
Cinta berlari memasuki rumahnya. Didekapnya erat buket bunga mawar yang diberikan William, pun dengan cincin yang tersemat di jari manis tangan kirinya, seolah tak jemu menatap benda bundar itu.
"Ibu tahu kamu sedang bahagia, tapi sebaiknya di pending dulu. Lebih baik kamu mandi lalu setelahnya kamu makan," tegur Tania. Senyuman terus tersungging di bibir wanita paruh baya itu. Menyandarkan punggungnya di badan pintu, menyaksikan putrinya berjingkrak kegirangan.
"Bu, hari ini aku bahagia sekali," ucap Cinta girang seraya mengecupi punggung tangannya sendiri, persis di mana William menciumnya tadi.
"Ibu tahu. Coba Ibu lihat cincinnya." Cinta mendekati ibunya, masih dengan wajah sumringah memperlihatkan cincin pemberian William.
"Ya Tuhan, ini bagus sekali Cinta, pasti harganya juga sangat mahal."
"Mana aku tahu soal perhiasan Bu, Pak William cuma bilang kalau aku nggak boleh lepas cincin ini," ujarnya dengan bangga.
"Ibu doakan semoga rencana kalian berdua lancar, rumah tangga kalian harmonis dan saling mencintai sampai akhir hayat."
Deg.
Mendadak tubuh Cinta membeku. Mendengar kata cinta, dia jadi teringat dengan pria yang baru saja mengikatnya. Tak pernah sekalipun dia mendengar kata itu terucap dari bibir William.
"Lho, kok malah melamun. Sudah sana pergi mandi! Ibu tunggu di meja makan."
"Bu," panggil Cinta, ragu.
"Ya, Nak."
"Bagaimana penilaian Ibu terhadap Pak William?"
"Maksudnya?" Tania mengernyitkan dahinya, bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Cinta.
"Ibu yakin akan menerima dia menjadi menantu Ibu?"
"Tentu saja, feeling Ibu mengatakan kalau dia itu lelaki baik-baik. Semoga saja kedepannya dia bisa menjaga kepercayaan yang telah ibu berikan untuknya. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa Bu, cuma mau tahu saja," sergah Cinta. "Ya sudah, Cinta mandi dulu Bu. Ibu pasti juga sudah lapar kan?"
Tania memang memiliki kebiasaan untuk selalu menghabiskan makan malam bersama putrinya. Setelahnya, biasanya dua wanita itu akan saling berbagi cerita mengenai apa saja yang mereka berdua lakukan sepanjang hari ini.
.
.
William yang duduk di single sofa terus menatap wajah keluarganya satu per satu. Usai makan malam, seperti biasa, keluarga besar itu berkumpul di ruang keluarga. "Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanyanya. William terlihat salah tingkah saat semua orang menjadikannya sebagai pusat perhatian.
"Anak zaman sekarang," gumam Arya. "Kau sengaja ya membuat kami menunggu lama? Kami sedang menunggu jawabanmu!" Tegas Arya.
"Ya, baiklah." Mengunyah potongan melon yang masih bersarang dalam mulutnya.
"Apa jawaban gadis itu Kak?" Tanya Willmar, penasaran.
"Biarkan Kakak minum dulu." William meraih gelas dan menandaskan isinya. "Cinta ... Dia menerima lamaranku," ujar William, mantap.
__ADS_1
"Ya Tuhan, syukurlah Kak!" Teriak si bungsu kegirangan. Saking bahagianya, Willmar memeluk kakaknya dengan sangat erat.
Pun dengan raut wajah berbinar wajah para orang tua.
"Kapan kau melamarnya Kak?" Willmar terlihat sangat antusias.
"Besok malam," balas William.
"Wah, kau memang yang terbaik Kak. Kau gerak cepat sampai membuatku takjub padamu."
"Buat apa lama-lama pacaran. Usai kita sudah tidak memungkinkan untuk itu, selain menghindari dosa, kita juga memang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga."
"Bagaimana Pi?" Sultan meminta pendapat ayahnya.
"Baiklah, besok malam kita akan mengadakan dua lamaran sekaligus. Pertama kita pergi ke rumah Cinta, baru setelahnya kita pergi melamar Raisa," Arya menyahut.
"Kalian dengar apa yang dikatakan Opa? Beritahu keluarga pacar kalian masing-masing agar mereka juga mempersiapkan diri," kata Sultan.
"Baik Pa," jawab si kembar bersamaan.
"Seminggu setelah lamaran, kami akan menikahkan kalian," putus Arya.
"Yes! Yes!" Sorak si bungsu sambil mengepalkan tangannya di udara, persis seperti orang menang undian. "Kita nikah Kak, akhirnya."
Orang-orang tertawa melihat tingkah Willmar yang selalu mengundang tawa.
.
.
Hari itu, matahari bersinar cerah. Gumpalan awan seputih kapas berarak menghiasi langit.
Cinta duduk sambil terus memilin jemarinya. Degup jantungnya sangat cepat semenjak dia melangkahkan kakinya di gedung pernikahan. Meskipun Tania berulang kali menasehatinya agar tak begitu gugup, tetap saja, ini adalah pengalaman pertama bagi Cinta.
"Sayang, tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan. Calon suamimu orang yang baik, keluarganya juga sangat menghormati kita. Mertua dan seluruh keluarganya bahkan sangat menyayangimu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Tania berusaha meredam kegelisahan putrinya.
"Iya, Bu. Cinta tahu. Bagaimana penampilanku Bu?"
Sekali lagi, untuk kesekian kalinya Cinta terus berputar di depan cermin. Memperhatikan penampilannya dengan seksama. Gaun off white tanpa lengan dengan ekor yang menjuntai panjang terlihat sangat pas membalut tubuhnya. Sebuah kalung berbandul hati bertahtakan permata mengiasi lehernya, pemberian Hanum sewaktu datang melamar. Tudung pengantin juga telah terpasang di atas kepalanya. Sungguh, Cinta seperti melihat sosok orang lain saat bercermin. Sangat cantik hingga dia tak percaya dirinya bisa secantik itu.
"Kau lupa, hari ini kau adalah ratunya, Sayang. Kau yang paling cantik," cetus Tania.
"Ck, Ibu lupa ya? Mempelai wanitanya kan ada dua. Kembaran Pak William juga akan menikah hari ini," Cinta berdecak.
"Oh ya, Ibu sampai lupa. Apapun itu, bagi Ibu, kaulah yang tercantik.
Pintu terbuka lebar, sesosok wanita muncul membuat percakapan keduanya terhenti.
"Sayang, ayo. Pengantin lelakimu sudah menunggu," ajak Hanum. Wanita yang masih saja cantik di usianya yang tak lagi muda itu mengapit calon menantunya. "Ayo Bu Tania."
__ADS_1
"Iya Bu."
Dua ibu itu mengapit Cinta, membawa gadis itu menuju tempat di mana sang pangeran menantinya.
Sesampainya di sana, Cinta tertegun melihat pria yang akan menjadi suaminya, tak lama lagi. Pun dengan William yang terpukau dengan kecantikan gadis itu.
Dua pernikahan di hari yang sama, sesuai janji Arya. Upacara pernikahan pun berjalan dengan lancar. Masing-masing mempelai saling mengucap janji suci pernikahan dan menyematkan cincin kawin di jari manis pasangannya.
Acara masih terus berlangsung hingga malam harinya. Resepsi besar-besaran di adakan dalam satu gedung yang sama. Entah sudah seperti apa kondisi Cinta sekarang, tubuhnya begitu lelah menyalami tamu yang berdatangan. Raut kelelahan nampak nyata di wajah masing-masing mempelai, meskipun binar kebahagiaan jauh lebih mendominasi.
Sepanjang acara berlangsung, Cinta tak banyak bicara. Hanya sesekali melirik istri kembaran suaminya yang dinilainya sangat cantik.
Tepat pukul sebelas malam, acara pun berakhir. Sultan menyuruh anak-anak beserta para istrinya naik ke kamar hotel yang telah dipesannya. Sementara tamu masih belum sepenuhnya membubarkan diri.
Cinta sedikit kesulitan berjalan saat heels setinggi sembilan centi itu terasa sangat menyiksanya. Tumitnya sampai lecet, dan rasanya amat perih.
"Saya akan mandi terlebih dulu, setelahnya baru kamu," kata William.
"Ya Pak," jawab Cinta.
Tak butuh waktu lama untuk pasangan pengantin baru itu membersihkan diri. Bayangan tidur nyenyak di atas kasur empuk terasa kian nyata di depan mata. Remuk redam rasanya sekujur badan.
"Kita langsung tidur saja ya, kamu kan masih capek," ujar William.
"Ya Pak." Ragu-ragu, Cinta menaiki kasur di mana William sudah berada di atasnya.
"Mau sampai kapan kamu memanggil saya dengan panggilan seperti itu?"
"Jadi saya harus panggil Bapak dengan sebutan apa?" Cinta balik bertanya.
"Terserah kamu, asal jangan panggilan itu lagi, telinga saya sakit mendengarnya."
William membenahi selimut tebal dan menata bantal sebelum dia merebahkan diri.
"Bagaimana kalau, 'Mas'?"
William berpikir sejenak, tak lama setelahnya lelaki itu pun mengangguk. "Begitu lebih baik."
"Ya sudah, Mas William," ucap Cinta sedikit kaku.
"Kamu bisa panggil begitu, atau Mas Willi saja? Orang rumah memanggilku Willi," jelas William.
"Baik Mas Willi," ulang Cinta.
Hening.
Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Keduanya saling berkelana dengan pikirannya masing-masing. Ternyata apa yang terjadi di malam pertama setelah pernikahan, tak seperti apa yang Cinta bayangkan.
Nyatanya, sepasang pengantin baru itu tak melakukan apapun.
__ADS_1
Bersambung ....