
Masih dengan bibir yang menyatu, William melepas jas yang membalut tubuhnya. Tangannya bergerak cepat melucuti kancing kemejanya hingga kain tersebut pun lolos dari tubuhnya.
Berpindah menuju sabuk hingga celana kain warna hitam itu teronggok di lantai, menyisakan boxer hitam yang memenjarakan senjatanya. William menggiring tubuh Cinta dan merebahkannya perlahan di kasur.
"Mas!" Cinta menahan tangan William yang hendak merenggut tali dress rumahannya.
"Jangan halangi saya mendapatkan apa yang menjadi hak saya," lirih William dengan suara memberat, tatapannya sarat permohonan.
"Dengan senang hati akan saya berikan, asal Mas janji kalau Mas juga memberikan hak saya sebagai seorang istri," pinta Cinta.
William memajukan wajahnya, sebuah kecupan mendarat manis di kening Cinta. Sorot mata itu begitu teduh meskipun diliputi kabut gairah. Ada setitik ketulusan yang dapat Cinta baca dari pancaran itu.
"Untuk itulah, bantu saya menjadi suami yang baik, ingatkan saya jika saya salah. Karena kamu istriku, kamu juga berhak atas diriku. Bukan hanya pada tubuh ini saja, hati dan semua yang ada dalam diriku, kau harus mengikat itu semua dan memastikan hanya akan menjadi milikmu saja," ungkap William.
Ah, rasanya Cinta berada dalam dilema saat isi hatinya tak sejalan dengan apa yang ada dalam benaknya. Otaknya meminta agar dia tak begitu saja mempercayai lelaki itu, tapi hatinya menjadi luluh usai mendengarkan pengakuan William.
"Saya mohon Cinta, saya juga nggak mau rumah tangga kita menjadi berantakan. Saya akan berusaha memenuhi keinginanmu, maka bimbinglah saya," ucap William memelas.
Mendadak Cinta teringat dengan ucapan ibunya waktu itu. Tak ada alasan baginya menolak memberikan hak William, justru sebaliknya, siapa tahu dengan kejadian ini menjadikan lelaki itu lebih terikat dengannya.
Napas William memburu, gairah kelelakiannya telah naik ke ubun-ubun terlebih saat melihat istrinya setengah telanjaang.
"Cinta," panggilnya lembut. Satu tangannya bersiap menarik pengait brallet hitam yang membungkus dua bukit kembar yang membusung padat.
Tatapan keduanya saling bertubrukan. Sedetik kemudian Cinta mengangguk mantap. "Saya sudah siap sekarang, silakan ambil apa yang menjadi hak Mas. Nikmatilah semua yang ada dalam diriku, sepuasmu."
Dapat Cinta lihat binar kebahagiaan yang terpancar dari kedua manik mata William saat lelaki itu mendengarkan ucapannya. Sepersekian detik, William telah berhasil menanggalkan kain berenda itu dan membuangnya asal. Disusul dengan satu-satunya kain penutup daerah terlarang Cinta yang juga bernasib sama tragisnya, teronggok di lantai.
"Ssshhh," Cinta mengerang saat merasakan lidah William menjelajahi leher jenjangnya.
William terus menjilaat, menyesap dan mengigit kecil, menorehkan bukti kepemilikannya di kulit putih itu. Tak hanya satu, lima buah jejak ia buat sekaligus.
"Eumh!"
Cinta memejamkan mata. Tangannya sibuk meremas seprai. William memainkan lidahnya di pucuk bukit dadanya, memberikan gelenyar aneh hingga Cinta tak sadar meloloskan desahan nakal berkali-kali.
Sementara lidah William bermain pada pucuk bukit indah Cinta, satu tangannya tak ia biarkan menganggur. Lelaki itu terus memilin tonjolan kecil itu, membuat tubuh Cinta bergelinjang.
William benar-benar seperti singa lapar. Puas bermain di tubuh bagian atas Cinta, ia mulai bergerak turun. Wangi tubuh Cinta membuatnya semakin menggila, dan William tahu, itu bukan berasal dari lotion ataupun minyak wangi.
__ADS_1
"Mas," rengek Cinta saat William membuka kedua kakinya lebar.
"Ada apa?" William sedikit terkejut, takut jika gadis itu berubah pikiran.
"Pelan-pelan, takut ..." Cicit gadis itu manja.
William tersenyum, manis sekali hingga membuat Cinta terbuai. "Saya akan melakukannya dengan hati-hati."
William mengusap bagian bawah Cinta yang ternyata telah licin dan lembab, siap untuk dimasuki. Perlahan William mengarahkan senjatanya tepat di depan lembah kenikmatan itu. Menggeseknya pelan, mencari jalan yang pas, dan mulai memasukkannya.
"Auw!" Jerit Cinta saat William mulai melesakkan senjatanya. Meremas seprai dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
William kembali memasuki gadis itu. Setengah miliknya telah tertanam, hanya memerlukan satu dorongan lagi agar adik kecilnya bisa masuk dengan sempurna.
"Ssshhh, sakit Mas," Cinta terus merintih. Tak peduli dia memejamkan mata, cairan bening itu terus melesat.
"Sedikit lagi Cinta. Kau pasti bisa menahannya."
Detik berikutnya Cinta menjerit, tubuhnya melentik ke atas bersamaan dengan William yang menghentakkan miliknya dengan sangat keras. Sekali sentakan, milik lelaki itu telah terbenam sepenuhnya di lembah surgawi Cinta.
"Arghhh!" Cinta mendelik saat merasakan sesuatu yang keras memaksa masuk ke dalam miliknya. Tangannya yang sejak tadi meremas seprai, berpindah menuju punggung dan lengan William.
"Terima kasih. Ternyata kasih untuk semuanya Cinta," ujar William usai melepaskan bibirnya. Kecupan bertubi-tubi dia berikan di kening dan juga wajah gadis itu. "Masih sakit?"
"Sedikit," adu Cinta.
William kembali melanjutkan aksinya. Dengan tangan yang terus bergerilya di dada Cinta, perlahan ia mulai memompa miliknya.
Cinta terus merintih, ini pengalaman pertamanya, terlebih lagi kepunyaan William tergolong super, lengkap sudah deritanya.
"Argh! Cin ... Ta ... Kau sungguh luar biasa." William terus melesakkan miliknya.
Akhirnya lelaki itu dapat mencicipi apa itu surga dunia. Milik Cinta masih terasa sangat sempit, membuat kepunyaan William serasa terjepit. Lelaki itu pun tak henti-hentinya mendesah. Sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru pernah dia rasakan. William mempercepat ritme permainannya. Ia terus menusukkan senjatanya begitu dalam hingga menyentuh rahim Cinta. Membuat Cinta terus merintih di bawah kungkungannya.
"Argh! Ke ... Keluar Cinta!" Desah William.
Hentakan terakhir terasa sangat dalam dan keras. Cinta merasakan sesuatu yang hangat menyembur di dalamnya. Detik berikutnya, tubuh lelaki itu ambruk di samping Cinta.
William menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Memeluk tubuh yang telah mengantarkannya pada puncak kenikmatan tiada tara.
__ADS_1
"Terima kasih Cinta," ucapnya disusul sebuah kecupan di kening Cinta. "Saya nggak mau janji karena takut nggak bisa menepatinya, tapi saya akan berusaha untuk memperbaiki diri. Dan tugas kamu mengingatkan kalau saya salah."
"Iya Mas," lirih Cinta.
"Saya nggak mau rumah tangga kita berantakan. Kita mulai dari awal ya?" Mengusap kepala Cinta yang saat ini berada di dadanya.
Beberapa menit kemudian.
Cinta yang baru saja memejamkan mata terkejut saat mendapati tangan William kembali merayap di tubuhnya.
"Mas!" Bersiap menahan tangan itu.
"Lagi, please ..." Untuk pertama kalinya Cinta melihat suaminya merengek.
"Kita juga baru saja selesai, masih sakit."
"Tapi aku mau lagi," bujuk William.
Mau menolak pun percuma, William sudah menendang selimut itu ke lantai dan kembali menindih Cinta.
Tak lama kemudian, desahan demi desahan kembali terdengar bersahutan. Dinginnya udara luar dengan hujan yang masih mengguyur deras, berbanding terbalik dengan panasnya suasana kamar itu.
William kembali mengajak istrinya mengarungi samudera kenikmatan, mereguk manisnya madu cinta yang tak akan pernah ada habisnya.
"Argh! Sakit Mas." Cinta kembali menjerit saat kali kedua William memasukinya.
"Ini sudah sangat pelan Cinta."
Cinta memejamkan matanya merasakan William terus menusuk miliknya.
Di luar.
Tania yang hendak mengajak anak beserta menantunya untuk makan malam pun mengurungkan niatnya saat mendengar suara-suara aneh itu. Wanita itu tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya pelan dan gegas pergi dari sana.
"Aku lupa kalau putriku sudah besar. Mereka kan masih pengantin baru, wajar jika mereka masih menikmati masa itu. Beruntung aku tidak langsung mengetuk pintunya tadi," gumam Tania.
Bersambung ....
*Masih mau lanjut gak? komen sama like nya dulu dong 🤗 vote nya yg byk jgn lupa 😊 Semoga suka dengan ceritanya 🙏🤗❤️😘😘😘
__ADS_1