Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terpancing


__ADS_3

"Mas ... Kam ... Kamu mau apa?" Cinta tergagap melihat suaminya memangkas jarak. Langkah demi langkah William membawa lelaki itu kian dekat. Tubuh Cinta bergetar hebat.


"Mas."


"Aku mau ...."


"Keluar Mas!" teriak Cinta.


"Cin, aku cuma mau ..."


Byur!


William terperanjat saat Cinta dengan cepat menyiram tubuhnya dengan air. Lelaki itu mengalah, ia memilih mundur dari pada membuat kekacauan.


Sepeninggal suaminya, Cinta langsung bergerak cepat menyelesaikan ritual mandinya. Beruntung hari ini dia masih bisa selamat. Jangan kira dia akan mudah terpengaruh dengan kebaikan William, karena seperti yang dikatakan Hanum dan Ratih, dia tak boleh luluh begitu saja.


"Cinta, maafin aku ya. Aku ..."


"Mas, aku lapar." Cinta menyambar ucapan pria itu.


Sejak kejadian di kamar mandi, keduanya saling bungkam, dan malam ini Cinta tak tahan lagi untuk kembali mengerjai suaminya.


"Ya udah mau makan apa, biar nanti aku ambilkan di dapur."


"Aku maunya spaghetti, dan harus kamu yang masak!" tegasnya.


"Siap. Kamu tunggu di kamar aja ya, biar aku buatin dulu."


"Ikut," rengek Cinta.


"Nggak usah, Sayang."


"Mau ikut Mas!"


"Ya udah ayo!"


Terpaksa William mengalah, ia meminta istrinya duduk diam sementara dirinya sibuk di depan kompor.


"Mas."


"Apa?"


"Haus, mau jus stroberi," pinta Cinta.


"Sekarang?"


"Tahun depan, nunggu anakmu lahiran," jawab Cinta, ketus.


"Kan kamu yang nyuruh aku buat masak spaghetti, makanya aku tanya sama kamu, mau dibuatin spaghettinya dulu atau jus stroberinya dulu?"


William mendesah panjang. Mulai sekarang dia harus terbiasa dengan sikap istrinya, dia harus menyediakan stok sabar tingkat eksekutif agar bisa setia setiap saat melayani Cinta tanpa keluhan.


Sedang asyik menikmati jus stroberi sambil melihat William memasak, Cinta terkejut ketika seseorang muncul di sana.


"Hai Kak, apa kabar? kita udah lama banget nggak ketemu."


"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Cinta tersenyum getir melihat Raisa muncul di dapur dengan pakaian tidur kimono berbahan satin yang, tak perlu didefinisikan lagi. Yang jelas melihatnya saja sudah membuat Cinta risih.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik. Kamu lagi apa Kak, malam-malam gini di dapur." Raisa menarik kursi dan duduk di sebelah kakak iparnya.


"Lapar. Biasa, bawaan bayi jadi masih suka kelaparan tengah malam."


Sesekali Cinta melirik suaminya, mana tahu saja pria itu mencuri pandang pada mantan wanita pujaan hatinya itu, akan tetapi hal itu tak terjadi. William benar-benar fokus dengan masakannya.

__ADS_1


"Hm, begitu. Dulu aku juga sempat mengalaminya Kak, tapi sayangnya ..."


Cinta menggenggam tangan Raisa. "Tuhan akan ganti dengan yang lebih baik lagi."


"Sayangnya rahimku udah diangkat Kak, dan aku udah nggak mungkin bisa punya anak lagi."


"Aku turut prihatin. Jika anakku lahir, kau boleh ikut mengasuhnya juga," ujar Cinta berusaha membesarkan hati adik iparnya.


"Ya Kak, terima kasih."


Cinta mengangguk, lalu Raisa pamit untuk kembali ke kamar.


William mendekati istrinya dengan membawa sepiring spaghetti yang cukup menggugah selera.


"Aku mau pakai taburan parutan keju," cetus Cinta.


"Siap, Sayang. tunggu dulu ya, biar aku ambilkan sebentar."


Tak lama setelahnya, pria itu kembali dengan membawa piring kecil berisi parutan keju, menaburkannya di atas piring Cinta.


"Dia nginep juga?" tanya Cinta.


William yang tahu ke mana arah pembicaraan Cinta, pun mengangguk. "Semalam dia dan Willmar datang pas kamu udah tidur, mama nyuruh mereka buat nginep meskipun tadinya mereka memaksa pulang."


"Oh."


"Kamu keberatan?"


Cinta menggendikan bahunya. "Kenapa aku harus keberatan, dulu aku juga udah terbiasa dengan sikapmu," tukas Cinta.


"Tapi sayangnya semuanya sudah berubah Cinta," lirih William.


"Siapa yang tahu, isi hati manusia itu hanya bisa ketahui oleh Tuhan dan orang itu sendiri."


Tatapan keduanya saling bertubrukan. Cinta bergeming di tempatnya masih sambil memegang garpu.


Detik berikutnya, Cinta meletakkan garpunya. Spaghetti dengan taburan parutan keju yang masih hangat itu sama sekali belum tersentuh. Cinta mendorong kursinya, berniat pergi dari sana sampai William mencekal tangannya.


"Kamu belum makan, makanlah dulu," bujuk William.


"Aku udah nggak lapar."


"Gara-gara masalah tadi?" tebak William.


Cinta menggeleng pelan. "Mendadak aku udah nggak kepengin, mungkin karena udah minum jus stroberi tadi," jawabnya tanpa menatap suaminya.


"Setidaknya makanlah sedikit, kamu nggak kasihan apa sama aku? susah payah aku masak buat kamu, tengah malam ini lho."


"Maaf, lain kali hal ini nggak akan terjadi lagi. aku nggak akan ngrepotin kamu lagi."


"Kamu salah paham! bukan itu maksudku," cegah William lagi ketika Cinta melangkah dari ruangan itu. "Aku nggak ngerasa direpotin, maksudku kamu harus makan."


"Kamu menghindarinya karena ada aku, iya kan? seandainya aku tidak ada, kalian pasti sudah berbincang atau bahkan mungkin lebih dari itu."


"Cinta! Aku tahu aku pernah berbuat salah, tapi bukan berarti aku bisa bertindak sampai sejauh itu. Aku memang menghindarinya, dan aku melakukan itu karena aku ingin menjaga perasaanmu, apa itu salah?"


Cinta menepis tangan suaminya yang masih bertengger di lengannya. "Kamu menghindarinya karena ingin menjaga perasaanku? kamu yakin?" tanya Cinta, sarkas.


William menggeram, ia menyugar rambutnya kasar. Dia tahu betul kalau apa yang terjadi pada istrinya kali ini adalah sebagai bentuk kecemburuannya. Lelaki itu memutar otak, bisa panjang urusannya jika hal ini dibiarkan terus berlanjut.


William tidak tahu apa yang akan dilakukannya ini benar atau salah, tapi yang jelas dia terus memangkas jarak dengan wanita hamil itu. Cinta berjalan mundur, hingga punggungnya membentur dinding.


"Mas, kamu mau apa?" menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Mau melakukan sesuatu yang sudah seharusnya aku lakukan sejak dulu," jawab William, matanya mengerling penuh arti.


"Me ... melakukan apa?" Cinta tak bisa berkutik, suaminya mengunci pergerakannya dengan menaruh kedua tangannya, di bahunya.


"Melakukan sesuatu yang membuat kamu nggak lagi berpikir macam-macam tentang aku."


"Memang apa yang aku pikirkan tentang ka ..."


Cinta membulatkan matanya saat dengan cepat William membenamkan bibirnya, membuat kalimat yang hendak Cinta ucapkan, kembali tertelan.


Cinta berusaha menghentikan suaminya dengan terus memukuli William, akan tetapi serangannya seolah tak berarti apa-apa bagi pria itu. Cinta lelah, hingga pada akhirnya dia diam. Merasakan setiap sentuhan William yang terasa begitu lembut.


William menyesap bibir Cinta dengan amat lembut, pelan dan dapat Cinta rasakan ada ketulusan di setiap sentuhannya. Ini ciuman pertama yang Cinta rasakan ada begitu banyak cinta yang tersalurkan. William amat hati-hati memperlakukan istrinya hingga membuat Cinta hanyut dalam perasaannya. Tanpa sadar, gadis itu mengalungkan tangannya di leher William, dan seolah mendapat lampu hijau, William terus melumaat bibir itu. Menikmati ranum bibir yang bahkan membuatnya semakin menggila.


William melepaskan bibirnya saat dirasa pasokan udara dalam rongga dadanya menipis. Sama sepertinya, Cinta pun terengah. William mengusap bibir Cinta yang lembab dan bengkak akibat perbuatannya, lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis itu.


"Sekarang makan ya, mau aku suapin atau mau aku ganti makanannya?"


Cinta bergeming. Sesuatu yang keras terasa menekan bagian bawah tubuhnya, membuatnya tak mendengar ucapan William.


Sadar Cinta memperhatikannya, membuat William salah tingkah. Gegas pria itu membawa istrinya untuk duduk di kursi.


"Mas?" Cinta menatapnya penuh tanda tanya.


"Hm. Aku rasa normal. Sudah hampir setahun aku tidak melakukannya, dan begitu aku menciummu tadi aku merasa terpancing. Wajar bukan, aku juga pria normal."


Meskipun malu, tapi pada akhirnya William mengakui jika dirinya sempat terbakar gairah ketika sedang berciuman dengan Cinta, tadi.


"Kau benar-benar menahannya selama ini?"


"Memang kau pikir aku ini lelaki murahan apa? Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun kecuali hanya denganmu."


"Sudah, dimakan dulu. Aku ke toilet sebentar," pamit William.


"Tunggu!"


"Apa ada yang kau butuhkan lagi?" William membalikkan badannya.


"Kau mau apa ke toilet?" pertanyaan yang sebenarnya sudah Cinta ketahui jawabannya, tapi tetap saja lolos dari bibir mungil wanita itu.


"Mau bagaimana lagi," jawab William, putus asa.


Sudah pasti William berniat menuntaskan hasratnya yang sempat naik.


"Buatkan aku telur mata sapi!"


William menahan langkahnya, kembali ke kursi Cinta. "Tadi katanya minta spaghetti?"


"Udah nggak kepengin, aku pengen makan nasi pake telur mata sapi sama taburan bawang merah dikasih bubuk cabe."


"Baiklah, tunggu sebentar!"


"Aku maunya sekarang!"


"Hanya lima menit," bujuk William.


"Jadi kamu lebih mementingkan ..."


"Oke, Sayang. aku buat sekarang. Duduk manis ya, biar aku dinginkan nasi dulu."


Cinta tersenyum menang melihat kekalahan suaminya. Ini memang masih belum seberapa, tapi ia masih akan terus berusaha menjalankan misi dari Ratih. Termasuk dengan membuat William tersiksa menahan keinginannya. Setidaknya sampai ia benar-benar yakin dengan perasaan William padanya, baru dia bisa memberikan hak sebagai seorang suami pada William.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2