
" Dimana Hanum? kenapa dia tidak ikut makan?" Burhan menegur menantunya, melihat Ratih kembali ke meja makan tanpa membawa cucu menantunya.
" Dia baru saja muntah-muntah lagi, Yah." Ratih terduduk lesu, " Nanti biar aku bawakan buah saja ke kamar nya. Kasihan anak itu, semalaman tidak bisa tidur karena terus memikirkan Sultan."
" Ya sudah, segera bawakan buah untuknya begitu kamu selesai makan." pinta kakek tua itu.
Beberapa saat kemudian, Ratih sudah kembali ke kamar menantunya dengan membawa nampan berisi piring yang tersaji beberapa jenis potongan buah di atasnya beserta segelas susu rasa coklat.
" Sayang, nak ..." Ratih mengusap lembut kepala menantunya.
" Eh, mami."
" Hati-hati sayang." Ratih membantu Hanum bangkit dari tidurnya. " Maafkan mami ya, mami mengganggu tidurmu, padahal mami tahu betul semalaman kamu tidak bisa tidur. Tapi ini semua kebaikanmu, kamu harus makan sekarang." meraih piring dan menyodorkannya pada Hanum.
" Mi ..." panggil Hanum sembari menusuk potongan melon dengan garpu yang di pegangnya.
" Ya sayang?"
" Kapan kita akan berangkat ke Jakarta?" tanya Hanum, dirinya sudah tidak sanggup lagi kalau harus menunggu lama. Menunggu semalam saja terasa begitu lama baginya.
" Papi sudah menyuruh orang memesankan tiket pesawat untuk kita, kamu tenang saja. Nanti kita berangkat jam sepuluh."
" Yang benar, Mi?" girang, Hanum mempercepat proses mengunyah buah dalam mulutnya.
" Iya, kakekmu menyuruhmu Papi untuk mempercepat keberangkatan kita. Beliau tidak tega terus melihatmu bersedih saat berjauhan dengan suamimu."
" Iya, Mi." melanjutkan makannya.
" Kamu tidak apa-apa kan kalau naik pesawat? kemarin Sultan bilang sewaktu kalian datang kesini, kamu mengalami mabuk kendaraan. Tapi kalau naik mobil juga akan memakan waktu lebih lama, takut kamu kecapekan." terang wanita itu.
" Tidak apa-apa Mi. Naik pesawat juga tidak masalah."
" ya sudah kalau begitu, habis minum susu, kamu istirahat saja dulu. Semua keperluan kamu sudah di packing sama Bibi, nanti begitu kita akan berangkat, mami akan bangunkan kamu."
Hanum mengangguk, menghabiskan susunya sampai tandas tak tersisa kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
.
Di pesawat.
" Mami sudah mengabari Sultan belum, kalau kita sudah dalam perjalanan." Arya bertanya kepada istrinya.
" Belum, Pi. Maaf, mami sibuk terus dari pagi kan papi lihat sendiri, mami jadi lupa tidak menelpon Sultan."
" Ya sudah." Arya kembali ke posisi ternyamannya, meletakkan kepalanya di bahu kursi penumpang dan mulai membaca koran yang ada di tangannya.
Burhan, sang ayah yang duduk di sampingnya pun melakukan hal yang sama, membaca koran sekedar menghilangkan kejenuhan yang terjadi selama perjalanan.
Sementara Ratih dan menantunya duduk di kursi depan, ada perasaan lega saat melihat kekhawatirannya tidak terjadi, Hanum bisa tidur dengan lelap. Untunglah mereka memesan tiket pesawat VVIP, jadilah suasana di dalamnya tidak begitu ramai. Malah cenderung senyap karena hanya ada beberapa orang penumpang di dalamnya.
.
Begitu mereka sampai di rumah megah milik Sultan, Hanum segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
" Mi, Hanum masuk ke kamar dulu ya, mau istirahat. Kepala Hanum pusing, Mi."
" Ya sayang, kamu tidur saja. Biar mami sendiri yang akan mengurus semuanya."
Dan kini, setelah melihat menantunya masuk ke dalam kamar. Di susul suami dan juga ayah mertuanya yang sedang istirahat di kamar tamu. Tinggallah Ratih berdua dengan Mbok Darmi.
" Kenapa nyonya tidak istirahat saja, nyonya kan baru sampai, memangnya tidak capek?" kata Mbok Darmi yang saat itu sedang menata sayuran ke dalam kulkas.
" Sedikit Mbok, mending di sini. Daripada jenuh di kamar, aku tidak terbiasa tidur siang." sahut Ratih.
" Mau si Mbok buatkan minuman apa, nyonya?"
" Tidak perlu."
Selesai menaruh sayuran ke dalam kulkas, keduanya berjalan beriringan menuju taman belakang.
" Bagaimana keadaan di rumah ini selama Mbok Darmi tinggal disini?" Ratih membuka suara begitu mereka telah sampai di taman dan duduk di bangku.
" Baik, Nyah. Semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada kendala yang berarti."
" Mbok, pasti senang ya melihat kehidupan rumah tangga Sultan yang harmonis?"
Ealah, nyonya saja yang tidak tahu. Mereka berdua bahkan sempat akan berpisah. Rumah tangga mereka pernah di hantam badai yang lebih dahsyat dari tsunami.
.
Sementara di kantor.
" Apa masih ada pekerjaan lagi Ka?" tanya Sultan pada temannya.
" Aku mengantuk, kau tahu sendiri kan semalam aku tidak tidur. Aku hanya tidur satu jam pagi tadi, di tambah pekerjaan yang menggunung yang langsung harus aku selesaikan."
" Ya sudah, istirahat saja dulu di kamarmu."
Tak perlu berlama-lama lagi untuk Sultan memasuki kamar pribadi yang ada di dalam ruangannya.
" Aku akan tidur, jangan biarkan siapa pun mengganggu tidurku." pesannya kepada Raka sebelum dia mengunci pintu kamar.
" Ya baiklah."
Waktu terasa begitu cepat berlalu, Sultan memicingkan matanya ketika sinar matahari sore menembus kaca jendela dan menerpa wajahnya.
Perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tak di sangka hari sudah menjelang petang.
" Ka." panggilnya pada Raka yang masih setia menduduki kursinya.
" Ya, kalau mau pulang tinggal pulang saja, aku akan pulang setelah menyelesaikan ini. Aku juga tidak tega melihat kondisimu, kamu pasti sangat lelah. Bukan hanya capek tenaga, capek hati dan pikiran juga tiap kali ada masalah di kantor. Terlebih soal tadi pagi." masih sambil menatap serius layar komputernya.
" Ya, aku memang mau pulang, rasanya aku akan melanjutkan tidur di rumah saja." Sultan membereskan meja kerjanya, memasukkan beberapa barang ke dalam tas kerjanya. Memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal di sana.
" Hm, hati-hati kalau menyetir ya, tidak usah kebut-kebutan."
" OK. Oh ya, minta tolong nanti kamu ke bagian keuangan ya. Minta mereka memberikan bonus satu bulan gaji kepada seluruh karyawan." perintah Sultan.
__ADS_1
" Apa?" Raka menoleh, menatap wajah temannya.
" Tidak perlu berteriak, kau belum tuli kan? atau mau membuatku tuli?" Sultan berjengit, mulai berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
" Apa aku tidak salah dengar?"
Mendengar pertanyaan temannya membuat Sultan menghentikan langkahnya, dia kembali menurunkan tangannya yang sudah menyentuh handle pintu. Kemudian membalikkan badannya, menatap tajam ke arah pria yang masih duduk di kursi kerja nya.
" Pergilah secepatnya ke dokter THT, takutnya memang telingamu bermasalah." gumam Sultan.
" Aku serius." Raka selesai dengan pekerjaannya, mematikan komputer lalu mendekati temannya. " Memang dalam rangka apa kamu memberikan bonus kepada seluruh karyawan?"
" Kau bicara seolah aku ini atasan yang pelit, seperti baru pertama kali ini saja aku memberikan bonus kepada mereka."
Dan keduanya berjalan bersama meninggalkan ruangan itu.
" Bukan begitu maksudku. Aku kan hanya bertanya alasan kamu memberikan bonus. itu saja." Raka merangkul bahu Sultan.
" Anggap saja itu sebagai hadiah kepada mereka, bentuk wujud rasa syukurku atas kebahagiaan yang sedang aku rasakan."
" Apa? kebahagiaan apa yang kau maksud? apa karena ..." Raka menaik turun kan alisnya beberapa kali.
" Hanum hamil."
" Apa ..." Raka berteriak, tepat di samping telinga Sultan.
" Ya ampun, bisa tidak sih kamu jangan berteriak. Bisa tuli aku." Sultan menggerutu sambil menggosok daun telinganya.
" Serius kamu?" Raka terlihat sangat girang begitu mendengar kabar menggembirakan tersebut.
" Kapan aku pernah bercanda?" Sultan balik bertanya.
" Kenapa tidak menceritakannya padaku?" meninju bahu Sultan sampai pria itu meringis.
" Ini, kan aku sedang memberitahumu."
" Ck ... ck ... aku ikut bahagia untukmu." keduanya berpelukan. " Akhirnya senjata pamungkasmu berhasil mengeluarkan kesaktiannya juga. Tidak sia-sia usahamu selama ini, tapi ingat." Raka mengedipkan sebelah matanya, " Karena punyamu itu sudah membuahkan hasil, jadi mulai sekarang kau harus mengurangi olahraga malam mu."
" Kenapa memangnya?"
" Memangnya dokter yang memeriksa kandungan istrimu tidak bilang kalau biasanya di usia awal kehamilan itu sangat rentan terjadi keguguran. Jadi, jangan berpikir untuk melakukan itu sering-sering ya, kau bahkan harus berpuasa."
" Sok tahu."
" Apa? diberitahu bukannya terimakasih malah bilang begitu. Aku mengatakannya karena aku sendiri mengalaminya, dokter menyuruhku untuk berpuasa setidaknya ..."
Kemudian Raka menepak dahinya begitu mendapat sorot mata tajam dari temannya, terlebih dia baru menyadari kalau dia telah kelepasan bicara.
" Jadi kamu di suruh puasa?" Sultan terbahak, bahunya berguncang karena dia tidak bisa menahan tawanya.
" Tertawalah sepuasmu, sampai tiba giliran aku yang akan mentertawakan dirimu. Memang kau pikir hanya aku saja yang disuruh berpuasa? kau juga." menunjuk Sultan. " Hampir sebagian dokter kandungan akan mengingatkan hal itu kepada tiap suami yang istrinya dinyatakan sedang hamil muda."
" Tunggu!" Sultan menghentikan tawanya. "Apa itu berlaku untuk semua suami?"
__ADS_1
" Tentu saja. Tidak terkecuali." Raka mencebik.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Raka membuat Sultan dihantui rasa ketakutan. Dia juga sudah berpuasa selama lebih dari tiga Minggu dan apakah dia juga akan di suruh berpuasa lebih lama lagi?apa dia masih bisa tahan.