
"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Dion begitu dia memasuki ruangan tersebut kemudian mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk.
Seminggu setelah kejadian dimana dia menghabiskan malam bersama Wina di rumah sakit, kondisi kesehatannya telah pulih dengan cepat hingga dia sudah di izinkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan.
Ternyata Adam benar-benar akan mewujudkan keinginannya waktu itu untuk pergi memanjakan diri. Hal yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan kaum hawa, tak lama lagi akan dapat dia dan teman-temannya rasakan juga nanti.
Tak mau ketinggalan dengan teman-teman barunya itu, Dion pun memutuskan untuk ikut pergi ke tempat spa khusus pria.
"Memangnya ada apa dengan wajahku? aku sudah tampan dari lahir? kau tidak tahu kalau orang sering menyebutku mirip Jay, salah satu member boyband terkenal dari Negeri gingseng, IKON," sahut Adam.
"Bukan itu yang aku maksud, kenapa kalian memasang tampang masam begitu? bukankah kita akan pergi bersenang-senang?"
"Huh ...," Raka mendesah panjang. "Ini semua gara-gara Sultan, dia bilang dia sudah jalan satu jam yang lalu, nyatanya tadi aku telepon masih dijalan katanya."
"Ya sudah, kita tunggu saja."
.
Adam memarkirkan mobilnya begitu mereka telah sampai di pelataran sebuah gedung berlantai dua.
"Benar ini tempatnya?" tanyanya pada Raka.
"Iya benar."
"Ya sudah ayo turun, tunggu apa lagi?" sela Dion.
"Kenapa cuaca siang ini panas sekali sih?" gumam Sultan begitu dia keluar dari mobil.
"Siapa suruh datang terlambat? kita tidak akan kepanasan jika saja kau datang lebih awal," hardik Raka.
"Sudahlah hentikan! kalian terus saja bertikai tak kenal tempat. Kita sudah membuat kesepakatan sejak awal kan, hari ini kita akan bersenang-senang. Sudahlah, ayo kita nikmati hari ini, belum pernah kan kita santai begini?" Adam menyela.
"Iya, tidak ada gunanya kalian bertengkar. Ayo!" reflek, Dion menggandeng lengan Adam.
Mereka berjalan beriringan memasuki gedung tersebut. Untunglah Raka telah membuat reservasi jauh-jauh hari jadi begitu mereka sampai, sudah ada dua orang karyawan yang menyambut kedatangan mereka kemudian menggiring mereka masuk ke sebuah ruangan yang berukuran besar.
Sepanjang mereka berjalan di sebuah lorong terlihat beberapa orang yang berpapasan dengan mereka. Entah apa yang sedang mereka gunjingkan, yang jelas tatapan mata orang-orang itu terus menatap ke arah Dion dan Adam.
"Kenapa setiap orang yang berpapasan dengan kita terus melihat kita kemudian berbisik-bisik ya?" tanya Adam heran.
"Jadi kau juga merasa begitu?" Raka yang sedang berjalan di belakangnya pun menyahut. "Aku pikir aku saja yang merasakannya."
Mereka pun berhenti sejenak, Adam dan Dion kompak membalikkan badannya karena Sultan mencekal lengan Adam.
"Ada apa?" tanya Adam dan Dion bersamaan.
Keempat orang itu saling pandang ketika melihat Sultan melepaskan tangan Dion yang sejak tadi masih melingkar di lengan Adam.
"Aku rasa inilah penyebab orang-orang itu terus menatap aneh dan menggunjing kita," kata Sultan.
"Kenapa?" tanya Adam dengan polosnya.
"Memang kau tidak dengar apa yang tadi dibicarakan oleh mereka tentang kita?" lagi, Sultan bertanya.
Adam menggeleng, di susul kedua pria di sampingnya.
__ADS_1
"Mereka berpikir kalau kalian ini g*y," celetuk Sultan.
"Apa?" ketiga temannya berteriak nyaring.
"Ish!" Dion sedikit menjauhkan dirinya dari Adam sambil bergidik ngeri.
Plaakk ...
Adam mendaratkan sebuah pukulan di kepala Dion.
"Kenapa kau memukul kepalaku?" Dion terus mengusap kepalanya yang sakit.
"Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak berulah. Lagian bisa-bisanya kau menggandengku seperti ini. Menjijikkan!"
"Mana aku tahu, aku kan tidak sengaja."
"Aku tahu kau pria kesepian tapi setidaknya carilah wanita yang cantik. Jangan jeruk mak*n jeruk," kata Adam, sengit.
"Dasar gila! kau pikir aku ini apa? aku pria normal, aku kebal meskipun sering disakiti oleh wanita. Biar begini juga banyak wanita yang mengejarku tapi akunya saja yang pemilih."
"Ya, dan seleramu adalah wanita yang usianya jauh diatasmu kan?" celetuk Raka.
"Huh! kenapa kau ikut-ikutan menyerangku?" Dion menatap kesal pada Raka. "Itu hanyalah sebuah kesalahan, tolong jangan ingatkan aku pada masa lalu buruk itu lagi."
"Apa kalian akan terus berdebat? kapan kita bisa merasakan spa nya? ini sudah hampir jam dua sore. Lagipula kita masih harus ke mall juga kan? ayolah ... bukankah kalian bilang kalau hari ini waktunya untuk kita bersenang-senang?" Sultan menyahut.
Hening.
Mereka kembali mengikuti dua orang karyawan yang hendak membawa mereka ke sebuah ruangan khusus.
Dua orang pria tadi menyuruh mereka mengganti pakaiannya di ruang ganti.
Tak lama kemudian, masing-masing dari mereka sudah berbaring di bed dengan seorang terapis.
"Ternyata rasanya nyaman sekali ya? pantas saja para wanita betah sekali berlama-lama berada disini," seloroh Sultan saat merasakan pijatan lembut di kakinya.
"Kau benar, rugi kita selama ini mati-matian banting tulang tapi tak pernah menikmatinya. Sayang sekali," Adam menyahut.
"Pantas Disha selalu menguras isi rekeningku hampir setiap satu bulan sekali untuk menyempatkan pergi ke salon. Dan itu tidaklah sedikit," Raka yang sedang memejamkan mata menikmati sentuhan yang membuatnya rileks itu pun tak mau kalah.
"Bagaimana denganmu, Dion?" tanya Adam.
"Ini juga pengalaman pertama bagiku. Dulu, mana ada waktu santai begini karena tiap hari aku disibukkan dengan banyaknya tuntutan pekerjaan," terang Dion.
"Oh ya, aku lupa kalau kau kan dewasa sebelum waktunya," kata Adam dengan nada mengejek.
"Bukan dewasa pada waktunya tapi sukses di usia muda lebih tepatnya."
"Eh, omong-omong bagaimana dengan Wina? aku penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada kalian dulu? kalau boleh aku tebak, apa itu sejenis kisah cinta yang belum kesampaian atau bagaimana?" sela Raka.
"Aku pun, coba ceritakan pada kami tentang masa lalumu saat bersamanya dulu?"
Mereka terus saja saling menyahut meskipun tak bisa bertatapan secara langsung karena memang sedang dipijat.
"Sebenarnya tidak banyak kenangan yang terjadi diantara kami. Dalam waktu satu bulan yang singkat itu satu-satunya kenangan yang paling berkesan adalah ketika aku dan dia berlari mengejar bis terakhir yang datang di halte dekat tempat les kami," kata Dion sambil tersenyum yang tentunya tak bisa dilihat oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Raka tak sabar.
"Mungkin saat itulah pertama kalinya aku menggandeng tangan seorang gadis. Aku dulu memang bengal seperti berandalan tapi untuk masalah pacaran, no ! dan itu ...," ucapan Dion terpotong karena secepat kilat Raka menyambar.
"Membuatmu sangat bahagia? aku bisa bayangkan manisnya saat Dion dan Wina remaja bertemu."
"Kau mencintainya?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sultan, membuat yang ditanya pun menyahut.
"Entahlah, dulu aku masih polos dalam hal percintaan. Aku sendiri tidak tahu apa itu cinta, yang jelas aku merasa nyaman berada di dekatnya."
"Lalu bagaimana dengan dia sendiri? bagaimana perasaannya terhadapmu?" lagi, Raka bertanya.
"Dia mencintaiku," lirih Dion.
"Benarkah?"
"Itu yang dia katakan pada temannya dan temannya mengatakannya padaku."
"Lantas apa alasannya pergi tanpa meninggalkan pesan apapun padamu? bisa saja dia mengatakan isi hatinya sebelum pergi meninggalkanmu kan?" tanya Sultan.
"Kalian tahu kalau dia itu pemalu kan? ditambah dengan keadaannya yang seperti itu."
"Keadaan apa?" potong Sultan.
"Dia hanyalah seorang bayi yang dibuang oleh ibunya di depan pintu gerbang sebuah panti asuhan. Dia bisa sekolah di SMA favorit karena dia mendapat bea siswa, mungkin itu yang membuatnya merasa berkecil hati."
"Lantas waktu itu dia pergi kemana? kau belum menceritakannya pada kami."
"Ke Jepang," jawab Dion.
"Apa? tadi kau bilang dia kan ...," ucapan Raka terputus.
"Ada sepasang suami istri yang tidak dikaruniai anak dan mengadopsinya. Pasangan suami istri itu seorang diplomat, utusan dari Indonesia untuk Negara Jepang. Waktu itu mereka tidak punya banyak waktu karena harus secepatnya kembali ke Jepang. Mereka berjanji akan merawat Wina dan membuat apa yang menjadi cita-citanya terwujud, itu sebabnya tanpa berpikir panjang Wina mau ikut mereka."
"Dan itu alasannya kenapa kamu memilih menjadi diplomat?" ucapan Sultan hampir tak terdengar karena tertutup oleh bantal. Saat ini pria itu sedang tengkurap.
"Ya, dulu aku ketakutan. Aku pikir kejadian buruk akan menimpa Wina seperti kisah kelam seorang anak yang diadopsi dan disiksa oleh orang tua angkatnya, seperti dalam kebanyakan film. Itu sebabnya aku giat belajar agar bisa lulus lebih cepat dan menjadi seorang diplomat hingga bisa menyusulnya ke Jepang."
"Dan kamu pergi kesana?"
"Begitu aku berhasil dinobatkan menjadi seorang diplomat, aku langsung menyusulnya ke Jepang, hari itu juga. Susah payah aku minta untuk dikirim ke sana, dan dengan segala cara aku berusaha mengumpulkan informasi tentangnya. Tapi begitu aku sampai di sana ...,"
"Apa yang terjadi? kalau bicara yang jelas, jangan diputus begitu!" seru Raka, merasa kesal karena Dion memutus kalimatnya tepat di saat menegangkan.
"Ternyata orang tuanya sudah pindah ke negara lain. Mau tidak mau aku harus menghabiskan dua tahun disana sebelum aku meminta atasanku untuk memberikan mutasi. Tak terhitung berapa lama waktu yang aku habiskan untuk mencarinya, hingga akhirnya aku melihat seorang wanita yang berhasil mencuri perhatianku. Aku sendiri merasa payah, kenapa aku selalu saja jatuh cinta pada seorang gadis panti. Tak terkecuali Hanum."
"Berhenti membicarakan istriku atau akan kurob*k mulutmu!" kata Sultan, murka.
"Aku sudah tobat Brother, aku tahu itu salah dan aku tidak akan mengotori kehidupanku yang singkat ini di dunia dengan membuat kesalahan yang sama," jawab Dion.
"Gadis panti itu Mau ...,"
"Apa perlu kau melanjutkan kalimatmu, Raka?" Sultan mencebik.
"Sepertinya banyak sekali pria sensitif hari ini. Seperti para istri kalau sedang kedatangan tamu bulanannya saja." Raka menghela nafas.
__ADS_1
.