
" Jangan harap!" Sultan menatap tajam istrinya. " Aku tidak akan pernah menceraikanmu, sampai kapanpun." tegasnya.
" Untuk apa? untuk apa kita bersama kalau saling melukai? aku tidak ingin mengikatmu dalam ikatan suci pernikahan kalau kamu terpaksa menjalaninya denganku selama ini."
" Hah ..." Sultan menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. " Kenapa ujian cintaku selalu rumit begini? apa yang harus aku lakukan agar kamu mengerti."
" Tidak ada bedanya bagiku, hidup bersamamu seperti tinggal dalam ruangan penuh duri yang bisa kapan saja melukaiku. Pun sama, jika aku pergi, aku akan terbebas darimu, tapi seperti tinggal di semak berduri. Sama menyakitkan bagiku."
Hanum masih menangis sesenggukan, dia memeluk kakinya erat, tidak ada orang yang bisa membuatnya tenang saat ini.
" Kamu boleh pergi, bebas kemanapun kamu mau." Hanum menoleh ke arah suaminya, keduanya pun bertemu tatap. " Setelah aku mati, kamu hanya akan menjadi jandaku setelah kematianku."
Mendengarnya malah semakin membuat Hanum terisak, sungguh dia hanya ingin terbebas dari rasa yang sangat menyiksa ini.
" Terserah, aku sama sekali tidak peduli denganmu, aku sangat membencimu!"
Dia melepas cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin yang pernah di sematkan suaminya sebagai tanda pengikat hubungan keduanya. Dia lalu melemparkannya ke arah Sultan, seketika Sultan pun memejamkan matanya. Ada butiran bening yang merembes dari sana, kenapa kejadian menyakitkan seperti ini terus terjadi.
Dia hanya ingin hidup bahagia dengan Hanum, memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan.Berbagi suka duka bersama, Sultan hanya ingin menjadikan Hanum satu-satunya tempat yang akan ia datangi dalam titik terendah maupun tertinggi dalam hidupnya.
Dia menyesali masa lalunya yang terlambat menemukan Hanum, seandainya saja ...
Lagi-lagi Sultan menyugar rambutnya kasar, bukan rumah tangga seperti ini yang ingin dijalaninya dengan Hanum.
Rasanya seribu sesal yang membuncah di dadanya tidak akan mempengaruhi kenyataan yang sudah terjadi saat ini.
Hanum bangkit, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, dia bergerak menyeret kopernya. Dengan kasar dia mendorong tubuh Sultan menjauh dari daun pintu.
Sultan yang sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari istrinya itu pun terjungkal.
Sementara Hanum berhasil membuka kunci pintunya dan segera berlari sekencang mungkin. Dia berlari sekuat tenaga, menuruni anak tangga yang membelit bangunan itu dengan bertelanjang kaki.
Sultan yang menyadari kepergian Hanum pun bergegas mengejar istrinya, dengan nafas memburu dia berlari.
Untunglah suasana rumah sudah sepi karena penghuni rumah ini sudah tidur di pembaringannya, kecuali dua pasang anak manusia yang tengah terlibat cekcok. Membuat Hanum leluasa pergi dari sana, dia lalu berjalan menuju gerbang.
Tinggal selangkah lagi, dia akan pergi meninggalkan seluruh nestapanya di sana, dia akan mencoba untuk memulai kehidupan yang baru, nantinya.
Dia hanya perlu berlari sekencang mungkin, menuju stasiun kereta, tujuannya saat ini.
Hanum makin mempercepat laju kakinya begitu menyadari suaminya sedang mengejarnya di belakang.
Dia berlari dengan terus memperhatikan ke arah belakang, sampai tiba-tiba entah darimana muncul sebuah mobil berkecepatan tinggi, sedang melaju.
Brak.
Suara decitan mobil terdengar begitu keras menandakan sang pengemudi menginjak pedal remnya kuat-kuat.
Kecelakaan tak bisa di hindari, tubuh Hanum terpental dan jatuh bersimbah darah di atas jalanan beraspal.
" Hanuuummm ..." pekik Sultan.
Dia terus memaksa kakinya berlari mendekati istrinya meski tubuhnya terasa lemah tak berdaya, dengan tangan bergetar di angkatnya kepala Hanum ke dalam pangkuannya.
Air matanya meluncur dengan derasnya saat dia melihat tangan yang digunakannya untuk mengangkat kepala Hanum penuh berlumuran darah.
Hatinya semakin sakit saat melihat Hanum yang kesulitan bernafas itu tersengal, bibirnya bergetar, mengucapkan kalimat yang membuatnya hati Sultan makin teriris.
" Ma ... mas, ak ... aku ..."
" Jangan bicara apapun, aku mohon." tangisnya makin menjadi.
" Ak ... aku ... men ... cin ... mencintaimu mas."
Tubuh Sultan membeku seketika, Hanum tak sadarkan diri begitu selesai mengucapkan kalimat itu.
.
Di depan ruang tunggu kamar operasi.
Tak henti Sultan terus merapal doa, menyebut nama Tuhan, memohon kemurahan Tuhan Nya untuk menyembuhkan istrinya.
Air matanya masih mengalir, bibirnya terus bergetar mengucap doa dengan mata terpejam.
Setelah menunggu untuk waktu yang lama, pintu kamar operasi itu pun terbuka lebar. Seorang pria yang mengenakan pakaian operasi keluar dari sana.
" Anda keluarga pasien?" tanya dokter berkacamata itu.
__ADS_1
Sultan hanya mengangguk.
" Jadi begini, operasinya baru saja selesai, tapi ..."
" Tapi apa dok?"
" Ada sedikit masalah, saat ini pasien di nyatakan koma."
Ya Tuhan ...
Air mata Sultan kembali mencelos, masalah yang satu saja belum selesai, masih di tambah dengan ujian yang makin berat.
Dosa apa sebenarnya yang telah dia lakukan dimasa lalu yang membuatnya harus menerima kejadian buruk dalam hidupnya secara bertubi-tubi.
" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, semampu kami tapi, pasien mengalami cedera otak cukup parah, hal ini diakibatkan dari benturan yang sangat keras saat terjadinya kecelakaan, hingga pasien mengalami traumatic brain injury cukup serius."
" Lalu apa yang harus dilakukan dok?"
" Kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menangani pasien, perbanyaklah berdoa, karena hanya ini yang bisa kita lakukan saat ini." menepuk bahu Sultan, berusaha memberikan kekuatan padanya.
" Berapa lama dia koma dok?"
" Mohon maaf saya sendiri tidak bisa memastikan kapan pasien akan sadar, tergantung seberapa parah cedera otak yang terjadi pada pasien itu sendiri. Akan berbeda dengan setiap pasien, namun pada umumnya pasien akan sadar setelah tiga hari, seminggu, sebulan, bahkan ada juga yang sampai bertahun-tahun."
Sultan menyentuh dadanya yang teramat nyeri, rasanya tidak sanggup mendengar penjelasan dari dokter.
.
Setelah tiga hari.
" Sayang, nanti kita ke rumah Mauryn ya?" kata Adam pada istrinya yang saat ini tengah melahap potongan buah di tangannya.
" Tidak sudi."
" Sayang ..."
" Kamu pikir aku mau datang kesana? untuk melihat perempuan jahat itu?"
" Kamu tidak boleh bicara begitu sayang."
" Dia yang sudah bikin Hanum kecelakaan, dia sudah menghancurkan rumah tangga Hanum mas. Sorry ! lebih baik aku tidur siang daripada harus melihat Mak Lampir itu, aku tidak mau menodai mataku yang suci dengan melihat perempuan jahat sepertinya."
Sabar.
" Astaga ... astaga ... apa?" Ajeng mendelik. "Mau, tidak aku kasih jatah sampai anak kita lahir nanti?" ancamnya.
Adam hanya bisa mendesah panjang, lebih baik cari aman daripada harus mengalami kesulitan jika berani menghadapi wanita yang tengah hamil. Wanita hamil lebih menakutkan dari apapun baginya.
" Baiklah kalau begitu sayang." suaranya mulai melunak. " Kalau kamu tidak mau aku ajak kesana, izinkan aku datang menjenguknya dengan Reno ya?"
" Pergilah."
" Sungguh? kamu mengijinkan aku pergi." ucapnya tak percaya.
" Tidak lebih dari dua jam." Ajeng melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Dimulai dari, sekarang."
" Terimakasih sayang." Adam mengecup kening istrinya dan bergegas pergi dari sana.
Seseorang yang tempo hari menelpon Sultan ketika sedang makan malam adalah Mauryn, jeritan yang di dengar Hanum berasal dari wanita itu yang kesakitan karena akan melahirkan. Dia bermaksud meminta bantuan kepada Sultan untuk menemaninya bersalin di rumah sakit.
Yang benar saja, kenapa juga mesti Sultan yang di teleponnya di saat itu, seperti sudah tidak ada orang orang lain saja.
Adam pun sepakat berkunjung ke rumah Mauryn, dia menelpon Reno yang ternyata sangat antusias ingin melihat bayi dari temannya itu. Mereka membawa mobilnya masing-masing dan janjian untuk langsung bertemu disana. Tentu saja setelah mampir ke toko untuk membelikan buah tangan untuk malaikat kecil yang baru saja hadir kedunia beberapa hari yang lalu.
Tak mau lama-lama, mengingat waktu yang diberikan istrinya hanya dua jam. Saat ini kedua lelaki itu telah sampai di rumah Mauryn.
Mereka sempat berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya mengobrol santai di ruang tengah.
" Gila, cantik banget anakmu Ryn, ini bayi apa bidadari kecil ya?" celoteh Reno yang terlihat gemas menyentuh pipi bayi perempuan itu.
" Ya dong, siapa dulu ibunya." sahut Mauryn menyombongkan diri.
" Omong-omong kenapa sepi begini?"
Adam celingukan karena tak melihat sosok orang lain dalam rumah itu selain Mauryn dan juga bayinya.
" Ada sih, asisten rumah tangga aku lagi pergi belanja sama supir, yang satunya lagi masih di kampung halamannya, belum pulang. Kemungkinan sore nanti baru sampai karena aku sudah meneleponnya. Aku sangat kerepotan kalau mesti mengurus dia sendirian."
__ADS_1
" Sudah di kasih nama baby nya?"
" Yara aditya putri." ucapnya.
" Keren, bahkan nama ayahnya masih kamu selipkan meskipun kalian sudah tidak bersama lagi."
" Biar bagaimanapun, dia tetaplah ayah dari bayiku."
" Eh, numpang ke toilet dong, aku baru pernah ke sini jadi tidak tahu dimana letak kamar mandinya." tanya Reno.
Benar saja, karena memang selama ini Mauryn tinggal di apartemen, ini adalah rumah baru yang di belinya beberapa waktu lalu dengan uang yang diberikan oleh Sultan kepadanya.
" Kamu lurus saja, belok kanan ada dapur, nah ! di sana ada kamar mandi."
" OK."
Tak menunggu lama,Reno sudah berlari ke belakang.
Adam sedang menikmati minumannya saat mendengar bayi Mauryn tiba-tiba menangis.
" Kenapa dia Ryn?"
" Kurang tahu."
" Haus barangkali."
" Tidak, sudah aku beri ASI tadi, coba aku cek popoknya." Mauryn memeriksa bagian bawah bayinya yang ternyata memang sudah basah. "Pantas nangis Dam, basah popoknya, tidak nyaman dia."
" Pantesan."
" Tolong jagain dia sebentar ya Dam, aku mau ke kamar dulu ambil popok sama tissue basah."
" Jangan !"
" Kok?" kening Mauryn berkerut, bingung.
" Maksudnya aku takut nggak bisa jagain dia, nanti kalau nangisnya tambah kencang bagaimana? lebih baik aku saja yang mengambilnya."
" Ya sudah kalau begitu, kebetulan malah." Mauryn yang sempat berdiri pun kembali duduk.
" Kamarmu yang mana? ini nggak apa-apa ya? toh aku cuma ambil popok sama tissue basah."
" Ya, nggak apa-apa Dam, kamu naik aja ke lantai atas, kamar yang ada di tengah, itu kamarku. Popoknya aku taruh di laci lemari dan tissue nya ada di atas nakas."
" Tunggu sebentar."
Adam pun berlari menuju kamar yang di maksud, langsung mengambil popok di dalam almari lalu menuju nakas.
Saat mengambil bungkusan tissue basah, tak sengaja pandangannya terfokus pada benda kecil yang tergeletak begitu saja di samping tissue.
Dengan ragu dia mengangkat benda kecil itu ditangannya dan memperhatikannya sekilas.
Astaga ... apa ini?
Untuk sesaat dia berusaha mengingat suatu hal, cincin yang sama dengan ukuran berbeda yang pernah dilihatnya.
Dia terus menggeleng, rasanya sulit mempercayai kalau saat ini dia telah menemukannya. Cincin yang sama persis dengan cincin yang ditemukan Hanum tempo hari.
Dadanya bergemuruh, detak jantungnya pun mulai tak beraturan, perlahan dia memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya. Dia harus memastikan cincin itu terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.
Akan dia cocokkan dengan cincin yang saat ini masih di simpan oleh Sultan.
Sebentar lagi.
Dia akan tahu siapa pria yang sudah menyusup masuk diam-diam ke dalam apartemen Sultan dan hendak melakukan pelecehan terhadap Hanum.
Selangkah lagi, butuh satu bukti lagi untuk membongkar pelakunya.
Ketemu, aku sudah menemukannya Tan. dia membatin.
Lalu dengan langkah seribu dia bergegas meninggalkan kamar itu setelah mendengar tangisan Yara yang terdengar makin kencang.
Dia tidak bisa berlama-lama disana.
.
Masih mau lanjut gak? jangan lupa like,komen, share and vote ya sayang-sayangku. 😍😍😍
__ADS_1
Gommawoyo 🙏🙏😘😘😘