juga dengan bibirnya. Semuanya mirip denganmu sampai-sampai aku tidak kebagian satu pun," iri Hanum.


"Bukankah itu bagus?" timpal Sultan.


"Bagus apanya?" cebik Hanum.


"Itu berarti kamu hanya memikirkan aku seorang ketika kita sedang membuatnya dulu," sahut Sultan disusul dengan tawa pria itu.


"Ish, apa hubungannya?"


"Tentu saja ada," balas Sultan.


"Jangan mengada-ada kamu Mas," Hanum menaikkan volume suaranya.


"Ssstt ... pelankan suaramu, kamu bisa membangunkan Will, jika kamu terus berbicara dengan nada tinggi seperti itu," beritahu Sultan.


"Dan ini semua salahmu," jawab Hanum.


Ibu muda itu kemudian turun dari kasur untuk kembali membaringkan bayinya di box bayi yang berada tak jauh dari sana.


"Kemarilah," bisik Sultan begitu istrinya telah merangsak naik ke atas tempat tidur.


"Ada apa?"

__ADS_1


Tanpa aba-aba Sultan membalikkan tubuh Hanum kemudian mulai memijat pundak wanita itu.


"Tidak usah," tolak Hanum, dia menangkis tangan suaminya. "Kita tidur saja."


"Apa?"


Hanum pun segera membaringkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh suaminya.


"Apa kau ...,"


"Jangan berpikiran macam-macam, aku hanya sedang ingin memelukmu saja," kata Hanum, seolah mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Sultan. 


Sultan terkekeh, "Aku bahkan sampai merinding jika perkataan Adam tempo hari, padaku."


"Soal?"


"Untuk berpuasa selama enam bulan. Apa benar aku harus berpuasa selama itu? Bisa gila aku," keluh Sultan.


Tak ada yang bisa Hanum katakan, dia memilih untuk semakin mendekap erat suaminya, bersiap untuk tidur.


"Sayang," bisik Sultan.


"Hm."


"Terimakasih," imbuh Sultan.


"Untuk apa?"


"Semuanya, semua yang telah kamu lakukan untukku, terimakasih sudah mau menjadi istriku."


"Kamu sudah mengatakannya sewaktu di rumah sakit, sejak pulang dari rumah sakit saja sudah tidak terhitung berapa kali kamu mengatakan hal itu padaku," balas Hanum.


"Aku bersyukur karena akhirnya kita kembali dipertemukan waktu itu," sambung Sultan. "Entah berapa lama waktu yang aku habiskan hanya untuk mencarimu, aku hampir putus asa begitu mengetahui kamu menikahi adikku dan semuanya seperti mimpi, sekarang kita telah menyatu dalam ikatan suci pernikahan. Hidup bahagia dan memiliki dua malaikat kecil sebagai pelengkap kebahagiaan kita." 


Sultan mengecup kening istrinya. Cukup lama.


"Tetap saja, cintaku padamu lebih besar melebihi cintamu padaku," balas Sultan.


"Hm, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Hanum.


"Kenapa mesti meminta izin, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan."


"Kenapa kau mencintaiku? Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku? Apa karena aku cantik, atau karena aku yang pernah menyelamatkan dirimu sewaktu kamu mengalami kecelakaan di pantai Marina, dulu?" telisik Hanum.


"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu," balas Sultan.


"Jawaban macam apa itu!" ketus Hanum.


"Karena memang tidak ada alasan khusus untuk mencintaimu. Aku mencintaimu ya karena aku mencintaimu, itu saja." Sultan membelai rambut hitam legam istrinya yang tergerai. "Bukan aku yang mencarimu ataupun kamu yang mendatangiku. Cinta yang mempertemukan kita berdua, takdir Tuhan tertulis agar kita berjodoh dan hidup bahagia bersama, selamanya."


Mulut Hanum pun terbuka untuk mengaminkan selaksa doa yang dituturkan oleh suaminya.


Malam itu disaat orang lain tertidur di peraduannya, sepasang suami istri itu malah makin larut dalam obrolan mendalam yang dimulai oleh Sultan.


Malam itu meskipun hanya temaram lampu tidur yang menyinari ruangan tersebut tapi sepasang orang tua baru itu merasakan hidup yang lebih berwarna.


"Aku bahkan masih bisa melihatmu sekalipun aku memejamkan mataku, tanpa lengan pun aku tetap bisa memelukmu. Jika ada sesuatu yang bernama kedamaian dalam dunia ini, itu adalah kamu. Kamu mengubahku, kau adalah kidung malaikat. Hanya ada perasaan bahagia jika aku bersamamu dan kita akan terus berlayar bersama. Kau seperti cerminan surga yang ada di dunia dan hatiku terkunci rapat hanya untukmu sepanjang hidupku," tutur Sultan.


Hanum bergetar ketika suaminya mengatakan isi hatinya yang begitu mendalam. Dia sampai tak bisa berkata apa-apa, hanya butiran bening yang jatuh membasahi wajahnya yang menjadi saksi betapa dia sangat bahagia.


.


Keesokan harinya.


Hanum masih duduk di depan meja riasnya, gadis itu mematut diri di depan cermin, memastikan riasannya telah rapi dan tak berlebihan.

__ADS_1


Tak berselang lama, terdengar ketukan pintu dari luar.


Mbok Darmi pun muncul setelah mendengar Hanum mempersilahkannya untuk masuk.


"Ada apa Mbok? Apa si kembar menangis?" tanya Hanum.


"Tidak, Non. Anu, disuruh Tuan sepuh untuk segera turun. Fotografernya sudah datang, katanya," terang mbok Darmi.


 Ya, pagi ini memang rencananya keluarga besar itu hendak melakukan pengambilan gambar. Foto keluarga. 


Burhan adalah orang pertama yang sangat antusias sekaligus pencetus ide tersebut. Kakek tua itu sampai rela membayar mahal fotografer kenamaan demi untuk mendapatkan gambar-gambar keluarga besarnya yang dirasa telah lengkap dengan kehadiran putra kembar cucunya itu.


"Oh, baiklah Mbok. Sebentar lagi kami turun, tunggu Mas Sultan yang sedang mengambil sepatu," balas Hanum.


"Ya sudah, si Mbok permisi dulu."


"Baik, Mbok. Terimakasih."


"Kenapa Mbok Darmi kemari? Apa si kembar rewel?" 


Hanum terkejut karena tiba-tiba Sultan sudah berada di belakangnya.


"Tidak, Kakek menyuruh kita segera turun karena fotografernya sudah datang," beber Hanum.


"Ooh," jawab Sultan sekenanya. 


Pria itu segera memakai penutup kakinya dan ketika melihat istrinya beranjak dari sana, Sultan setengah berteriak mencegah kepergian Hanum.


"Ada apa?" Hanum membalikkan badannya. "Bukankah kamu sudah siap?"


"Tunggu sebentar, kemarilah!" pinta Sultan.


Wanita itu pun menuruti perintah suaminya.


"Ada apa?" tanya Hanum.


"Duduklah!"


Hanum masih belum mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Ketika dirinya disuruh duduk di tepi ranjang, Sultan malah berjongkok, merogoh sesuatu dari saku celananya kemudian mulai bergerak di kaki kirinya.


"Apa itu?" lagi, Hanum bertanya.


"Kau cukup pandai jadi aku rasa kau tidak perlu bertanya. Kau bisa lihat, ini adalah gelang kaki."


"Aku tahu itu gelang kaki, maksudku kenapa kau membelikan aku gelang kaki lagi? Yang kemarin-kemarin saja masih ada yang belum sempat aku pakai."


"Entahlah, rasanya aku begitu tertarik jika melihat gelang kaki. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membelinya untukmu. Aku mengingatmu setiap aku melihat gelang kaki, meskipun ini tak sama dengan punyamu yang kamu tinggalkan dulu," oceh Sultan.


"Lihatlah! Akibat dari ulahmu, aku sudah seperti toko emas berjalan saja. Mana ada orang yang memakai dua gelang kaki sekaligus," omel Hanum.


Sultan terkekeh. "Ayo, kita harus segera turun atau kakek tua itu akan berulah dengan kembali menghukumku."


Sultan mengaitkan jemarinya dengan jemari tangan Hanum. Keduanya pun melangkah bersama menuju taman.


"Hei, lihat tingkah mereka, sudah seperti pengantin baru saja!" goda Burhan ketika melihat kedatangan cucunya.


"Lekas kemari, Nak. Semuanya sudah bersiap," titah Ratih.


Dan siang itu ketika matahari mulai naik sepenggalah, keluarga besar Pradipta sedang menjalani sesi pemotretan. Raut wajah penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka.


Tamat.


.


Hallo readers tercintaku dimana pun kalian berada 🤗, tak terasa ya ternyata waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin deh aku belajar menulis, eh tau-tau udah tamat aja 🤭. Aku selaku Author Cinta Yang Terpendam mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian yang sudah mau membuang waktu berharga kalian demi membaca cerita recehku. Mohon maaf jika ada salah kata atau salah dalam penulisan mengingat Author juga manusia biasa. Maaf jika tulisanku tidak sesuai dengan harapan kalian. Sekali lagi saya ucapkan beribu terimakasih atas segala bentuk dukungan yang kalian berikan selama ini, saya tanpa kalian bukanlah apa-apa. Saya masih akan terus belajar lagi untuk bisa menghasilkan karya yang bagus. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Mohon jangan di Unfavorit dulu ya, nanti akan ada pemberitahuan mengenai karya terbaru saya. Untuk beberapa saat ke depan saya rehat sejenak, mau revisi novel ini dulu sekalian refresh otak biar nanti bisa mikir lagi. Karya terbaru masih tahap penggodokan biar mantul, 🤭. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih buat kalian semua. 😘😘😘


__ADS_2