
"Bagaimana dengan kondisi Dion dan juga istrimu?" tanya Adam begitu dirinya dan Raka telah sampai di bangsal rawat inap rumah sakit.
"Operasinya berjalan dengan lancar tapi kondisinya masih kritis," lirih Sultan.
"Hah ... setidaknya dia masih mempunyai harapan untuk hidup. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada Mauryn tadi seandainya dia ...," Adam tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah! untuk apa membahas perempuan itu, aku tidak sudi lagi untuk membicarakannya." Sultan menyandarkan kepalanya pada dinding, memejamkan matanya dan memijat pelipisnya.
"Lalu bagaimana kondisi Hanum? dia baik-baik saja kan?" Raka menatap dua pria di sampingnya yang dalam posisi sama persis, bersandar pada dinding dengan mata terpejam.
"Dia masih belum sadar, dia mengalami dehidrasi akut yang membuatnya begitu lemah. Perempuan jahat itu benar-benar biad*b, sepertinya ucapan preman itu benar adanya, dia mau membuat istriku mati pelan-pelan," jawab Sultan dengan tangannya yang masih sibuk memijit pelipisnya.
"Lalu apa yang dokter katakan padamu? kandungannya?"
"Untunglah janinnya baik-baik saja, mereka anak-anak yang kuat. Segala sesuatu yang telah terjadi pada ibunya tidak membuat mereka terganggu sedikit pun. Ajaib memang," Sultan tersenyum tipis. "Tinggal menunggu Hanum sadar saja, dokter sudah memasang infus di tubuhnya dan menyuntikkan vitamin, dokter bilang Hanum akan segera pulih."
"Syukurlah, akhirnya mimpi buruk ini berakhir juga." selesai mengatakan hal tersebut, Raka pun ikut-ikutan mengambil posisi seperti yang dilakukan dua temannya.
"Ck ... bagaimana dengan Alma, Dam? apa yang terjadi jika sampai dia mengetahui hal ini? dia memiliki bayi yang masih kecil dan ...," Sultan membuang nafas panjang.
"Dia akan sangat terluka, tapi aku harap dia tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mengobati luka hatinya. Sejauh yang aku tahu, dia memiliki karakter yang hampir mirip dengan Hanum, hanya saja dia sedikit pemalu. Dia wanita yang tangguh jadi aku rasa dia akan menikmati kesedihannya sekedarnya saja dan tidak akan berlarut-larut." Adam pun menjawab dengan mata terpejam.
"Semoga saja," balas Sultan.
Kruyuk ... kruyuk ... kruyuk ...
Mendengar kode keras yang berbunyi dari pusat penggilingan makanan yang berasal dari salah satu pria yang sedang duduk berjajar itu pun membuat ketiganya kompak merubah posisinya.
"Hah ... memalukan sekali!" Raka memukul pelan perutnya, membuat kedua temannya terkekeh begitu mengetahui suara itu berasal dari dalam perutnya.
"Siapa yang bilang kalau itu adalah hal memalukan? manusiawi jika kau kelaparan, aku pun juga. Bos besar kita saja yang tidak tahu malu, selama dua hari dua malam, mati-matian kita terus bekerja, menguras tenaga dan pikiran kita habis-habisan tapi dia sama sekali tidak memberi kita makan barang sedikit pun," sindir Adam yang di tanggapi dengan kekehan Sultan.
"Sorry ...," cicit Sultan dengan senyum tertahan.
"Aku tidak butuh maaf darimu, aku butuh nasi kau tahu!" ledek Adam.
"Santai Bro! kalau kau terus berteriak yang ada malah kau tidak punya tenaga lagi untuk bertemu dengan keluargamu di rumah, nanti." Raka menengahi.
"Good." Sultan segera menggeser layar ponselnya. "Tunggu! apa masih ada yang mau delivery order di jam segini?"
Adam melirik malas arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Baru juga jam sebelas, seharusnya masih," Adam menimpali.
"Memang kalian mau makan apa?" tanya Sultan, tangannya masih sibuk berselancar di dunia maya.
"Ramen Korea dengan telur setengah matang dan kuah merah super pedas akan sangat nikmat jika di santap pada malam dingin seperti sekarang." Raka menjilati bibirnya membayangkan semangkuk ramen yang dia inginkan.
"Nasi liwet lengkap dengan ayam goreng, ikan asin plus lalapan juga tak kalah enak," Adam menyahut.
"Di tambah pecel lele dengan kol goreng dan sambal yang pedasnya mengalahkan pedas ucapan Mauryn," Raka menimpali.
"Di tambah es krim rasa vanilla cokelat dengan butiran choco chips dan saus cokelat yang legit akan menjadi hidangan penutup santap malam kita yang terlambat." Adam mengedipkan sebelah matanya pada Raka.
"Apa masih ada lagi?" tanya Sultan tanpa ragu.
"Jadi kau sudah memesan semua makanan yang tadi disebutkan olehku dan Raka?" Adam mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wajah Sultan dengan tatapan keheranan.
__ADS_1
Sultan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang di ajukan temannya.
"Astaga!" Adam menepuk keningnya.
"Memang masih ada yang kurang? katakan saja biar aku memesannya lagi," jawab Sultan yang masih belum mengerti maksud Adam.
"Kau membeli semuanya?" tanyanya sekali lagi, memastikan kalau Sultan benar-benar membeli deretan menu yang baru saja dia dan Raka sebutkan.
"Tentu saja, kalian sendiri yang mengatakan ingin makan itu tadi kan?"
"Lalu siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu? bukankah kau memesan paket nasi liwet di sebuah Saung Sunda yang pernah kita kunjungi dulu?" tanya Adam.
"Ya," jawab Sultan singkat.
"Kau mau membunuh kami dengan membuat perut kami meledak karena kekenyangan? paket nasi liwet nya bisa untuk delapan orang sekaligus. Siapa yang akan menghabiskannya ya ampun ...," Adam masih menggeleng tak percaya jika Sultan benar-benar menuruti perintahnya.
"Entahlah." Sultan menggendikan bahunya. "Kau sendiri yang mengatakan ingin makan nasi liwet jadi aku sudah memesannya sekarang katakan di mana letak kesalahannya?"
"Sudahlah ... sudah! masalah sudah selesai pun kalian masih ribut. Aku yang akan makan semuanya dan kalau pun aku tidak bisa menghabiskannya, kita kan bisa memberikan sebagian makanan itu untuk perawat yang sedang jaga malam." Raka sampai mengangkat kedua tangannya untuk menengahi dua orang pria yang sedang beradu pendapat.
.
Perlahan Hanum membuka matanya, cahaya silau dari lampu yang ada di langit-langit kamar tersebut membuatnya menyipitkan mata. Berulang kali mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan sinar terang yang berpendar memenuhi ruangan.
Dia mengedarkan pandangannya, kamar ini bukan kamarnya dan dia melihat jarum infus yang terpasang di tangannya. Jelas, ini di rumah sakit.
Hanum beralih menatap ke bagian bawah tubuhnya yang terasa berat, seketika lengkungan tipis terbentuk di bibirnya. Dia melihat suaminya sedang tertidur dengan posisi duduk dan tangannya yang melingkar di atas perutnya.
"Mas ...," lirihnya hampir tak terdengar.
Perlahan di usapnya dengan lembut kepala suaminya, kembali mengulangi panggilannya untuk membangunkan pria itu.
Merasakan belaian lembut di kepalanya dan juga suara lirih istrinya membuat Sultan terkesiap. Pria itu segera mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah seorang wanita yang juga tengah menatapnya tak kalah sendu.
"Sayang, kamu sudah sadar?" ucapnya di susul tangannya yang merengkuh tubuh Hanum ke dalam dekapannya. "Kamu baik-baik saja kan? tidak ada yang sakit kan? atau ada yang sakit? bagian tubuh mana yang terluka cepat tunjukkan padaku! katakan apa yang di rasa?"
Mendengar rentetan pertanyaan suaminya membuat Hanum tertawa, pria itu selalu saja mengucapkan kata-kata itu jika sedang mencemaskan dirinya.
"Kenapa malah tertawa? katakan padaku apa yang di rasa? katakan saja jika memang tubuhmu terluka atau kau merasakan sakit. Jangan tertawa seperti itu, kau malah semakin membuatku takut," Sultan semakin di buat heran ketika melihat istrinya tertawa lepas tanpa beban seolah wanita itu tidak pernah mengalami kejadian buruk sama sekali, sebelumnya.
"Mas mau tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini?" tanya Hanum ketika tawanya sudah mulai reda.
"Cepat katakan! jangan membuatku cemas."
"Tolong ambilkan aku air minum," pinta Hanum dengan raut wajah yang berubah memelas.
"Jangan bercanda! katakan dulu padaku apa yang sedang kau rasa?"
"Aku minta air minum karena memang aku merasa sangat haus." Hanum memegangi lehernya. "Aku kehausan sekarang dan itu yang sedang aku rasakan."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Sultan bernafas lega, dia mulai bergerak untuk mengambil segelas air yang terletak di atas nakas.
"Kan sudah ku katakan sejak tadi, kamu saja yang berputar-putar tidak jelas dan menanyakan hal yang sama berulang kali." Hanum meraih gelas yang di sodorkan suaminya, meneguknya sampai isi dalam gelas itu kosong tak tersisa. "Lagi," pintanya pada sang suami untuk memberikannya segelas air lagi.
"Ini, pelan-pelan saja minumnya takut tersedak," kata Sultan yang begitu cemas melihat cara Hanum menghabiskan air minumnya.
Hanum kembali memberikan gelas kosong itu pada suaminya.
__ADS_1
"Mau lagi?" tawar Sultan.
"Cukup." Hanum menggeleng.
"Kasihan sekali dirimu Sayang." setelah meletakkan gelas kosong tersebut, Sultan mendekati Hanum dan duduk di tepi bed rumah sakit.
Hanum hanya tersenyum ketika merasakan tangan hangat Sultan terulur di tengkuknya yang membuat kepalanya berakhir dengan mendarat di dada bidang suaminya.
"Kau pasti sangat menderita selama di sekap di sana, tanpa di beri air minum dan makanan, tidur di lantai yang dingin tanpa memakai alas, perempuan itu sungguh kejam memperlakukan dirimu. Maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu."
"Tidak, jangan menangis, aku baik-baik saja sekarang," kata Hanum yang mendengar Isak tangis suaminya.
Perlahan Hanum melepaskan diri dari kungkungan suaminya.
"Bagaimana dengan bayiku Mas?" tanyanya sambil mengelus perutnya begitu ingat kondisi dirinya yang tengah mengandung.
"Anak-anak kita adalah calon anak-anak yang kuat Sayang, mereka baik-baik saja. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah melindungi kalian, mereka sama sekali tak terganggu jadi kau tidak perlu cemas."
"Syukurlah, lalu bagaimana keadaan kakek? waktu aku di bawa paksa pergi, preman-preman itu melukai kakek dan juga orang rumah. Dan bagiamana juga kondisi Mbok Darmi dan yang lainnya?" tanya Hanum terlihat begitu cemas.
"Kakek juga baik-baik saja Sayang, keadaan beliau sudah membaik dan besok juga sudah di perbolehkan untuk pulang. Mbok Darmi dan orang rumah semuanya sudah sehat setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit."
"Di mana mereka sekarang?"
"Kakek? tentu saja masih di rawat karena memang baru di perbolehkan pulang besok."
"Mbok Darmi dan yang lainnya?"
"Mereka? tentu saja ada di rumah, memang mau di mana lagi?" Sultan balik bertanya.
"Bukan itu maksudku, rumah kita kan waktu itu hancur di serang ...,"
Cup.
Hanum menatap tajam suaminya, kesal karena Sultan telah mencuri ciuman darinya.
"Mas ...," pekiknya tak suka.
"Rumahnya sudah kembali aman dan rapi Sayang, memang kau pikir suamimu ini siapa? tentu saja aku sudah menyuruh orang untuk merapikan kembali rumah kita. Istana tempat kita tinggal."
"Mulai lagi," gumam Hanum saat melihat suaminya kembali menyombongkan kedudukannya.
"Sekarang hanya ada kita berdua di sini jadi tidak akan ada orang yang menganggu kita."
"Maksudmu?" Hanum tak sungguh-sungguh bertanya karena sebenarnya dia sudah tahu maksud dari perkataan suaminya. Sangat jelas terlihat di wajah Sultan yang terus mengerling nakal di iringi senyuman licik yang terus dia umbar di depan istrinya.
Dan tak lama setelahnya, Hanum bisa merasakan benda kenyal nan lembut membungkam mulutnya. Ada perasaan bahagia yang menyeruak dalam hatinya manakala Sultan memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh hati-hati. Seolah dirinya adalah benda yang rapuh jika diperlakukan dengan sedikit tekanan.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu," bisik Sultan begitu bibir mereka saling terlepas.
"Aku juga," balas Hanum.
Entah apa yang membuat Hanum tergerak untuk mengalungkan tangannya di leher suaminya. Gadis itu membuka sedikit bibirnya, seolah memberikan kode pada sang suami untuk kembali memberinya kecupan yang bisa menuntaskan kerinduan setelah beberapa hari tak melihat wajah orang yang sangat dicintainya.
"Hanya ciuman saja lho ya, jangan mengharapkan lebih karena aku tidak suka melakukannya di tempat yang sempit. Cukup punyamu saja yang sempit." Sultan menggigit kecil hidung istrinya.
"Ish, dasar!"
__ADS_1
Sultan terkekeh begitu melihat wajah wanitanya yang sudah memerah menahan malu.
.