
Pagi itu Cinta sibuk berkutat dengan pot bunga di taman kecil yang ada di halaman rumahnya.
Tania keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi sepiring pisang goreng dan dua gelas air jeruk dingin. Meletakkan nampan itu di meja kecil, lalu duduk di kursi rotan yang ada di teras. "Cinta, minum dulu," panggilnya pada putri semata wayangnya.
"Sebentar Bu, tanggung ini," Cinta menyahut. Tangannya yang putih bersih terkena tanah basah.
Tak sampai lima menit, Cinta mendekati kursi rotan itu setelah mencuci tangan. Mencomot sepotong pisang goreng beraroma vanilla dan mulai mengunyahnya.
"Nak, bagaimana soal lamaran bos kamu kemarin malam? Kamu sudah memikirkannya matang-matang?"
"Sudah Bu, doakan Cinta ya. Semoga apa yang menjadi keputusanku adalah yang terbaik."
"Pasti. Ibu akan selalu mendoakanmu."
Gawai dalam saku celana Cinta bergetar. Terdapat satu notifikasi pesan masuk. Darah Cinta berdesir, debaran itu muncul lagi di dadanya saat membaca barisan kata yang dikirimkan William padanya.
"Jangan lupa untuk memberikan jawaban, saya tunggu besok sepulang kerja. Saya serius dengan ucapanku, keluargaku akan segera datang kerumah untuk melamarmu jika kau menerima pinanganku."
Entah sudah semerah apa wajah gadis itu sekarang, yang jelas Tania merasa sangat bahagia melihat putrinya kasmaran.
"Ibu lihat dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab," puji Tania.
"Aku lihat juga begitu Bu, Pak William tipikal orang yang memikirkan kepentingan orang lain juga. Itu yang bisa aku lihat saat sedang bersamanya."
"Anak gadis Ibu sudah dewasa rupanya, sudah tahu apa itu cinta," goda Tania.
"Ibu ... Aku kan malu," jawab Cinta, tersipu.
Tania terkekeh melihat kelakuan putrinya.
.
.
Willmar tak henti mengulum senyum saat di bandara seorang gadis tengah menantikan kedatangannya dengan senyum merekah.
Gadis berbaret topi warna pink, dengan kaos putih oversize yang dipadukan dengan rok pendek warna soft pink itu terus melambaikan tangannya.
"Sesenang itu melihatku pulang, kucing kecilku." Kedua insan itu saling berpelukan, juga menempelkan pipi.
"Kangen," rajuk gadis itu dengan gayanya yang manja.
Cup.
Sebuah kecupan Willmar hadiahkan di kening Raisa.
"Bonus karena sudah merindukan pria setampan aku."
"Dasar narsis!"
Keduanya terpaksa mengurai pelukan masing-masing. "Aku bawa oleh-oleh buatmu," kata Willmar
"Nanti saja, sebaiknya kita segera pulang karena keluarga juga sudah menunggumu."
"Jadi, aku harus pulang ke rumahmu dulu ketimbang ke rumahku? Wah, tidak benar ini, Opa akan menghukumku jika sampai ketahuan."
"Tenang saja, ada aku. Opa kan sangat menyukaiku sejak kecil karena beliau tidak punya cucu perempuan. Akan aku jamin keselamatanmu," kelakar Raisa.
"Jadi makin cinta sama kamu." Sekali lagi Willmar mendaratkan kecupan di kening kekasihnya.
Mobil yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan Ibukota. Kali ini lelaki itu membiarkan kekasihnya yang cantik untuk mengemudikan mobilnya, mengingat dirinya juga begitu lelah sepulangnya dari Singapura. Tak kuat menahan rindu jika harus berlama-lama berjauhan dengan Raisa, Willmar memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu satu hari saja.
__ADS_1
"Bagaimana, kau sudah bicara pada keluargamu?" Tanya Raisa, serius.
"Sudah. Kita hanya perlu menunggu Kak Willi mendapatkan jawaban saja dari wanita itu," Willmar menimpali.
"Bagaimana jika wanita itu menolak lamaran kakak?" Raisa bersiap dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
"Hei! Kenapa pesimis begitu? Tidak mungkin, gadis itu pasti mau menerima lamaran Kak Willi. Lihat kakakku, tak ada yang kurang dalam dirinya, ya biarpun aku akui aku lebih tampan dengan lesung pipi," Willmar mulai membual, membuat gadis pujaan hatinya terbahak.
Ya, memang benar jika kedua orang itu kembar. Bedanya Si sulung William memiliki tahi lalat di tulang selangka bagian kiri, sedangkan Willmar tak mempunyai tanda lahir itu. Begitupun sebaliknya, Willmar seorang yang dianugerahi lesung pipi yang membuat kadar ketampanannya jauh lebih menawan ketika sedang tersenyum.
"Semoga saja, aku berharap secepatnya kita bisa segera menikah," ucap Raisa tulus.
"Iya aku tahu, kamu sudah nggak tahan kan ingin mencobanya?"
"Mencoba apa," tukas Raisa, cepat.
"Itu ..."
"Itu apa? Ish!" Raisa mencebikkan bibirnya.
"Sudahlah jangan dulu soal itu, aku takut nggak bisa nahan." Tawa Willmar meledak.
"Dasar mesum!" Tak pelak sebuah pukulan Raisa daratkan di lengan Willmar hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.
.
.
William mematut diri di depan cermin, memastikan penampilannya telah sempurna hari ini. Hari yang begitu dia nantikan.
Jantung pria itu berpacu lebih cepat dari biasanya saat dia memasuki gedung kantornya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Cinta.
"Pak," tegur Cinta sambil menggerakkan tangannya di depan wajah William.
"Ah, ya. Ada apa?" William terkesiap.
"Bapak melamun?"
"Saya?" William menunjuk dirinya sendiri. Tak percaya jika dia begitu mengagumi Cinta sampai sebegitunya, padahal selama ini dia hanya terpesona pada satu gadis saja. Gadis kecil nan manja.
"Ehm." William berdehem, lelaki itu salah tingkah. "Apa jadwal saya hari ini?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Cinta mengekori lelaki itu masuk ke ruangan kerjanya, kemudian mulutnya mulai mengeja serangkaian agenda atasannya sepanjang hari ini.
Kesibukan terjadi di hampir setiap ruangan. Pun dengan Cinta yang sesekali harus naik turun lantai di bangunan itu demi pekerjaannya. Saat jam makan siang pun Cinta tak lupa mengurus makan siang William.
'Bisa-bisanya dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami. Ck, profesional,' puji William dalam hati.
Pekerjaan masih terus berlanjut hingga langit menjelaga. Cinta melirik arlojinya, pukul enam lebih sepuluh menit. Sesekali gadis itu melihat ke arah pintu, lelaki yang ada di dalamnya tak kunjung keluar. Cinta mulai gelisah, padahal pekerjaannya sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu.
Ceklak.
Pintu terbuka, sesosok tampan berbalut kemeja baby blue muncul.
"Cinta, saya antar kamu pulang."
Kalimat yang baru saja diucapkan William bagai mata air yang mengalir di padang gersang, terasa begitu menyejukkan.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Cinta gegas meraih tasnya, lalu berjalan mengikuti William. Mereka menaiki lift khusus petinggi perusahaan yang membawanya langsung menuju tempat parkir.
Cinta terkejut saat William kembali melakukan hal seperti yang lelaki itu lakukan tempo hari. Membukakan pintu, tangan William menahan kepala Cinta agar tak terantuk atap mobil.
"Awas kepalamu."
Cinta menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu sangat gugup, belum lagi debaran jantungnya yang kian memburu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Suasana hening terasa begitu mencekam. Cukup lama, hingga akhirnya William membuka suara.
"Bagaimana?"
"Apanya, Pak?" Cinta mengernyit bingung. Masalahnya dia benar-benar tidak tahu maksud dari pertanyaan William.
"Soal lamaranku kemarin," cetus William.
"Ooh, soal itu. Saya kira soal pekerjaan."
"Ini sudah bukan jam kerja lagi, Cinta. Berhenti memikirkan soal pekerjaan," sahut William, datar.
"Jadi bagaimana? Kamu terima atau ..." William menjeda sejenak kalimatnya. Setelah menepikan mobilnya, lelaki itu meraih sesuatu yang dia letakkan di jok belakang.
"Buat kamu," ucapnya seraya menyodorkan sebuket bunga mawar merah segar.
"Terima kasih, Pak," jawab Cinta begitu kaku.
"Kalau kamu menerimaku, izinkan saya memakaikan cincin ini di jari manismu," pinta William.
Cinta mengangguk malu-malu. Dia semakin tak bisa mengendalikan diri saat merasakan William meraih jemarinya. Dengan penuh perasaan William menyematkan cincin emas putih bertahtakan berlian tiga karat di jari manis Cinta.
"Clarissa Cinta Kirani, dengan ini aku melamarmu. Aku menginginkanmu menjadi pendamping hidupku, dan dengan ini pula kau menerima lamaranku," ucap William sesaat setelah berhasil menyematkan cincin itu. Lelaki itu membawa jemari Cinta lalu mengecupnya, lama.
"Saya harap kamu benar-benar siap menikah denganku," imbuh William.
"Iya, Pak. Saya siap. Setelah menikah nanti, tolong bantu saya menjadi istri yang baik," ujar Cinta, tulus."
"Begitupun dengan saya, kamu harus membantu saya memantaskan diri menjadi suami yang baik. Kita akan sama-sama belajar."
Suasana canggung kembali tercipta. William reflek melepaskan tangan Cinta yang sedari tadi dia genggam. Kembali melajukan mobilnya menuju rumah cinta.
"Bapak mau mampir dulu," ajak Cinta begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti di pelataran rumah.
"Tidak usah, saya harus langsung mengabarkan berita ini pada keluargaku."
"Baiklah kalau begitu, saya masuk dulu, Pak," Cinta berpamitan.
"Tunggu!"
Cinta mengurungkan niatnya membuka pintu saat William mencegahnya. Dilihatnya lelaki itu membuka jasnya.
"Di luar hujan, pakai ini biar kamu nggak basah!" Membalutkan jas itu di badan Cinta.
"Tidak usah Pak!" Tolak Cinta.
"Jangan membantah! Cepat masuk, Ibu pasti sedang menunggu!" Titah William.
"Terima kasih, Pak."
Cinta menutup mobil dan berlari meuju teras rumahnya. Dia melambaikan tangan saat William membuka sedikit jendela kaca mobilnya. Melihat kepergian mobil hitam metalik itu, setan di dada Cinta semakin menggila. Dia merasa menjadi wanita paling bahagia saat William memberinya perhatian kecil seperti tadi. Padahal jarak dari mobil menuju teras cukup dekat, hujan juga tidak terlalu deras.
Ah, membayangkan itu membuat pipi Cinta kembali memanas.
__ADS_1
Bersambung ....