
Raisa duduk sambil mengamati pergerakan suaminya dengan seksama. Willmar tengah mengganti popok si sulung dengan yang baru karena popok sebelumnya telah penuh.
"Habis ini apa Yang?" menaruh tisu basah yang dia gunakan untuk menyeka pantat bayinya tadi, Willmar melirik istrinya.
"Langsung taruh popok baru di bawahnya."
"Caranya?" Willmar mengerutkan keningnya, dia memang mahir mengganti popok Jayden selama ini, tapi hal itu dia lakukan setelah Jayden berusia enam bulan. Willmar sungguh belum tahu cara mengganti popok bayi baru lahir.
Raisa bangkit dari tempatnya dan berjalan pelan menghampiri dua lelaki yang sangat dia cintai itu, sementara si bungsu Aarick masih terlelap dalam box-nya.
"Aduh Yang, kamu duduk aja deh! Aku serem banget kalau lihat kamu kebanyakan gerak gini."
Telah seminggu yang lalu mereka pulang ke rumah, dan selama itu pula Willmar berusaha melarang Raisa untuk melakukan banyak hal. Willmar berkeras hati mengatakan ingin menyewa jasa baby sitter mengingat riwayat istrinya yang melahirkan dengan cara operasi yang tentunya membutuhkan masa penyembuhan lebih lama dibandingkan dengan ibu hamil yang melahirkan normal. Pria itu tak ingin istrinya kelelahan mengurus si kembar dan bisa berakibat pada lamanya proses pemulihan Raisa, tapi Hanum dan Ratih ngotot tak mau mengabulkan keinginan Willmar. Dua wanita itu mengatakan kesanggupannya membantu mengurus bayi-bayi mereka.
"Biar aku ajarin ya Mas, nanti kamu jadi tahu. Kalau cuma diomongin doang kamu pasti nggak bakalan paham," ujar Raisa, lembut.
"Tapi aku takut kamu kecapekan Yang."
"Omong kosong! aku cuma gantiin popok doang Mas, dan bukannya kerja berat."
"Justru itu, kamu udah kerja keras saat melahirkan mereka, makanya aku mau kamu sekarang cukup diam aja," omel lelaki itu. Willmar berubah menjadi sangat cerewet semenjak Raisa melahirkan. Pria itu menjadi posesif, melarang Raisa melakukan ini dan itu, hal kecil pun Willmar larang. Willmar menggarisbawahi tugas utama istrinya adalah untuk menyusui si kembar saja.
"Cuma gantiin popok Mas, lagian nggak enak kalau musti panggil mama sama oma lagi, mereka juga capek. Aku cuma mau kasih lihat kamu aja, habis ini kamu pasti udah bisa gantiin popok Aaron tanpa bantuan orang lain."
"Oke."
Willmar menyaksikan dengan seksama ketika Raisa mengganti popok bayi mereka.
"Apa nggak apa-apa kalau misalnya aku mengangkat kedua kakinya dengan cara seperti itu?"
"Mas pasti bisa melakukannya, aku yakin."
"Tapi aku takut menyakitinya, bagaimana kalau nanti dia menangis?" tanya pria itu.
"Asal dilakukan dengan lembut dan hati-hati, penuh perasaan, Aaron dan Aarick pasti akan merasa nyaman. Mas ingat kan, saat pertama kali mereka lahir saja mereka terus menatap ke arahmu. Setiap sentuhan dan interaksi yang kamu lakukan dengan kedua bayi kita sejak dalam kandunganku, ternyata menumbuhkan ikatan batin yang kuat. Mereka berdua sangat manis dan menurut, jadi mereka akan anteng karena tahu kamu ayahnya," ceramah Raisa berakhir seiring dengan selesainya kegiatan itu.
"Memasangkan perekatnya juga jangan terlalu kuat, takut perutnya ketekan," imbuh Raisa, merapikan popok tersebut sebelum membalutnya dengan celana panjang.
Willmar tersenyum, mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di dahi Raisa. "Aku sungguh nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu." duduk di sisi Raisa dan menautkan tangannya.
"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang sungguh luar biasa yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku sangat mencintaimu," imbuh pria itu disusul sebuah kecupan lagi.
"Ini semua juga berkat doa, dukungan dan kesabaranmu Mas. Karena kamu begitu tulus padaku, kamu selalu menerimaku bahkan dalam kondisi apapun. Itulah yang membuat Tuhan berbaik hati memberikan kebahagiaan untuk kita." Raisa meraih tangan Willmar dan mengecupnya.
"Udah malam, sebaiknya kamu tidur."
"Mas juga harus tidur. Kamu kurang tidur semenjak mereka lahir." wanita itu melirik bayi-bayinya yang kini terlelap.
"Ya, aku akan tidur setelah memindahkan kakak di box-nya."
Raisa menaikan kakinya dan berbaring, membiarkan Willmar memindahkan bayi mereka, lalu keduanya tidur bersama.
__ADS_1
Keesokan paginya.
Seperti biasa, pagi hari adalah menjadi jam yang paling sibuk bagi Cinta. wanita itu berlarian ke sana ke mari, dari dapur ke kamar untuk menyiapkan makanan dan keperluan suaminya.
"Kita berangkat nanti sore aja, gimana?" tanya William ketika sang istri tengah membuatkan simpul dasi di kerah kemejanya.
"Terserah kamu aja Mas, kalau misalnya capek kan bisa diundur besok pagi juga nggak apa-apa," kata Cinta.
Mereka memang telah sepakat untuk menginap di rumah Tania. Sudah sangat lama keduanya tidak mengunjungi rumah itu, itu sebabnya Cinta menolak tawaran William untuk berlibur di puncak dan meminta pada suaminya agar mengganti liburan mereka dengan menginap di sana saja.
"Enggak, pokoknya nanti habis aku pulang kerja kita langsung berangkat ke sana. Aku juga udah merindukan suasana rumah itu. Semenjak kehadiran si kembar, pak tua itu selalu berteriak setiap hari dan itu membuatku pusing," keluh William dengan nada bercanda. Cinta tentu saja tahu sebutan 'pria tua' itu tertuju pada Arya.
Tidak hanya Willmar yang berubah, Arya pun berubah seperti orang tua baru yang baru saja memiliki anak. Pria tua itu sangat antusias pada si kembar, meskipun kasih sayangnya pada ketiga cicitnya itu sama.
"Kebiasaan kamu Mas, nggak boleh gitu sama orang tua." Cinta menimpali.
"Ya aku kan nggak ngomongin kejelekan opa, Yang. Aku cuma nggak suka aja sama kakek nyentrik itu," cibir William.
"Udah, nggak usah dibahas. Sebaiknya sekarang Mas sarapan dulu, nanti aku nyusul sama Jayden."
"Oke, jangan lama-lama."
"Iya."
Cinta pun mulai mengurus Jayden. Wanita itu selalu memastikan kebersihan dan kerapian suami serta anaknya sebelum keluar dari kamar.
.
.
"Jayden tahu nggak kita mau ke mana?" tanya William. Seperti biasa, Jayden akan meminta dipangku pria itu duduk di depan kemudi.
Jayden menggeleng pelan. "Ndak au," jawab bocah itu, polos.
"Beneran Jayden nggak tahu?" ulang William, yang dijawab dengan sebuah anggukan dari bocah kecil itu. "Terus Jayden penasaran nggak? mau tahu nggak?" lanjut William.
"Iya Ayah."
"Kita mau ke rumah nenek." pria itu mengecup puncak kepala anaknya.
"Ne ... nek?" bocah itu mendongak demi bisa melihat wajah ayahnya.
"Iya, nenek. Nenek Jayden, mamanya bunda, kalau yang di rumah itu mamanya Ayah," jelas William.
"Ooh." mulut bocah itu membulat, sangat menggemaskan.
Cinta yang melihatnya tak henti mengulum senyum. William memarkirkan mobilnya dan membawa satu koper besar berisi baju-baju itu ke dalam rumah.
"Akhirnya sampai juga," gumam William.
Pukul tujuh kurang lima menit mereka akhirnya tiba di rumah peninggalan Tania. Meski lama tak berpenghuni, namun keadaan di sana tetap terawat dan terjaga. Semua ruangan bersih dan bebas dari debu karena Cinta meminta Mang Asep untuk rutin membersihkannya.
__ADS_1
"Ayah, aus ..." rengek Jayden sambil menggoyangkan tangan William.
"Ooh, kasihan kesayangannya Ayah sampai kehausan. Ayah ambilkan dulu ya."
"Biar aku aja Mas," cegah Cinta. "Sekalian bikin minum buat kamu. Jayden mau minum air putih atau dibuatkan susu?" Cinta membungkuk, membelai kepala anaknya.
"Mimi susu," jawab bocah itu.
"Oke. Bunda buatin dulu ya, sekarang Jayden sama Ayah duduk aja dulu di sana." Cinta menunjuk sofa panjang yang ada di ruang tengah.
"Iya Bunda." William yang menjawab, ia menggendong Jayden dan memangkunya di sofa.
Setelah memberikan minuman pada dua pria yang dicintai Cinta itu, wanita itu pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam ala kadarnya. Semua kebutuhan mereka selama seminggu telah Cinta persiapan, termasuk stok bahan makanan di kulkas. Mereka pun gegas masuk ke kamar begitu acara makan malam selesai. Karena lelah dan mengantuk juga perutnya dalam keadaan kenyang membuat Jayden tidur dengan cepat.
"Mas." Cinta berusaha menepis tangan suaminya yang kini telah melingkar sempurna di pinggangnya.
Wanita itu baru saja mengganti pakaiannya dengan baju tidur, dan tiba-tiba saja William sudah berdiri di belakang sambil memeluknya.
"Kenapa?"
"Jangan dulu, Jayden baru banget tidur, aku takut dia kebangun lagi."
William terkekeh dan itu membuat Cinta heran.
"Memang kamu pikir aku mau apa? aku cuma mau meluk kamu doang."
"Modus, ujung-ujungnya mau juga," balas Cinta. Lagi-lagi membuat kekehan William berubah menjadi tawa.
"Ya kalau dikasih izin sih, kalau enggak ya ... terpaksa aku tahan, deh."
"Kenapa musti ditahan kalau kita bisa melakukannya? bukankah Mas suka melakukan itu?"
"Bukan cuma aku, kamu juga, buktinya masih suka minta nambah. Eh, tapi serius ini, boleh?" William membalikkan tubuh istrinya membuat mereka saling berhadapan. Cinta mengangguk. Merasa mendapat lampu hijau, pria itu pun gegas menyambar bibir Cinta, tapi kalah cepat karena telapak tangan Cinta lebih dulu membekapnya.
"Yang," protes William.
"Aku membolehkan, tapi bukan berarti sekarang Mas, tunggu setelah Jayden minum susu keduanya nanti," kata Cinta.
Jayden memang masih suka terbangun setelah dua atau tiga jam setelah tidur hanya untuk minum susu, setelahnya bocah itu akan kembali tidur. Cinta sengaja mengundur perhelatan akbar itu karena tahu suaminya tak akan cukup hanya dengan dua ronde saja dan itu membutuhkan waktu agak lama. Dari pada memutus kegiatan menyenangkan itu, maka Cinta berinisiatif untuk melakukannya sehabis Jayden meminum susu kedua, biasanya bocah itu akan tertidur pulas hingga pagi.
"Ya ampun Yang, itu kan masih lama. Ah," rengek pria itu bak anak kecil.
"Cuma sebentar Mas. Sekarang pilih, mau nanti lagi enak-enaknya di cut, apa mau main langsung sepuasnya?"
William terdiam sejenak memikirkan ucapan istrinya. "Benar juga ya?"
"Nah kan?"
"Kamu emang yang terbaik Yang, selalu tahu apa yang aku mau," puji William, membenamkan ciuman sekilas di bibir Cinta.
Bersambung ....
__ADS_1