Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Tak Ada Yang Sanggup Menandingi


__ADS_3

"Hoek ... Hoek."


William mengerjapkan matanya begitu indra rungunya menangkap kegaduhan yang bersumber dari kamar mandi.


"Hoek ... Hoek ... Hoek."


Sisa-sisa kantuk mendadak sirna saat William kembali mendengar suara khas wanitanya itu.


"Masih suka mual?" William mengumpulkan rambut Cinta yang tergerai lalu mengikatnya tinggi.


"Biasanya juga udah nggak mual," lirih Cinta, hampir tak terdengar.


"Ya udah, kamu istirahat dulu ya, biar aku buatkan teh. Atau kau mau aku buatkan susu hamil?" Membopong gadis itu dan merebahkannya pelan di kasur.


Cinta menggeleng. "Teh jahe aja."


"Sarapannya sekalian? Mau aku buatkan apa?"


"Aku mau bubur ayam."


"OK, tapi nanti habis aku buatin teh buat kamu, terus mandi. Nggak apa-apa kan?"


"Kelamaan. Udah nggak kepengin kalau lama," ketus Cinta.


"Terus maunya gimana?"


"Minta tolong Mbok Darmi aja suruh buatin tehnya, kamu buruan mandi!"


"Ya udah."


William meraih gagang telepon, untuk menyingkat waktu dia akan menghubungi lewat sambungan saja dari pada turun ke bawah.


"Aku udah minta sama Mbok Darmi suruh tehnya diantar ke kamar. Aku mandi dulu ya," kata William.


Cinta mengangguk.


Baru saja tangan William menggapai gagang pintu kamar mandi, lelaki itu dikejutkan ketika Cinta melewatinya begitu saja.


"Cinta," panggilnya.


"Kenapa?"


"Kamu mau apa?"


"Mandi," jawab Cinta.


"Lha, katanya aku dulu yang mandi."


"Mandi bareng aja, hemat waktu."


William melotot mendengarnya. Tak cukup sampai di situ, lelaki itu hampir saja dibuat copot jantungnya ketika melihat Cinta mulai melucuti helaian kain yang menempel di tubuhnya.


"Mas, kenapa bengong? Katanya mau mandi."


"Iy ... Iya, nanti aja habis kamu."


"Bantuin."


Baru saja William memutar tubuhnya, Cinta kembali merengek. Suaranya terdengar merdu mendayu-dayu, menimbulkan gelenyar aneh pada diri William.


"Mas!"


Tubuh William terlonjak kaget. Cinta menaikkan volume suaranya karena tak sabar, suaminya masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Bantuin apa?"


"Tolong gosok punggungku Mas!"


Jantung William seakan hendak keluar dari tempatnya. Dapat dengan jelas dia lihat tubuh polos itu ketika Cinta menyodorkan sabun padanya.


Ini nggak baik buat kesehatan jantungku. Alamat buruk, batin William.


Cinta membalikkan badannya, membiarkan tangan suaminya mulai bergerak menyabuni punggungnya. Tangan William bergetar hebat seakan ini kali pertama dia menyentuh Cinta. Bahkan sudah ada buah cinta yang kini tumbuh dan berkembang di rahim istrinya, tapi sungguh, William merasakan getaran yang luar biasa dahsyat.

__ADS_1


Inikah yang dirasakan ketika seseorang jatuh cinta?


Bagian dari strategi Mas, Oma bilang kamu harus sering-sering disiksa.


Cinta tersenyum miring. Mendapati suaminya tersiksa menahan sesuatu yang sudah meronta sedari tadi, membuatnya bersorak kegirangan. Cinta sengaja memantik gairah lelaki itu. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.


"Mas!" Teriak Cinta lagi.


"Sebentar," sahut William dari dalam kamar mandi.


Begitu selesai memandikan Cinta, William kembali mengunci diri di dalam kamar mandi. Cinta yang telah tahu apa yang sedang suaminya lakukan di sana pun tak henti-hentinya tertawa.


"Kalau kelamaan aku nggak jadi kepengin bubur ayamnya."


"Iya, iya ... Ini udah kelar."


Tak lama berselang, William keluar dengan wajah yang frustasi. Hampir saja Cinta tertawa, tapi berusaha dia tahan.


"Aku berangkat sekarang," kata William, menyambar kunci dan dompet di atas nakas.


"Tunggu!"


"Ada lagi yang mau dibeli?"


"Ikut," rengek Cinta sambil mengguncang


Sumpah demi apa, William gemas sekali melihat istrinya. Seandainya saja kondisinya sedang tidak rumit seperti sekarang, ingin rasanya lelaki itu mengangkat tubuh istrinya dan tak membiarkan Cinta keluar kamar.


"Ya udah ayo."


Keduanya menuruni anak tangga.


"Mbok," panggil William manja pada wanita tua yang berpapasan dengannya.


"Ada apa cah bagus?" Wanita itu sedikit kesusahan memegang keranjang cucian yang dipegangnya karena William bergelayut manja padanya. Anak itu sama persis seperti Sultan sewaktu muda, manja dan bergantung padanya.


"Minta tolong kasih tahu sama Mba Marni ya, suruh beresin kamar tamu yang di ujung itu ya, istri saya kan lagi hamil, kasihan kalau harus naik turun tangga."


"Soal itu toh, beres Den bagus. Kemarin si Mbok sama Marni udah beresin kamar itu, tinggal ditempati saja," jelas Darmi.


"Ish, malu sama istri Den, masa si Mbok udah tua jompo begini dicium."


"Nggak apa-apa, istri saya kan baik, mana bisa dia marah sama Mbok."


"Makasih ya Mbok," ucap Cinta.


"Sama-sama. Ya udah, Mbok mau ke belakang dulu."


"Ya mbok. Terima kasih Mbokku Sayang," goda William. Lelaki itu menggandeng istrinya.


"Mau ke mana Nak? Sarapan udah siap," tegur Hanum.


"Cinta pengen sarapan bubur ayam yang mangkal di dekat rumah dia Ma."


"Ya udah, hati-hati di jalan ya."


Cinta tak tahu apa yang membuat suaminya terus tersenyum sumringah. Sejak kereta besi yang mereka tumpangi itu melaju, William tak henti-hentinya mengulum senyum.


"Sampai," gumam William.


"Ayo." Tak lupa lelaki itu membukakan pintu untuk istrinya.


"Kamu duduk sini ya, biar aku yang pesen. Nggak pakai kacang kan?"


Cinta mengangguk.


"Tambahannya mau apa?"


"Cakwe sama sate telur puyuh."


"OK."


William kembali ke mejanya usai mengatakan pesanannya pada tukang bubur. Senyuman terus terkembang di bibirnya. Tak ada hal yang lebih menggembirakan baginya saat ini selain memenuhi keinginan Cinta yang tengah mengidam. Biarlah dia terlambat menjalani perannya sebagai seorang suami siaga di awal kehamilan Cinta, setidaknya dia akan menebusnya sebaik mungkin.

__ADS_1


"Mas nggak makan? Kenapa cuma dilihatin aja buburnya?" Melirik mangkuk suaminya yang isinya masih utuh.


"Iya, ini aku makan."


Netra William tak lepas dari wajah cantik istrinya. Gerakan Cinta nampak anggun menyendokan bubur itu ke dalam mulutnya. Belum lagi ketika Cinta menyapu bubur yang menempel di bibirnya, terlihat sangat sensual. William rasanya ingin ********** segera.


"Nggak dihabiskan?"


"Kenyang," balas Cinta sambil mengusap perutnya yang terasa penuh.


"Ya udah. Ayo pulang."


Lelaki itu berdiri menantikan istrinya yang masih sibuk memakai sepatunya. Cinta sempat melepasnya tadi dan ketika akan memakainya kembali, dia malah kesulitan.


William yang tak tahan akhirnya berjongkok untuk memakaikan sepatu itu.


"Nggak usah Mas, aku bisa pakai sendiri kok," cegah Cinta ketika tangan sang suami sudah menempel di kakinya.


"Udah diem aja." William melakukan tugasnya. "Ya ampun, kenapa nggak bilang kalau sepatunya udah nggak muat?"


William sedikit kesulitan memakaikan sepatu itu.


"Nggak apa-apa, masih bisa dipakai."


"Pokoknya habis ini kita beli sepatu yang baru. Kaki kamu agak bengkak makanya sepatunya udah nggak muat. Kenapa nggak bilang sih? Takutnya sakit kan kaki kamu," omel William.


"Masih bisa dipakai kok Mas."


"Udah nggak usah ngeyel, ayo kita belanja kebutuhan kamu ya."


"Kamu kan harus ke kantor," kata Cinta.


"Siapa yang mau ke kantor hari libur begini Cinta?"


Cinta bahkan lupa jika sekarang hari Sabtu.


"Kita nggak pulang dulu Mas?"


"Buat apa? Mau dandan atau nggak, kamu tetep yang paling cantik," sahut William.


"Cantik mana sama Raisa?"


Deg.


William melirik gadis itu, lalu menepikan mobilnya.


"Kamu masih belum percaya sama aku," cicit pria itu.


"Aku tanya, cantik mana aku sama Raisa? Kalau keberatan buat jawab ya tinggal bilang aja, apa susahnya?"


"Ya cantikan kamu lah."


"Bohong!"


"Tadi katanya suruh jawab, giliran udah dijawab malah ngambek."


"Aku nggak masalah kok kalaupun kamu bilang lebih cantik Raisa dari pada aku," sinis Cinta.


"Cinta, Hei!" William menangkup wajah istrinya. "Lihat aku."


Cinta masih menundukkan wajahnya.


"Lihat aku, kamu mau tahu jawaban dariku tadi itu jujur atau enggak kan?"


William menaikkan dagu Cinta dengan telunjuknya. "Tatap aku! Aku bilang kamu cantik, sangat cantik dan nggak ada yang bisa menandingi kamu di segala sisi. Hanya ada kamu yang ada dihatiku sekarang."


Cinta terdiam. Menatap kedalaman manik mata sehitam tinta itu membuatnya terhanyut.


"Aku mencintaimu," bisik William sesaat sebelum bibirnya mendarat manis di kening Cinta.


Pria itu menurunkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga kini Cinta dapat merasakan hangat napas William menerpa pipinya.


William makin memajukan wajahnya. Dekat, sangat dekat hingga tak ada jarak lagi di antara keduanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2