Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Serangan Psikis


__ADS_3

"Awas saja kamu Num, aku tidak terima di permalukan di depan umum seperti ini. Tunggu pembalasanku!" Mauryn memukul kemudi mobilnya berulang kali, mencoba meluapkan kekesalannya.


Terlihat sekali kilatan amarah yang berkobar di mata wanita itu, bahunya naik turun dengan nafas yang memburu, memperlihatkan emosinya yang sedang memuncak.


Tergesa, Mauryn merogoh isi tasnya, mencari keberadaan benda pipih yang sejak tadi tersimpan rapi di sana. Tangannya lincah menekan layar untuk kemudian menelpon seseorang. Di saat genting seperti ini tiba-tiba dia teringat sesuatu, dan senyum tercetak jelas di bibirnya begitu mengingat satu nama yang bisa membantunya untuk melancarkan aksinya kali ini.


"Hallo, aku menagih janjimu. Aku butuh bantuanmu kali ini, temui aku di tempat biasa setengah jam lagi."


Mauryn menurunkan ponselnya begitu dia memutus sambungan telepon tersebut, kembali memasukkannya ke dalam tas kemudian mulai melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Membayangkan tentang rencana pembalasan dendam nya kali ini membuatnya bahagia. Dia terus tersenyum sambil menyenandungkan sebuah lagu favoritnya sepanjang perjalanan.


.


"Bagus Jeng, kamu sangat hebat tadi. Kita bisa lihat ekspresi wajah perempuan jahat itu, caramu membungkam mulut nya tadi, itu benar-benar keren."


"Memang sudah seharusnya dia mendapatkan perlakuan seperti tadi," Disha menimpali.


"Kalau menurutku malah yang tadi itu masih kurang, seandainya saja dia tidak langsung pergi, aku pastikan akan memberikan pelajaran yang jauh lebih memalukan lagi di bandingkan dengan yang tadi," ucap Ajeng begitu bersemangat.


"Iya aku sependapat denganmu Jeng, perempuan itu akan semakin liar jika terus di biarkan."


"Kenapa tidak sekalian kau hajar dia saja tadi? itu akan jauh lebih menyenangkan, kalau saja aku tidak sedang dalam keadaan hamil. Sudah aku jamb*k rambutnya tadi, akan aku cakar wajahnya, aku tampar kemudian aku ...,"


"Sayangnya aku tidak suka kekerasan Sha," Ajeng menyahut, menghentikan ucapan Disha yang seolah memendam bara api dalam hatinya,sama seperti dirinya. Lagi pula mana ada sih orang yang rela melihat temannya selalu diperlakukan dengan sangat buruk oleh orang lain.


"Lagi pula aku pikir juga cara seperti itu tidak akan mempan untuk menghadapi perempuan licik seperti Mauryn. Dia memang selalu bersikap kasar pada Hanum dan aku bisa saja membalasnya dengan perlakuan yang sama, tapi itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Menyerangnya secara fisik hanya akan melukai dirinya saja, kita harus memberikan serangan psikis juga, dengan begitu dia tidak hanya merasa terluka tapi itu juga bisa membuatnya terpuruk. Kita harus menggunakan otak kita dengan baik, menggunakan cara yang bisa meminimalisir tindak kekerasan tapi memberikan efek jera pada wanita ular seperti dia," imbuh Ajeng.

__ADS_1


"Dan sepertinya usahamu berhasil Jeng, aku rasa saat ini dia sedang marah dan terpukul karena mendapatkan serangan mematikan darimu tadi." Metha meneguk minumannya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering akibat terlalu lama berbicara.


Ketiga perempuan itu tengah asyik berbincang, tak menyadari kalau Hanum masih membisu sejak kejadian tadi hingga mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan dan memasuki sebuah restoran untuk makan siang.


Disha melirik bergantian ke arah Metha dan Ajeng, memberikan kode lewat tatapannya. Dan ya, mereka baru menyadari kalau ada satu orang lagi di antara mereka yang kehadirannya hampir dilupakan. Entahlah, rasanya mereka begitu antusias membahas soal Mauryn sampai-sampai melupakan si tokoh utama dalam topik pembicaraan mereka kali ini.


"Kamu kenapa sih Num? aku perhatikan dari tadi kamu diam, makananmu juga masih utuh." Metha menunjuk piring yang ada di hadapan temannya yang memang isinya masih utuh, belum berkurang sedikit pun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Disha mengusap bahu Hanum.


"Aku hanya merasa takut saja," lirih Hanum, meletakkan kembali sendoknya yang sejak tadi hanya dia mainkan untuk mengaduk isi piringnya.


"Memang apa yang membuatmu takut?" Ajeng menyambar begitu mendengar pernyataan temannya yang sukses membuatnya heran.


"Tidakkah kamu merasa apa yang baru saja kamu lakukan tadi bisa memicu timbulnya perbuatan nekad perempuan jahat itu Jeng?" raut wajah Hanum diliputi kecemasan, di tatapnya mendalam wajah temannya.


"Kau tahu sendiri perempuan seperti apa dia, aku takut setelah kejadian tadi, dia akan semakin berbuat nekat. Bagaimana jika dia merasa sikapmu padanya tadi itu sudah keterlaluan dan ...,"


"Lantas bagaimana dengan sikapnya padamu selama ini? kalau tadi aku berkata kasar padanya, lalu apa kabar dengan dia yang bersikap kasar padamu? bukan hanya lewat ucapannya saja tapi perlakuannya juga. Apa kau lupa dengan segala tingkah lakunya padamu yang sudah membuatmu menderita? gara-gara perempuan ular itu, wanita siluman itu hampir menghancurkan kehidupanmu Hanum." Ajeng membuang muka sebal, merasa tak habis pikir dengan sikap temannya. Bisa-bisanya Hanum bersikap seolah tak terjadi apa-apa dengan segala bentuk perlakuan tidak mengenakkan dari Mauryn, padahal Ajeng yang bisa di sebut hanya sebagai penonton saja merasa begitu murka setiap melihat perbuatan kejam Mauryn pada temannya. Lantas bagaimana bisa Hanum dengan santainya bersikap demikian.


"Kamu jangan salah mengartikan ucapanku Jeng, aku hanya takut kalau suatu hari nanti akan terjadi hal buruk padamu. Dia perempuan licik yang tidak akan segan-segan untuk melakukan hal keji demi menyingkirkan orang-orang yang dia anggap bisa menghalangi jalannya untuk mencapai tujuannya. Bagiamana kalau setelah kejadian tadi itu dia memutuskan untuk balas dendam lalu berbuat nekat padamu? aku tidak mau kalau kamu juga sampai mengalami kejadian buruk seperti yang dia lakukan padaku. Aku menyayangimu lebih dari sekedar teman, itu sebabnya aku takut. Aku mencemaskanmu jadi ...,"


"Sudah ... sudah ... aku tahu apa maksudmu. Jangan berpikiran terlalu jauh begitu, kau lupa kalau aku punya suami yang bersedia mengorbankan dirinya untuk menjagaku dan juga Bening? Mas Adam tidak akan membiarkan ada orang yang menyakitiku apa lagi sampai menyakiti anak kesayangannya. Jadi singkirkan pikiran buruk itu dari kepalamu."


"Tetap saja, aku tidak bisa untuk tidak mencemaskanmu, perempuan itu pergi dengan raut wajah yang begitu emosi, aku yakin saat ini dia sedang merencanakan sesuatu untuk menyerang balik kita."

__ADS_1


.


Di sebuah taman.


Mauryn yang begitu antusias untuk bertemu dengan seseorang yang dia anggap sebagai dewa penolongnya itu pun bergegas turun dari mobil begitu dirinya sampai di sebuah taman. Rasanya sudah tak sabar untuk membicarakan rencananya untuk melakukan balas dendam pada orang yang sudah membuatnya malu setengah mati tadi.


Dia terus mengayunkan kakinya menyusuri jalanan setapak yang membelah taman hingga langkahnya terhenti begitu dia melihat seorang pria sedang duduk dia sebuah bangku dan menunggunya. Setengah berlari menghampiri sosok pria tersebut dan langsung mendaratkan bokongnya tepat di samping pria itu.


"Hai," sapa Mauryn, dia mendekatkan pipinya untuk ber cipika cipiki.


"Aku pikir kamu sudah melupakanku."


"Mana bisa aku melupakanmu? kaulah satu-satunya pria yang bisa memuaskanku selama ini," kata Mauryn di susul dengan tawa lebar di bibir tipisnya yang berwarna merah.


"Itu saja tak cukup untuk membuatmu tetap bersamaku, buktinya kau memilih untuk hidup bersama Dion daripada bersamaku," ucap pria itu.


"Hah, jangan bicara omong kosong." Mauryn mengapit lengan pria di sampingnya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan nada manja.


"Tadi kau bilang ada sesuatu yang penting untuk di bicarakan."


"Nanti saja, sekarang ayolah kita pergi dari sini!" Mauryn beranjak dari duduknya, sedikit menyeret pria itu untuk mengikutinya. "Aku sangat merindukan sentuhanmu, rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan hal itu, terakhir kali sejak Yara masih dalam kandungan. Cepatlah!"


Melihat tingkah Mauryn membuat pria itu semakin bersemangat, dia mempercepat langkahnya dan menurut saja begitu Mauryn hendak membawanya ke suatu tempat.


.

__ADS_1


Selamat membaca semua ... 😍😍😍 semoga gak bosen ya dengan jalan ceritanya. Maklum Author nya masih amatiran, cuma sekedar menyalurkan hobi mengarang cerita saja 🤭. Jadi harap maklum ya kalau jalan ceritanya terkesan aneh dan jika ada sesuatu yang kurang.


Kira kira penasaran gak sama siapa pria yang ditemui Mauryn? siapa pun dia yang pasti HanSul mau kalian tetap dukung mereka dengan cara Like, vote, komen, dan share ya guys. Gommapseumnida 🙏🙏🙏😘😘😘


__ADS_2