Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Hidup Bahagia


__ADS_3

William berjalan sambil menggandeng tangan istrinya menyusuri hamparan rumput yang membentang luas di areal pemakaman. Hatinya bergetar, ada banyak untaian kata yang telah ia siapkan sejak lama saat menyapa mendiang ibu mertuanya nanti. Langkah mereka pun terhenti di depan pusara bertuliskan nama Tania di sana yang bersebalahan dengan makam suaminya.


William memberikan Jayden untuk Cinta gendong. Pria itu duduk bersimpuh dan meletakkan sebuket bunga lily putih serta menarburkan kelopak bunga di atas makam itu.


"Ibu, aku datang bu. Maafkan aku yang tak sempat mengunjungi ibu selama beberapa waktu karena fokus pada Cinta dan bayi kami. Aku harap ibu tenang bersama ayah di sana. Maafkan semua kesalahan dan juga dosaku padamu selama ini, Bu. Aku akan menanggungnya dengan terus menjaga dan mencintai putri ibu. Izinkan kami sekeluarga hidup bahagia terlebih dengan lahirnya cucu ibu. Terima kasih telah melahirkan wanita sebaik Cinta bu, aku yakin Cinta terlahir dengan didikan yang sangat baik dari ibu. Izinkan aku menebus dosaku pada ibu dengan menjaga Cinta." pria itu menoleh ke arah istri dan anaknya yang tengah berdiri di bawah pohon.


Cinta berpikir suaminya membutuhkan waktu untuk mengungkapkan isi hatinya, jadilah dia dan Jayden menyingkir dari sana.


William mengusap sudut matanya sebelum titik bening itu jatuh membasahi wajahnya. Ia membungkuk hormat pada dua nisan seusai mencurahkan isi hati dan memanjatkan doa untuk mendiang mertuanya. Lalu setelahnya William mengambil alih Jayden dari gendongan Cinta dan membiarkan istrinya bergantian menuntaskan kerinduannya pada orang yang tak lagi ada di dunia yang sama dengannya.


Pukul sepuluh siang. Sepasang suami istri itu pun meninggalkan areal pemakaman. Matahari mulai naik dan udara panas mulai menyengat kulit, tak bersahabat.


"Jayden sama Bunda aja sini, kasihan ayah lagi nyetir," kata Cinta.


Balita berusia sebelas bulan itu nampak sangat antusias duduk di pangkuan ayahnya. Tangan mungilnya sesekali memukul kemudi dan memainkan tangan William yang melingkar di perutnya.


"Udah nggak apa-apa. Jangan ganggu kebahagiaan dia Yang, aku takut kamu dipukul kayak Willmar kemarin."


"Itu mah dianya aja yang jahil, muka Jayden dicium terus-terusan sama dia."


"Iya, papa kamu emang nakal, ganteng." William melirik putranya, mencubit pipi Jayden gemas.


Mobil terus melaju, kemacetan hampir terjadi di seluruh ruas jalan. Hari libur begini memang dimanfaatkan sebagian orang untuk berjalan-jalan sekedar melepas penat akibat aktivitas sepanjang hari.


"Jayden biar aku aja yang gendong ya Yang," ucap William begitu ia selesai memarkirkan mobilnya.


"Nggak capek?"


"Enggak, beneran."


Cinta meraih kain bertali yang dia simpan sejak tadi, memasangkan di tubuh Jayden agar William leluasa menggendong bayi itu. Sebuah topi menjadi sentuhan terakhir yang Cinta berikan di kepala Jayden untuk melengkapi penampilan bocah itu.


"Kita cari makan dulu?" tawar William.


"Mas lapar?"


"Iya, cuma sepotong roti lapis daging, tenagaku udah habis buat jagain Jayden yang dari tadi lompat-lompat terus," kelakar pria itu.


Cinta tertawa pelan. "Mau makan apa?"


"Nasi aja lah," balas William.


"Oke. Ayo."


Keduanya memasuki sebuah restoran makanan cepat saji. Si kecil Jayden yang sengaja didudukkan di kursi khusus terus mengoceh sambil menikmati biskuit di tangannya.


"Akhirnya impianku untuk hidup bahagia bersama kamu dan anak-anakku tercapai Cin." William menatap wajah istrinya bergantian dengan wajah Jayden yang kini kotor terkena remahan biskuit.


"Aku juga Mas."


William mengangguk. "Kita bisa hidup tenang dan bahagia sekarang. Semoga kalaupun ada angin yang datang menguji bahtera cinta kita, kita bisa tetap saling mencintai dan menjaga satu sama lain."


Cinta mengaminkan doa suaminya, dan mereka melanjutkan makan dengan diam.


.

__ADS_1


.


Willmar membuang napas panjang, dia menatap istrinya yang kini tengah menangis. Sehabis menyantap makan siangnya, wanita itu langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Aku panggil dokter ya?" tanya pria itu, menatap istrinya sendu. Wajah Raisa amat pucat, tubuhnya juga amat lemah.


"Nggak usah."


"Kamu lemas gitu," ujar Willmar lagi.


"Nanti juga sembuh sendiri Mas."


Willmar menundukkan kepalanya, dan Raisa tahu pria itu tengah menangis.


"Mas." mengusap kepala pria itu.


"Aku nggak tega kamu seperti ini Rai."


Benar dugaan Raisa, Willmar menangis, terbukti dari suaranya yang terdengar serak seperti menahan sesuatu.


"Aku nggak apa-apa Mas. Wajar orang hamil sampai muntah kayak aku. Kak Cinta bahkan masih mual muntah sampai usia kandungannya delapan bulan kan?" mengusap bahu suaminya.


"Tapi aku nggak tega," cicit lelaki itu.


"Kok malah kamu yang nangis sih, Mas?"


"Kamu kelihatan lahap banget pas makan tadi, tapi tahu-tahu langsung dimuntahin lagi."


Raisa tergelak melihat ekspresi wajah suaminya, pria itu mirip Jayden ketika sedang menangis.


"Aku mencemaskan kamu Yang, tapi kamu malah ngetawain aku."


"Udah lah, sebel aku sama kamu," omel Willmar. Pria itu bangkit dari kursinya dan ikut naik ke bed di mana Raisa tengah berbaring. "Aku mau tiduran aja sama kamu di sini."


Lagi, Raisa tertawa renyah. Baru kali ini dia melihat suaminya merajuk bak anak kecil. Biasanya jika di depannya pria itu hanya bersikap konyol saja.


"Udah Mas, jangan nangis. Untung Jayden nggak ada, kalau dia ada di sini, bisa diketawain kamu sama dia."


"Kamu jangan muntah lagi dong, aku aja yang lihatnya ngeri. Masa baru makan udah langsung dikuras lagi isi perutmu."


"Iya, aku juga pengennya nggak muntah Mas, tapi perutku benaran kayak diaduk-aduk."


Willmar merapatkan tubuhnya, meletakkan dagunya di ceruk leher Raisa yang kini membelakanginya. Tangan pria itu pun bergerak naik turun membelai perut istrinya yang masih datar.


"Anak-anakku yang pastinya kalau lahir kalian akan rupawan seperti aku." Raisa menggeleng mendengar ucapan suaminya yang terdengar konyol. "Jangan membuat mamamu kesakitan, oke? papa dan mamamu sangat mengharapkan kehadiran kalian, jadi tumbuhlah dengan sehat, dengan baik dan berkerjasamalah dengan mamamu. Buat dia menjalani masa-masa indah ini dengan kalian terus bersikap baik padanya. Jangan membuatnya muntah, mual, pusing atau apapun itu, oke? Papa sama mama dan keluarga besar kita telah menantikan kalian," oceh Willmar.


Raisa menggeleng pelan. Sisi kebapakan dalam diri suaminya mulai muncul, ya meskipun selama ini Willmar bisa menjaga dan mengurus Jayden dengan baik akan tetapi rasanya berbeda.


"Hm, Mas ..."


"Apa? haus? lapar lagi? atau mau ke kamar kecil?"


"Bukan," jawab Raisa, cepat.


"Terus apa?"

__ADS_1


"Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Raisa.


"Sedikasihnya Tuhan Sayang, asal kamu dan anak-anakku lahir dengan sehat dan selamat, itu udah cukup. Kita akan rawat mereka baik-baik."


"Ya, Jayden pasti senang punya adik."


"Tentu saja, nanti akan aku ajari dia bagaimana cara melindungi adik-adiknya dengan baik."


"Bagaimana kalau anak-anak kita yang malah nakal sama dia?"


Willmar terdiam sejenak. "Anak-anakku nggak mungkin nakal," balasnya kemudian.


"Siapa yang tahu, tapi dari yang aku lihat sih sepertinya Jayden mirip Kak Willi, dewasa dan memiliki jiwa melindungi."


"Terus kamu bilang anak-anak kita nakal gitu," cetus Willmar.


"Iya. Kayak kamu." Raisa menjawab, disusul gelak tawa yang amat riang.


"Aku cemburu lho, bisa-bisanya kamu ngomong gitu sama aku. Masa kamu belain Kak Willi sama anaknya ketimbang aku sama calon anak-anak kita." pria itu protes, pura-pura marah.


"Ya mau gimana lagi, kenyataannya gitu Mas. Kamu itu jahil, konyol, cerob ..."


"Terus ..." Willmar menekuk wajahnya.


"Ceroboh, nggak atur-aturan, tapi juga romantis, super baik dan yang pasti kamu jago banget bikin perasaanku berbunga-bunga," lanjut Raisa.


"Bohong," ketus Willmar, masih dalam mode marahnya.


"Ish, serius Mas. Aku nggak bohong beneran."


"Aku ngambek lho."


"Jangan ngambek dong, masa gitu doang ngambek."


"Ya lagian kamu muji-muji Kak Willi sama Jayden melulu, kan jadi cemburu akunya."


"Iya maaf, tapi kan udah langsung aku ralat tadi. Bagiku kamu yang terhebat, kamu suami idaman."


"Cium dulu, nanti aku nggak jadi ngambek," kata Willmar.


Raisa memukul punggung suaminya setelah menyadari jika ternyata kemarahan pria itu hanyalah kepura-puraan saja.


"Sengaja kamu ngerjain aku, Mas!" sembur wanita cantik yang masih berbaring itu.


"Lho, kan aku yang marah kenapa kamu ikut-ikutan marah?"


"Sengaja kamu ngerjain aku ya? ngaku nggak! pura-pura marah ujung-ujungnya modus minta dicium." Raisa yang kesal pun terrus mencubit perut suaminya.


"Sakit Yang, ampun." Willmar meringis seraya memegangi perutnya, tapi istrinya itu malah makin menjadi-jadi. Raisa terus mencubit lengan dan bagian tubuh Willmar lainnya yang bisa leluasa dia jangkau.


"Yang, ampun deh, sakit beneran. Capitan kamu tuh panas banget."


"Syukurin, rasain nih cubitanku, emang enak," ucap Raisa bersemangat sambil terus mencubit suaminya.


"Ya enak kalau dicubitnya pakai bibir, kalau pakai tangan kan sakit Yang."

__ADS_1


Willmar terus berusaha menghindari cubitan Raisa, tapi yang terjadi malah seluruh tubuhnya menjadi sangat sakit. Kejadian itu terus berlanjut hingga akhirnya Raisa terbawa suasana. Wanita itu memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Willmar. Keduanya saling beradu bibir dan ciuman panas pun tak terelakkan lagi.


Bersambung ....


__ADS_2