Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Tragedi


__ADS_3

Petugas paramedis datang. Tanpa banyak kata, dengan melihat kondisi Cinta pun mereka tahu kalau wanita itu hendak melahirkan.


"Dok, ini gimana Dok?" tanya William panik.


"Pasien akan melahirkan, dan akan pindahkan ke ruang bersalin," balas si dokter.


"Apa saya boleh ikut?"


"Anda yakin bisa kuat menemani istri Anda melahirkan?"


William mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud ucapan dokter itu. Bukankah seorang suami memang wajib mendampingi istrinya ketika berjuang mengeluarkan buah hati mereka, pikir William.


"Saya takut Anda tidak kuat. Ada beberapa kasus yang saya temui, suami pasien pingsan karena tak tahan melihat perjuangan istrinya ketika melahirkan," terang dokter itu, menjawab rasa penasaran William.


"Saya bisa, saya pasti kuat. Saya harus menemani istri saya, Dok," ujar William, mantap.


"Baiklah. Suster Sherly, tolong nanti beri pakaian khusus untuk pasien."


"Baik Dok."


Sementara mereka terus mendorong brankar Cinta. Wanita itu terus meringis memegangi perutnya. Sesekali dia mendesis sambil mencengkram erat lengan suaminya. Petugas kesehatan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Usai memakai baju khusus, William pun kembali ke sisi istrinya.


"Pasti sakit banget ya?" mengusap wajah Cinta yang basah dengan air mata.


"Aku nggak apa-apa kok."


William tahu istrinya hanya sedang berusaha untuk tidak membuatnya cemas, karena dia tahu sebenarnya Cinta begitu kesakitan.


"Kamu boleh pegang lengan aku, kamu boleh jambak atau kamu boleh lakukan apa aja ke aku asalkan itu bisa mengurangi rasa sakit kamu," kata William.


Cinta mengangguk. "Dokter bilang aku baru bukaan lima, masih agak lama. Mas duduk aja dulu."


"Mana bisa Cinta, tiap kali kamu kesakitan gitu aku ikut ngejan rasanya."


"Simpan aja tenagamu buat nanti Mas."


"Oh ya, aku hubungi orang rumah dulu ya." William mengecup dahi istrinya sebelum meninggalkan wanita itu.


Keluarga besar Sultan tengah berbincang di ruang tengah usai acara makan malam mereka berakhir. Semua orang nampak serius membicarakan soal kasus yang menimpa Azka. Meskipun belum menjalani sidang, tapi Sultan yakin hukuman untuk pria itu tidaklah ringan.


Pembicaraan mereka terputus saat Mbok Darmi datang tergopoh. "Mohon maaf mengganggu waktunya Non Hanum." Selama bekerja di sini, wanita tua itu memang tidak pernah merubah panggilannya menjadi 'nyonya' sekalipun kini Hanum telah berumur.


"Ada apa Mbok? kelihatannya serius sekali?" tanya Hanum.


"Itu, Den bagus nelepon, katanya ponsel kalian nggak ada yang bisa dihubungi," beritahu wanita itu. Keluarga itu memang menerapkan disiplin mengikuti Arya yang veteran tentara. Tak ada ponsel saat makan atau ketika mereka sedang menghabiskan waktu sekedar mengobrol bersama.


"Kak Willi, nelepon malam-malam gini?" Willmar tak kalah penasaran.


"Apa yang Willi katakan Mbok?" gantian Sultan yang bertanya.


"Den Bagus bilang Non Cinta mau melahirkan," jelasnya.


"Apa? bukankah perkiraan lahirnya masih kurang dua Minggu lagi Ma?" Sultan menanyai istrinya.

__ADS_1


"Mama juga nggak tahu Pa, tapi emang setiap wanita hamil kan bisa saja melahirkan jauh lebih cepat atau bahkan mundur dari perkiraan dokter."


"Ya udah, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang Pa, Ma," sela Willmar.


"Iya, ayo siap-siap."


"Keperluan buat Kak Cinta di mana Ma?" tanya Raisa.


"Ada Sayang, di kamar mereka. Nanti Mama ambil sekalian."


"Biar aku aja Ma," kata Raisa.


"Ya udah. Cinta udah siapin semua keperluannya di tas, lemari paling bawah sebelah kanan."


"Oke Ma."


Semua orang sigap mempersiapkan diri masing-masing. Sultan berpesan pada Mbok Darmi untuk tidak memberitahu orang tua mereka mengenai berita ini karena tak ingin mengganggu istirahat Arya dan Ratih.


Willmar bersiap duduk di depan kemudi dengan Raisa di sampingnya, sementara Sultan dan Hanum duduk di kursi belakang.


"Semoga saja Cinta melahirkan lebih awal bukan karena efek penculikan itu Pa, Mama takut si Azka mukul Cinta nggak cuma di wajahnya aja. Gimana kalau terjadi sesuatu sama cucu kita," oceh Hanum, gusar.


"Mama bukannya berdoa malah ngelantur ngomongnya," tukas Sultan.


"Mama takut Pa."


"Kak Cinta dan bayinya pasti baik-baik aja Ma. Dia kan wanita yang kuat," sahut Raisa dari depan.


Mobil terus melaju. Beruntung jalanan tak begitu ramai sehingga Willmar bisa leluasa berkendara.


Di rumah sakit.


"Pembukaannya sudah lengkap, sekarang kita semua siap-siap ya," kata dokter. "Ibu Cinta cukup mendengarkan instruksi dari saya kapan harus mengejan dan kapan harus berhenti, dan untuk Bapak tolong terus dampingi istri Anda dan jangan lupa doakan dia dan calon anak kalian."


"Iya Dok." William mengangguk. Ia terus mengusap kepala istrinya sambil terus mengucapkan kalimat untuk menguatkan wanita itu.


Setiap Cinta menjerit, melolong demi menahan sakit mengeluarkan darah dagingnya, maka setiap itu pula kristal bening berjatuhan dari sudut mata William. Teriakannya, air matanya, keringat dan darah juga perjuangannya masih terekam jelas di benak William dan pria itu akan mengingatnya sepanjang hidup. William berjanji, tak akan pernah secuil pun ia menyakiti hati dan jasmani istrinya. Cukup. Melihat istrinya kesakitan dan berjuang berdarah-darah mempertaruhkan nyawanya, tak ada yang lebih menyakitkan dari itu.


William merelakan bahu dan lengannya menjadi sasaran pelampiasan Cinta. Jika kesakitan maha dahsyat itu menghampiri Cinta, maka makin kuat pula cengkeraman tangan Cinta ia rasakan di lengannya. Pria itu dibuat frustasi manakala sang bayi belum kunjung keluar padahal Cinta sudah mengeluarkan begitu banyak tenaga dan menahan kesakitan.


"Bayinya lumayan besar, makanya Bu Cinta sedikit kesulitan," gumam salah satu suster yang mendampingi persalinan itu. Lirih, tapi masih bisa William dengar dengan jelas.


William mulai tak bisa mengendalikan diri. Tangisnya makin menjadi meskipun dengan sekuat tenaga berusaha ia tahan. Tubuhnya bergetar hebat, terlebih melihat kondisi Cinta yang melemah dengan wajah memucat. Bibir wanita itu membiru dan pias, seakan tak teraliri darah sama sekali.


"Ayo Bu, Bu Cinta pasti bisa. Bayinya sebentar lagi keluar, kasihan dia kalau Ibu berhenti mengejan," ucap dokter yang membantu persalinan Cinta.


William menatap sendu wanita yang terkapar di brankar, Cinta nampak sangat lemah.


"Mas, aku minta maaf sama kamu. Sepertinya aku telah melakukan begitu banyak dosa padamu," lirih Cinta.


"Sumpah demi Tuhan jangan pernah katakan itu Sayang. Jika diukur, mungkin dosaku padamu lah yang jauh lebih banyak aku lakukan."


Cinta memejamkan mata, merasakan keningnya basah saat sang suami tercinta mendaratkan bibir di keningnya. Cairan bening itu terus melesat tanpa permisi, jatuh di dagu William dan berakhir di kening Cinta. Lalu perlahan William menurunkan tangannya, mengusap perut buncit Cinta dan mengusapnya pelan.

__ADS_1


"Sayang, ini Ayah. Dengarkan Ayah baik-baik, kamu harus segera keluar, lihatlah uncle dan aunty juga kakek dan nenekmu, kami semua sungguh sangat menantikan kehadiranmu. Ayah mohon, berjuanglah demi kami. Kasihan ibumu Sayang. Mari kita berjuang bersama, dan izinkan Ayah dan ibumu memiliki kesempatan untuk memilikimu. Mungkin Ayah dan ibumu bukan orang hebat, tapi kamulah yang menjadikan kami hebat. Ayah tidak bisa menjanjikan keindahan dunia padamu, tapi Ayah janji akan menjadi Ayah terbaik di dunia."


Tak berapa lama, Cinta kembali merasakan gelombang dahsyat di perutnya itu muncul. Cinta mengumpulkan segenap kekuatannya dan ajaibnya hanya dengan sekali dorongan bayi laki-laki mungil itu berhasil melihat indahnya dunia. Tangisannya begitu keras dan menggema.


Melihat hal itu bukannya membuat tangis William mereda, justru sebaliknya, makin pecah saja tangis pria itu. William sempat melirik putranya sekilas, tapi kemudian dia kembali fokus pada Cinta.


"Terima kasih Sayang. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu. Kamu rela menanggung sakit dan derita sejak awal mengandung darah dagingku, hingga mempertaruhkan nyawa demi melahirkan keturunanku. Terima kasih."


Ribuan kalimat itu William ucapkan, jutaan kecupan di kening dia hadiahkan pada Cinta, rasanya tak akan pernah cukup untuk mewakili perasaannya saat ini. Betapa dia sangat bahagia. Betapa William merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia.


Menyadari istrinya tak merespon, William mulai kalut. Ia lihat kesibukan terjadi di sana. Bayi mereka telah berhasil ditangani, sedangkan dokter dengan dibantu dua suster tengah mengurus Cinta.


"Sayang, kamu dengar Mas ngomong? Cinta?" William menepuk pelan pipi istrinya. Kepanikan pria itu kian bertambah manakala melihat pandangan Cinta mulai meredup.


"Aku ngantuk Mas, aku capek," lirih Cinta hampir tak terdengar.


"Dok, apa yang terjadi dengan istri saya Dok?"


"Sebaiknya Bapak keluar dulu agar kami bisa leluasa menangani Bu Cinta," kata dokter itu.


"Saya akan tetap di sini," tegas William.


"Pak, sebaiknya Bapak keluar dulu ya, tolong," bujuk salah satu perawat.


"Iya tapi kenapa? ada apa?"


"Istri Anda mengalami pendarahan. Sebaiknya sekarang Anda keluar karena kami perlu menangani Bu Cinta lebih lanjut."


Tubuh William bergetar hebat. Ia tak lagi peduli dengan penampilannya yang kini tak ubahnya orang gila. Dengan wajah basah, juga tubuh yang sama basahnya karena peluh, pria itu pasrah ketika suster membawanya keluar dari ruangan itu.


"Cinta ... kamu harus kuat. Kamu nggak boleh kenapa-kenapa. Aku masih harus menebus dosaku padamu Sayang, aku masih ingin memperlihatkan indahnya dunia padamu dan juga anak kita. Aku mohon bertahanlah Cinta."


William merosot di lantai, mendengar ucapan dokter membuatnya kehilangan semangat hidup. Dunianya serasa runtuh.


"Sayang, kamu kenapa Kak?" tanya Hanum yang baru saja tiba.


"Mama ... Cinta Ma ..." pria itu menghambur ke dalam pelukan ibunya.


"Cinta kenapa? katakan ada apa!" desak Hanum.


"Cinta pendarahan Ma."


"Ya Tuhan." Wajah semua orang berubah menjadi tegang.


"Sayang dengerin Mama, Nak. Cinta baik-baik saja, dia pasti kuat karena dia ingin melihat dan membesarkan anak kalian sama-sama."


"Tapi dia pendarahan Ma," tukas William.


"Kita doakan saja. Cinta pasti baik-baik saja, percaya sama Mama."


Di sisi lain, Raisa pun tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia memeluk erat suaminya. Kesedihan yang sama dia rasakan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2