
William kembali menepikan mobilnya begitu kendaraan roda empat itu memasuki jalan utama. Mematikan mesin mobil, lelaki itu menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata.
William kembali mengingat setiap kebersamaannya dengan Cinta. Berawal dari ide gilanya, hingga dia menikah dan pada akhirnya berpisah dari gadis itu, semuanya terjadi dengan begitu cepat. Menyisakan banyak kenangan manis dan kepedihan yang tak terkira terutama bagi Cinta.
"Setelah cukup lama merenung, pada akhirnya aku tahu perasaanku yang sebenarnya, dan aku menyesal. Aku sangat menyesalinya karena aku terlambat menyadari kalau sebenarnya ada dirimu di ruang hatiku Cinta. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan itu untukmu, tapi aku bersumpah akan menebus semua dosa-dosaku padamu. Aku nggak rela kamu menjadi milik orang lain," monolog William.
Cukup lama William duduk di sana, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali melajukan kereta besinya.
Di sisi lain.
Tak berbeda jauh dengan William, Cinta pun terus merenungi semua kejadian yang menimpanya selama ini. Memikirkan langkah yang akan dia ambil ke depannya, yang akan menjadi penentu ia menapaki masa depannya.
Tak mudah menjadi ibu tunggal, Cinta sudah cukup lama memikirkannya akan tetapi apa mau dikata jika takdir sudah digariskan.
Tok ... Tok ... Tok.
"Permisi, Neng Cinta."
Ketukan pintu dan suara Asep membuat Cinta mengakhiri lamunannya. Gadis itu membasuh tangannya yang penuh busa di bawah kran air.
"Iya Mang, sebentar!" Teriaknya, bergegas membukakan pintu untuk pria itu.
"Neng," sapa Asep begitu Cinta keluar.
"Iya Mang, silakan duduk. Ini ..."
"Oh ya, kenalkan, ini keponakan Mamang dari desa."
Seorang pemuda yang Cinta perkirakan usianya sepantaran dengan William itu mengangguk hormat. Mereka saling berjabat tangan.
"Cinta."
"Aldi."
Keduanya saling menyebutkan nama masing-masing.
"Silakan duduk. Cinta ke dalam dulu buat minum ya Mang?"
"Nggak usah repot-repot Neng," kata Asep.
"Nggak apa-apa, Mang. Mau kopi atau teh? Nanti Cinta buatkan, Mamang sana Mas Aldi duduk aja dulu."
"Apa aja Neng."
"Ya udah. Tunggu sebentar ya."
Cinta masuk ke dapur. Membuat dua cangkir kopi dan menaruh beberapa potong cheesecake yang kebetulan masih ada di kulkas.
"Silakan diminum Mang, Mas Aldi," ucap Cinta mempersilakan tamunya.
"Iya Neng, terima kasih. Jadi gini Neng, langsung aja ya. Si Neng kan bilang mau jual rumah ini, kebetulan keponakan saya lagi cari rumah. Dia kan udah jadi karyawan tetap di perusahaannya biarpun cuma jadi cleaning servis mah, nah rencananya dia mau ajak istri sama anaknya di kampung buat ikut tinggal di sini," jelas Asep.
"Bagus dong Mang," Cinta menyahut.
"Tapi masalahnya, uangnya Aldi teh belum cukup dari harga yang Neng Cinta tawarkan kemarin, padahal sama si Neng juga kan udah dikurangi itu mah."
"Memangnya kurang berapa Mang?" Tanya Cinta.
"Aldi, jawab atuh!" Kata Asep, menyenggol lengan keponakannya.
"Punten Neng, uangnya masih kurang sepuluh juta," Aldi menyahut.
"Hm. Ya udah nggak apa-apa. Sementara saya terima aja dulu uangnya Mas, sisanya bisa Mas transfer ke rekening saya kalau udah ada."
"Memangnya nggak apa-apa Neng," Asep menyela.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Mang, Cinta percaya sama Mamang sama Mas Aldi. Oh ya, kalau bisa secepatnya ya, karena kebetulan saya juga sudah nemu rumah baru yang akan saya tempati," balas Cinta.
"Oh ya Neng, baik. Kebetulan saya juga sudah mengemas barang-barang saya," ucap Aldi.
"Jadi kapan rencananya kamu mau pindah Al?" Sang paman menanyai keponakannya.
"Nanti sore saja Mang, bagaimana? Lebih cepat lebih baik," Cinta menyela.
"Bagaimana Al?" Pria paruh baya itu kembali bertanya.
"Ya Mang, kebetulan memang saya sudah siap. Uangnya saya transfer nanti ya Neng," Aldi menyahut.
"Ya Mas. Oh ya, foto keluarga dan beberapa barang lain baru sebagian saya pindahkan, nanti kalau misalnya istri Mas Aldi sudah datang, boleh meminta tolong sekalian bantu bereskan? Kumpulkan jadi satu nanti lain kali saya ambil," kata Cinta.
"Ya Neng, siap."
"Ya sudah kalau begitu, berarti transaksi ini deal ya," Asep angkat bicara.
"Ya Mang."
Cinta dan Aldi menjawab bersamaan, lalu masing-masing dari mereka saling berjabat tangan.
.
.
Raisa tengah duduk menikmati semilir angin yang membelai kulitnya, terasa menyejukkan. Desau angin merontokkan dedaunan. Gadis itu terus mengelus perutnya yang membuncit. Usia kandungannya telah beranjak lima bulan.
Raisa merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ketika mendapati betapa Willmar sangat menyayangi dan memperhatikannya. Lelaki itu selalu siaga, pun ketika sedang bekerja. Sebisa mungkin Willmar pulang demi menuruti keinginan mengidam sang istri, meskipun setelahnya dia harus berpacu dengan waktu untuk kembali ke kantor. Maka jika terbebas dari pekerjaan di akhir pekan, Willmar mencurahkan seluruh perhatian dan waktunya hanya untuk istri tercinta.
"Sayang."
Gadis itu menoleh saat mendengar suara bariton yang dikenalnya. Senyuman terkembang di bibirnya manakala melihat Willmar membawa bungkusan makanan di tangannya.
"Terima kasih, maaf merepotkan," ucap gadis itu.
Willmar mendaratkan bokongnya di kursi, lalu tangannya mulai cekatan membuka bungkusan makanannya.
"Untung aku sudah menyuruh Bi Rohmah menyiapkan peralatan makannya."
"Tentu saja, dia aku bayar mahal untuk mengurus semua keperluanmu."
"Ya Sayang."
"Sekarang makan ya, kau bilang sangat ingin makan kepiting saus Padang, sengaja aku belikan dengan porsi besar."
Keduanya makan dengan lahap dalam diam. Willmar dengan telaten menyiangi daging kepiting itu dan menaruhnya di piring Raisa.
"Bagaimana kalau besok kita ke rumah Mama? Mama menanyakanmu, kita juga sudah lama nggak ke sana," ujar Willmar begitu acara makan siang mereka selesai.
"Ya. Aku juga sudah rindu dengan suasana rumah Mama," Raisa menimpali.
"Habis ini mau apa? Mumpung aku libur, mau jalan-jalan atau ..."
"Tidak usah! Aku mau ke kamar saja kak, sudah kenyang, mau tidur." Raisa tersenyum simpul.
"Ya sudah ayo."
Willmar membimbing istrinya bangun dari kursi, keduanya berjalan beriringan menuju kamar.
"Will, aku mau ke kamar mandi dulu," kata Raisa.
"Aku antar."
"Tidak usah! Aku bisa sendiri."
__ADS_1
"Ya sudah."
Willmar duduk di kasur menantikan istrinya selesai membuang hajat.
"Argh! Will!"
Tiba-tiba terdengar suara benturan cukup keras yang berasal dari kamar mandi. William berlari menyusul istrinya.
"Raisa!" Tubuh Willmar serasa lemas seketika tulang belulangnya dilolosi saat melihat istrinya bersimbah darah.
"Sakit Will!"
Lelaki itu segera menggotong tubuh istrinya.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Sakit banget Will!" Raisa mencengkeram lengan suaminya.
Willmar berlari menuruni anak tangga. Lelaki itu hampir dibuat gila saat Raisa kehilangan kesadarannya.
"Ya ampun Non, apa yang terjadi dengan Nona, Tuan?" Bi Rohmah histeris.
"Jatuh dari kamar mandi Bi. Tolong ikut kami ke rumah sakit."
"Ya Tuhan." Wanita paruh baya itu membekap mulutnya. Wajahnya telah basah dengan deraian air mata.
.
.
Jarum jam menunjukkan angka lima saat alarm di nakas berdering nyaring. Dengan cepat William membuka matanya. Membersihkan diri dan bersiap menemui Cinta.
Sejak kemarin lelaki itu sangat bersemangat untuk menemui Cinta.
Setelah melajukan mobilnya kurang lebih lima belas menit, William memarkirnya di depan sebuah rumah makan. Salmon mentai rice menjadi menu pilihan yang dia rasa cocok untuk mengawali harinya dengan Cinta.
William bergegas mematikan mesin mobil dan mengayunkan kakinya penuh semangat. Diketuknya daun pintu rumah Cinta.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar. William mematung saat melihat sosok di balik pintu yang ternyata bukan Cinta, gadis yang dicarinya.
"Maaf Mas, cari siapa ya?" Tanya Aldi.
"Anda siapa? Ini rumah Cinta kan?" William menatap sinis lawan bicaranya.
"Oh, Masnya cari Neng Cinta. Neng Cinta nya sudah nggak tinggal di sini lagi Mas," ungkap Aldi.
"Apa!"
"Iya, saya sudah membeli rumah ini kemarin."
"Lalu ke mana Cinta pindah?" William mulai panik.
"Maaf Mas, kalau soal itu saya nggak tahu."
Sebelum pindah kemarin, Cinta memang meminta Asep dan Aldi untuk merahasiakan kepindahannya.
"Mustahil! Anda pasti tahu kan? Katakan ke mana Cinta pindah!" Desak William.
"Maaf Mas, tapi saya nggak tahu. Sudah ya, saya masih banyak pekerjaan!"
Aldi langsung mengunci pintu, meninggalkan William yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
Tubuhnya limbung, lalu dengan gontai William melangkah menuju kursi rotan dan duduk di sana.
'Aku kira dengan sikapmu kemarin merupakan awal yang baik untuk hubungan kita, tapi apa yang terjadi saat ini membuatku harus berpikir ribuan kali. Tak akan mudah bagimu untuk memaafkan semua dosa-dosaku, tapi bisakah kau tetap tinggal? Setidaknya jangan hukum aku dengan cara seperti ini Cinta,' batin William menjerit pedih.
__ADS_1
Bersambung ....