
William duduk gelisah sembari memilin tangannya. Di depan sana, sang putra tercinta tengah berdiri di atas matras dengan lawan mainnya, disaksikan oleh banyak pasang mata. Ya, Jayden kecilnya telah menjelma menjadi bocah lima tahun yang menggemaskan. William dan Cinta memasukkan anak mereka di salah satu TK terbaik di kota ini, dan saat ini Jayden terpilih menjadi salah satu anggota kejuaraan taekwondo tingkat taman kanak-kanak. Setelah menjalani beberapa hari masa latihan, terlebih dengan diajari Arya di rumah, maka hari ini adalah waktunya bagi bocah itu untuk menunjukkan kemampuannya.
Cinta melirik suaminya yang sesekali bangun dari duduknya, meninju udara dengan gemas dan jangan lupakan mulut pria itu yang berubah menjadi super cerewet. Sejak awal pertandingan Jayden dengan lawannya dari antar TK itu dimulai, William terus mengoceh tanpa henti. Menyoraki putranya untuk begini, lalu begitu, seolah Jayden yang posisinya agak jauh dari tempat duduknya itu bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
"Ayo Sayang, kamu pasti bisa! Jaydenku jagoan, ayo!" sorak William dengan tangan terkepal.
"Mas." Cinta menahan suaminya yang hendak maju ke depan.
"Sayang, aku gemas sekali padanya."
"Tapi dengan begitu kamu bisa membuat konsentrasinya terganggu, Mas."
"Aku sedang menyemangatinya, kenapa kamu malah ngomong begitu?"
"Mas ..."
Belum sempat Cinta melanjutkan ucapannya, suasana dalam gedung itu kembali ramai dengan teriakan. Ini memang babak penentuan pengambilan juara satu, suasana panas tercipta meski hanya kompetisi persahabatan antar siswi taman kanak-kanak, akan tetapi aura pertandingan begitu terasa. Sorakan dari para penonton masih terus terdengar bahkan setelah wasit meniup peluit dan mengumumkan pemenangnya.
Cinta duduk membeku di tempatnya melihat sang wasit mengangkat tangan anaknya ke udara, mengumumkan bahwa Jaydenlah pemenangnya.
"Sayang, kamu lihat itu! Jayden memenangkan pertandingan ini Sayang, Jayden kita pemenangnya," seru William bersemangat. Tubuh Cinta bahkan tanpa sadar dia dekap dengan begitu eratnya.
"Sayang, kenapa kamu malah bengong? ayo kita turun, kau tidak lihat Jayden kebingungan itu," kata pria itu lagi.
Cinta menurut saat suaminya menuntun tangannya menuruni kursi.
"Tunggu, kenapa Jayden menangis?"
Pertanyaan William membuyarkan lamunan Cinta, sontak wanita itu mengalihkan pandangannya pada Jayden, dan benar saja, Cinta terperanjat saat tahu putranya tengah menangis. Cinta mempercepat langkahnya tak mempedulikan William. Jayden terus menangis meski wasit sudah berusaha menenangkannya, sementara lawan main Jayden terlihat tenang dan baik-baik saja.
"Sayang, kenapa kamu menangis?"
"Bunda ..." Jayden menghambur ke dalam pelukan Cinta dengan berderai air mata.
"Oh Sayang, Bunda di sini Nak. Jangan nangis ya?" Cinta mengusap wajah basah Jayden dengan ibu jarinya.
William memberikan sebotol air untuk Jayden minum. "Apa ada yang terluka? ada yang sakit? kenapa kamu nangis Sayang?"
Pria itu mengambil alih putranya dari pelukan Cinta, mengusap kepala Jayden, mengecup keningnya bertubi-tubi sebelum akhirnya memeluk bocah itu.
"Jangan nangis Sayang, bilang sama Ayah, yang mana yang sakit?"
"Di sini Yah," adu Jayden seraya memegang dadanya, butiran dari matanya masih terus mengalir.
"Ya Tuhan, dada kamu yang sakit? bagaimana bisa? Ayah nggak lihat kamu kena pukul tadi," kata William.
"Bukan Ayah," bantah Jayden.
"Lho, tadi katanya bagian ini yang sakit?"
"Hatiku yang sakit Ayah."
"Hah!" William membelalakan matanya. Apa mungkin pukulan anak kecil bisa menimbulkan luka dalam sedangkan dia tahu betul lawan main Jayden bahkan tak sanggup menyentuh Jayden sedikitpun.
"Apa maksudmu Sayang?" tanya Cinta.
"Aku sakit hati Bun," ucap Jayden.
"Kamu sakit hati? Ya ampun." Cinta ingin tertawa saat itu juga, tapi berusaha dia tahan sekuat tenaga karena merasa ini bukan saat yang tepat.
"Kamu sakit hati kenapa Sayang?" William kembali mengusap kepala Jayden.
"Aku memang menang Ayah, aku juara satu, tapi buat apa kalau aku menyakiti dia." tangis Jayden kembali pecah, dia menunjuk lawan mainnya yang kebetulan berusia satu tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
"Oh, jadi ini yang bikin Jayden nangis?" tanya si wasit.
Jayden mengangguk dan lagi-lagi meneteskan air mata.
"Jayden, aku nggak apa-apa, aku baik aja-aja kok. Pukulan kamu emang sakit tadi, tapi aku yakin itu nggak akan bikin aku mati," ujar bocah berusia enam tahun bernama Eric itu.
"Kamu sakit karena pukulanku, maafkan aku," cicit Jayden di sela-sela tangisannya. Bocah itu menangkup kedua tangannya di depan dada.
Melihat itu membuat William dan Cinta saling berpandangan, mereka terharu sekaligus bangga pada Jayden.
"Aku nggak apa-apa. Biarpun aku kena pukul, nanti mamaku akan sembuhin kok, aku juga tetap dapat piala, sama kayak kamu biarpun cuma sebagai juara kedua. Jangan nangis lagi ya," kata Eric. Bocah itu maju dan memeluk Jayden.
Selepas drama itu berakhir, saat pemberian hadiah dan trofi adalah hal yang paling di nanti-nantikan. Tak seperti beberapa saat sebelumnya, wajah Jayden tak lagi basah karena air mata melainkan sekarang berubah menjadi berseri dan penuh dengan senyum keceriaan. Jayden menerima hadiahnya dengan sangat antusias. William pun tak melewatkan momen itu untuk membidik dengan kamera dan mengabadikannya.
"Kenapa kita buru-buru pulang Ayah, Bunda?" protes si kecil Jayden saat orang tuanya langsung membawanya pulang dari tempat itu.
"Jayden lupa ya kalau orang rumah sudah nungguin kita pulang?" William melirik putranya sekilas.
"Oh iya, terus kadonya mana Bunda?" bocah itu ganti menatap ibunya.
"Ada Sayang, udah bunda siapin rumah."
"Syukurlah." Jayden menghembus napas lega dan kembali bersandar.
.
.
Di ruang utama kediaman Pradipta terdapat berbagai aksesoris dengan hiasan balon dan pita. Dekorasinya yang kental akan warna biru, identik dengan warna kesukaan anak lelaki, juga dengan balon berwarna senada dengan pita-pita berwarna emas.
Semua orang nampak gembira dengan adanya acara ulang tahun si kembar Aaron dan Aarick, hampir semua wajah memasang senyum terbaiknya. Terkecuali si kembar. Ya, si bintang acara malah terus menekuk wajahnya sedari tadi.
"Eh, cucu-cucu Kakek yang ganteng kok cemberut," tegur Sultan. Kedua orang tua si bocah juga yang lainnya tengah sibuk menyambut tamu.
"Kakek, di mana Kak Jayden? kenapa dia lama sekali?" tanya si bungsu Aarick sambil menggembungkan pipinya.
"Sayang, Kak Jayden sedang dalam perjalanan pulang," bujuk Sultan.
"Kapan sampainya? ini lama sekali, Kek," tukas Aaron.
"Sebentar lagi sampai, sabar Kak."
"Ada apa Pa?" Willmar dan istrinya muncul.
"Ini, si kembar udah nggak sabar nunggu kakaknya pulang."
"Ooh, Kak Jayden pasti nyampe sebentar lagi, Sayang." Willmar berjongkok mensejajarkan posisinya dengan kedua buah hatinya.
"Itu juga yang dikatakan Kakek ganteng dari tadi," ketus Aarick. Semua cucu Sultan memang memanggilnya 'kakek ganteng' sementara panggilan 'kakek buyut nyentrik' mereka sematkan pada Arya. Nenek cantik panggilan untuk Hanum, sedangkan oma cantik panggilan untuk Ratih.
"Aaron ... Aarick ... aku pulang!" teriak Jayden.
Begitu William membuka pintu mobil, bocah yang masih berseragam putih itu berlari menyusul adik kembarnya yang kini duduk menunggu di sofa, persis di meja yang terdapat kue ulang tahun di atasnya.
"Kakak ..." teriak si kembar bersamaan. Kedua bocah itu menubruk Jayden dan mereka bertiga saling berpelukan.
"Bagaimana Kak, kamu juara berapa?" tanya Aarick.
"Kamu menang kan Kak?" Aaron tak mau kalah.
"Lihat ini." Jayden mengambil medali yang tersembunyi di balik seragam putihnya dan menunjukkan benda itu pada kedua adiknya.
"Yeay, yakin Kak Jayden pasti menang."
__ADS_1
"Hore, kakakku juara satu!" teriak Aarick, girang.
Saat ketiga bersaudara itu tengah bercengkrama, para orang tua pun juga sibuk mewawancarai orang tua Jayden.
"Cicitku juara satu?" tanya Arya, yang dijawab dengan anggukan oleh Cinta.
"Yes! siapa dulu gurunya, Opa, gitu loh," ujar Arya menyombongkan diri.
Semua orang tertawa, pantas saja cicit-cicitnya menjuluki Arya sebagai kakek buyut nyentrik karena memang kelakuan pria tua itu yang terkadang konyol.
Acara ulang tahun ketiga si kembar itu berjalan lancar. Semua tamu telah kembali, dan suasana rumah kembali normal seperti biasanya. Semua pernak pernik dan dekorasi ruangan telah dibersihkan.
Malam harinya, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing, pun dengan Jayden dan si kembar yang tidur lebih awal karena kelelahan.
William tengah duduk di kasur sambil memangku laptop mengecek pekerjaannya.
"Mas," panggil Cinta yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya Yang?"
"Tolong gosokin minyak kayu putih dong," pinta wanita itu. Duduk di kasur, membalikkan badannya dan mengangkat sedikit piyama tidurnya.
William menaruh laptopnya, menyibakkan rambut Cinta ke depan dan mulai mengoleskan minyak kayu putih di punggung istrinya. "Masih nggak enak badan?"
Cinta mengangguk.
"Kenapa nggak ke dokter aja sih? aku perhatikan beberapa hari ini kamu jadi gampang sakit lho. Kemarin tiba-tiba pusing, terus meriang. Takutnya sakitmu parah kalau dibiarkan," kata William.
"Cuma nggak enak badan biasa Mas, dibawa tidur juga nanti sembuh," elak Cinta, karena faktanya gejala yang dia rasa tak kunjung berkurang setelah hampir dua Minggu dia mulai merasa tak enak badan.
"Dari kemarin itu terus lho yang kamu omongin. Kita ke dokter yah?"
"Hoek ... Hoek ..." Cinta buru-buru lari ke kamar mandi.
"Sayang."
Mau tidak mau pria itu menyusul istrinya. William memijit tengkuk Cinta yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya.
"Tuh kan? dibilangin juga, kita ke dokter aja ya," ajak William.
"Nggak usah Mas." Cinta menggeleng.
"Eh, tunggu! Aku perhatikan kalau nggak salah bulan ini kamu nggak kedatangan tamu, apa jangan-jangan ..." William menghentikan ucapannya.
"Nggak mungkin Mas, orang baru tiga bulan aku lepas kontrasepsi kok."
"Justru itu Sayang, bisa aja kan langsung jadi? lagian tiga bulan itu bukan waktu yang sebentar lho. Buktinya dua bulan belakangan juga tamu kamu lancar-lancar aja datangnya, gangguin aku terus tiap bulan."
Cinta berpikir sejenak, apa yang dikatakan suaminya memang ada benarnya, terlebih dia juga merasakan tanda-tanda awal kehamilan seperti yang dia rasakan saat hamil Jayden dulu.
Karena di dera rasa penasaran, Cinta pun meminta suaminya untuk pergi ke apotek dan membelikan dua testpack sekaligus dengan merk yang berbeda. Setelah beberapa saat menunggu, Cinta pun langsung memakai alat itu.
"Gimana Yang? udah keluar hasilnya?" tanya William begitu istrinya keluar dari kamar mandi.
"Tunggu sebentar Mas."
Cinta memang langsung keluar usai mencelupkan benda kecil itu di dalam air seni yang dia tampung.
"Ya Tuhan, garis dua Yang, kamu beneran hamil." William memekik tak percaya. Ia memeriksa alat uji kehamilan yang satunya lagi, dan ternyata hasilnya sama. "Ya Tuhan, syukurlah Sayang, kamu hamil lagi."
William mendekap tubuh istrinya, menghujani kening Cinta dengan ciuman bertubi-tubi. "Terima kasih Sayang, aku sangat mencintaimu, terima kasih. Jayden pasti senang karena akan mendapatkan adik lagi."
Cinta mengangguk. Luar biasa sekali kebahagiaan yang Tuhan berikan padanya. Ia bahkan lupa atas duka yang pernah menimpanya dulu ketika pernikahan pertamanya bersama William. Semuanya telah berubah menjadi begitu banyak kebahagiaan kini ia rasakan. Buah dari kesabaran dan ketulusan hati yang Cinta miliki, membawanya menemukan cinta sejatinya.
__ADS_1
Tamat.
*Akhirnya kita tiba di penghujung kisah Guys, sedih sebenarnya musti pisah sama kalian, tapi apa daya, semua kisah sudah aku sampaikan. Semoga ada hikmah yang bisa kalian petik dari kisah ini. Ambil yang baik-baik aja ya, dan buang yang buruk-buruk. Mohon maaf apabila ada salah dan ada hal yang kurang berkenan di hati kalian. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak atas kesediaan kalian rela membuang waktu demi membaca kisah ini, tulisan remahanku. Oh ya, sekedar info juga barangkali kalian nanya aku ada karya baru lagi nggak di sini, gitu. Kayaknya cukup sekian Dears, aku belum kepikiran buat nulis lagi di sini karena kebetulan aku juga da jadwal deadline di platform sebelah. Di sana udah ada total 5 tulisanku, barangkali kalian mau berkenan mampir. Kalian tinggal pilih mau bacaan yang mengandung bawang atau yang romantis manis ala-ala CEO gitu. Pokoknya tinggal pilih aja, cek akunku di DR E AME atau IN NO VEL. Sekaliagi terima kasih Dears, atas segala bentuk cinta dan dukungan kalian buat aku. Saranghae All ❤️❤️❤️