
Cinta membuka matanya dengan segera ketika bayi dalam kandungannya itu menendangnya dengan keras. Ia meringis kesakitan.
"Sssh ... Sayang, kamu aktif banget Nak," monolognya seraya mengusap perutnya yang telah membola.
Merasakan ranjangnya berderak, William pun bangun. Pria itu dengan segera bangkit menyusul istrinya.
"Mau ke mana? Ini masih terlalu pagi," ujar pria itu menahan istrinya.
"Udah jam setengah enam, nggak bisa dibilang terlalu pagi."
"Iya, tapi kamu mau ke mana?"
"Mau jalan-jalan," balas Cinta.
"Tunggu sebentar."
Cinta berdiri di ambang pintu, menunggu suaminya yang tak lama setelahnya kembali dan memakaikan sweater rajut di tubuhnya.
"Udara masih dingin, aku nggak mau kamu kedinginan."
Cinta masih bergeming ketika William menggenggam tangannya dan membawanya keluar untuk sekedar berjalan-jalan menuju taman.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana? Taman yang ada di dekat danau buatan?"
Wanita itu hanya mengangguk. Keduanya terus berjalan bersisian. Karena masih cukup pagi, suasana di sepanjang jalan masih sepi. Sesekali Cinta melirik pria di sampingnya itu melalui ekor matanya. Pria yang sama, namun telah banyak berubah, Cinta akui itu tapi hal itu lantas tak membuatnya luluh begitu saja.
"Apa kau bahagia?"
Cinta menghentikan langkahnya, menatap manik mata sehitam tinta itu untuk mencari tahu tentang maksud dari pertanyaan suaminya.
"Apa selama kita berpisah kau merasa bahagia?" William mengulangi pertanyaannya.
"Tentu saja, apa kau berharap aku menderita?" tanya Cinta, sarkas.
"Tentu saat tidak. Aku hanya ..."
"Aku tidak pernah merasa sebahagia seperti waktu itu. Bisa terbebas dari sebuah rasa yang membelenggu, tentu sangat membahagiakan. Aku tidak pernah berniat merebut atau mengambil paksa sesuatu yang memang sejak awal telah menjadi milik orang lain," jelas Cinta.
"Maksudmu?"
"Hatimu. Aku tahu selama masa pernikahan kita kamu mencintai Raisa. Aku tahu kamu begitu memendam perasaan yang mendalam padanya, hanya saja aku bodoh. Aku terlalu percaya diri bahwa aku bisa memenangkan hatimu."
"Aku minta maaf untuk itu."
"Dan ketika aku harus kehilangan satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku, sejak itulah aku menyadari ternyata kebodohan yang aku lakukan bukan hanya berdampak pada diriku saja, melainkan pada ibu juga. Andai saja ibu nggak meninggal dalam keadaan seperti itu, andai ibu nggak meninggal dengan membawa luka saat dia tahu bahwa suami dari putrinya tidak pernah mencintainya."
"Cin ..."
"Aku mungkin nggak akan pernah menyalahkan diriku sendiri."
"Aku yang salah," lirih William. "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas kepergian ibu, karena di sini akulah yang salah," imbuhnya.
"Karena itulah aku sangat membencimu."
Ucapan yang lolos dari bibir Cinta bak belati tak kasat mata yang menghujam jantung William. Pria itu terdiam, masih sambil berdiri menatap istrinya yang kini telah basah.
__ADS_1
"Jika bukan karena bayi dalam kandunganku ini, aku yakin kamu nggak akan pernah melakukan ini semua. Aku tahu kamu melakukannya denganku karena kesalahan, kesalahan yang pada akhirnya membuatmu malah semakin terperosok. Satu hal yang sangat aku syukuri, meskipun dia lahir karena sebuah kesalahan orang tuanya, tapi aku begitu menyayanginya."
"Kenapa kamu mengatakan itu?"
"Apa ada yang salah dengan ucapanku? Jika tidak, maka kamu nggak akan mungkin mengejar Raisa."
"Cinta, aku udah seringkali ngomong soal ini sama kamu."
"Aku bahkan masih bisa mendengarnya dengan jelas saat di mana kamu mengakui perasaanmu padanya."
"Tapi itu dulu," sanggah William.
"Lalu apa bedanya dengan sekarang?"
"Jelas beda, aku sama sekali tidak menyimpan rasa itu lagi padanya, tolong percayalah."
"Kamu pikir semudah itu aku mempercayai ucapanmu?"
"Astaga!" William meraup wajahnya kasar. "Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau rasa itu benar-benar telah hilang untuknya? katakan!"
"Apa kamu bisa menyuruhnya untuk kembali ke rumah?"
"Apa?"
"Aku sangat tidak nyaman dengan keberadaannya," lanjut Cinta.
Pernyataan Cinta membuat William melongo tak percaya. Cinta yang dikenalnya dulu adalah gadis yang selalu menyimpan rapat perasaannya, apapun itu akan Cinta pendam sendiri. Berbeda dengan Cinta yang sekarang, cenderung tegas dan terus terang.
Cinta kembali melanjutkan langkahnya, membiarkan pria itu berdiri mematung. Ia tak berharap banyak karena sejujurnya dia hanya sedang mengetes suaminya saja. Ada setitik cinta yang dapat ia lihat terpancar dari sorot mata William untuknya, tapi lagi-lagi pengalaman membuatnya tak ingin terperosok dalam lubang yang sama.
"Aku akan melakukannya begitu kita pulang nanti," ucap William ketika pria itu berhasil mengejar Cinta.
"Tidak perlu memaksa diri."
"Apapun demi mendapatkan kepercayaan kamu lagi, maka aku akan melakukannya."
Cinta tersenyum satir. "Apakah jika aku meminta kamu untuk mengakhiri hidupmu, kamu akan melakukannya? Memangnya aku ini siapa, sampai-sampai kamu mau melakukan itu untukku."
"Nggak masalah jika saat ini kamu masih belum bisa percaya kalau aku cinta sama kamu," jawab William dengan entengnya.
Mereka terus berjalan di bawah rerimbunan pepohonan yang menjulang di tepian jalan.
"Seharusnya kamu bahagia karena aku sudah melepasmu untuk mengejar apa yang menjadi kebahagiaanmu. Apa yang kamu harapkan dari wanita sepertiku."
"Karena kamu nggak pernah mempercayaiku, karena kamu nggak pernah kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau sebenarnya aku cinta sama kamu."
"Apa karena bayi ini?"
William geram jika Cinta selalu menuduhnya demikian.
"Aku udah bilang kalau aku nggak akan pernah membatasi kamu atau keluargamu untuk menemui anak ini jika dia lahir nanti, karena biar bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu."
"Sampai kapan kamu akan terus berbicara omong kosong seperti ini? Kamu menyesal udah nikah lagi sama aku?"
"Ya," jawab Cinta tanpa ragu sedikitpun.
__ADS_1
Hal itu tentu saja menambah daftar luka di hati William. Namun, lagi-lagi pria itu hanya diam menerima karena beranggapan apa yang terjadi pada Cinta adalah akibat perbuatannya juga.
"Lalu kenapa kamu mau melakukannya?"
"Karena mama dan juga oma memaksa. Jika hanya kamu yang memaksa, sudah tentu aku menolak mentah-mentah pernikahan ini lagi."
"Kamu menyesalinya?"
"Sangat, karena aku nggak mau jatuh di lubang yang sama. Aku nggak mau hidupku menderita karena luka yang diberikan oleh pria yang sama. Aku pernah sangat mencintaimu, tapi kamu menjadi penyebab kematian ibuku." Cinta menatap tajam suaminya.
"Apa aku harus mati juga agar kamu mau memaafkanku?"
"Nggak semudah itu. Kamu harus membayar mahal atas semua derita yang kamu berikan padaku, jadi jangan berpikiran kalau aku akan dengan mudah memaafkanmu."
William menatap sayu wajah wanita yang dicintainya itu. Sekarang dia tahu apa yang menyebabkan Cinta begitu banyak berubah, karena luka yang dia berikan.
"Untuk itulah aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu, juga ibumu."
"Rasa penyesalanmu justru akan bertambah dengan kamu memaksakan diri menikahi wanita yang tidak kamu cintai."
"Cinta," desis William. Tatapan pria itu berubah menjadi kepanikan saat melihat butiran sebesar biji jagung merembes di pelipis istrinya.
"Kamu sakit?" tanya William, panik.
"Aku nggak apa-apa."
"Pulang aja yuk! kamu pucat gitu."
Tanpa mendengarkan ucapan suaminya, Cinta terus berjalan menuju tempat yang ingin dikunjunginya. Dulu, dia sempat bermimpi bisa jalan-jalan dengan suaminya dalam keadaan hamil seperti ini.
Waktu itu usia kehamilannya baru memasuki bulan keempat. Cinta pernah melihat sepasang suami istri jalan-jalan bersama, lalu sekedar sarapan bersama di taman. Cinta hanya ingin mewujudkan impiannya saja, tidak lebih.
"Cinta jangan ngeyel! kamu berkeringat dingin begini, kamu kecapekan."
Cinta tak membantah saat William membawanya untuk duduk di bangku yang kebetulan terletak di tepi jalan, persis di bawah pohon.
"Kamu duduk diam di sini ya, aku cari minum dulu, sepertinya ada warung di dekat sini."
Cinta tak menjawab. Sejujurnya dia memang mulai merasa pusing sejak pertengkarannya dengan William dimulai, tapi ia berusaha mengabaikannya.
Tak lama berselang, William kembali dengan membawa botol minuman. Gegas ia membukanya dan memberikannya pada Cinta.
"Kamu sakit?" tanya William yang hanya dijawab dengan sebuah gelengan oleh istrinya.
"Jangan bohong, apa yang dirasa, heum?"
"Aku nggak apa-apa?"
"Lain kali kalau mau jalan-jalan pakai mobil aja ya, kamu bisa jalan-jalan sepuasmu di taman biar nggak ada kejadian kayak gini lagi."
Dengan cepat William merengkuh tubuh Cinta ke dalam dekapannya tanpa sempat gadis itu menghindar.
"Jangan sakit, aku mohon," bisik William.
Cinta tersenyum getir. Seandainya saja dia bisa membaca perasaan William padanya, dia sendiri masih bingung membedakan kepanikan William padanya itu atas dasar cinta atau hanya karena statusnya sebagai ibu dari bayi pria itu.
__ADS_1
Bersambung ....