Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Konyol


__ADS_3

Seseorang membalutkan jaket di tubuh Cinta, membuat gadis itu menoleh demi bisa melihat orang yang telah menyelamatkan dia dan juga bayi dalam kandungannya. Tak bertahan lama, Cinta kembali meledakkan tangisnya ketika melihat orang yang menolongnya sedang menatapnya sedemikian rupa.


"Sayang."


Tenggorokan William serasa tercekat, tubuhnya tak kalah bergetar, cairan bening yang menggenang di telaga matanya berdesakan keluar. Tak ada yang lebih menyakitkan baginya saat melihat wanita yang dicintainya itu dalam kondisi memprihatinkan. Rambutnya yang berantakan, bajunya yang terkoyak, juga wajahnya yang lebam dengan sisa darah yang mengering, lengkap dengan linangan air mata yang tak kunjung surut.


"Mas. Maaf ... maafkan aku," cicit Cinta.


"Tidak. Jangan pernah berkata begitu karena aku yang bersalah. Aku telah lalai menjagamu hingga semua kejadian ini terjadi."


Keduanya menangis sambil berpelukan. William terus menghujani Cinta dengan kecupan di puncak kepala juga wajah wanita itu. Sementara bibirnya terus menggumamkan kata maaf.


"Kak Cinta nggak apa-apa?" tanya Raisa, panik.


William mengangguk. Raisa yang paham dengan kondisi Cinta pun tak lagi bertanya. Semua orang menatap haru dan tak bisa menahan tangisnya melihat kejadian memilukan itu.


"Kak, sebaiknya kita segera membawa Cinta ke rumah sakit," cetus Hanum. "Mama khawatir dengan kondisinya."


"Iya Ma."


William menggotong Cinta dan langsung membawanya ke rumah sakit. Pria itu terus berusaha menenangkan tangis Cinta, sepanjang perjalanan istrinya itu terus menangis. Pikiran William sudah tak karuan. Ia tak sanggup jika harus melihat istrinya seperti ini.


Raisa yang baru saja keluar dari toilet menghentikan langkahnya ketika melihat Cinta tengah berbicara dengan Azka. Awalnya dia berniat untuk menghampiri mereka akan tetapi dia mulai menaruh curiga saat Azka membawa-bawa namanya ketika pria itu membicarakan William. Raisa pun memilih menahan diri demi bisa mendengar pembicaraan mereka.


Begitu melihat Azka mengajak pergi Cinta, Raisa pun menghubungi suaminya dan meminta Willmar bersiap untuk membuntuti mereka. Raisa menyusul dengan sebuah taksi, sementara Willmar terus mengikuti mobil Azka. Willmar juga meminta Raisa untuk menghubungi pihak berwajib karena perbuatan Azka mengindikasikan tindak kriminal.


Usai menghubungi polisi, Raisa juga menghubungi William dan menceritakan semuanya.


Semua orang bisa bernapas lega. Meskipun sedikit terlambat, tapi mereka bersyukur karena tak terjadi sesuatu pada Cinta. Hanya saja kekhawatiran masih belum sepenuhnya menghilang sebelum dokter yang memeriksa Cinta keluar dan memberikan keterangan terkait kondisi Cinta sekarang.


William yang merasa sangat terpukul terus menangis di kursi tunggu. Tangannya terkepal sambil sesekali meninju tembok dingin di dekatnya.


"Sabar Kak, Kak Cinta dan bayi kalian pasti baik-baik saja," hibur Willmar. Ia tentu bisa merasakan apa yang kini tengah dirasakan oleh saudara kembarnya.


"Aku yang salah. Ini semua kesalahanku karena telah lalai menjaganya."


"Nggak ada yang salah Kak, semuanya udah diatur sama Tuhan, kita hanya menjalaninya saja. Bersyukur karena Rai melihat kejadian ini."


"Iya. Aku sungguh berterima kasih padamu Rai," ucap William tulus.


"Ya Kak, yang terpenting ke depannya kita harus lebih waspada lagi menjaga Kak Cinta." Raisa menyahut.


"Bagaimana dengan bedebah itu?" William menanyai saudara kembarnya.


"Papa sama opa sedang menuju kantor polisi. Biarkan mereka yang urus Azka Kak, kamu fokus aja sama Kak Cinta."


"Aku nggak akan tinggal diam jika Cinta sampai kenapa-kenapa. Dia bahkan memukul istriku. Dia berani melakukan kekerasan pada wanita hamil," geram William.


"Dia akan mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatannya Kak. Percayalah."


"Iya Kak, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Fokus aja sama Cinta," sela Hanum.


"Aku takut terjadi sesuatu padanya Ma."


"Doakan dia, bukan malah menangis seperti ini," kata Hanum. Wanita paruh baya itu memeluk putra sulungnya sembari mengusap punggung William.


Pintu terbuka lebar. Seorang pria bersneli keluar diikuti dua orang perawat di belakangnya. Semua orang yang duduk di kursi tunggu pun menghambur mendekati dokter itu.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok? Dia baik-baik saja kan? bayi kami bagaimana?" tanya William beruntun.


"Kondisi pasien baik-baik saja meskipun mengalami lebam di wajah juga lengan akibat kejadian penculikan itu. Bayi dalam kandungannya juga dalam kondisi baik, hanya saja saya mengkhawatirkan kondisi psikisnya. Pasien merasa terguncang dan sangat ketakutan," jelas dokter bernama Gunawan itu.


"Apa! Lalu apa yang harus kami lakukan Dok?"


Raut wajah mendung menyelimuti tak hanya wajah William, tapi Hanum dan juga Willmar beserta istrinya.


"Pasien telah mendapatkan penanganan khusus dari dokter ahli, sementara yang bisa kita lakukan hanya terus memantau agar kondisinya tak semakin memburuk. Peran suami juga sangat penting dalam proses penyembuhan pasien."


"Baik Dok. Saya akan menjaganya dengan baik," lirih William.


"Pastikan pasien selalu merasa nyaman, jangan ingatkan dia pada kejadian buruk yang baru saja menimpanya."


"Baik Dok. Lalu, apakah kami sudah boleh menjenguknya?" tanya Hanum.


"Sementara saya sarankan untuk jangan dulu menemui pasien kecuali suaminya. Mengingat kondisinya seperti ini, pasien membutuhkan banyak waktu beristirahat. Pastikan Anda selalu berada di sisinya, dan jangan lupa untuk tetap membuatnya merasa nyaman," kata Dokter Gunawan lagi.


"Ya Dok."


"Pasien telah kami pindahkan di ruang rawat inap, suster akan mengantar Anda ke sana."


"Baik Dok, terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama. Saya permisi dulu. Jangan lupa antar suami pasien Sus!" titah Gunawan pada perawat.


"Baik Dok."


Hanum mendekati putra sulungnya. "Mama sama yang lain pulang dulu, kami akan sering berkunjung untuk menjenguk Cinta dan juga membawakan keperluan kalian selama Cinta dirawat di rumah sakit."


"Iya Ma. Terima kasih."


"Nanti malam aku temanin kamu Kak," janji Willmar.


"Nggak usah! Sementara kamu di rumah aja dulu, setidaknya tunggu sampai kondisi Cinta pulih," kata William.


"Ya udah, kami pulang dulu. Jaga Kak Cinta dengan baik," pesan Willmar.


"Iya. Kalian hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi aku agar aku tahu kelanjutan kasus Azka."


Willmar mengangguk, kemudian menggandeng ibu dan istrinya meninggalkan rumah sakit.


"Kasihan Kak Willi Ma. Baru juga bahagia sebentar, udah datang lagi cobaannya," gumam Willmar, sendu.


"Begitulah hidup, Sayang. Semua orang telah ditakdirkan dengan jalan hidup dan permasalahannya masing-masing, tapi Mama yakin. Dengan datangnya ujian ini dapat membuat mereka semakin dekat satu sama lain. Mama bisa lihat kekuatan cinta di antara mereka. Tak peduli cobaan datang, mereka pasti akan saling menguatkan," tutur Hanum.


"Iya Ma."


"Mama juga selalu mendoakan kalian berdua," sambung Hanum. Ia mengecup pipi putra dan menantunya bergantian.


.


.


Setiap langkah kaki William terasa berat. Hanya membutuhkan beberapa langkah saja dari ambang pintu menuju bed di mana terdapat Cinta tengah terkulai lemah. William merasa seolah ada beban ribuan ton yang tertambat di kakinya. Susah payah, William terseok berusaha menggapai istrinya.


Bulir bening kembali terjun bebas saat pria itu melihat tubuh Cinta bergetar. William kembali merasakan hatinya seolah sedang diiris-iris manakala Cinta menangis dalam diam.


"Sayang," bisiknya amat lembut.


Cinta membalikkan badannya demi bisa menatap wajah pria yang amat dicintainya. Wajah keduanya sama-sama basah.


"Mas, maafkan aku," lirih Cinta.


William bergabung dengan istrinya di bed. Ia mendekap Cinta sangat erat seolah takut kehilangan wanita itu.


"Tidak! jangan katakan apa-apa lagi Sayang. Aku yang salah," kata William.


"Tidak Sayang, akulah yang paling pantas disalahkan di sini. Aku payah karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik."


"Azka berusaha menjebakku dengan mengatakan sesuatu yang buruk padamu Mas, dan bodohnya aku yang masuk ke dalam jebakannya. Harusnya aku nggak percaya sama dia dan tetap nunggu kamu di sana," ucap Cinta masih sambil menangis.


"Enggak Sayang, kamu nggak salah. Raisa sudah menceritakan semuanya sama aku. Dia melihatmu dan Azka berbicara. Beruntung dia melihatmu Sayang, jika tidak maka aku bisa gila karena takut kehilanganmu."


"Aku takut Mas ..."


"Cukup Sayang. Ada aku di sini. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu lagi. Berhentilah menangis," bujuk William.


"Aku takut Mas," ulang Cinta.


William mengeratkan pelukannya. Bibirnya tak henti mengecup kening Cinta dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


Ada sesal yang sangat mendalam di hati Cinta dan membuatnya tersiksa. Penyesalan karena tak mempercayai suaminya dan malah dengan bodoh terjebak dusta pria lain, juga sesal karena sempat meragukan Raisa. Pertolongan Raisa tadi cukup membuktikan betapa tulusnya wanita itu padanya.


"Mas mau maafin aku kan?"


"Sumpah demi Tuhan, berhenti meminta maaf Cinta. Akulah yang salah. Kita lupakan kejadian ini ya, fokus saja pada bayi dalam kandunganmu. Dia pasti sedih jika tahu mamanya juga bersedih."


William semakin membenamkan wajah Cinta di dadanya. "Aku hampir gila karena mencarimu Sayang. Aku bisa mati jika terjadi sesuatu padamu dan bayiku."


"Maaf ..."


"Aku sangat mencintaimu Sayang. Tolong, jangan pernah membuatku takut. Jaga dirimu demi aku."


"Iya Mas. Aku janji nggak akan pernah menjadi bodoh lagi."


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat ya."


"Tetaplah di sini Mas, temani aku tidur," rengek Cinta seraya menarik kemeja yang dikenakan suaminya.


"Iya Sayang. Mas janji akan tetap di sini."


Sepasang suami istri itu pun memejamkan mata. Ada banyak sekali drama yang terjadi hari ini yang sangat menguras emosi dan tenaga.


Malam telah mendekap bumi sepenuhnya ketika William membuka mata. Melirik ke arah jendela, ia sedikit terkejut melihat hari yang telah berganti menjadi malam. Itu berarti telah lebih dari tiga jam dia dan Cinta tertidur. Dengan gerakan amat pelan, William berusaha memindahkan kepala Cinta dan meletakkan bantal di bawahnya.

__ADS_1


William meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Lengannya kram dan sangat sakit akibat Cinta jadikan sebagai bantal. Pria itu pun menuruni bed dan membersihkan diri sebelum memesan makan malam untuknya dan Cinta, paham betul jika istrinya pasti akan menolak jatah makanan dari rumah sakit.


Usai menyelesaikan ritual mandi dan mengganti pakaiannya, William pun membangunkan Cinta dan menyeka wanita itu.


"Sayangku mau makan apa?" tanya William.


"Aku nggak lapar Mas."


"Hust, kita kan udah sepakat untuk melupakan semua kejadian buruk tadi. Mari kita mulai hal baru. Bulan madu kita belum selesai lho." William berusaha mengalihkan perhatian Cinta agar wanita itu tak lagi mengingat kejadian buruk karena penculikan itu.


"Mas," desis Cinta.


"Benar kan? Bulan madu di hotel sudah, kita lanjutkan bulan madu di rumah sakit juga aku rasa bukan tidak buruk."


"Bisa-bisanya kamu Mas."


William mendekati istrinya, memajukan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Cinta.


"Kita belum pernah lho bercintaa di rumah sakit. Enak kali ya, sensasinya beda," bisik William.


"Ya ampun Mas, kamu mesuum."


"Biarin aja, mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa malah dapat pahala. Lagian aku masih ingat lho gaya baru yang kemarin kita praktekkan. Ternyata emang beda, rasanya jauh lebih nikmat, aku jadi ketagihan. Gaya kamu emang benar-benar bikin aku ..."


"Mas." Cinta membekap mulut suaminya. "Malu ih, apa pentingnya ngomong begitu." Cinta mengomeli suaminya.


"Ya penting lah, karena sekarang aku jadi ketagihan, salah kamu sendiri. Sumpah Cin, rasanya tuh ..."


"Mas, sekali lagi kamu ngomong begitu aku tabok nih," ancam Cinta.?


"Mau dong, apa lagi kalau ditaboknya pakai bibir, di sini." pria itu melirik bagian bawah tubuhnya.


"Ya ampun Mas, gila kamu."


"Iya, aku gila karena kamu. Kamu sendiri gimana? masih kuat kalau misalnya kita main dua ronde nanti kan?" William mengedipkan sebelah matanya menggoda Cinta.


Demi Tuhan. Cinta merasa malu sekaligus berbunga-bunga dalam waktu bersamaan. Untuk sesaat dia bisa melupakan kejadian buruk tadi.


William dengan telaten menyuapi istrinya. Cinta minta dibelikan mie ayam dengan toping ceker ayam dan bakso. Pria itu senang karena istrinya memakan makanannya sampai habis. Sebagai penutup, Cinta menghabiskan satu cup kecil puding cokelat kesukaannya.


"Kenyang banget Mas."


"Syukurlah kalau gitu, kamu jadi siap dan punya banyak tenaga. Nanti jangan minta aku berhenti ya, mintanya nambah dong. Menyenangkan hati suami kan dapat pahala juga." lagi-lagi William menggoda istrinya.


Selang beberapa menit, keduanya kini duduk di bed dengan Cinta yang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Mereka banyak berbincang tentang hal kecil dan William senang ketika Cinta tertawa jika ada hal kecil yang dirasa lucu oleh gadis itu.


Cukup lama mereka berbincang hingga tiba-tiba Cinta meringis memegangi perutnya.


"Mas ..."


"Kenapa Sayang?"


"Perutku sakit banget," adu Cinta.


"Apa? tadi kan mienya nggak pedas Cin."


"Aduh Mas, sakit banget ..." Cinta terus merengek sambil memegangi perutnya.


Di tengah kegelisahannya, William merasakan sesuatu mengalir dan membasahi celananya, membuat pandangannya tertuju ke arah bawah. Laki-laki itu terperanjat menyadari cairan itu berasal dari tubuh istrinya.


"Ya ampun Sayang." William yang panik gegas turun dari bed.


"Perutku sakit banget Mas."


"Iya sebentar, aku panggil dokter dulu." Tangan William bergetar menekan tombol darurat yang ada di dekat bed.


"Ya Tuhan ..." Cinta terus merintih.


"Sabar Sayang. Dokter akan segera datang." William berjalan tak ubahnya setrikaan. Ia mulai panik.


"Mas."


Mendengar teriakan kesakitan Cinta membuat William hilang akal. Meski tak tega, dengan perasaan campur aduk pria itu mendekati istrinya dan menguatkan Cinta.


"Sepertinya bayi kita mau lahir Mas," kata Cinta.


"Iya Sayang. Huh, padahal kita belum mencoba gaya baru di sini, tapi dia sudah memaksa minta keluar. Belum lahir saja dia berusaha merebutmu dariku, dasar anak nakal. Awas saja nanti jika dia sudah lahir, akan aku hukum dia," ancam William.


Cinta merasa frustasi. Di tengah rasa sakit yang menderanya, bisa-bisanya suaminya itu mengatakan hal konyol seperti itu.


"Auw! Sayang!" William memekik saat rambutnya dijadikan sasaran sebagai pelampiasan rasa sakit wanita itu.

__ADS_1


"Aku benar-benar akan menghukummu jika kamu membuat mamamu kesulitan Sayang." Lagi, William mengancam bayi yang bahkan belum lahir itu.


Bersambung ....


__ADS_2