
Semenjak pertemuannya yang tak di sengaja dengan Wina, dia berubah seratus delapan puluh derajat dari seorang anak yang berkelakuan buruk menjadi anak yang penurut.
Berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah, tak ada lagi Dion yang dulu sering sekali bolos, Dion yang sekarang sungguh berbeda, anak itu rajin ke sekolah dan giat belajar. Sepulang dari sekolah pun dia harus menghabiskan waktunya hingga beberapa jam di tempat les. Anak itu benar-benar menepati janjinya kepada Ibunya.
Sama seperti hari-hari yang dilaluinya semenjak pertemuannya dengan Wina di dalam sebuah bis. Hari ini pun Dion masih setia menaiki sebuah bis langganannya, sebenarnya sang ayah sudah mengembalikan semua fasilitas yang diberikan padanya secara suka rela namun dia menolak. Baginya menjalani kehidupan seperti sekarang ini lebih membuatnya nyaman.
Dion semakin gusar manakala seseorang yang dia tunggu tak kunjung datang padahal bis yang membawanya itu telah melewati halte dimana Wina sering menunggu.
Dengan raut wajah panik Dion segera turun dari bis tersebut begitu dirinya sampai di halte depan sekolah. Dia bergegas mengayunkan langkah kakinya untuk memasuki sebuah kelas.
Dia terus mengedarkan pandangannya hingga ke setiap sudut penjuru ruangan, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kelas akan di mulai sepuluh menit lagi dan Wina ternyata belum ada di sana. Dengan perasaan tak karuan dia melangkah menuju bangku temannya, Mawar. Hal ini tidak biasa, jika sampai Wina terlambat, pastilah ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
"Mawar," panggilnya hingga membuat gadis bernama Mawar menoleh padanya. "Wina mana?"
"Memangnya kamu nggak tahu?" Mawar malah balik bertanya.
"Tahu apa?" Dion menaikkan volume suaranya.
"Dia nggak cerita sama kamu?" tanya Mawar lagi.
"Ya ampun, bicara yang jelas!"
"Wina, dia ...,"
Dion melangkah keluar dari kelas tersebut, mendengar penuturan Mawar tentang Wina padanya sungguh membuatnya terpukul. Baru saja dia merasa bahagia dan menjalani kehidupan barunya dengan penuh semangat dan sekarang, seseorang yang sangat berjasa dalam membuat perubahan dalam hidupnya telah menghilang.
Flashback end
"Jadi, dia itu?"
"Mungkin waktu yang telah kami lewati bersama tidaklah lama, tapi dalam waktu satu bulan itu kami benar-benar sudah saling mengenal satu sama lain," terang Dion. Dia paham betul apa yang saat ini ada dalam pikiran tiga pria yang saat ini ada di depannya.
"Apa yang menyebabkan dia mendadak menghilang? terlebih dia tidak mengabarimu atau meninggalkan pesan sama sekali untukmu?" Adam duduk di tepi bed, mencoba lebih dekat dengan Dion.
"Kehidupan yang dia jalani dulu sangatlah berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya. Saat para remaja putri menghabiskan waktunya dengan berkumpul dengan teman-temannya atau sekedar jalan-jalan,dia bahkan tidak memiliki waktu untuk itu. Jangankan untuk bersenang-senang, bisa tidur nyenyak selama lima jam saja sudah luar biasa baginya." Dion menatap Adam.
"Aku masih belum paham." Adam menggelengkan kepalanya.
"Aku juga," celetuk Sultan.
"Sama." Raka tak mau ketinggalan.
"Tempat tinggal yang dia maksud ternyata adalah sebuah panti asuhan," lirih Dion.
"Kenapa kau tidak mengetahui hal itu sebelumnya? tadi kau bilang sangat mengenalnya meskipun kalian hanya berteman kurang lebih satu bulan," sindir Adam.
"Itulah dia, dia sungguh berbeda dengan gadis lainnya. Segala sesuatu yang dia tunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya adalah segala hal yang penuh kebahagiaan dan kebaikan. Dia sama sekali tak menunjukkan dukanya sedikitpun pada orang lain termasuk teman dekatnya sekali pun."
"Orang tuanya?" tanya Adam masih mendominasi sesi tanya jawab.
__ADS_1
"Dia tidak akan berakhir dengan tinggal di sebuah panti asuhan jika dia memiliki orang tua. Dia sendiri tidak tahu siapa orang tua kandungnya, yang aku dengar dari temannya, sejak bayi dia sudah ditinggalkan oleh Ibunya di depan gerbang pintu panti asuhan itu."
"Alasan kepergiannya?"
"Hah ...," Dion mendesah panjang. "Aku lelah, lapar. Apa tidak keterlaluan jika kalian terus menggangguku setelah aku baru bangun dari tidur panjangku?" cebik Dion.
"Ya ampun, baru bangun pun langsung ingat makanan dia."
"Pergi ... pergi kalian! menganggu saja," Dion menggerutu.
"Ayo, kita tinggalkan saja manusia tidak tahu terimakasih seperti dia. Kalau tahu akan begini sikapmu setelah sadar, aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk bersedih menangisi keadaanmu kemarin."
Bed berdecit ketika Adam bangkit dari sana, bak anak kecil yang merajuk dia merangkul bahu Sultan dan Raka bersamaan dan menyeret mereka dan meninggalkan Dion sendirian.
"Yaah ...," teriak Dion. "Aku hanya bercanda,woi ... tunggu! jangan biarkan aku sendirian di sini nanti siapa yang akan mengurusku?" Dion berusaha menghentikan langkah temannya.
"Akan aku panggilkan Wina," goda Sultan seraya di balas dengan kekehan Adam dan Raka.
"Aku sangat lapar! sungguh aku sedang tidak bercanda," ucap Dion memelas, barangkali saja temannya masih memiliki belas kasihan padanya.
"Bye ...,"
Kompak, ketiganya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang, terus berjalan tanpa menghiraukan Dion yang masih berteriak di dalam sana.
"Sepertinya kita harus membantu mereka merajut kembali cinta yang belum sempat terjalin diantara mereka," celetuk Raka.
"Aku setuju dengan Raka, aku rasa tidak ada salahnya kita mencoba untuk kembali mendekatkan mereka. Bukankah tadi kalian sudah dengar kalau Wina masih single, dan Dion pun sebenarnya memang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Mauryn, hanya tinggal menunggu akta cerainya keluar."
"Jangan pernah menyebut nama perempuan durjana itu lagi di depanku. Menjijikkan, aku sampai mual hanya dengan mendengar namanya saja," kata Raka sambil memasang wajah penuh kebencian ketika mendengar nama Mauryn kembali di sebut.
"Lalu aku harus memanggilnya apa? namanya kan itu, apa aku harus mengganti nama panggilannya? kalau di pikir-pikir memang kita harus menggantinya, jika aku menyebut namanya entah kenapa langsung terlintas kejadian memalukan yang dilakukan olehnya bersama Reno. Ya ampun kedua orang itu benar-benar ...," Adam tak mampu melanjutkan ucapannya karena dia sendiri merasa jijik bila membicarakan hal yang bisa membuatnya mengingat hal itu kembali.
"Ya sudah jangan disebut lagi!" Raka menutup rapat telinganya.
"Masalahnya kan kita memang masih perlu membahasnya. Sidangnya baru akan di mulai lusa, akan mustahil bagi kita kalau sampai tidak membicarakannya." Adam menghentikan langkahnya sejenak.
"Ya sudah kalau begitu, ganti saja nama panggilannya karena aku sungguh muak." Raka menatap Sultan yang sejak tadi terdiam.
"Apa?" tanya Sultan, tak mengerti.
"Kau setuju denganku kan?"
"Tentu saja."
"Lantas kenapa sejak tadi kau diam saja?" ucap Raka yang tak habis pikir dengan tingkah temannya.
"Karena aku sedang berusaha menahan diri, aku takut aku akan hilang akal dan berbicara kasar jika aku sampai membicarakannya," jawab Sultan.
"Ya sudah ayo berpikir!"
__ADS_1
Adam melipat kedua tangannya sambil terus melihat dua kubu yang tengah bersitegang di hadapannya. Lagi-lagi mereka bertingkah layaknya anak kecil, mereka selalu saja seperti itu, bertengkar hanya karena hal sepele tapi tak lama setelah bertarung sengit keduanya akan kembali lengket seolah tak terjadi apa-apa.
"Mau sampai kapan kalian akan terus berpikir?"tegur Adam karena setelah beberapa menit berlalu, mereka masih saja berdiri di tempatnya.
"Ah ya ... aku baru ingat sekarang!" Sultan menjentikkan jarinya.
"Ingat apa?" tanya Raka, penasaran.
"Panggil saja dia wanita siluman, selama ini Hanum menyebutnya begitu."
Dan seketika tubuh Sultan terlonjak karena Raka dan Adam bersorak, menyetujui panggilan konyol tersebut yang selanjutnya akan mereka gunakan untuk merujuk pada Mauryn.
"Jadi, kasus ini resmi di tutup! mari kita bahas kasus selanjutnya," canda Adam.
"Kasus apa?" tanya Sultan dan Raka bersamaan.
Keduanya menatap Adam yang sedang memainkan jari telunjuknya, menunjuk sebuah ruangan dengan papan bertuliskan nama Wina di sana.
Memang se-lama apa mereka membicarakan soal Mauryn sampai-sampai mereka tidak sadar jika mereka telah sampai tepat di depan ruang dokter cantik yang mereka yakini pernah menyimpan rasa pada Dion.
"Tunggu!"
Mendengar seruan Adam membuat ketiganya menghentikan langkahnya sebelum mengetuk pintu ruang tersebut.
"Ada apa?" tanya Sultan.
"Ini entah untuk yang keberapa kalinya, aku lupa. Tapi kenapa sepanjang sejarah hidupku aku selalu saja menemui orang dengan kasus yang sama. Cinta yang terpendam, masih menjadi judul favorit bagi sebagian orang. Memang apa susahnya sih bilang cinta? sampai sebegitunya dipendam?" Adam menaikkan turunkan alisnya, mengkode Raka.
"Jangan menyindirku!" hardik Sultan yang merasa terpojok.
"Siapa yang menyindirmu?" cebik Adam.
"Tadi itu, memang apa yang kau katakan? jelas-jelas kau menyindirku, aku tidak bodoh," kata Sultan.
"Hah, yang benar saja," Raka mengerucutkan bibirnya. "Dengar! yang Adam katakan tadi tidaklah salah, memang faktanya begitu kan? coba kau ingat-ingat, diantara kita bertiga siapa yang paling bodoh dalam urusan percintaan? seorang suami yang bahkan dengan pengecutnya sampai tidak berani mengatakan cinta pada wanita yang telah menjadi istrinya dan jelas-jelas dicintainya."
"Astaga." Sultan mendengus.
"Pukulan telak!" seru Adam.
Sultan terus bergumam dalam hati, tak suka jika dua temannya itu bergabung untuk menyerangnya.
Ah, memalukan. Lagipula kenapa juga Adam mesti mengungkit masa lalu sih? soal cinta yang terpendam pula?
Dongkol, itu yang Sultan rasakan begitu Adam dan Raka masih saja mentertawakan dirinya.
.
Untuk bab ini masih menceritakan tentang Dion dan Wina ya tapi next aku udah kembalikan ceritanya ke pemeran utamanya. Setelah sekian banyak cobaan hidup yang Hanum rasakan, kini ... sudah saatnya dia hidup bahagia. Merasakan manisnya hidup bersama orang yang menjadi budak cintanya 🤭 semoga aja kalian masih suka dengan ceritaku dan masih setia untuk membaca kelanjutannya 🥰🥰🥰 🙏🙏🙏
__ADS_1