
William kembali melajukan kereta besinya membelah jalanan. Mereka ke luar dari gedung pusat perbelanjaan itu saat malam telah mendekap bumi.
"Cinta, lusa kita ke rumah Mama ya. Tadi pagi Mama nelepon, nanyain kamu."
"Ya Mas. Kenapa nggak besok saja? Kan besok kita libur," Cinta menyahut.
William menggeleng. "Lusa saja. Opa dan Oma juga masih menginap di sana, mereka akan mengadakan piknik kecil-kecilan hari Minggu."
"Ya baiklah."
Hening.
Suasana dalam mobil itu kembali senyap, hingga terdengar dering ponsel mengalun indah. Memecah kebisuan mereka.
William merogoh saku jasnya, nama Raisa terpampang di sana. Tak dipungkiri, rasa itu masih ada di hati William. Ia merasa senang mendapatkan panggilan dari gadis itu. William melirik Cinta.
"Dari siapa?"
"Raisa." William menunjukkan ponselnya.
"Oh." Cinta tak berniat untuk bicara lagi.
"Halo Rai."
Entah hanya perasaannya saja, tapi Cinta merasa suara William terdengar sangat lembut dan mendayu-dayu ketika berbicara dengan gadis itu. Ada setitik rasa tidak suka pada Raisa, tak suka mendengar suaminya bertutur lembut pada wanita lain, tapi mau bagaimana lagi? Dia tak memiliki wewenang untuk melarang suaminya. Buru-buru Cinta menoleh saat dilihatnya William kembali mengantongi ponselnya.
"Kita mampir sebentar ya, Raisa sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Dia di rumah sekarang dan dia minta dibelikan roti bakar," beritahu William tanpa diminta. Cinta mengangguk saja tanpa berniat menjawab.
'Zaman sudah maju, teknologi berkembang sangat canggih. Tak ada yang sulit di era digital seperti ini, jangankan roti bakar, semua makanan bisa dengan mudah dipesan tanpa membutuhkan waktu lama. Memang dasarnya saja kecentilan, manja, tetap saja bergantung pada orang lain. Padahal suaminya stand by dua puluh empat jam, dan anehnya suamiku mau saja dijadikan kurir.' Cinta memejamkan mata. Baru saja dia merasakan sedikit kebahagiaan, dan kini dia kembali dibuat sesak melihat kenyataan di depannya.
Dua buah box roti bakar berhasil William dapatkan. "Kita antar ini dulu, sekalian jenguk dia. Kamu kan belum sempat menjenguknya kemarin."
"Hm."
William bukan tak tahu jika istrinya tak suka dengan Raisa, hanya saja dia memilih diam. Lagi pula jika dirunut, ini juga bukan murni kesalahan Cinta. Dirinyalah yang memiliki andil paling besar atas ketidaksukaan Cinta pada gadis itu.
William membukakan pintu mobil untuk Cinta begitu Alphard putih itu terparkir manis di garasi rumah saudara kembarnya. Menggandeng tangan kiri gadis itu sementara tangan kanan Cinta memegang buah tangan.
William mengetuk pintu, dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul.
"Malam, Bi. Adik saya mana?"
"Malam Tuan, silakan masuk. Den Willmar ada di kamarnya." Bi Rohmah, wanita itu mempersilakan William dan Cinta untuk masuk.
Rohmah mengetuk pintu kamar majikannya. "Permisi Den, Den Willi sama istrinya sudah datang."
"Ya Bi," Willmar menyahut. Lelaki itu gegas membuka pintu.
"Saya permisi ke belakang dulu," ucap Rohmah.
"Ya Bi." Willmar langsung memeluk saudaranya. "Ayo Kak masuk, Kak Cinta ..."
"Tidak usah, kami duduk di ruang tengah saja," tolak Cinta, halus.
"Baiklah, nanti aku ajak Rai keluar."
Sementara William dan Cinta sudah duduk manis di sana, tak lama setelahnya Willmar menyusul dengan menggendong istrinya.
__ADS_1
"Kak Willi!" Pekik Raisa, girang. Jangan lupakan pelukan dan kecupan di kedua pipi karena itu sudah menjadi kebiasaan jika William dan Raisa bertemu.
Cinta merasakan gejolak di dadanya. Dia tak habis pikir kenapa Willmar seolah biasa saja melihat interaksi istrinya. Meskipun mereka saudara kandung, tapi tidakkah ada sedikitpun rasa cemburu yang menghinggapi hatinya?
"Ini pesananmu, dimakan ya!" William mengusap puncak kepala Raisa.
"Terima kasih Kak, terima kasih Kak Cinta." Raisa sangat antusias membuka bungkusan makanan itu.
"Sama-sama. Bagaimana kakimu, sudah jauh lebih baik kan?"
"Iya Kak, sudah mendingan. Kak Cinta masih kerja sama Kak Willi?"
"Mau gimana lagi, aku nggak suka nganggur. Bisa lumutan kalau aku tetap di rumah," Cinta menyahut.
"Ya, benar Kak. Selagi belum punya anak, kita masih bebas berkarier."
"Mama sama Papa nggak ikut ngantar kalian pulang?" William menanyai adik kembarnya.
"Ikut Kak, mereka baru saja pulang. Tadinya mau nunggu kalian, tapi Papa bilang nggak enak ninggalin Opa sama Oma kelamaan."
"Begitu. Hm, Raisa bagaimana, apa masih perlu check up?"
"Tidak Kak, dia hanya terkilir saja. Palingan harus kembali lagi untuk memastikan kondisi kakinya telah pulih sepenuhnya, itu saja. Tidak perlu kontrol rutin."
Cinta yang sibuk mengobrol dengan Raisa sesekali mencuri pandang ke arah suaminya. William nampak malu-malu melirik Raisa, hal itu sukses membuat Cinta kegerahan.
Cukup lama mereka berada di rumah Willmar. Cinta sampai beberapa kali menguap, lelah bercampur dengan kantuk yang menyerangnya bersamaan.
"Kami pulang dulu ya Rai," celetuk William.
"Yaah, kok buru-buru sih Kak? Masih sore juga," cegah gadis itu.
"Benar Rai, kasihan Kak Cinta, dia kelelahan. Lagi pula sudah hampir dua jam mereka di sini. Kalian tidak akan mengobrol jika tidak segera dipisahkan," cerocos Willmar.
"Ya sudah," cebik Raisa.
"Kami pulang ya, besok kau bisa mengobrol sepuasnya dengan Cinta," ujar William.
"Ya. Kak Cinta besok ke sini lagi ya, temani aku."
"Ya Rai, aku pamit." Kedua gadis itu saling menempelkan pipi.
Willmar mengantarkan kakaknya sampai di depan pintu.
.
.
"Saya akan mandi di kamar mandi samping, Mas bisa mandi di dalam," ujar Cinta seraya meletakkan piyama untuk suaminya di sofa, lalu setelahnya Cinta gegas berlalu dari sana. Tak membiarkan kesempatan untuk William menjawab.
William pun mandi dengan cepat. Ritual membersihkan diri yang biasa memakan waktu sampai lima belas menit, dia pangkas menjadi hanya separuh dari waktu itu. Gegas memakai piyamanya, William naik ke kasur.
Ceklak.
William sontak menoleh ke arah pintu. Dia sudah mempersiapkan diri sebelumnya, tapi ya ampun ...
Lagi-lagi William dibuat mati kutu. Dia tak berkutik saat melihat istrinya berjalan gemulai mendekati ranjang. Matanya tak lepas memindai Cinta.
__ADS_1
Bathrobe putih yang membalut tubuhnya Cinta gantung di tempat semestinya, hingga kini terpampang tubuh mulusnya yang hanya terbalut kain tipis berenda.
Sumpah demi apa, William tak dapat menelan ludahnya. Lekuk tubuh Cinta begitu menggoda, makin diperjelas saat gadis itu memakai lingerie warna Saleem.
Batin William meronta saat Cinta menyibakkan rambutnya ke belakang, membuat pucuk bukit kembarnya mengintip. William leluasa mengamati pemandangan itu. Dua bongkahan daging kenyal yang sangat menantang, terasa penuh dalam genggaman tangannya. Semakin menurunkan pandangannya, William akan semakin menggila. Membayangkan isi di balik kain segitiga super mini berwarna hitam itu.
Oh, tidak. Kali ini, dia tak boleh gagal.
"Cinta." William menahan tangan Cinta yang saat itu sedang menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ada apa Mas?" Tanya Cinta, pura-pura tak tahu, padahal dalam hatinya sedang bersorak gembira karena sebentar lagi umpannya akan segera mengenai sasaran.
William menatap kedalaman manik mata istrinya. Napasnya memburu seiring dengan matanya yang berkabut gairah.
"Sa ... Itu ... Saya ..."
"Mas sakit?"
"Tidak, bukan itu." William menggeleng cepat.
"Lalu apa?"
"Sa ... Saya ... Saya menginginkanmu." Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya terlontar juga kata ajaib itu dari bibir William.
"Maksudnya?" Tanya Cinta, masih dalam mode pura-pura tak tahu.
"Itu ... Masa kamu nggak tahu," cebik William.
"Itu apa? Mana saya tahu Kalau Mas nggak ngomong. Itu apa?"
Detik berikutnya, William langsung menyambar bibir Cinta. Lelaki itu tersenyum begitu merasai bibir merah jambu itu. Rasa cokelat. Sesuai keinginannya.
Cinta mendelik saat merasakan gerakan William makin liar. Lelaki itu menelusupkan lidahnya di dalam rongga mulut Cinta. Menari, membelit, dan mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya tanpa ada yang terlewat. William baru melepasnya usai merasa puas. Beralih menuju leher jenjang itu, leher yang siang tadi sempat dia cicipi. Jejak keunguan bahkan masih tercetak jelas di sana dan William kembali menorehkan jejak baru.
Cinta mendesis. Ia merintih tertahan saat merasakan William menghisap kuat lehernya. Cinta pasrah jika malam ini dia harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, sesuatu yang dia jaga hanya untuk suaminya, dan ternyata orang itu adalah orang yang sejak dulu dia kagumi.
William melucuti helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya, lalu lingerie yang bertahan di tubuh Irene lun bernasib tragis usai William merenggut dan membuangnya di lantai.
Berulang kali William meneguk salivanya, kini dia melihat bukit kembar itu secara nyata, tanpa ada yang menghalanginya. Ganas, William menyambar pucuk bukit itu, puncak bukit berwarna pink yang teramat menggoda.
"Sssh! Maas ..." Cinta merintih di bawah kungkungan suaminya.
William terus melanjutkan aksinya. Bak bayi kehausan, ia terus menyusuu, menghisap, dan memainkan tonjolan kecil yang menggemaskan itu. Tangan kanannya pun tak tinggal diam, meremas, memilin ujungnya hingga si empunya menjerit menahan nikmat yang tiada tara.
Ini merupakan pengalaman pertama bagi keduanya. Cinta merasakan tubuhnya bergelinjang menahan siksaan kenikmatan yang bertubi-tubi William berikan padanya. Pun dengan William. Semakin wanita di bawahnya menjerit, semakin panas pula permainannya. Lelaki itu benar-benar telah terbakar gairah.
Tak tahan lagi, William manarik kain terakhir yang tersisa di tubuh Cinta. Kain hitam dengan tali kecil itu pun berakhir sama tragisnya, teronggok di lantai.
William membuka kedua kaki Cinta lebar-lebar, membuatnya dapat melihat dengan jelas lembah hitam yang menukik dengan jurang terjal di bawahnya. Cinta mendelik saat melihat batang kejantanan suaminya sudah berdiri gagah dan bersiap menembus pertahanannya. Membayangkan benda sebesar itu menerobos masuk miliknya yang sempit, Cinta bergidik ngeri.
"Saya masuk sekarang," ucap William dengan suara berat. William mengarahkan senjatanya tepat di depan lubang kenikmatan Cinta. Menggeseknya perlahan, lalu mulai menghentaknya.
"Argh! Mas!" Cinta mencengkeram bahu Suaminya.
"Kenapa nggak bisa masuk Cinta!" Omel William. Lagi, dia mencoba memasukkan miliknya.
"Argh! Mas Willi, sakit ..." Cinta merengek.
__ADS_1
"Ini bahkan belum masuk Cinta!" Jerit William, frustasi.
Bersambung ....