Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Ide Gila


__ADS_3

Bangun dalam keadaan sehat, masih bisa bernapas tanpa alat bantu, dikelilingi keluarga yang penuh cinta kasih. Memiliki suami yang senantiasa siaga dan juga buah hati yang menggemaskan adalah harta tak ternilai yang Cinta miliki.


Seperti saat ini. Dada bidang berbalut polo shirt warna navy menyambut Cinta ketika pertama kali ia membuka mata. Mengendus aroma tubuh yang mendamaikan dari pria itu, Cinta makin membenamkan wajahnya di dada William.


"Kenapa Sayang? apa dugaanku semalam benar? Baru dua Minggu aja kamu udah nggak tahan kan?" tanya William dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Cinta mendongak demi bisa menatap wajah pria itu. "Ngaco kamu Mas."


"Terus ini apa?"


Cinta membelitkan kakinya di atas kaki William, sementara tangannya melingkar erat pada perut berotot itu, juga tak kalah eratnya.


"Sebelum ini, aku takut jika pagi datang. Aku takut saat aku bangun kamu nggak ada dan apa yang aku rasakan adalah mimpi," lirih Cinta.


"Lalu sekarang?"


"Sekarang aku percaya."


"Percaya padaku atau cintaku?" William pun mengecup dahi wanita itu.


"Dua-duanya," balas Cinta.


"Sungguh?"


"Hm." Cinta mengangguk.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku waktu itu," seloroh William.


"Pertanyaan yang mana?"


"Dari mana kamu tahu nama anak kita sementara nggak ada satu orang pun yang memberitahukannya padaku."


"Itu ... rahasia."


Cinta mencubit pucuk hidung suaminya sebelum berlari ke kamar mandi dan memulai ritual membersihkan diri.


"Sayang, kok aku ditinggal sih? buka pintunya, aku juga mau mandi," teriak William.


"Tunggu Mas. Sepuluh menit lagi selesai."


"Maunya sekarang Cinta, aku bisa telat ke kantor nanti," rayu William lagi.


"Baru juga jam setengah enam, Mas masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap jadi jangan mengada-ada." Cinta menimpali.

__ADS_1


Pria itu kembali ke kasurnya dengan terus membingkai senyum di wajahnya. William sendiri masih tak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini. Perlahan kehidupannya mulai tertata. Lantunan doa terus William panjatkan, semoga jikapun ada ujian yang menghampiri rumah tangganya nanti, William berharap itu akan menjadi penguat cinta di antara mereka.


"Nanti pulang jam berapa Mas?"


Pertanyaan yang hampir setiap hari Cinta lontarkan pada suaminya ketika wanita itu membuat simpul dasi William.


"Sepertinya kerjaan aku nggak banyak hari ini jadi aku bisa pulang cepat, kenapa emangnya?"


"Enggak apa-apa. Akhir-akhir ini kamu sering banget lembur."


"Biasa, kalau akhir bulan kan sering gitu, tapi hari ini udah nggak begitu sibuk kayak kemarin," jelas William.


"Udah rapi. Ayo kita sarapan, yang lain pasti udah nunggu di meja makan," ajak Cinta.


Sepasang suami istri itu pun keluar kamar, tapi sebelum Cinta menuju meja makan, ia terlebih dulu mampir ke kamar di sampingnya untuk mengecek kondisi Jayden yang semalam tidur bersama orang tua keduanya.


Cinta mengetuk pintu. "Dek?"


"Iya Kak, masuk aja pintunya nggak dikunci kok." terdengar sahutan Raisa dari dalam sana.


Cinta memutar kenop pintu, sepersekian detik tubuhnya membeku, langkahnya terhenti. Cinta sungguh tersentuh melihat bagaimana Raisa mengurus Jayden dengan sangat baik. Tangan wanita itu begitu cekatan saat menggantikan baju pada si kecil Jayden.


"Masuk aja Kak, sini! Willmar udah lebih dulu ke meja makan," kata Raisa.


"Dek?"


"Aku tahu kamu sama Willmar baik banget, tapi apa dia nggak pernah protes kalau kamu sibuk ngurusin Jayden terus? Udah dua malam lho baby boy tidur sama kamu?" tanya Cinta hati-hati.


"Nggak masalah Kak. Willmar itu orangnya santai dan dia nggak mempermasalahkan apapun yang aku lakukan. Dia selalu dukung aku dalam segala hal Kak, termasuk buat ngurus si ganteng."


"Aku takut dia cemburu kalau kamu terus-terusan sama Jayden."


"Ya enggaklah Kak. Aman." Raisa menggendong Jayden lalu memberikannya pada Cinta. "Sama bunda dulu Sayang, takutnya bunda kangen."


"Terima kasih Mama," ujar Cinta.


"Ayo Kak, takut yang lain kelamaan nungguin kita di meja makan."


"Oke."


Saat formasi telah lengkap, acara sarapan bersama pun dimulai. Cinta menaruh bayinya di kereta dorong, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan menyiapkan keperluan suaminya.


'Pantas aja semua orang begitu menyayangi Kak Cinta. Dia tulus, baik dan sangat sederhana. Darinya aku belajar menjadi lebih baik lagi menjalani peranku sebagai seorang istri, anak, menantu sekaligus adik dan mama yang baik buat Jayden.' Raisa membatin.

__ADS_1


Jika melihat interaksi antara William dan Cinta, orang tentu tak akan percaya jika dua insan itu pernah mengalami masa-masa yang sulit dan sangat terpuruk yang mengakibatkan hubungan keduanya sempat kandas, tapi keadaan mereka berubah drastis sekarang. Baik William dan Cinta menjalani biduk rumah tangganya dengan baik. Mereka menjalankan perannya masing-masing dengan porsi yang pas, mereka juga menunjukkan betapa cinta dalam diri mereka itu sempurna dan tanpa cela. Itu yang membuat Raisa banyak belajar dari pasangan suami istri itu. Tak peduli seburuk apapun hubungan mereka sebelumnya, yang terpenting adalah kembali menjalaninya dengan baik dan menjadikan masa lalu adalah sebaik-baiknya pelajaran hidup.


"Hm, Mas. Aku minta izin buat antar Jayden ke rumah sakit nanti," kata Cinta.


"Lho, memang mau ngapain?" pria itu sibuk mengunyah roti lapis selai cokelat di mulutnya.


"Jadwalnya dia imunisasi."


"Kenapa nggak bilang dari semalam? tahu gitu aku ambil cuti."


"Nggak usah berlebihan, cuma mau imunisasi kok, Raisa juga ikut nanti," kata Cinta.


"Mama juga ikut jadi kamu nggak usah khawatir. Opa sama oma kamu juga rencananya mau pulang ke Semarang," beritahu Hanum.


"Lho, kenapa mendadak?" tanya dua bersaudara kembar itu bersamaan.


"Ada saudara jauhnya Opa yang sakit, nggak enak kalau Opa nggak ke sana. Lagi pula cuma seminggu, Opa nggak mungkin tahan kalau harus lama-lama jauh dari cicit kesayangan." Arya menyahut.


"Hm. Ambil keberangkatan kapan?"


"Pagi."


"Ya udah biar sekalian aku sama kakak yang antar, sekalian kami berangkat kantor," sahut Willmar.


.


.


Cinta tengah berusaha menenangkan tangis Jayden. Jarum suntik yang menembus kulit lengan tangan bayi itu membuatnya terus menangis. Cinta mengayun bayinya, sedangkan Raisa tengah menebus obat di bagian farmasi.


"Coba Mama gendong Cin, mana tau tangisnya berhenti," kata Hanum.


Cinta pun memindahkan bayinya ke dalam gendongan Hanum.


"Masih nangis Kak?" Raisa muncul dengan menggenggam bungkusan plastik putih.


"Udah nggak nangis kejer sih, mungkin dia udah mulai ngantuk."


"Ya udah ayo kita pulang. Jayden harus langsung meminum obatnya biar nggak sampai demam."


Berkat mertua dan adik iparnya, Cinta mulai mahir mengurus bayinya. Jika ada yang tidak wanita itu ketahui, maka Cinta tak segan untuk bertanya pada Hanum atau Raisa.


Setelah memberikan obat, Cinta pun ikut merebahkan diri kasur bersama Hanum dengan Jayden di tengah mereka. Raisa berpamitan untuk istirahat juga di kamarnya. Malam ini, Raisa telah bertekad untuk melakukan sesuatu. Hidupnya tak boleh berjalan biasa saja dan dia perlu membuat terobosan.

__ADS_1


Raisa tersenyum membayangkan kejutan yang akan dia buat nanti malam. Rasanya tak sabar untuk menunggu waktu cepat berlalu. Kepalanya telah dipenuhi dengan ide-ide gila.


Bersambung ....


__ADS_2