
Sultan berlari kecil dari garasi mobil menuju teras rumahnya, seluruh tubuhnya terasa empuk redam. Tidur dengan nyaman di kasur empuknya tanpa ada yang menganggu sudah ada dalam pikirannya sejak pria itu keluar dari gedung kantornya. Jas yang sejak pagi membalut tubuhnya sudah terlepas dan terlampir di siku nya, kancing kemeja teratas juga sudah terlepas dengan dasi yang sudah mengendur.
"Kau baru pulang?" Burhan menegur cucunya begitu Sultan sampai di ruang tengah.
"Astaga, kakek." Sultan berlari, menubruk pria tua yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh.
"Ya ampun anak ini." mendorong tubuh Sultan, "Lihat ini, teh nya tumpah kan? jadi basah semua."
" Maaf," cicit Sultan sembari melepaskan pelukannya. "Bagiamana bisa kakek sudah ada di sini?" tanya Sultan dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
"Bocah nakal! kau keberatan kalau aku disini?" hardik Burhan.
"Bukan begitu, Kek. Mami bilang kalian baru akan berangkat tadi sore, jadi aku pikir kalian belum sampai. Aku tentu saja bahagia, aku sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan kalian." memeluk tubuh kakeknya lagi.
"Sudah sana, pergilah ke kamarmu. Kasihan Hanum, dia begitu merindukanmu."
"Baiklah, aku juga sudah tidak sabar untuk melihatnya. Aku pun sangat merindukannya, Kek." bangun dari duduknya dan bergegas melangkah menuju anak tangga.
"Awas kalau kau berniat menuntaskan rindumu dengan membahayakan cicitku." ancam Burhan.
"Cukup Tuhan dan kami saja yang tahu apa yang selanjutnya akan terjadi kek." Sultan terkekeh, melanjutkan langkahnya menyusuri anak tangga.
"Ada apa dengan anak itu, Yah?" gumam Arya yang baru keluar dari kamarnya bersama sang istri.
"Berandal kecilmu itu sangat bahagia saat tahu kita telah sampai disini lebih awal dari perkiraannya." Burhan menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun, kenapa basah seperti ini, Yah? Lantainya juga ..." Ratih melihat air kecoklatan yang menggenang di lantai.
"Ini semua karena ulah anak kesayanganmu itu, memang kau pikir ayah yang melakukan ini semua?"
"Ya sudah ayo, aku akan membantu ayah berganti pakaian." Ratih sudah melingkarkan tangannya di lengan ayah mertuanya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau ke belakang saja, minta orang untuk membersihkan lantainya. Akan sangat berbahaya kalau sampai ada yang terpeleset."
"Ya sudah kalau begitu.
Ratih pun berjalan menuju kamar belakang, meminta Lastri untuk segera membersihkan lantai tersebut.
Sementara itu di kamar.
"Sayang ..." Sultan memanggil istrinya begitu sampai di kamar.
Sultan berjalan ke arah tempat tidurnya, tapi tak dilihatnya Hanum di sana. Seketika dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan wanita yang sangat dia rindukan. Baru saja dia akan melangkahkan kakinya menuju balkon namun dia mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi. Membuat Sultan memutar tubuhnya dan segera masuk ke sana karena pintu kamar mandi yang tidak tertutup.
"Sayang," panggilnya lembut saat melihat istrinya sedang terbungkuk di depan wastafel.
"Hoek ... hoek ..." Hanum terlihat susah payah mengeluarkan cairan dari mulutnya.
"Kamu muntah lagi?" Sultan menepuk lembut punggung istrinya.
"Hm." Hanum meraih tisu untuk mengelap bibirnya. "Kamu sudah pulang?"
"Baru saja." Sultan meraih tisu untuk menyeka keringat di dahi istrinya. "Ayo aku bantu ke kamar." menyelipkan tangannya di tengkuk serta lutut Hanum dan menggotongnya ke tempat tidur.
"Istirahat ya," perintahnya pada Hanum. "Aku mau mandi dulu. Habis ini kita makan bersama."
Ketika Sultan berniat bangkit dari sana untuk segera membersihkan diri, Hanum meraih tangan suaminya. Menarik tubuh pria itu untuk berbalik dan kemudian menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Sultan tersenyum melihat tingkah manja istrinya, menikmati dekapan hangat itu sambil mengusap rambut Hanum. Memberikan Hanum kesempatan untuk melepas kerinduan yang mendalam terhadap dirinya. Cukup lama Sultan membiarkan tubuhnya di peluk sampai Sultan merasa begitu gerah tapi belum ada tanda tanda kalau sang istri akan melepaskan diri. Nyatanya tangan Hanum malah makin erat melingkar di pinggang suaminya itu.
"Bagaimana kalau sekarang kamu melepaskan pelukan ini terlebih dulu? biarkan aku mandi dan setelahnya kita bisa melanjutkannya lagi, nanti."
Hanum melepaskan tangannya, "Ya sudah sana," sungutnya di susul dengan bibir yang mengerucut.
"Tidak akan lama, tidak perlu marah begitu." mencubit hidung mancung istrinya dengan gemas.
.
__ADS_1
Malam harinya selepas makan malam bersama, keluarga besar itu berkumpul di ruang tengah.
"Bagiamana dengan masalah yang terjadi di kantor?" Arya memulai percakapan.
"Semuanya berjalan dengan baik Pi, situasi kantor sudah kondusif, lancar, aman dan terkendali."
"Baguslah, aku pikir keadaannya akan semakin memanas."
"Mungkin memang bakatmu tidak dalam dunia militer, melainkan dalam hal bisnis. Kakek benar-benar tidak habis pikir, seluruh lelaki dalam garis keturunan keluarga kita, semuanya akan menjadi perwira tentara yang hebat. Lihatlah pangkat tinggi Papimu, lalu mendiang adikmu? kakek pun dulu juga adalah seorang jenderal. Tidak ada satupun pria dalam trah keluarga Pradipta yang menjadi pengusaha. Melihatmu berhasil membangun usahamu sendiri yang di rintis sejak nol hingga berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan konstruksi raksasa di Indonesia ini,membuat kakek bangga padamu. Terlebih ketika bisnismu mulai merambah di bidang lain, mungkin itu sudah menjadi bakat alami yang di miliki olehmu sejak lahir. Tidak masalah tidak sukses menjadi perwira, melihatmu sukses dalam dunia bisnis sudah sangat membanggakan." Burhan meraih cangkirnya, dia perlu membasahi kerongkongannya yang terasa kering setelah berpidato panjang kali lebar di hadapan anak cucunya.
"Sekarang saja bilang begitu." gumam Sultan.
"Apa katamu?" Burhan mendelik.
Sultan lupa kalau kakeknya masih mempunyai pendengaran yang cukup baik meskipun usia nya tak lagi muda. Dan sekarang dia tertangkap basah telah menggerutu kepada sang kakek.
"Memang apa lagi yang bisa aku katakan? apa kakek lupa? kakek bahkan dulu sempat memberikan hukuman cambuk padaku ketika dulu aku ketahuan memilih untuk sekolah di jurusan bisnis dari pada masuk di akademi militer." sungutnya kesal, tapi begitu menyadari dirinya terlalu banyak bicara, Sultan segera membungkam mulutnya. Terlebih saat melihat Hanum yang sedang memakan buah tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.
Astaga, aku sendiri tidak menyadari kalau aku sudah banyak bicara. Sejak kapan menjadi cerewet seperti ini. Sultan menundukkan kepalanya.
"Maaf," lirihnya sambil memegang tangan kakeknya.
"Untuk apa meminta maaf, seharusnya kakek yang minta maaf padamu. Dulu,tidak seharusnya kakek menentang keinginanmu untuk menggapai cita-citamu. Harusnya kakek bisa berbesar hati menerimanya meskipun jalan yang kamu ambil berlawanan dengan apa yang menjadi pilihan kakek."
"Sudahlah, jangan membahas masalah itu lagi." keduanya berpelukan.
Dan malam itu mereka isi dengan terus berbincang hingga pukul sebelas malam. Burhan masih berkeinginan untuk terus melanjutkan obrolan mereka kalau saja Ratih tidak mengingatkan pria itu untuk istirahat, selama ini dia lah yang bertugas menjaga kesehatan ayah mertuanya.
.
Selesai gosok gigi, Hanum segera merebahkan diri di atas kasur, membuka selimut yang membungkus tubuh suaminya membuat keduanya saling berhimpitan.
"Sayang ... tumben kamu langsung tidur?" tanya Sultan yang heran melihat istrinya langsung tidur setelah membersihkan diri, biasanya setelah keluar dari kamar mandi, Hanum akan duduk terlebih dulu di depan meja rias untuk mengaplikasikan beberapa skincare malamnya.
"Hm."
"Malas," jawabnya singkat.
"Lalu? mau langsung tidur atau bagaimana?" tanya Sultan diiringi kerlingan nakal di matanya.
"Aku ngantuk, mau tidur tapi sambil di peluk." cicitnya manja, Hanum menggosokkan wajahnya tepat di dada suaminya.
"Ya ... masa langsung tidur?"
"Memangnya mau apa Mas?"
"Kita kan baru bertemu setelah sehari semalam berpisah,aku masih kangen. Memangnya kamu tidak mau melakukan sesuatu untuk mengobati kerinduanku ini?"
"Bukankah kita sudah bertemu sekarang? kita bahkan tidur di ranjang yang sama dengan saling berpelukan seperti ini. Memang apa lagi yang Mas inginkan?"
"Aku maunya yang lebih dari sekedar berpelukan seperti ini." cebik Sultan.
"Terserah apa maumu, aku mengantuk dan yang jelas aku mau tidur." Hanum berbalik memunggungi suaminya.
"Sayang ... ayolah, masa kamu tidak mengerti apa maksudku."
"Ish, besok saja ya, aku lelah. Jam tidurku berkurang sejak kepulangan kamu kesini, karena terus memikirkan dirimu, aku bahkan sampai tidak bisa tidur."
"Ya sudahlah." Sultan membetulkan letak selimutnya, bersiap memejamkan matanya.
Dan belum juga dia sampai di alam mimpi, Sultan sudah dibuat kaget saat istrinya tiba-tiba bangkit dan berlari ke kamar mandi. Secepat itu pula dia mendengar suara khas ketika wanita hamil sedang mengalami muntah.
Sial sekali aku, sudah disuruh puasa, giliran mau buka puasa tidak boleh. Eh, pas mau tidur sudah harus mengalami drama seperti ini lagi. Bukannya apa-apa, kalau aku terus-menerus menatap wajah istriku yang cantik itu aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Bagaimana kalau aku tak bisa menahannya lagi kemudian memperkosanya? astaga, itu akan sangat lucu kalau sampai masuk berita dengan topik viral 'Seorang suami yang dengan tega memperkosa istrinya dalam keadaan hamil muda'. Sultan kemudian menggelengkan kepalanya, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.
Dia pun menyibak selimutnya kemudian bergegas menyusul istrinya.
"Masih mual?" tanyanya ketika Hanum sudah berdiri tegak dengan tisu di tangannya, nafas gadis itu tersengal.
__ADS_1
Sultan terkejut karena secepat kilat Hanum sudah memeluk tubuhnya, tak lama kemudian terdengar suara tangisan.
"Kenapa menangis? ada yang sakit?" tanyanya sambil menepuk lembut punggung Hanum dan dibalas dengan gelengan kepala. "Lalu kenapa menangis? katakan saja kalau memang ada yang sakit. Apa kau sudah minum vitamin dan obatmu?" lagi, Hanum tidak menjawab dengan suara yang keluar dari mulutnya melainkan lewat sebuah anggukan.
"Ya sudah, sebaiknya kita ke kamar dulu."
Sultan menggendong tubuh lemas istrinya, perlahan dia membaringkan tubuh Hanum di atas kasur dengan penuh hati-hati. Seolah tidak ingin menyakiti tubuh istrinya yang lunglai.
Sementara Hanum makin terisak, dan mendengar suara tangisan istrinya membuat Sultan dilanda kebingungan, pasalnya dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya menangis.
"Sayang, jangan membuatku cemas. Kalau memang tidak ada yang sakit, lalu apa yang membuatmu menangis?"
Tangis Hanum malah semakin menjadi, bulir bening terus menganak sungai membasahi pipinya.
"Sayang ..." Sultan bergerak untuk mendekap tubuh sang istri, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain memberikan pelukan yang dia rasa hal itu akan sangat efektif untuk bisa meredakan tangis Hanum. "Berhentilah menangis, kau membuatku takut. Ada apa sebenarnya? katakan padaku."
"Aku baik-baik saja," sahutnya sesenggukan.
"Lalu kenapa kamu menangis? kau membuatku takut."
"Aku hanya kesal." Hanum melepaskan diri, mengusap kasar wajahnya yang basah.
"Padaku?" Sultan menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan?"
"Lalu?"
"Sebal saja, aku sangat lapar. Aku kelaparan tapi tidak bisa makan dengan nyaman. Tiap mencium bau nasi aku akan mual, dan ketika aku bisa makan makanan lain pun, itu akan berakhir dengan keluar kembali karena aku selalu saja memuntahkannya."
"Oh ..." Sultan menganggukkan kepalanya manakala mengetahui perihal apa yang membuat istrinya menangis tersedu.
"Hanya oh ..." Hanum menekuk wajahnya.
"Lalu kau mau aku bagaimana? aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa?"
"Setidaknya bertanya padaku makanan apa yang ingin aku makan, atau apa yang bisa aku lakukan. Begitu terdengar lebih baik, bukannya malah menjawab 'oh' dengan santainya."
"Baiklah, aku minta maaf. Lagipula bukankah sudah sering aku mengatakannya padamu. Katakan kalau kau menginginkan sesuatu, apapun itu, makanan, minuman, semuanya. Apapun itu ..." tegas Sultan.
"Tapi aku juga kan ingin mendapat sedikit perhatian lebih darimu. Aku tidak mau kalau harus selalu aku yang mengatakan padamu jika sedang menginginkan sesuatu, aku mau kamu berinisiatif menanyakan lebih dulu tentang apa yang sedang aku inginkan, apa yang aku butuhkan, dan juga apa yang sedang aku rasakan."
Baiklah, jadi ini sepertinya yang dimaksud dengan mood swing pada wanita hamil. Sebentar-sebentar marah, sedikit-sedikit menangis. Kadang juga terlihat sangat gembira dan sekejap kemudian bisa mendadak menangis histeris seolah begitu tersakiti. Benar kata Raka, menghadapi wanita hamil, lebih menakutkan daripada melihat perang dunia ketiga.
"Mas ..."
Dan tubuh Sultan terlonjak ketika mendengar teriakkan istrinya, dia yang sempat melamun kembali mendapatkan kesadaran penuh begitu mendengar suara Hanum yang sangat melengking.
"Iya sayang, ada apa?" ucapnya masih terdengar lembut.
"Kenapa malah melamun?" masih dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang.
"Jadi, istriku sayang ... apa yang kamu rasakan? atau mau makan sesuatu? biar aku belikan."
Tunggu ... jam berapa sekarang? bagaimana kalau dia meminta sesuatu yang tidak wajar di jam segini.
"Aku mau makan Korean garlic bread," ucap Hanum dengan lantang menyebutkan nama makanan yang saat ini sedang dia inginkan.
"Tidak masalah, tunggu sebentar. Aku akan pergi untuk membelinya, khusus untuk istri tercintaku."
"Aku mau makan itu langsung di tempatnya." lagi, Hanum mengutarakan keinginannya.
"Baiklah, aku ambilkan jaketmu dulu ya."
Sultan masuk ke dalam ruang ganti dan mengambil jaket tebal untuk istrinya.
Korean garlic bread ya ... kira-kira dimana toko kue yang menjual itu dan masih buka di jam segini. Sultan terus membatin sambil memakaikan jaket yang telah diambilnya, di tubuh Hanum.
__ADS_1
.