
" Selamat pagi istriku." sapa Sultan dengan suara seraknya.
" Hm." Hanum menggeliatkan tubuhnya. " Mas bangun dari tadi? kenapa tidak membangunkan aku?"
" Kenapa juga aku harus membangunkanmu?" menyelipkan rambut Hanum di balik telinga nya. " Aku menikmati sekali melihatmu dalam keadaan tidur seperti ini." kemudian Sultan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, berbisik mesra. " Sangat seksi."
Tiba-tiba saja Sultan meringis kesakitan setelah mendapatkan cubitan yang mendarat di perutnya.
" Sakit."
" Lagian kamu tuh ya, ngawur."
" Aku serius."
" Sudah sana mandi, nanti kesiangan lho."
" Memangnya kenapa kalau aku telat? kan aku pimpinannya." seloroh Sultan.
" Ish, justru kamu pemimpin perusahaannya, kamu tidak boleh terlambat, jangan memberikan contoh yang buruk pada bawahanmu."
" Iya ... iya."
Dengan wajah tertekuk, Sultan bangun dari tidurnya, mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Belum juga dia sampai di kamar mandi, dia sudah dikejutkan saat tiba-tiba Hanum berlari dan memeluknya dari belakang.
" Kalau kamu terus peluk aku seperti ini, yang ada malah aku telat masuk kantor lho." nyatanya Sultan tidak benar-benar mengatakan itu dari hati, terbukti saat dia tak menghindar dan malah begitu menikmati pelukan hangat dari istrinya. Ingin berlama-lama merasakan detik membahagiakan seperti yang terjadi saat ini.
" Apa semalam masih kurang?" dia lalu membalikkan badannya, menatap istrinya. "Kamu mau lagi?" mengerling nakal.
" Huh." Hanum mencebik lalu mendorong tubuh suaminya. " Sudah sana mandi, akan aku siapkan pakaianmu."
Sultan pun menggelengkan kepalanya, padahal mereka sudah sering melewati waktu berdua bersama, menghabiskan malam yang panjang dengan percintaan panas, bukan hanya di malam hari saja, pagi, siang, sore, kapanpun tiap ada kesempatan. Mereka akan melakukannya dengan penuh cinta, tapi rasanya, jantungnya terus berdebar setiap kali berdekatan dengan hanum, seolah belum pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar pelukan saja.
Lima belas menit kemudian.
" Mas nanti pulang jam berapa?" tanya Hanum, tangannya masih sibuk memakaikan dasi di kerah kemeja suaminya.
" Belum tahu jam berapa tepatnya, tapi kemungkinan aku pulang malam. Banyak pekerjaan yang tertunda karena masalah Dion kemarin."
" Bisa tidak jangan menyebutkan namanya, aku merinding tiap kali mendengar namanya di sebut."
" Baiklah, aku minta maaf."
Sultan menangkup wajah istrinya, menyatukan kening mereka, keduanya saling menutup mata. Hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang memenuhi seluruh ruangan. Lalu, entah siapa yang memulai terlebih dulu, bibir mereka sudah saling menyatu. Sultan menyesap bibir istrinya dengan sangat lembut, sementara Hanum pun membalasnya dengan penuh gairah. Dan, keduanya menghabiskan ciuman sebagai sarapan pagi mereka.
.
" Apa ..." Adam berteriak begitu Sultan selesai menceritakan kejadian kemarin siang di rumahnya.
" Awalnya juga aku terkejut, bagaimana mungkin mereka bisa datang bertamu ke rumahku secara bersamaan."
" Ck ... sakit jiwa." Adam berdecak kesal. " Apa karena terlalu lama tinggal di Amerika membuat mereka kehilangan akal sehatnya? tidak tahu malu."
Sultan mengangkat kedua bahunya.
" Lantas apa yang akan kamu lakukan? kamu serius tidak akan melanjutkan masalah ini ke jalur hukum?"
" Sepertinya begitu."
" Astaga." Adam meraup wajahnya, kasar. "Yang aku takutkan adalah dia akan bertindak nekad, bagaimana kalau dia melakukan cara yang lebih gila lagi untuk menyakiti istrimu? mendengarnya mengucapkan cinta kepada Hanum saja sudah membuatku merinding."
" Aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa pada istriku, aku akan menjaganya dengan baik."
" Jadi, kamu akan membiarkannya begitu saja?" kali ini Raka bertanya, rasanya sudah terlalu lama dia bungkam sejak pembicaraan yang terjadi di antara mereka bertiga sejak satu jam yang lalu.
" Aku hanya merasa tak tega jika harus memisahkan seorang anak dari ayahnya, bayi itu masih terlalu kecil. Dia sangat membutuhkan masih sayang dari kedua orang tuanya."
" Cih, apa dengan begitu kamu bisa memastikan kalau bayi itu akan mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya?" Adam menatap tajam manik mata Sultan. "Mereka bukan orang tua yang baik, bayi itu tetap tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga yang utuh karena hubungan kedua orang tuanya yang buruk."
" Hah." Sultan menghela nafas panjang. "Entahlah, aku hanya ... aku hanya. Argh ..." Sultan menyugar rambutnya, kasar. " Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Hening.
Mereka saling membisu dengan pikiran mengembara kemana mana, sampai getaran ponsel di atas meja memecah keheningan. Pandangannya ketiganya tertuju pada salah satu ponsel yang berkedip, dan langsung menyadari ponsel milik siapa itu.
Adam meraihnya, lalu meletakkan di daun telinganya dan mengucapkan 'Hallo'.
__ADS_1
" Apa?"
" Baik, aku segera kesana." Adam langsung mematikan sambungan teleponnya.
Terburu-buru, pria itu menyambar kunci mobilnya dan berlari begitu saja.
" Ada apa Dam?" Sultan mencekal tangan Adam. " Jangan membuatku khawatir, apa telah terjadi sesuatu?"
" Ajeng mau melahirkan, dia di rumah sakit sekarang."
Dan Adam langsung mengambil langkah seribu, bergegas menuju rumah sakit yang tadi di sebutkan oleh pembantu di rumahnya.
Tinggallah Sultan berdua dengan Raka di ruangan itu. Sultan menyandarkan kepalanya di bahu kursi. Dia pejamkan matanya, entah kenapa setiap mendengar sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan, angannya akan langsung mengingat kembali percakapannya dengan Hanum tempo hari. Dia sendiri di liputi perasaan cemas, ucapan Hanum sedikit banyak telah mempengaruhi pikirannya. Biar bagaimanapun, mereka memang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter ahli di bidang kandungan.
" Ada apa lagi?" tanya Raka.
" Kamu ingat kejadian waktu Mauryn datang kemari kemudian Hanum juga datang?"
Raka berpikir sejenak, sampai akhirnya mengangguk begitu mengingatnya.
" Saat itu, Mauryn mencoba memprovokasi Hanum, dengan mengatakan hal buruk padanya."
" Hal buruk apa?" tak sabar, Raka bertanya.
" Mandul." Sultan memijit pelipisnya. " Dia bilang istriku mandul karena telah lama menikah tapi belum juga hamil."
" Lalu?"
" Hanum berpura pura kuat di depanku, dia berusaha bersikap seperti biasa, tapi aku tahu kalau dia juga sebenarnya merasa sedih. Dia terus memikirkan hal itu."
" Kenapa tidak memeriksanya ke dokter saja."
" Mana tega aku, sebenarnya dia juga sempat mengajakku untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan tapi aku menolaknya. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja, kami pasti akan diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak nantinya."
" Tapi jangan begitu juga, biar bagaimana pun, seharusnya kalian berdua memang sebaiknya segera periksa. Bukan soal mandulnya, tapi lebih ke tes kesehatan mengenai kesuburan kalian. Dengan melakukan pemeriksaan, dokter kan bisa memberikan saran untuk kalian bisa cepat punya anak. Memberikan vitamin yang bisa bikin Hanum cepat hamil, misalnya."
" Tapi bagaimana aku mengatakan padanya? aku takut melukai perasaannya."
" Cukup bilang saja padanya, kalau kalian akan mengikuti program hamil, aku yakin dia akan mengerti dan mau melakukan tes itu."
" Hm, katakan dengan jujur, tapi kamu juga harus hati-hati ketika mengucapkannya, cari waktu yang pas. Jangan sampai salah bicara, biasanya pembicaraan seperti itu sangat sensitif."
" Baiklah,aku mengerti." Sultan meraih cangkirnya lalu meminumnya sampai tandas, tak tersisa. " Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Disha?" kembali meletakkan cangkir kosong itu ke tempat semula.
" Hubungan kami baik-baik saja, bahkan makin hari semakin baik."
" Bagaimana malam pertama mu?"
" Kenapa menanyakan hal itu?" Raka mencebik.
" Bukankah hal itu juga yang pernah kamu tanyakan padaku, dulu."
" Hm, dasar pendendam. Jadi sekarang kamu mau membalasku?"
" Tinggal dijawab apa susahnya?"
" Bagaikan membuang garam ke laut."
" Eh?" alis Sultan saling bertaut.
" Percuma aku mengatakan pada orang yang sudah pernah mengalaminya. Rasanya tentu sama seperti yang kamu rasakan ketika pertama kali melakukannya dengan istrimu."
" Barangkali saja berbeda."
" Sudahlah, pekerjaanku banyak, bukannya untuk mendengarkan celotehmu."
.
Malam harinya.
Hanum yang kesal karena suaminya tak kunjung pulang, memutuskan untuk kembali ke kamar setelah menghabiskan waktu lebih dari dua jam dengan menonton TV di ruang tengah.
Berkali-kali diliriknya arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Pukul sembilan malam dan pria itu belum juga pulang. Tidak biasanya, selama ini sekalipun Sultan pulang terlambat tapi tidak pernah dia pulang di atas jam tujuh malam. Itu berarti sudah lebih dua jam dari waktu yang bisa di tolerir oleh Hanum.
Makan malam yang di siapkan mbok Darmi pun sudah dingin sekarang karena terlalu lama tak disentuh. Hanum sengaja menunggu suaminya pulang untuk makan malam bersama.Dia menyuruh semua asisten rumah tangga nya untuk istirahat di kamar masing-masing, begitu juga dengan mbok Darmi. Dia berdalih akan memanaskan makanan itu sendiri ketika suaminya pulang nanti.
__ADS_1
Makin tak karuan, dia lalu mengambil langkah, menuruni anak tangga dan berjalan menuju pos satpam yang terletak di samping pintu gerbang.
" Pak." sapanya sopan. " Kebetulan sekali, pak Dadang belum tidur?" tanyanya riang begitu melihat supir pribadi di rumah itu masih terjaga dengan dua orang satpam yang sedang berjaga.
" Belum non, ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki paruh baya itu.
" Minta tolong antarkan saya ke kantor ya pak, mas Sultan belum pulang juga, saya ingin memastikan apa yang terjadi disana."
" Baik non, tunggu sebentar, saya ambil mobil dulu."
Hanum tersenyum melihat pria tua itu berlari kecil menuju garasi mobil, lalu mengangguk pelan pada dua orang satpam di sana.
Setelah pak Dadang siap dengan mobilnya, Hanum segera masuk dan mobil yang mereka tumpangi pun menembus jalanan ibukota. Hanum mulai terbiasa dengan kemacetan yang terjadi hampir di sepanjang jalan, tak peduli siang atau pun malam, dalam keadaan apapun, jalanan masih saja ramai.
Di kantor.
" Apa saja yang kalian lakukan hah?" Sultan menaikkan volume suaranya. " Kalian pikir ini taman kanak-kanak apa? bagaimana bisa kalian melakukan kesalahan fatal begini? kalian tidak menghargai usahaku selama ini." membuang muka ke sembarang arah. " Aku mati matian lembur untuk mempersiapkan proyek ini dan kalian hancurkan usahaku hanya dengan satu kesalahan." matanya nanar menatap setiap pegawai yang saat ini menunduk di hadapannya.
Melihat emosi Sultan membuat Raka pun tak bisa berkutik, dia hanya berdiri mematung di baris terdepan diantara sekumpulan pegawainya yang saat ini sedang melakukan rapat darurat, bahkan itu pun dilakukan di ruangan staf yang sempit. Raka bisa memaklumi Sultan yang saat ini sedang meluapkan emoisnya.
" Kalian semua tahu, sepenting apa proyek yang saat ini sedang kita tangani? bagaimana bisa kalian melakukan kesalahan seperti ini? ayolah, berhenti bermain main! kalian bukan anak TK lagi, dan ini kantor, tempat orang bekerja, mencari nafkah."
Sultan melempar map yang dipegangnya dengan kasar di atas meja.
" Kalian yang katanya lulusan terbaik? tunjukkan padaku, gunakan otak kalian dengan baik!" teriaknya lagi, emosinya sudah mulai tak terkendali. " Kalau sampai proyek ini gagal, apa kalian tahu, berapa banyak kerugian yang di tanggung perusahaan ini?"
Hening, tak ada yang berani menjawab, ini untuk pertama kalinya Sultan begitu marah karena kelalaian salah seorang staf. Mereka tidak bisa membayangkan berapa jumlah kerugian yang di taksir jika mereka gagal dalam proyek ini.
" Kalian tahu? ada berapa banyak nyawa orang yang bergantung pada perusahaan ini? ada ribuan kepala keluarga yang bekerja di perusahaan ini dan menanggung biaya hidup orang-orang terdekat mereka? mereka bergantung pada kita, jadi tolong! bekerjalah dengan baik." suara Sultan sudah agak melunak sekarang.
" Bukan hanya aku yang rugi kalau sampai proyek ini gagal dan dihentikan, satu-satunya yang aku takutkan adalah, bagaimana nasib mereka, orang-orang yang menggantungkan hidupnya dengan mengais rezeki di sini." Sultan kembali memijit pelipisnya, dia merasa pening, belum pernah dia jumpai masalah seperti ini sebelumnya.
Hanum berjalan menyusuri lorong, setelah tak melihat keberadaan suaminya di dalam ruang kerja nya, dia memutuskan untuk masuk ke ruang staf. Dia sempat melihatnya tempo hari saat Mira berjalan ke arah sana, Hanum cukup mengikuti jalan itu sampai tiba dia melihat suaminya berdiri di sana.
Karena memang bagian kiri ruangan itu yang tertutup, membuat Hanum berpikir kalau saat ini suaminya tengah berdiri sendiri di sana. Setengah berlari menghambur ke arah suaminya dan memeluknya dari belakang, begitu saja.
" Mas, sudah malam kenapa kamu belum pulang juga?" Hanum menggesek-gesekkan wajahnya di punggung suaminya.
Deg.
Sultan yang sejak tadi di liputi amarah seketika berubah menjadi tenang saat mendengar suara yang sangat dikenalinya. Tergugu, di sentuhnya tangan Hanum yang saat ini sudah melingkar di perutnya. Dan tanpa sadar, bibirnya membentuk sebuah lengkungan, dia mentertawakan hal konyol yang baru saja dilakukan istrinya.
Hanum tentu saja tidak menyadari kalau ternyata banyak orang di sana karena sedari tadi pandangannya tertutupi oleh tubuh suaminya.
Dan beberapa pegawai yang sedang berkumpul pun makin menundukkan kepalanya masing-masing. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa karena melihat perubahan mimik wajah Sultan yang sempat menakutkan bak monster tadi, namun secepat kilat berubah menjadi begitu lembut dan teduh hanya karena mendengar suara wanita kesayangannya.
" Mas, kenapa diam sa ..." Hanum membekap mulutnya, menyadari ada banyak orang di sana yang bisa dia lihat setelah suaminya berbalik badan. Gadis itu pun menunduk, malu setengah mati, sungguh ceroboh.
" Astaga, kenapa berpakaian seperti ini." suaranya terdengar begitu lembut, Sultan melepaskan jasnya untuk menutupi bahu telanjang istrinya.
Yang di tanya hanya menunduk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Pergi ke ruanganku sekarang, tunggu di sana sebentar. Aku akan selesaikan beberapa masalah dulu ya." ucapnya sambil mengelus puncak kepala istrinya.
Tanpa menunggu kalimat selanjutnya, Hanum sudah berlari meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal istrinya, raut wajah Sultan kembali ke mode awal, mode garang bak singa lapar yang hendak memakan mangsanya. Di tatapnya wajah pegawainya satu per satu, lalu rasa menyesal muncul ketika melihat raut wajah kelelahan yang terpampang jelas di wajah mereka. Menyesal telah sempat kehilangan kendali tadi, kesalahan apapun yang dilakukan oleh stafnya, tidak seharusnya dia memarahi mereka dan bersikap berlebihan seperti tadi.
Pandangannya beralih pada Raka, pria yang masih saja tersenyum, biarkan dia tersenyum sepuasnya. Pemandangan langka tadi, dia memang sangat menikmatinya, jarang sekali dia melihat temannya bermesraan di depan matanya sekalipun mereka resmi menjadi suami istri sejak lama.
" Raka, tolong kau urus semuanya. Kalian semua sudah boleh pulang. Tapi ingat, aku mau, besok pagi semuanya sudah beres, dan ingat! jangan sampai ada kesalahan lagi. Aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Kalau sampai aku lihat ada satu kesalahan lagi, saya siap untuk merekrut karyawan baru yang lebih kompeten dari kalian."
" Siap pak." ucap mereka hampir bersamaan.
Sultan bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, ada rasa rindu yang memenuhi dadanya meskipun dia baru saja bertemu dengan istrinya tadi. Gadis itu, gadis bergelang kaki bintang laut yang selalu saja menyita perhatiannya.
Begitu membuka pintu, dia memelankan jalannya, mencoba hati-hati dengan tidak menimbulkan suara. Melihat gadis itu terlelap di sofa membuatnya merasa bersalah karena sudah membuatnya menunggu lama, terlebih lagi dia juga tidak sempat memberi kabar kalau dia akan lembur malam ini, seluruh perhatiannya teralihkan saat mengetahui stafnya melakukan kesalahan.
Di usapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang wajah istrinya, senyumnya kembali mengembang saat mengingat kejadian konyol tadi. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, melihat tubuh Hanum yang hanya terbalut dengan jumpsuit tanpa lengan yang panjangnya di atas lutut.
Apa dia sangat ingin menemuiku sampai sampai dia lupa tidak berganti pakaian? padahal cuaca di luar sangat dingin.
Dia lalu membetulkan letak jas yang tadi sempat dia berikan untuk melindungi kulit istrinya dari terpaan angin nakal. Lalu menggendongnya dan membawanya pergi dari sana.
Sepanjang jalan terlihat para karyawan menunduk memberikan hormat tiap berpapasan dengannya. Lalu bisik-bisik diantara mereka pun terdengar, bisikan yang berisi pujian pada pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
.