Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Dua pilihan


__ADS_3

"Jaga baik-baik anak kesayangan Mami! jangan buat dia kelelahan. Pastikan dia meminum vitaminnya secara teratur."


"Ingat untuk selalu memantau keadaannya sekalipun kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Sering-seringlah menelpon Hanum, kalau bisa pulanglah tiap jam makan siang."


Rentetan nasehat kedua orang tua yang terdengar terus membombardir, Sultan tanggapi dengan seulas senyuman. Sudah sekitar sepuluh menit acara pemberian nasehat itu berlangsung namun belum ada tanda-tanda kalau acara tersebut akan segera berakhir. Sedari tadi Ratih terus saja mengeluarkan kalimat bernada sama, intinya dia ingin Sultan menjaga menantunya dengan baik. Sesekali di susul sang suami yang juga mendadak cerewet jika mengenai kondisi Hanum, terlebih saat mengetahui menantu kesayangannya sedang mengandung cucunya, penerus trah keluarga Pradipta, pria itu sudah seperti petugas penjaga keamanan yang senantiasa mengontrol kondisi Hanum tiap setengah jam sekali.


"Kenapa diam saja, Mami sama Papi sedang berbicara denganmu sejak tadi apa kau tidak mendengarnya?" Ratih sedikit menaikkan volume suaranya.


"Sultan dengar Mi, Mami tidak perlu mengeraskan suara begitu," jawab pria itu sembari tersenyum.


"Tuh kan, malah tertawa. Memang apa yang lucu? anak ini kalau sedang diajak bicara serius selalu saja begitu." Ratih memasang wajah kesal.


"Bukan begitu Mi, Sultan hanya sedang berusaha untuk mengerti saja."


"Dengan apa yang dibicarakan oleh Mami atau Papi? perkataan yang mana yang masih belum bisa kau mengerti? biar Mami ulangi lagi."


"Bukan soal itu."


"Anak ini benar-benar." Ratih memegangi keningnya.


"Aku tahu semuanya Mi, aku paham apa yang Mami dan Papi bicarakan. Yang aku maksudkan, memang siapa anak kalian yang sebenarnya? kenapa sejak tadi terus menerus memperhatikan Hanum sementara aku seperti di anak tirikan?" ucap Sultan sambil mencebikkan bibirnya.


"Hah ... kau ini ada-ada saja, sama istri sendiri pun masih cemburu begitu. Tentu saja kau anak Mami, putra kesayangan keluarga Pradipta. Tapi saat ini memang Hanum yang sedang membutuhkan perhatian lebih, dia sedang hamil, calon cucu kami, penerus keluarga kita," kata Ratih panjang lebar.


"Dan itu juga anakku Mi, tidak perlu kalian menasehatiku begitu pun aku sudah pasti akan menjaganya."


"Tetap saja kami harus selalu mengingatkanmu." Arya menimpali.


"Ya sudah, waktunya sudah mepet ini, Mami sama Papi pergi dulu. Oh ya, sekalian minta tolong Mbok Darmi untuk selalu memberikan obat Kakekmu tepat waktu ya."


"Mami tenang saja, nanti Hanum yang akan menyiapkan semuanya. Hanum pastikan Kakek minum obat teratur dan tepat waktu," Hanum menyahut kemudian dia memeluk ibu mertuanya.


"Kamu jangan sampai kecapekan Sayang, fokus saja sama kehamilan kamu, ya." Ratih membelai punggung Hanum.

__ADS_1


"Mami tidak usah khawatir, aku akan selalu menjaga kondisiku. Aku juga sangat menantikan kelahiran bayi ini Mi, jadi tentu saja aku akan menjaganya sebaik mungkin."


Mereka saling berpelukkan, bergantian hingga saat Arya memeluk menantunya di susul kecupan ringan di kening gadis itu.


"Jangan biarkan kepalamu bekerja terlalu keras, ceritakan pada kami kalau ada sesuatu, apapun itu, jangan di pendam sendiri. Kau juga sudah Papi anggap seperti anak kandung Papi sendiri jadi jangan sungkan-sungkan untuk melapor pada kami jika suamimu itu berbuat yang tidak baik," titah Arya pada Hanum.


Dan seketika tawa mereka pecah secara bersamaan.


"Baik Pi," jawab Hanum masih dengan tawanya yang lepas.


"Kalau Papi perhatikan selama ini kamu cenderung diam dengan segala tingkah laku Sultan. Dan Papi tahu kalau selama ini dia sering berbuat nakal padamu," lanjut Arya.


"Apa ...,? Papi sudah seperti Kakek saja. Lihatlah Mi, sepertinya bukan hanya Kakek yang akan memanggilku berandal kecil, Papi juga sudah mengeluarkan tanda-tanda akan mengikuti jejak ayahnya." Sultan menepak dahinya.


"Ya sudah, kalau mau diteruskan sampai nanti malam juga tidak akan ada selesainya. Kita harus segera naik pesawat Pi." Ratih mengapit lengan suaminya.


Dan mereka pun kembali saling berpelukan, ada guratan kesedihan di wajah masing-masing saat momen perpisahan itu. Memang siapa yang tidak akan sedih jika harus berpisah dan tinggal berjauhan dengan orang tuanya.


Sepasang suami istri itu pun saling bergandengan tangan, terus menatap kepergian orang tuanya hingga bayangan mereka lenyap dari pandangan keduanya.


Mobil sedan sport mewah berwarna hitam keluaran pabrik terkenal dari Jerman itu membawa mereka keluar dari bandara.


Sultan melirik istrinya ketika tak mendengar jawaban dari pertanyaannya.


"Kenapa diam?" tanyanya penasaran, terlebih ketika melihat wajah murung istrinya.


"Aku terbiasa hidup sendiri dan kesepian, mendapatkan perlakuan hangat dari Mami dan Papi membuatku mulai menerima kehadiran mereka. Cinta dan kasih sayang tulus yang mereka berikan padaku, hal itu begitu aku dambakan setelah aku menjadi yatim piatu. Mereka bukan hanya menganggapku sebagai menantu, lebih dari itu ... mereka menganggapku layaknya putri kandung mereka. Dan hidup berjauhan seperti ini membuatku sedih."


"Wajar jika kau sedih, aku senang karena itu tandanya kehadiran mereka mampu mengisi ruang kosong dalam hatimu. Tapi aku juga tidak suka jika kau terus berlarut dalam kesedihan. Bukankah ini hanya perpisahan sementara? kita masih punya banyak sekali kesempatan untuk bertemu kembali."


"Aku tahu itu, tapi tetap saja aku masih merasa sedih," lirih Hanum.


"Kau tahu tidak, kata dokter, wanita hamil itu harus bisa mengontrol emosinya. Tidak boleh terlalu banyak pikiran, tidak boleh marah-marah, tidak boleh sedih dalam waktu yang lama. Kalau kau stress, anak-anakku juga akan ikut stress dan itu tidak baik untuk pertumbuhannya."

__ADS_1


"Hm," jawab Hanum singkat, hanya sebuah deheman yang mengindikasikan bahwa gadis itu malas untuk menanggapi ucapan suaminya.


"Ya sudah, nanti kalau bertemu dengan teman-temanmu, pergilah ke tempat spa, sepertinya kamu harus merelaksasi pikiran dan badanmu. Lagiapula kan sudah lama kamu tidak pergi ke tempat-tempat seperti itu."


Belum sempat Hanum menjawab, dia sudah lebih dulu di sibukkan dengan gawainya yang berdering di dalam tote bag nya.


Sultan bisa melihat dengan jelas wajah sumringah istrinya begitu menerima panggilan telepon yang diyakininya, dari Ajeng.


"Jadi, ratuku ini mau diantarkan kemana?" tanya Sultan begitu melihat Hanum memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Bukankah Mas harus ke kantor?" bukannya menjawab, Hanum malah mengalihkan pembicaraan.


"Jangan lupa kalau itu kantorku, tidak akan ada yang berani berteriak padaku sekalipun aku datang terlambat," ucapnya jumawa.


"Kambuh lagi sombongnya," lirih Hanum hampir tak terdengar.


"Apa?"


"Ah, tidak ... tidak ...,"


"Jadi, jelasnya kita mau kemana ini? pulang dulu atau bagaimana?"


"Kalau misalnya aku bilang mau ke salon, Mas mau antarkan aku kesana juga?"


"Tentu saja."


"Kan itu salon khusus wanita, mana boleh Mas masuk."


"Aku akan menunggu diluar," jawab Sultan masih kukuh dengan pendiriannya.


Sejak keberangkatan mereka ke bandara tadi, Hanum sama sekali belum memutuskan untuk memilih satu pun diantara dua pilihan yang diajukan Sultan padanya. Jadilah sepanjang jalan ini dia masih berpikir, tadinya dia hendak memutuskan untuk tinggal dan berdiam diri di rumah saja tapi begitu mendapatkan telepon dari sahabatnya, membuat jiwa petualangan yang ada dalam dirinya kembali membuncah. Terlebih lagi dirinya memang sudah lama tidak bertemu dengan teman-temannya. Tapi jika mengingat kembali kalau hanya ada dua pilihan yang ditawarkan Sultan, membuatnya menjadi bimbang. Menurutnya, kedua pilihan itu sama saja baginya. Mengajak suaminya menemui teman-temannya akan membuatnya malu dan merasa tidak bebas, dan jika di temani dengan pengawal, hal itu pun akan membuatnya tidak nyaman.


Jadilah Hanum menyandarkan kepalanya di bahu kursi penumpang sambil memejamkan mata. Mungkin seperti inilah perumpamaan buah simalakama, ketika seseorang dalam keadaan yang sulit untuk memilih satu dari dua pilihan yang sama-sama membingungkan.

__ADS_1


.


__ADS_2