
"Ada apa Mas? Berulang kali saya katakan, saya nggak tahu keberadaan Neng Cinta kalau kedatangan Mas ke sini untuk menanyakan hal itu," ujar Aldi.
"Tujuan saya ke mari bukan untuk itu Mas."
"Lantas?"
"Saya ingin membuat penawaran dengan Mas Aldi."
"Penawaran?" Dahi Aldi sukses berkerut sempurna memikirkan penawaran apa yang dimaksud William.
"Iya. Saya menaruh harapan yang besar agar Mas Aldi mau mempertimbangkan penawaran saya," kata William.
"Penawaran apa Mas?"
"Soal ..."
"Silakan diminum kopinya Mas."
Sari datang dan meletakkan cangkir kopi, masing-masing di hadapan William juga suaminya.
"Ya, terima kasih Mbak," ujar William tulus.
"Jadi apa yang ingin Mas Willi katakan?" Tanya Aldi penasaran.
"Saya sudah membeli rumah berukuran luas dengan harga dua kali lipat dari harga saat Mas Aldi membeli rumah ini dari mantan istri saya. Saya ingin Mas Aldi sekeluarga pindah ke sana, saya juga akan mengembalikan uang yang sudah Mas Aldi bayarkan untuk membeli rumah ini, pun dengan jumlah dua kali lipat."
"Maksud Mas Willi?" Aldi dan Sari saling bersitatap, mereka masih bingung dengan ucapan William.
"Rumah ini merupakan satu-satunya peninggalan orang tua Cinta. Saya nggak mau sampai ada yang membelinya, saya mohon sama kalian, tolonglah saya. Pindahlah ke rumah yang sudah saya tentukan, dan saya juga akan mengembalikan uang yang telah Mas Aldi bayarkan pada Cinta, dua kali lipat," terang William.
Aldi menghembuskan napas panjang, lelaki itu tampak berpikir keras. "Bukan masalah uangnya Mas, masalahnya saya dan Neng Cinta sudah sama-sama membuat kesepakatan," ujarnya.
"Saya mohon Mas, tolong pikirkan tawaran saya. Saya nggak bisa hidup seperti ini terus. Seandainya saja saya belum bisa menemukannya, tapi setidaknya dengan tinggal di rumah ini membuat rasa rindu saya padanya akan berkurang. Saya mohon Mas, Mbak," pinta William memelas.
"Gimana menurutmu, Sari?" Aldi meminta pendapat istrinya.
"Kalau saya sih terserah Akang aja gimana baiknya, tapi kalau saya boleh usul, sebaiknya kita memang terima tawaran Mas Willi. Saya nggak tega sama dia," sahut Sari setengah berbisik.
Aldi terdiam untuk beberapa saat lamanya. Lelaki itu benar-benar bingung. Di satu sisi dia ingin tetap tinggal di sana, tapi di lain hati, sejujurnya dia juga merasa tertarik dengan penawaran William. Ada setitik keraguan, takut jika dikatakan dia telah mengingkari kesepakatannya dengan Cinta.
"Gimana Mas?" Tanya William.
Aldi terkesiap dari lamunannya. Sekali lagi ia menatap istrinya seolah meminta jawaban. Barulah Aldi memberanikan diri memutuskan begitu melihat Sari menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Mas, saya terima tawaran Mas Willi, tapi dengan satu syarat," putus Aldi.
"Apa itu?"
"Cukup biarkan saya sekeluarga pindah ke rumah itu, jangan berikan uang pada saya karena saya tidak mau dikatakan mengkhianati kesepakatan antara saya dan Neng Cinta."
"Tapi saya tetap memaksa. Anggaplah itu sebagai tanda terima kasih saya pada kalian!" Tegas William.
"Mohon maaf, tapi keputusan saya sudah bulat. Kami hanya akan pindah ke rumah yang Anda berikan jika Anda menginginkan rumah ini."
"Baiklah. Saya akan memberikan kunci dan sertifikat rumah itu pada kalian, besok."
"Ya. Kami juga perlu bersiap-siap untuk mengemasi barang-barang kami," sahut Aldi.
"Sekali lagi saya ucapkan beribu terima kasih pada kalian. Saya tidak tahu harus dengan apa membalas kebaikan kalian," ucap William, sendu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas. Jika memang Mas masih mencintai mantan istri Mas, maka berjuanglah! Sejatinya, seorang wanita akan luluh ketika melihat ada laki-laki yang dengan gigih memperjuangkannya," nasehat Aldi.
"Ya Mas."
"Besok jam delapan pagi kami sudah siap untuk mengosongkan rumah ini, Mas Willi bisa langsung menempatinya."
"Oh ya Kang, nanti barang-barang Neng Cinta bagaimana?" Tanya Sari.
William mematung. "Barang-barang Cinta? Maksudnya?"
"Oh ya, aku hampir lupa Sar. Ya Mas, ada sebagian barang-barang Neng Cinta yang masih tertinggal di rumah ini. Dia bilang mau mengambilnya sewaktu-waktu jika sempat," beber Aldi.
William membisu. Angannya kembali mengembara memikirkan banyak hal tentang gadis itu.
.
.
Pukul sembilan pagi.
Sesuai dengan yang dikatakan Aldi, dia dan keluarga kecilnya pindah ke rumah yang dibelikan William. Lelaki itu pergi usah William menyerahkan kunci rumah beserta sertifikatnya. William juga yang membayar biaya jasa mobil untuk mengangkut barang-barang Aldi.
Hening.
Itu yang dapat William rasakan ketika Aldi beserta anak dan istrinya meninggalkan rumah itu.
William menapakkan kakinya menyusuri setiap bagian dari rumah itu. Kamar Cinta. Ya, tempat pertama yang dia jadikan sebagai istana kala mereguk manisnya madu cinta. Tempat yang menjadi saksi ketika Cinta menyerahkan harta paling berharga demi dirinya.
William duduk, menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sama sekali tak ada yang berubah selain hanya gorden yang telah diganti.
Lelaki itu kembali mengayunkan langkahnya ketika dia mengingat tentang barang-barang peninggalan Cinta. Satu per satu barang dari dalam kardus besar itu William keluarkan sampai matanya tertuju pada buku tebal berwarna pink.
"Apa ini?" William terkesiap saat selembar kertas yang ternyata merupakan sebuah foto itu jatuh dari dalam buku.
Lagi, jantung William berdegup lebih kencang saat melihat foto dirinya semasa SMA ada dalam buku itu.
Rasa penasaran William sangat besar, hingga dia tak bisa menahan diri untuk membaca keseluruhan isi buku itu.
Lebih dari satu jam William membaca setiap goresan tinta yang tertuang di tiap halaman.
"Ya Tuhan, Cinta ... Jadi kamu sudah mencintaiku semenjak kamu masih duduk di bangku SMA? Ya, aku ingat waktu itu. Kau kelas satu dan aku kelas tiga. Kau selalu di bully anak-anak karena kau sekolah di SMA elit dengan hanya bermodalkan bea siswa. Belum lagi saat kau berjualan gorengan, tapi demi Tuhan ... Kenapa aku tidak bisa mengingatmu."
William kembali membuka lembaran kertas mendekati akhir dari buku tersebut.
"Jadi ini alasanmu menerima lamaranku waktu itu? Bodohnya aku yang tidak bisa melihat ketulusan cinta yang terpancar di matamu. Ternyata kaulah wanita yang benar-benar mencintaiku dengan tulus, dan aku tidak menyangka akan sekuat ini kau menjaga perasaanmu terhadapku. Kau sampai rela bekerja paruh waktu agar bisa kuliah, agar bisa bekerja menjadi sekretarisku, dan itu semua kamu lakukan semata demi cintamu padaku. Bodoh! Aku benar-benar bodoh!"
William mendongak ke atas, berharap pertahanannya tidak jebol akan tetapi usahanya sia-sia. Genangan di pelupuk matanya itu luruh bak air bah yang tak berkesudahan.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan Tuhan? Tolong ... Pertemukanlah aku dengannya, izinkan aku menebus dosa-dosaku padanya. Jangan siksa aku dengan cara seperti ini, aku mohon," ratap William.
Lelaki itu pun larut dalam tangisnya. Mendekap buku bersampul pink itu sambil merebahkan diri. Didekapnya buku itu dengan sangat erat, seolah itu adalah Cinta.
Waktu terus berjalan. Malam telah mendekap bumi sepenuhnya saat William terbangun. Matanya sembab setelah hampir seharian menangisi kepergian Cinta tak ubahnya orang gila.
"Aku harus segera mencari keberadaanmu, aku tidak bisa terus menerus seperti ini," gumam William.
.
.
__ADS_1
Cinta mengusap perutnya yang mulai membola. Sepiring nasi dengan cah kangkung tauco, sepotong ayam goreng kremes dan tempe goreng telah berhasil masuk ke perutnya.
"Sayangnya Bunda udah kenyang. Sekarang waktunya kita Istirahat, besok kita masih harus bekerja keras Sayang," ucapnya dengan tak henti mengelus perutnya.
Setelah mencuci peralatan makannya, Cinta bergegas menaiki kasurnya. Menatap langit-langit kamar dengan hampa. Ah, Cinta sangat membenci detik-detik seperti ini.
Bayangan William selalu saja mengejarnya ke mana pun dia pergi, dan itu membuatnya sedih. Membayangkan hidupnya yang malang, hamil seorang diri tanpa ada suami atau keluarga yang menemani. Tangis sudah menjadi teman setia Cinta selama dia menjalani pernikahan singkatnya dengan William.
Namun, Cinta sama sekali tak menyesali apa yang telah terjadi. Dia merasa sangat bahagia karena dirinya pernah menjadi bagian dari hidup William.
Bulan madu di Bali waktu itu, cukup membuat Cinta merasa bahagia. Terlebih dengan adanya janin yang ada dalam kandungannya saat ini, buah hatinya dengan pria yang sangat dia cintai. Tak apa-apa berpisah, setidaknya Cinta memiliki harta yang paling berharga dengan kehadiran calon buah hatinya nanti.
Lamunan Cinta buyar saat mendengar dering ponselnya mengalun indah memenuhi ruangan itu. Segera ia raih benda yang sejak tadi tersimpan rapi di atas nakas itu.
"Mang Asep? Ngapain beliau telepon malam-malam begini," monolog Cinta.
"Ya Mang," ujar gadis itu begitu menyeret icon hijau dan menempelkan benda itu di telinganya.
"Maaf Neng malam-malam ganggu istirahat Neng Cinta," sahut lelaki itu di seberang sana.
"Ya Mang nggak apa-apa. Hm ... Memangnya ada apa Mamang malam-malam begini nelepon saya?"
"Itu Neng, cuma mau kasih tahu kalau si Eneng sebaiknya jangan dulu datang ke rumah."
"Kenapa memangnya?"
"Saya takut Neng Cinta ketemu lagi sama mantan suami Eneng. Aa Willi teh kemarin mendatangi Aldi lagi, dia bujukin Aldi sambil terus memohon-mohon agar Aldi mau pindah ke rumah baru yang telah A Willi siapkan. A Willi bilang dia nggak mau kehilangan satu-satunya tempat berharga baginya karena dia bilang banyak kenangan di rumah itu."
"Jadi?"
"Ya akhirnya si Aldi luluh juga Neng. Dia sama Sari pindah ke rumah yang udah dibeli A Willi, terus rumah Neng Cinta sekarang ditempati sama A Willi," beber Asep.
Cinta terdiam. Menghirup udara sebanyak mungkin, berharap dengan begitu ia tak lagi kesulitan bernapas.
"Neng! Neng Cinta!"
"Iya Mang, ada apa?"
"Neng Cinta denger kan Mamang ngomong?" Tanya pria paruh baya itu.
"Iya Mang, Cinta denger kok."
"Terus apa yang mau Neng Cinta lakukan?"
"Nggak ada Mang. Biarkan saja semuanya berjalan sesuai dengan takdir Tuhan. Saya sudah berusaha untuk bersembunyi, menghindari lelaki itu, tapi jika pada akhirnya Tuhan kembali mempertemukan kami, saya hanya bisa berharap semoga semuanya akan baik-baik saja."
"Ya udah Neng kalau gitu, Mamang tutup dulu ya teleponnya. Maaf udah ganggu waktu istirahat Eneng."
"Nggak apa-apa Mang, terima kasih udah ngabarin saya. Maaf ya kalau saya sering ngerepotin Mamang."
"Iya Neng nggak apa-apa. Maaf juga kalau Mamang sering gangguin Neng Cinta."
"Nggak apa-apa Mang. Ya udah, saya tutup teleponnya ya."
"Ya Neng."
Cinta kembali menaruh ponselnya. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur. Banyak pertanyaan yang bermunculan dan hanya berpusat pada satu objek itu saja. Kenapa William malah seolah gencar mencarinya setelah terputus hubungan di antara mereka?
Bersambung ....
__ADS_1