Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Awal dari permulaan


__ADS_3

Tubuh Hanum merosot ke bawah, bersandar di dinding, menangis tertahan sambil membenamkan wajahnya di tempurung lututnya.


Dia berniat untuk masuk ke kamarnya setelah menghabiskan waktu di taman, langkahnya terhenti ketika samar-samar dia mendengar perkelahian yang terjadi di ruang tengah.


Merasa sedikit menyesal kenapa dia harus mendengarkan semuanya, semua yang dibicarakan oleh mereka. Jadilah dia berakhir dengan menangis di tempat persembunyiannya.


Malam harinya.


Hanum memasukkan beberapa potong pakaiannya ke dalam koper, membuat Sultan yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, kebingungan.


" Apa yang kamu lakukan?" Sultan mencekal pergelangan tangan istrinya.


" Aku sedang berkemas." jawabnya acuh.


" Berkemas? kamu mau kemana?"


" Aku butuh waktu untuk berpikir mas, aku perlu menenangkan diri." Hanum cekatan memasukkan beberapa barang pribadi ke dalam kopernya, meletakkannya di atas tumpukan bajunya.


" Siapa aku?" Sultan meraih bahu istrinya, menatapnya tajam. " Aku bertanya padamu, siapa aku? sampai kamu merasa tidak perlu untuk meminta izin dariku?"


Hanum menunduk, tak berani menatap wajah suaminya. Dia masih diam membisu.


" Mau kemana?" lagi, Sultan bertanya.


" Pulang."


" Pulang kemana? bukankah ini rumahmu?"


" Aku ingin pulang ke Semarang."


" Berapa lama?" Sultan melepaskan tangannya dari pundak istrinya, lalu duduk di bibir ranjang.


" Belum tahu." Hanum masih mematung di tempatnya berdiri.


" Seminggu? sebulan? tiga bulan? berapa lama?"


" Kemungkinan lebih lama dari yang kamu sebutkan."


" Apa?" Sultan bangkit dari duduknya, meraih dagu istrinya hingga keduanya saling bertatapan. " Apa sebegitu inginnya kamu pergi? kamu mau meninggalkan aku?"


" Aku hanya takut, aku takut kalau perempuan itu lebih berharga di bandingkan aku. Aku takut kamu lebih membutuhkannya daripada aku."


" Astaga." Sultan mendengus kesal, membuang muka. " Mau sampai kapan kita terus berselisih paham seperti ini? sudah aku katakan berulang kali padamu, diantara aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan pertemanan, tidak lebih. Sama sekali tidak pernah ada cinta di hatiku untuknya, karena seluruh cintaku hanya untukmu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, pemilik hatiku. Apa masih belum jelas? harus menggunakan bahasa apa untuk aku mengatakannya agar kamu mempercayai kata-kataku? aku benar-benar tulus, cinta sama kamu."


Hening sesaat, hanya terdengar desahan nafas keduanya di dalam kamar itu.


" Aku perlu berpikir mas, aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Izinkan aku pergi, setelahnya, aku akan membuat keputusan." Hanum meraih tangan suaminya.


" Jangan pergi, kumohon." ucap Sultan begitu memelas.


" Hanya seminggu, aku janji akan pulang. Kita bisa bicarakan masalah ini nanti begitu aku pulang, kita selesaikan semuanya. Tapi sekarang, aku perlu waktu untuk sendiri mas."


" Satu Minggu?"


" Hm ..." Hanum mengangguk.


" Pergilah! pegang janjimu, pulanglah tepat waktu."


Dengan berat hati Sultan terpaksa mengizinkan istrinya untuk pulang ke kampung halamannya. Sejujurnya dia tidak rela kalau harus berpisah dengan Hanum, meskipun hanya sebentar, tapi mau bagaimana lagi.


.


Sinar matahari menerpa tubuh Sultan yang saat itu tengah memakai kemejanya di samping jendela. Kalau saja tidak ada pertemuan penting pagi ini, ingin rasanya dia berdiam diri saja di rumah. Menghabiskan waktu berdua dengan istrinya sebelum kepergian gadis itu. Sayangnya, pekerjaannya di kantor sudah sangat menumpuk karena beberapa hari terakhir dia tidak masuk kerja. Dia bahkan tidak tahu apa dia masih punya waktu untuk sekedar mengantar istrinya ke bandara, jadwalnya sangat padat sepanjang pagi sampai sore nanti.


" Aku akan sibuk sepanjang hari ini, tapi aku usahakan untuk bisa mengantarmu ke bandara." ucap Sultan sambil memakai dasinya.

__ADS_1


" Tidak perlu memaksakan diri kalau kamu menang sibuk, aku bisa di antar pak Dadang."


" Jam berapa jadwal keberangkatanmu?"


" Jam empat sore."


" Aku masih ada jadwal meeting dengan klien jam segitu, tapi aku usahakan."


Hanum berpikir itu hanyalah alasan Sultan untuk tidak mengantarkan keberangkatannya nanti.


Dia masih duduk di depan meja riasnya, pikirannya melayang entah kemana, sampai tidak menyadari kalau Sultan telah berpamitan padanya, mencium keningnya dan pergi dari sana.


.


Tepat pukul empat sore, Hanum melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor suaminya.


Kali ini, dia tidak perlu bertanya pada pegawai resepsionis yang tempo hari menyambutnya di lobby. Dia sudah tahu harus lewat mana dan dimana letak ruang kerja suaminya.


Hanum segera memasuki ruangan itu begitu dia sampai disana, tanpa mengetuk pintu. Dia sedikit terkejut ketika lagi-lagi dia melihat Mauryn di sana. Wanita itu tengah duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, Hanum melirik ke meja yang berisi kantong plastik berisi makanan yang dibawanya untuk Sultan.


" Hanum." sapa Mauryn.


" Hai." Hanum membalas sekedarnya, dia lalu mengambil posisi dengan duduk di sofa, saling berhadapan dengan Mauryn.


Katanya mau pergi ke Semarang, bagaimana bisa sekarang dia ada disini. Mauryn membatin.


" Kudengar kamu melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik, selamat ya, maaf aku belum sempat mengunjungimu." Hanum membuka suara.


" Ah, tidak masalah, aku tahu kamu baru saja sembuh dari kecelakaan yang menimpamu waktu itu."


" Oh ya, omong-omong siapa nama bayimu?"


" Yara." sahutnya singkat, tak bersemangat.


Jauh jauh dia kemari untuk menemui Sultan, dan bukannya bertemu dengan rivalnya. Mauryn tetap berusaha untuk bersikap sewajarnya, walaupun sejujurnya dia sangat tidak nyaman duduk berdua dengan Hanum seperti sekarang.


Hanum melihat ke arah lawan bicaranya sekilas, dia bisa merasakan hawa panas mulai terasa dalam ruangan tersebut meski pendingin udara di sana bekerja dengan baik.


" Sejak kecil Chanu sangat menyukai anak kecil."


Cih, beraninya dia memanggil suamiku dengan panggilan kesayangannya di depan istrinya sendiri.


" Dia sangat menyukai anak-anak, terlebih seorang bayi. Dia belum melihat anakku, dan aku yakin, dia akan sangat menyayangi anakku begitu dia melihatnya nanti."


Bicaralah sepuas hatimu, katakan semua hal yang bisa membuatmu bahagia.


" Kamu sudah cek ke dokter?" Mauryn menatap Hanum tepat di bola mata gadis itu, membuat Hanum mengernyitkan dahinya. " Kalian sudah menikah lebih dari satu tahun dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan dalam dirimu, apa kamu tidak khawatir? pergilah memeriksakan diri ke dokter kandungan, siapa tahu ada yang bermasalah denganmu. Siapa tahu kamu mandul."


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mauryn sudah cukup untuk memancing emosi Hanum, gadis itu mengepalkan tangannya. Jika saja tidak memikirkan bayi kecil yang saat ini bergantung pada wanita di hadapannya, ingin rasanya Hanum meninju perempuan itu tepat di dadanya.


Hanum tertawa begitu menyadari pikiran jahatnya, belum pernah dia berniat untuk menyakiti seseorang, memikirkannya saja sudah membuatnya tertawa geli.


Belum sempat dia membalas semua perkataan Mauryn, Sultan sudah masuk ke dalam ruangan itu di ikuti Raka di belakangnya.


Sultan terkejut melihat kedua wanita itu sudah ada di dalam ruangannya, Raka pun sama terkejutnya sampai-sampai dia terus berdiri mematung di depan pintu.Dia menarik lengan kemeja Sultan hingga membuat pria itu menoleh ke arahnya.


" Aku keluar dulu, ada sesuatu yang tertinggal." bisik Raka.


Di dunia ini hanya ada dua hal yang lebih menakutkan dari pada melihat perang dunia ke tiga. Pertama, berurusan dengan wanita hamil, kedua, melihat kedua wanita berkelahi memperebutkan satu pria. Lebih baik menyingkir, cari aman. Raka berlari terbirit-birit.


Sultan yang menyadari situasi menjadi semakin mencekam sejak kepergian Raka, dia melangkahkan kakinya enggan menuju sofa.


Perlahan, didudukkan tubuhnya di samping Hanum, kecemasan menyerang dirinya, apa yang harus dia katakan kali ini. Usahanya saja untuk meyakinkan Hanum selama ini belum berhasil, dan dengan kehadiran Mauryn kali ini, bisa semakin memberatkannya nanti.


" Mas." Hanum mengapit lengan suaminya mesra. " Baru selesai meeting nya?"

__ADS_1


" Iya, kamu ..."


" Aku tidak jadi pergi, rasanya aku tidak sanggup kalau harus menanggung rindu jika berjauhan denganmu." ucap Hanum dengan nada manja, dia menyandarkan kepalanya di bahu Sultan.


Sultan yang melihat tingkah manja Hanum membuatnya bingung, seperti biasanya, seharusnya gadis itu akan marah jika melihat perempuan yang di bencinya itu datang menemui Sultan diam-diam di kantornya. Tapi sekarang, bagaimana mungkin Hanum malah bersikap begitu manja seolah ingin memamerkan kemesraan di depan Mauryn.


" Pekerjaanku sudah selesai, kita bisa pulang sekarang." ucap Sultan.


" Tunggu!" cegah Mauryn.


" Ada apa?" Hanum menyambar.


" Chanu, aku membawakan bebek bakar kesukaanmu, ini aku masak sendiri, khusus untukmu." menyodorkan kantong plastik yang ada di atas meja kepada Sultan.


Sultan tertegun, dia menatap istrinya bergantian dengan Mauryn, jelas dia tidak ingin menerima pemberian perempuan itu demi menjaga perasaan istrinya.


Namun lagi-lagi Sultan dikagetkan dengan sikap Hanum yang terlihat begitu antusias menerima bungkusan itu.


" Terimakasih." ucapnya sambil melemparkan senyum termanisnya kepada perempuan di depannya. " Kebetulan sekali aku sedang ingin makan ini, aku buka ya."


Sekian detik bungkusan itu sudah terbuka, Hanum begitu tergiur melihat potongan daging bebek berwarna hitam keemasan dengan balutan bumbu yang sudah menjadi karamel yang menyelimuti seluruh bagian daging tersebut.


Tanpa menunggu lama, Hanum sudah memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya.


" Enak." Hanum terus melahapnya.


Membuat kening Sultan berkerut, dia tak habis pikir, kira-kira apa yang membuat istrinya terlihat sangat menikmati makanan pemberian Mauryn. Terlebih, Hanum tidak begitu menyukai olahan berbahan dasar daging bebek.


Sultan dan Mauryn hanya saling berpandangan melihat Hanum yang sudah melahap separuh dari dagingnya.


Hanum terus menggigit daging itu di tangannya, entah kenapa rasanya cukup enak baginya. Dan ketika dia hendak memasukkan daging itu lagi ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja dia merasa perutnya tidak nyaman. Dia lalu membekap mulutnya, berlari ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadi Sultan di ruangan itu. Sementara Sultan berlari mengikutinya, disusul dengan Mauryn.


" Hoek ... hoek ..." Hanum memuntahkan makanan yang baru saja di makannya.


" Hanum kamu kenapa?" memijit tengkuk Hanum.


" Hoek ... hoek ..." bukannya menjawab, tapi Hanum masih susah payah mengeluarkan cairan dari mulutnya.


Sultan berlari menuju ruang kerjanya,dia ingat sebelum meeting, seorang office boy membuatkan teh hijau untuknya dan menaruhnya di atas meja kerjanya. Dia lalu memberikan itu pada Hanum, berharap kalau teh itu bisa membantu meredakan sakit istrinya meski pun teh itu sudah dalam keadaan dingin sekarang.


" Minumlah."


Hanum menerima cangkir tersebut, mulai mereguk isinya perlahan. Memberikan cangkir kosong itu pada suaminya dan meraih selembar tissue untuk mengelap bibirnya.


" Kamu kenapa?" Sultan mengelus kepala istrinya. " Sakit?"


Hanum menggeleng pelan, dia meraih tangan suaminya dan mengarahkannya tepat di depan perutnya.


" Aku tidak sakit, ini semua ulah anakmu." Hanum melirik Mauryn yang saat itu berdiri di belakang suaminya.


" Anak?" bibir Sultan bergetar. " Apa maksudmu?"


" Aku hamil." ucapnya manja sambil memainkan dasi suaminya.


" Sungguh?" Sultan terperanjat kaget, langsung memeluk istrinya begitu Hanum mengangguk.


Hanum memeluk erat tubuh suaminya, dia tertawa saat mendengar suaminya terus mengucapkan kata-kata terimakasih dan berkali-kali memujinya dan menghujaninya dengan ciuman.


Hanum mengedipkan sebelah matanya pada Mauryn yang saat itu terlihat begitu kesal. Hanum tertawa puas dengan kemenangan yang di perolehnya dengan membalas perbuatan jahat yang selama ini dilakukan wanita itu terhadap dirinya.


Ini baru awal dari permulaan, aku pastikan kamu akan menyesal karena telah berani mengusik ketenangan hidupku dan juga suamiku selama ini.


Mauryn menghentakkan kakinya ke lantai, dia sungguh merasa sangat kesal melihat kemesraan yang terjadi di depan matanya. Dia lalu pergi dari sana, meninggalkan mereka yang tengah larut dalam kebahagiaan.


.

__ADS_1


Mohon maaf kalau feel-nya kurang ngena ya guys, lagi jendel kepalaku tuh, otak gak bisa di ajak kerja sama.


Jangan lupa dukungannya ya, like, komen, share, dan vote, yang banyak 🥰🥰🥰🙏


__ADS_2