
"Lain kali jangan berani bicara dengan orang asing!" sentak Sultan pada istrinya begitu mereka telah masuk ke dalam mobil.
"Jadi kamu mau aku jadi orang yang tidak tahu balas budi, begitu? Orang itu sudah menolongku jadi apa salahnya mengucapkan terimakasih padanya," balas Hanum.
"Tapi tidak perlu keganjenan begitu juga kan? Memang kau pikir aku tidak lihat kalau kamu sempat tersenyum padanya tadi?"
Sultan memang masih terus menggerutu, tapi tangannya belum juga lepas dari sabuk pengaman yang hendak dia pakaikan pada Hanum, memastikan benda itu terpasang dengan baik setelahnya dia agak memundurkan tubuhnya.
"Ganjen? Mas bilang aku ganjen? Memangnya kamu melihat dari sebelah mana? Coba kamu pikir, apa ada orang yang mengucapkan terimakasih pada orang yang telah menolongnya dengan wajah cemberut begitu? Atau perlu aku mendelik padanya? Kamu bisa nggak, kasih contoh bagaimana caranya kita mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah menolong kita tanpa disertai senyuman," oceh Hanum.
"Masalahnya dia itu sedang mencuri kesempatan tadi."
"Kesempatan apa?" pekik Hanum.
"Dia terlihat begitu menikmati pemandangan dirimu sewaktu sedang mengikat tali sepatumu tadi. Apa kau tidak bisa melihatnya?"
"Astaga, dia itu menunduk sewaktu mengikat tali sepatuku tadi jadi bagaimana bisa kamu bilang dia melihatku?" sanggah Hanum.
"Masih mau membantahku?"
Hanum menyandarkan tubuhnya ke belakang, dia yang sejak tadi berusaha untuk memberikan pengertian pada Sultan tapi pada kenyataannya, suaminya itu tetap saja berpegang teguh pada pendiriannya. Menganggap jika dirinya telah melakukan kesalahan, padahal kalau boleh jujur Hanum sebenarnya juga tidak ingin ditolong oleh pria asing tadi.
Kata yang dilontarkan oleh Sultan tadi mengindikasikan adanya percikan api cemburu dalam diri pria itu. Cemburu yang tidak pada tempatnya.
"Kenapa dia jadi marah begitu sih," gumam Hanum.
"Tentu saja aku marah."
Hanum berjengit, tak menyangka jika suaminya itu akan mendengar ucapannya, padahal dia itu tadi hanya bergumam kecil.
"Memang kau pikir suami mana yang tidak akan marah jika melihat istrinya berdekatan dengan pria lain," imbuh Sultan.
"Berdekatan bagiamana, jelas-jelas tadi itu di tempat umum jadi mana mung ...,"
"Jadi maksudmu kamu akan melakukannya di tempat yang lebih sepi, begitu?"
Percuma saja aku terus menanggapi ucapannya, mau dijelaskan bagaimanapun juga tidak akan berhasil karena aku selalu salah dimatanya, batin Hanum.
Gadis itu terlihat berpikir sejenak, mencari kata-kata yang sekiranya bisa dimengerti oleh suaminya. Dia sendiri hampir kehilangan kesabarannya karena terus-menerus menghadapi kecemburuan suaminya yang tak kunjung reda.
"Tidak bisa menjawab kan?" sentak Sultan dengan sarkastik.
Mendengar ucapan suaminya benar-benar memancing amarah Hanum, hal seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Bisa panjang kali lebar bin rumit nantinya.
"Susah ngomong sama kamu Mas, apa-apa salah. Aku jawab salah, tidak dijawab apalagi. Mau kamu tuh apa sebenarnya sih Mas?" Hanum menaikkan volume suaranya, sama sekali sudah tidak ada kelembutan sedikitpun disana. "Lagian mana ada coba, lelaki yang tertarik dengan perempuan hamil? Tidak masuk akal!" Hanum masih terus meracau.
Diliriknya tajam pria yang masih terdiam di sampingnya, belum tahu saja dia bagaimana jadinya kalau Hanum sudah marah.
Suasana dalam mobil begitu mencekam setelah pertikaian sengit antara suami-istri yang sedang salah paham itu. Hanum yang merasa tidak pernah melakukan kesalahan, berbuat segala cara demi menjaga harga dirinya dari serangan Sultan yang selalu memojokkannya. Sedangkan Sultan adalah pria yang bodoh dalam urusan percintaan yang masih belum bisa menempatkan diri. Jadilah dia salah paham hingga memicu timbulnya kecemburuan yang tidak pada tempatnya.
.
"Kakek," panggil Hanum begitu dirinya sampai di rumah.
"Kalian baru pulang?" Burhan meletakkan koran yang sedang dibacanya.
"Iya, bagaimana apa kakek sudah makan siang?"
"Jam berapa sekarang? Kenapa kau menanyakan tentang makan siang sementara hari sudah menjelang malam begini? Tentu saja sudah, kakek makan dengan teratur jadi jangan khawatir."
"Lalu apa kakek juga sudah meminum obat?" tanya Hanum lagi.
"Kau bisa menanyakan hal itu pada Mbok Darmi, orangnya juga sedang duduk di situ." Burhan menunjuk bangku di depannya, dia sengaja meminta mbok Darmi untuk duduk disana, menemaninya membaca koran.
__ADS_1
"Benar, Mbok?" Hanum menoleh ke arah wanita paruh baya yang selalu memakai kain sebagai ciri khasnya.
"Iya, Den ayu," jawabnya sopan.
"Sebaiknya kau cepatlah naik ke kamarmu dan segera mandi. Makan malam tinggal setengah jam lagi," titah Burhan pada cucu menantunya. "Omong-omong kenapa sejak tadi kakek perhatikan kalian berdua saling diam?" Burhan menatap kedua cucunya bergantian. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Mas Sultan tuh!"
Burhan melongo mendengar keduanya mengatakan hal yang berbeda secara bersamaan.
"Jadi sebenarnya ada masalah apa?" tanya Burhan sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Tidak ada," jawab Sultan singkat.
"Masalahnya ada pada cucu Kakek yang tampan paripurna itu," sanggah Hanum. Ia membenarkan kecurigaan kakeknya.
"Jadi, maukah cucu kesayanganku menceritakannya pada kakek?" bujuk Burhan pada Hanum.
"Mas Sultan cemburu, Kek."
Sultan mengedipkan matanya, mengkode pada istrinya agar wanita itu tidak meneruskan ucapannya.
"Benarkah?" tanya Burhan setengah tak percaya.
"Mana berani aku membohongi kakek. Dia itu telah cemburu, cemburu buta lebih tepatnya. Masa iya Mas Sultan cemburu pada orang yang telah membantu Hanum mengambilkan dompet Hanum yang jatuh, juga mengikatkan tali sepatu Hanum yang terlepas, Kek," Hanum mengadu pada kakeknya.
"Cukup, Sayang! Jangan bicara lagi," cegah Sultan.
Burhan dan juga Mbok Darmi tertawa melihat kelakuan sepasang suami istri yang tengah berdebat di depan mereka itu.
"Habis kamu! Biar nanti kakek menghukummu."
Sultan hampir menangis karena merasa malu, ini kali pertama istrinya itu mengadukan dirinya pada kakek.
"Kenapa kakek memukul kepalaku?" sinis Sultan.
"Masih untung hanya aku pukul kepalamu, bagaimana jika aku temb*k?"
"Kakek yang benar saja."
"Kau memang pria bodoh, sedewasa ini masih saja belum memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Kau terlalu sibuk dengan bisnismu hingga tak punya waktu untuk mencari kekasih. Lihat, kau bahkan mungkin belum menikah saat ini atau bahkan malah tidak akan pernah menikah seumur hidupmu jika saja mendiang adikmu tidak menitipkan Hanum padamu," celoteh Burhan.
Hanum mencelos, mulutnya sedikit terbuka, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakeknya terhadap Sultan.
Pun sama seperti istrinya, tubuh Sultan membeku, dia sudah menduga kalau dirinya akan mendapatkan serangan dari Burhan tapi dia sama sekali tak menyangka jika kakeknya itu akan menjadikan mendiang adiknya sebagai senjata.
Seandainya saja Tuan sepuh tahu yang sebenarnya kalau sejak awal Sultan hanya jatuh cinta pada satu wanita dan wanita itulah yang sekarang menjadi istrinya. Sultan tidak bodoh, dia hanya sedang menunjukkan betapa dia sangat mencintai Hanum, itu sebabnya dia dibutakan oleh cemburu, batin Mbok Darmi.
"Sshh ...," mendadak Hanum mendesis seraya memegangi perutnya.
"Sayang, kenapa dengan perutmu? Apa itu sakit?" tanya Sultan panik.
Hanum menggeleng tapi suaminya tahu betul jika dia sedang menahan sesuatu.
Seolah tak suka jika ada yang berbicara buruk tentang ayahnya, bayi-bayi dalam kandungan Hanum pun menendang kuat perut ibunya.
"Putramu sepertinya tidak suka jika ibu dan juga kakek buyutnya sedang membicarakan tentang ayahnya." lagi, Hanum meringis ketika merasakan bayi dalam kandungannya semakin kuat menendangnya.
"Apa maksudmu, Nak?" Burhan mendekati cucu menantunya.
"Cicit kakek sepertinya marah karena kita telah membahas mengenai ayahnya, itu sebabnya dia terus menendangku. Auw ... Sshh ... Sayang, kuat sekali tendangan kalian." Hanum menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Boleh kakek menyentuh perutmu? Kakek ingin sekali merasakan seperti apa gerakan mereka dalam perutmu," pinta Burhan.
"Tentu saja." Hanum menyahut.
Sultan yang sejak tadi berada di samping istrinya pun sedikit bergeser, memberikan ruang untuk kakeknya.
Tangan keriput Burhan bergetar begitu menyentuh perut cucu menantunya, raut wajahnya tegang terlebih ketika dia merasakan getaran yang cukup kuat di sana. Manik mata cokelat miliknya memendarkan sinar kebahagiaan, bisa merasakan kehadiran cucunya di dalam kandungan Hanum saja sudah membuatnya begitu bahagia, bagaimana nanti jika kedua malaikat kecil itu telah lahir ke dunia? Pria tua itu sungguh kesulitan untuk mendefinisikan perasaannya saat ini.
"Apa Si Mbok juga boleh ikut merasakannya?" kata mbok Darmi dengan wajah memelas.
Pandangan ketiga orang yang ada disana langsung teralihkan, menatap lekat pada wanita yang sedang duduk dengan sorot mata penuh harap.
Melihat mata sayu itu sungguh membuat hati Sultan trenyuh, wanita yang telah dianggap layaknya seorang ibu itu memang istimewa meskipun Tuhan tidak menganugerahinya dengan seorang anak meskipun telah bertahun-tahun lamanya menjalani kehidupan berumah tangga dengan suaminya, Pak Parmin. Mungkin itulah yang menyebabkan ia berjuang keras untuk selalu menjaga kondisi kehamilan Hanum. Memastikan nutrisi penting selama masa kehamilan Hanum agar selalu terpenuhi, memastikan Hanum teratur meminum obatnya meskipun hal itu sudah dilakukan oleh Sultan. Kebahagiaan yang wanita tua itu rasakan begitu mendengar berita kehamilan Hanum, melebihi kebahagiaan yang pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Kenapa mesti bertanya, Mbok? Kemarilah!" Hanum menyentuh tangan mbok Darmi kemudian meletakkan di perutnya, tepat dibagian yang mana bayi-bayi itu masih asyik bermain. "Sentuhlah mereka Mbok, mereka juga adalah cucu-cucu Si Mbok juga."
Bulir bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Mbok Darmi akhirnya terjun bebas membasahi wajahnya yang mulai mengeriput. Kata-kata yang di ucapkan oleh Hanum tadi terasa begitu menyentuh relung hatinya.
Sultan menyentuh bahu mbok Darmi kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Ingin rasanya dia mengucapkan sesuatu untuk menguatkan ibu pengasuhnya itu tapi seolah tenggorokannya tercekat.
"Hanum akan membuat Si Mbok kerepotan untuk membantu mengurus mereka begitu mereka lahir nanti," canda Hanum.
"Dengan senang hati, Non. Si Mbok pasti akan sangat bahagia jika diperkenankan untuk mengurus si kembar nantinya." Mbok Darmi mengusap kasar air mata yang berlinang di pipinya.
Begitu banyak hal yang terjadi di sana, suasana tegang yang sempat terasa seketika berubah menjadi suasana haru yang diselipi kebahagiaan.
"Ya sudah sana, lekaslah mandi! Kakek tunggu di ruang makan ya," perintah Burhan.
"Jangan sedih lagi ya Mbok, Hanum ikutan sedih kalau Mbok sedih. Hanum mau naik ke atas dulu," ucapnya sambil mengusap tangan wanita tua yang masih sesenggukan itu.
Mbok Darmi mengangguk.
"Bantu istrimu naik ke atas kakek takut dia kenapa-napa. Lagipula sudah kakek bilang untuk sementara kalian tidur di kamar tamu saja agar Hanum tidak perlu naik turun tangga, kenapa malah tidak menurut," oceh Burhan.
"Tidak ... tidak, Kek. Hanum bisa jalan sendiri. Lagian Hanum juga masih marah sama dia," cebik Hanum disusul tatapan sinis pada suaminya.
"Aku bersikap seperti itu tadi karena aku cemburu." Sultan beralasan.
"Ya, tapi caramu menyampaikan pada Hanum mungkin salah," sela Burhan.
"Memang suami mana yang tidak akan marah melihat istrinya berdekatan dengan wanita lain?" Sultan berjengit. "Coba kalau kakek jadi Sultan, apa yang akan kakek lakukan?" Sultan tertawa kecil. "Huh, tidak bisa dibayangkan, mungkin saja kakek akan memarahi si pria itu sambil mencekek lehernya, tapi tidak!" Sultan menggeleng pelan. "Kakek tidak akan mencekek lehernya saja, lebih dari itu, kakek pasti akan menembak pria itu, dor ...!" Sultan begitu mahir melakukan hal tersebut layaknya aktor.
Tawa riuh seketika memenuhi ruangan tersebut, Sultan terlihat begitu mendramatisir adegan yang dia bayangkan jika kejadian itu benar-benar terjadi di depan matanya. Mengingat kakeknya itu orang yang tegas dalam mengambil keputusan.
"Berani-beraninya kau menjadikanku sebagai bahan lelucon dasar bocah sinting!" maki Burhan.
"Nah, kakek marah kan? Hal yang sama pasti akan kakek lakukan jika cemburu pada istri kakek. Jadi berhentilah menggodaku," Sultan tersenyum menang.
"Enyah kau dari hadapanku dasar bocah nakal! Berandal kecil kurang aj*r!" Burhan terus memaki cucunya.
Sultan berlari menuju anak tangga, meninggalkan kakeknya yang sudah bersiap untuk memuntahkan lava pijar. Sebelum dia terkena semburan dari api amarah sang kakek ada baiknya dia menghindar. Dia terus berlari kecil sambil bersenandung menyanyikan lagu band lokal yang sempat booming di Indonesia.
"Cemburu tanda cinta, marah tandanya ...," Sultan berpikir sejenak. "Marah tandanya apa ya? Pakai acara lupa segala lagi." Sultan menepak dahinya sambil mengulangi lagunya. "Cemburu tanda cinta, marah tandanya ...,"
"Marah tandanya galak," celetuk Hanum yang saat itu masih berada di anak tangga.
"Benar begitu syairnya?" Sultan bertanya.
"Mana aku tahu, bukankah kamu yang sedang bernyanyi, jadi pikir saja sendiri!" sinis Hanum.
Sultan terus mengawasi istrinya sampai punggung wanita itu luput dari jangkauan matanya. Ada banyak drama Korea, drama Asia atau bahkan drama Indosi*r yang terjadi hari ini dan itu semua membuatnya kelelahan.
__ADS_1
Bagaimana dia yang sempat dibawa terbang ke awan sewaktu kejadian romantis dalam mobil tadi siang, hingga mendadak seolah tubuhnya dihempaskan begitu saja ke bumi akibat rasa cemburunya yang membabi buta dan itu semua, Hanum lah penyebabnya.
.