Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kecurigaan Cinta


__ADS_3

Setelah memastikan istrinya tertidur pulas, Willmar perlahan beringsut dari kasurnya. Pukul tiga pagi Raisa bangun dan seperti biasa, wanita cantik itu memang mudah lapar setelah usia kehamilannya menginjak trimester dua.


Willmar yang bertekad untuk menjadi suami siaga pun sigap berada di samping sang istri. Menemani Raisa makan, menonton televisi, lalu baru pada jam enam pagi Raisa kembali tertidur.


Buru-buru Willmar membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan baju santai dan berniat menyambangi rumah saudara kembarnya.


William menggeliatkan tubuhnya. Lagi, malam ini dia tak bisa tidur. Entah jam berapa dia dapat memejamkan matanya, tapi yang jelas hari sudah menjelang pagi saat dia memasuki alam mimpi.


Ingatannya pada Cinta membuat William kembali serasa ditikam belati tak kasat mata. Tak ada lagi yang menyiapkan segala keperluannya, tak ada lagi hangat tawa gadis itu yang mewarnai rumah ini.


Semuanya berubah.


Sepi.


"Kak! Buka pintunya!"


Belum lagi air dalam gelas masuk ke tenggorokan William, lelaki itu sudah dikejutkan dengan teriakan adik kembarnya. Gelas dalam genggaman ia letakkan, lalu gegas membuka pintu.


Bug!


Sebuah pukulan mendarat sempurna di wajah William. Willmar memberinya bogem mentah yang mengakibatkan sudut bibirnya berdarah.


Bug!


Bug!


Willmar terus melayangkan tinjunya.


"Selama ini aku sangat menghormatimu sebagai seorang kakak, inikah balasannya? Kalau kau memang mencintai istriku, kenapa tidak kau katakan sejak awal! Kenapa kau malah berpura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi tahukah kamu! Sikapmu, perhatianmu, itu yang pada akhirnya menjadi boomerang bagi kita. Lihat apa akibat yang telah kau timbulkan! Keluarga kita menjadi hancur berantakan."


William diam saja mendapatkan perlakuan dari sang adik. Entahlah. William merasa dia tak memiliki gairah hidup sama sekali. Sekedar menjelaskan pada adik kembarnya pun sungkan.


"Ini semua tidak akan terjadi seandainya saja kau berkata terus terang sebelum pernikahan digelar. Aku tahu kau sangat menyayangiku, tapi tidakkah kau pikirkan perasaan Cinta? Caramu salah Kak, kau korbankan perasaan orang yang sama sekali tak berdosa. Kau hancurkan hati semua orang. Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak bisa berdiri tegak menikmati kebahagiaanku di atas penderitaan orang lain. Cinta, Mama, Raisa dan Oma, aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan mereka. Kau kejam Kak, bajingaan!"


Willmar kembali mengayunkan tangannya, tapi belum sempat tinjunya menyentuh wajah William yang terlanjur babak belur, seseorang dengan kuat menahannya.


"Apa yang kalian lakukan? Apa-apaan ini!" Teriak Hanum histeris.


Wanita itu berlari ke tempat di mana dua putranya tengah bertikai.


"Dek, apa-apaan kamu Nak, kenapa kamu memukuli kakakmu?" Hanum meraung.


"Dia pantas mendapatkannya Ma, ini bahkan kurang jika dibandingkan dengan semua perbuatannya," sinis Willmar.


"Hentikan Dek! Kita bisa bicarakan ini baik-baik," lerai Arya.


"Apa lagi yang perlu dibicarakan Opa, semuanya sudah hancur, dan ini gara-gara pecundang ini!"


"Dek, sabar! Ayo kita masuk!" Ratih mengapit lengan cucunya dan menyuruh Willmar untuk duduk di ruang tengah.


Karena mengkhawatirkan kondisi Cinta, keluarga besar itu memutuskan untuk berkunjung ke rumah William. Mengingat hari ini merupakan hari libur, kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati makin bisa intensif.


Hanum membawa nampan berisi cangkir teh dan juga beberapa toples berisi kue kering dan camilan.


Semua orang duduk diam di tempatnya masing-masing. Hanum membuka kotak obat dan mengobati luka di wajah putra sulungnya. Jujur saja, wanita itu begitu trenyuh melihat kondisi William. Rasa marahnya masih bertahan, tapi dia masih memiliki rasa iba dengan tidak membiarkan William begitu saja.

__ADS_1


"Di mana Cinta? Panggil dia untuk turun, kita perlu bicara dengannya," kata Sultan.


William mematung, dia belum siap dengan pertanyaan seperti itu akan tetapi jika dia tetap diam, yang ada malah hanya akan memperkeruh suasana.


"Kau tidak dengar ayahmu bertanya?" Suara Arya begitu tajam, netra tuanya terus menyoroti si sulung.


"Cinta tidak ada di sini, dia ada di rumahnya," lirih William.


Plak!


Luka di sudut bibir William makin mengucurkan darah segar.


"Pa!" Desis Hanum.


"Biarkan aku menghajarnya, kali ini aku sudah tidak tahan lagi!" Geram Sultan. "Anak ini memang perlu diberi pelajaran."


"Bukan dengan cara seperti ini Pa, Mama mohon."


Willmar membuang muka. Ini adalah saat yang paling dia benci, melihat ibunya menitikkan air mata.


"Hentikan Tan!" Lerai Arya.


"Papi menyuruhku berhenti? Aku rasa anak ini perlu diberi pelajaran agar dia sadar dengan apa yang telah dia perbuat, Pi. Ketenangan dan keharmonisan keluarga besar kita terganggu, menjadi kacau berantakan akibat perbuatannya. Dia bahkan sudah menjadi pembunuuh Pi, dia membunuuh mertuanya sendiri."


"Lalu apa dengan kau membunuhnya, masalah akan selesai? Tidak Sultan! Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia harus meminta pengampunan istrinya. Biarkan dia menjalani hidupnya. Rasa penyesalannya terhadap Cinta akan membuatnya menderita, dan itu hukuman setimpal untuknya," celoteh Arya.


Sultan terdiam. Lelaki itu kembali mendaratkan bobotnya di sofa.


"Sekarang Opa tanya, di mana Cinta?"


Pria berusia senja itu menghela napas berat. "Sudah kuduga kejadiannya akan seperti ini, dia pasti merasa sangat tidak nyaman sehingga dia memaksa pulang hari itu."


"Dan kau diam saja? Tidak menyusulnya? Tidak membujuknya? Suami macam apa kamu!" Maki Sultan.


"Apa yang bisa aku lakukan jika dia sudah menutup rapat pintu hatinya, Pa?"


"Apa maksudmu!"


"Cinta meminta pisah," ungkap William.


Duar.


Kapas yang Hanum gunakan untuk membersihkan luka William terjatuh, laku detik berikutnya tubuh wanita cantik itu ambruk. Kegaduhan terjadi di sana. Semua orang sibuk membangunkan Hanum.


Ratih begitu telaten mengoleskan minyak angin, dan usahanya membuahkan hasil. Hanum tersadar.


"Mau ke mana Dek?" Tanya Sultan yang melihat si bungsu bangkit dari bibir ranjang.


"Pergi, aku nggak sudi lihat pecundang yang udah bikin Mama menderita," jawabnya acuh.


"Nak," cegah Hanum.


"Aku masih tetap anak Mama, aku akan sering mengunjungi Mama, atau Mama bisa datang ke rumah kapanpun Mama mau, tapi untuk melihat wajahnya." Willmar melirik saudara kembarnya. "Aku tidak sudi," imbuhnya.


Tak Willmar pedulikan panggilan Hanum. Pria itu memilih kembali ke rumahnya. Berlama-lama berada satu ruangan dengan William serasa mencekiknya. Willmar tak rela jika harus berbagi oksigen dengan William.

__ADS_1


"Maafkan aku Ma, aku memang nggak berguna," ucap William penuh sesal.


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hanum.


William menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."


"Astaga!" Sultan menggeram. William benar-benar membuatnya marah.


"Sekarang Mama tanya sama kamu, bagaimana perasaan kamu terhadap Cinta?"


"Aku ... Aku nggak tahu Ma. Aku nggak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, tapi yang jelas aku merasa kesepian, aku merasa ada yang kurang dengan ketidakhadirannya di sisiku." William menundukkan kepalanya. Bahunya naik turun seiring dengan butiran bening yang melesat dari sudut matanya.


"Apa tindakanmu selanjutnya?" Sultan kembali angkat bicara.


"Aku masih belum tahu Pa. Cinta bersikeras tetap meminta perpisahan dariku. Aku sudah memohon, tapi sedikit pun dia tak mau merubah keputusannya," jelas William.


"Berusahalah lebih keras lagi! Cinta pasti berubah pikiran jika kau mau berusaha dan tulus padanya," nasehat Ratih.


"Ya Oma."


"Nanti kita mampir ke rumahnya. Kita juga perlu meminta maaf atas nama keluarga kita Tan," ajak Arya.


"Iya Pi."


"Kau tenang ya, pergi dan bersiaplah. Kita akan bujuk Cinta nanti. Mama nggak yakin dia mau memaafkan kamu, tapi kita masih harus berjuang. Dia anak yang baik, menantu yang baik, Mama nggak rela kehilangan dia," kata Hanum.


"Iya Ma."


.


.


Cinta tengah membuat nasi goreng untuk sarapan. Aneka bumbu telah dia racik, lengkap dengan aneka sayur dengan tambahan udang dan cumi-cumi.


Cinta memasukkan irisan bawang ke dalam wajan berisi minyak panas, lalu mengaduknya. Seketika saja dia merasa tak nyaman. Wangi bawang itu terasa begitu menggelitik indra penciumannya, menjalar ke kepala yang membuatnya mendadak pening dan berakhir dengan perut yang bergejolak.


"Hoek ... Hoek." Mematikan kompor, buru-buru Cinta berlari menuju wastafel.


"Hoek ... Hoek ..." Cinta terus berusaha mengeluarkan isi perutnya yang terasa naik.


Untuk beberapa saat lamanya Cinta terus muntah. Merasa agak baikan, Cinta segera membasuh wajahnya, menarik beberapa lembar tisu dan menyeka wajahnya.


"Akhir-akhir ini aku merasa pusing, tanggal berapa sekarang?" Monolog Cinta.


Gadis itu meraih kalender kecil yang terletak di atas kulkas.


"Ya Tuhan, sudah sebulan lebih aku nggak kedatangan tamu bulananku, apa jangan-jangan ..." Cinta menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Nggak mungkin. Apa yang harus aku lakukan jika aku benar-benar hamil? Tidak ... Tidak! Apapun yang terjadi, aku harus tetap melanjutkan perceraian ini. Sidangnya akan di mulai minggu depan, aku harus tetap berpisah sekalipun ada janin yang berkembang di rahimku. Aku tidak mau lelaki kurang ajar itu menjadi ayah dari bayi yang kukandung. Sudah cukup selama ini dia menyakitiku, aku pastikan dia tidak akan menyakiti bayiku. Aku harus segera ke dokter."


Cinta bergegas memasuki kamarnya. Mengganti baju lalu meraih tasnya. Rencananya dia akan pergi ke klinik kandungan terdekat untuk memastikan kecurigaannya.


Satu hal yang pasti. Dengan atau tidak adanya janin dalam perutnya, dia tidak akan mundur dari rencana perceraiannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2