
"Jadi kau tetap tidak mau masuk?"
Suara dengan nada tinggi milik dari seorang wanita masih menggema di sana, tatapan mata Ratih tajam bak elang yang bersiap hendak menerkam mangsanya.
"Jangan paksa Sultan, Mi," rengek Sultan.
"Baik, jika itu maumu!"
Entah kenapa Sultan masih belum bisa tenang, ucapan yang keluar dari mulut Ibunya bukan pertanda kalau wanita itu sudah melunak. Sebaliknya, Sultan harus lebih waspada karena bisa saja Ratih sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih menakutkan lagi untuk membuatnya masuk ke dalam, ke ruangan dimana Hanum sedang merasakan kesakitan yang luar biasa demi melahirkan buah hatinya.
"Mami, tidak akan pernah mengizinkanmu untuk melihat anak dan juga istrimu begitu Hanum melahirkan nanti."
Bagai mendengar petir menyambar di siang bolong, Sultan tersentak begitu mendengarkan ucapan Ibunya lagi.
Benar kan, baru saja pria itu membatin dan dengan sekejap mata Ratih memberikan ultimatum.
Ngeri, hanya itu yang kini ada dalam pikiran Sultan.
Sementara Ratih masih berdiri di tempatnya, wanita paruh baya yang masih tetap cantik di usianya yang sekarang itu, terus menatap wajah putranya. Sebuah senyuman tergambar jelas di wajahnya, kali ini pasti berhasil, pikirnya.
"Astaga, Tuan. Apa Anda akan tetap berdiri disitu?"
Dokter Sarah muncul.
"Anda yang akan membantu proses bersalin menantu saya, Dok?" tanya Ratih.
"Iya, Nyonya," jawab dokter Sarah sambil menunduk. Wanita itu kemudian beralih menatap Sultan. "Istri Anda sudah pembukaan tujuh, tinggal beberapa menit lagi bayi Anda akan lahir, Tuan. Kenapa Anda masih disini?"
"Mi," rengek Sultan sambil memegangi tangan Ibunya, berharap Ratih mau masuk untuk menggantikannya.
"Mami sudah mengatakannya sejak awal, ini yang akan terjadi jika Hanum melahirkan dengan cara normal, Mami tahu kamu itu nggak tegaan, tapi Mami juga tidak menyangka reaksimu akan berlebihan seperti ini. Kondisinya saja lemah, kenapa dia tidak memilih untuk di caesar saja," oceh Ratih.
"Saya sudah seringkali menjelaskannya kepada mereka, Nyonya. Tapi Nona Hanum bersikeras ingin melahirkan secara normal saja."
"Mami dengar sendiri kan, jadi jangan terus memarahiku," rengek Sultan, lagi.
"Dokter, pasien sudah mengalami pembukaan sembilan. Segeralah masuk!"
Seorang suster meminta dokter Sarah untuk segera masuk ke dalam ruang bersalin.
Sultan meraung, tangisnya sudah tidak tertahankan lagi.
"Kenapa kau malah menangis? Istrimu sedang menunggumu di dalam, cepat masuklah," bujuk Arya.
Kali ini pria itu merasa perlu angkat bicara, dia paham betul dengan apa yang tengah dirasakan oleh anak lelaki satu-satunya itu.
"Pi ...,"
Layaknya seorang anak kecil yang mengadu pada ayahnya, Sultan memeluk tubuh Arya sambil menangis.
"Wajar jika kau merasa tidak tega bila melihat istrimu kesakitan karena itu tandanya kamu sangat mencintainya tapi sebagai suami yang baik, bukankah kamu harus selalu ada di sisinya? Seperti janjimu dulu sewaktu menikahinya, kalian akan terus bersama dalam keadaan apapun. Jadi tunaikanlah kewajibanmu sebagai suaminya, temani Hanum. Rasanya akan sangat membahagiakan ketika kita menjadi orang pertama yang melihat wajah anak kita sendiri. Dia itu darah dagingmu, Papi yakin sekali kalian sudah sangat lama menantikan kehadirannya, apa kamu rela jika orang pertama yang melihat wajah anakmu adalah Mami?" ucap Arya, berusaha terus membujuk Sultan.
Dengan berat hati Sultan terpaksa melepaskan diri dari dekapan ayahnya, apa yang laki-laki itu katakan telah begitu menyentuh hatinya.
"Masih mau menangis? Berapa lama lagi kau akan tetap disini, apa mau menunggu bayi itu keluar tanpa kehadiran seorang ayah. Baiklah, Mami sendiri yang akan masuk."
Ratih baru saja berjalan dua langkah sampai Sultan mencekal tangan perempuan itu.
"Aku yang paling berhak untuk itu," ucapnya sambil menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
"Begitu, baru anak Mami," puji Ratih.
Sultan pun mengikuti dokter Sarah dan juga suster untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
"Oom Arya hebat," puji Adam sambil memberikan dua buah jempolnya.
__ADS_1
"Tahu begitu, sejak tadi saja Oom membujuknya, Tante Ratih sampai berkeringat begitu susah payah untuk membujuk Sultan," imbuh Raka.
Dan tawa mereka pun pecah, mereka sama sekali tak menyangka akan bisa melihat Sultan dari sisi yang berbeda.
Sultan terus membuang muka ke arah samping, dia sama sekali tak berani sekedar menatap istrinya yang saat ini masih mengerang kesakitan. Menyeka keringat Hanum pun ia lakukan tanpa melihatnya.
Tubuh Sultan bergetar hebat manakala Hanum mencengkeram erat lengannya, jantungnya pun seakan berhenti berdegup ketika Hanum berteriak. Dia masih bisa mendengar dengan jelas ketika dokter Sarah memberikan anjuran kapan Hanum harus mengejan.
Hanum masih terus berusaha mengeluarkan bayi dalam perutnya, gadis itu terus memanggil nama suaminya ketika mengejan. Sultan pasrah saja ketika Hanum menjadikan lengannya sebagai pegangan. Sesekali dia memejamkan matanya disusul dengan air mata yang berjatuhan.
Sesakit itukah rasanya melahirkan?
Tubuh Sultan membeku seketika begitu pria itu mendengar tangis pertama dari bayinya yang baru saja dilahirkan. Dia memberanikan diri untuk melihat ke bawah dan benar saja, dia melihat dokter Sarah memberikan bayi mungil yang masih berlumuran darah kepada suster untuk segera dibersihkan. Ada sedikit perasan lega namun belum sepenuhnya kecemasan pergi dalam dirinya, masih ada satu bayi lagi yang harus dikeluarkan oleh Hanum.
Sejujurnya Sultan sudah lemas, tenaganya sudah berkurang mengingat bukan hanya Hanum seorang diri yang berjuang, dirinya juga.
Selang sepuluh menit tangis bayi kedua pun terdengar, untuk pertama kalinya semenjak dia memasuki ruangan bersalin tersebut, Sultan memberanikan diri untuk menatap wajah istrinya.
Wajah cantik yang biasanya selalu dibingkai dengan senyuman menawan itu kini terlihat pucat dengan peluh yang bercampur air mata yang membasahinya.
"Terimakasih," bisik Sultan sambil mengecup puncak kepala Hanum berulangkali. "Kau wanita luar biasa yang pernah aku temui di dunia ini setelah Mami," imbuhnya sambil terisak.
Sultan tergugu, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang saat ini sedang menatapnya sendu. Bibirnya yang membiru sedikit bergetar hendak mengatakan sesuatu kemudian Sultan kembali berbisik.
"Jangan bicara apapun karena saat ini adalah waktunya aku untuk mengatakan sesuatu padamu. Aku bersyukur karena Tuhan menghukumku, Dia mengikat hatiku hanya padamu. Dan aku selalu meminta, cukupkanlah rezekiku dengan hanya beristrikan kamu seorang. Terimakasih atas semua pengorbananmu selama hidup bersamaku, terimakasih untuk perjuangnmu menghadirkan buah hatiku ke dunia. Terimakasih untuk semuanya," racau Sultan. Air mata masih terus mengalir seolah enggan berhenti.
Sultan tersenyum dalam tangisnya, samar-samar pria itu melihat bibir Hanum yang melengkung ke atas.
"Jangan menangis," lirih Hanum.
"Tidak, ini adalah tangis kebahagiaan dan kau yang membuatku menangis sampai seperti ini."
Sultan kembali mengecup kening istrinya.
Setelah momen mengharukan yang begitu menguras emosi dan air mata, dokter Sarah pun meminta Sultan untuk keluar dari ruangan tersebut. Dia perlu memberikan tindakan lanjutan pada Hanum baru setelahnya dia akan memindahkan Hanum dan juga kedua bayinya di ruang pemulihan.
Dengan langkah gontai Sultan berjalan menuju kerumunan orang yang saat ini sedang menunggu kedatangannya.
"Itu Sultan, Tante!" teriak Adam begitu melihat Sultan keluar dari ruangan bersalin.
Sontak seluruh orang yang ada disana langsung menatap ke arah Sultan yang sedang berjalan mendekat.
Burhan sampai bangun dari duduknya, tak sabar menunggu kabar tentang Hanum dan juga bayi-bayinya dari mulut cucunya.
"Mami," Sultan memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya.
"Kenapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu?" cecar Ratih.
Sultan menggeleng.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ratih lagi.
Dan bukannya menjawab Sultan malah makin menangis.
"Dasar bocah nakal! Katakan ada apa?" seru Burhan.
Ratih merasa dia makin berat menopang tubuh Sultan dan tepat ketika dia menyentuh bahu Sultan, putranya itu langsung jatuh terkulai.
"Apakah dia pingsan?" tanya Burhan.
"Ya, Ayah. Papi cepat tolong bantu Sultan," kata Ratih, panik.
.
Di dalam ruang pemulihan, Hanum terus mengembangkan senyuman di bibirnya. Gadis itu terharu melihat bayinya yang saat ini sedang dalam gendongan kakeknya sementara bayi satunya lagi tengah dibopong oleh Arya, kakek si bayi.
__ADS_1
Sultan yang telah sadar dari pingsannya hanya duduk diam di samping bed istrinya.
"Ah, kenapa bayi kalian tampan sekali," seloroh Adam yang saat itu berada di tengah-tengah pria beda generasi yang tengah menggendong malaikat kecil tersebut.
"Tentu saja, ayahnya saja tampan begini masa iya anakku jelek," sahut Sultan.
"Ayahnya memang tampan, sekaligus penakut," seloroh Raka.
"Iya, menunggu istri melahirkan saja sampai pingsan," ejek Adam.
"Kalian sedang membicarakan ketampanan anakku kan? Kenapa malah melebar kemana-mana," sungut Sultan.
"Semua yang dikatakan temanmu memang benar, jadi kenapa kau marah!" sentak Burhan.
Sultan mencebik melihat kedua temannya tertawa karena mendapat pembenaran dari kakeknya.
"Oh ya, apa kau sudah menyiapkan nama untuk kedua bayi mungil ini?" tanya Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cucunya.
Pria itu benar-benar bahagia karena telah menjadi seorang kakek.
"Sudah, aku sudah mempersiapkan nama dan Hanum sudah setuju dengan nama itu," balas Sultan.
"Jadi siapa nama cicitku? Awas saja jika kamu berani memberikan sembarang nama pada kedua malaikat kecilku ini," sahut Burhan.
"Kakek tenang saja, nama yang aku siapkan tentulah nama yang indah."
"Jadi siapa namanya? Cepat katakan!" seru Burhan tak sabar.
"Bayi yang pertama lahir aku beri nama William Raka Chandra Pradipta, William artinya seorang pemimpin yang tegas, Raka berarti kakak dalam bahasa Jawa, Chandra Pradipta nya mengikuti nama keluarga. Aku takut kakek akan membunuhku jika aku tidak membubuhkan nama keluarga kita," kelakar Sultan diiringi senyum renyahnya.
"Nama yang bagus," puji Ratih.
"Lalu bayi yang kedua diberi nama siapa?" Arya bertanya.
"Bayi kedua aku beri nama Willmar Rayi Chandra Pradipta." Sultan terus tersenyum.
"Artinya apa?" tanya Raka penasaran.
"Willmar artinya tegas dan terkenal, Rayi berarti adik, masih dalam bahasa Jawa juga."
"Luar biasa, kakek buyut akan sangat bahagia melihat kalian tumbuh besar," ucap burhan sambil memandangi wajah bayi yang masih tertidur di pelukannya.
Mereka pun saling bercengkrama hingga tak terasa malam sudah semakin larut.
Adam dan Raka beserta pasangannya masing-masing pun memutuskan untuk pulang.
"Sekali lagi selamat, akhirnya kita semua resmi menyandang gelar sebagai ayah," kata Adam sambil memeluk Sultan.
"Aku akan belajar banyak darimu, aku akan terus belajar bagaimana caranya menjadi ayah yang baik seperti dirimu," balas Sultan.
"Selamat ya Tom Jerryku, diantara kita bertiga hanya kau satu-satunya orang yang memiliki bayi lelaki. Oh ya, berikan royalti juga padaku karena kau menyematkan namaku pada nama anak pertamamu," oceh Raka.
"Itu bisa di atur," jawab Sultan.
Adam dan Ajeng juga Raka dan Disha pun bergantian menyalami keluarga besar yang sedang diliputi kebahagiaan karena kedatangan anggota keluarga baru.
Sesaat sebelum pergi, Adam kembali mendekati temannya dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Sultan merah padam.
"Ingat, setelah ini kau harus puasa enam bulan," goda Adam.
"Apa? Apa harus selama itu?" pekik Sultan.
Bukannya menjawab, Adam dan Raka malah meninggalkannya begitu saja sambil tersenyum licik. Bahkan sebelum menutup pintu, Adam sempat mengedipkan sebelah matanya sambil membuka mulut seolah berkata, 'ingat, puasa enam bulan' dan itu sukses membuat Sultan meradang.
.
__ADS_1
Sampai dua hari dua malam aku sibuk nyari nama buat anak kembar HanSul 🤭🥰🥰🥰 udah kek nyari nama buat anak sendiri, saja. semoga kalian suka dan terhibur dengan tulisanku ya, jangan lupa dukungannya 🙏🙏🙏