Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Menjengkelkan


__ADS_3

" Mas ... Mas, bangun." Hanum menarik lengan baju suaminya, terus berusaha untuk membangunkan Sultan, meski pria itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya, " Mas ..." kali ini diiringi guncangan keras pada bahu pria itu.


" Hoam ..." Sultan menggeliatkan tubuhnya.


" Bangun mas."


" Iya ini sudah bangun." menutup mulutnya karena dia terus menguap, baru dua jam yang lalu dia tertidur dan sekarang, di jam dua dini hari di saat orang lain sedang lelap-lelapnya tidur, dia harus merelakan waktu tidurnya berkurang akibat ulah dari istrinya, " Ada apa?" tanyanya lembut.


" Lapar." Hanum memegangi perutnya, tak lama muncul musik disko dari dalam sana yang membuat Sultan tertawa.


Rasa kantuknya mendadak hilang begitu mendengar cacing dalam perut istrinya berdendang ria. Berdemo, menuntut haknya untuk segera di isi.


" Ya sudah ayo." Sultan bangkit, dia menaruh tangan kanannya di tengkuk Hanum, sementara tangan kirinya dia letakkan di bawah lutut istrinya.


" Mau apa?" tanya Hanum.


" Katanya lapar, aku mau bawa kamu ke dapur." sudah mengangkat tubuh Hanum dan membawanya keluar dari sana.


" Ya tapi kan tidak begini juga mas, aku bisa jalan sendiri kok."


" Sudah, buka saja pintunya, turuti saja apa kataku." menyuruh istrinya membuka handle pintu.


Mereka pun berjalan menyusuri lorong yang sedikit remang, minimnya cahaya penerangan karena memang lampu utama yang telah dimatikan, membuat Sultan mengalami sedikit kesulitan. Berjalan tertatih dengan beban cukup berat di tangannya, segera mendudukkan istrinya di bangku, begitu mereka sampai di meja makan.


" Tunggu sebentar, biar aku nyalakan lampunya dulu." Sultan meraih saklar lampu yang menempel di dinding, memencet tombolnya kemudian cahaya terang menyinari seluruh penjuru sudut ruangan itu.


Sultan berjalan menuju rak piring, lalu kembali ke meja makan dengan piring dan gelas bersih di tangannya. Di bukanya tudung saji dari rotan, kemudian tersenyum pada istrinya, menunjuk makanan di depannya. Memberikan kode pada Hanum untuk memilih sendiri apa yang ingin gadis itu makan.


Hanum meletakkan piring bersih yang di sodorkan suaminya, mendesah panjang lalu merotasikan kedua bola matanya. Dia memang lapar, tapi rasanya dia tidak berniat untuk makan makanan yang ada di depannya saat ini.


" Kenapa?" pertanyaan itu berhasil Sultan lontarkan sejak melihat gelagat aneh istrinya.


" Tidak enak!" cebiknya, " Nggak nafsu." meletakkan sikunya di atas meja, kemudian menopang dagunya dengan telapak tangannya.


" Eh, belum juga di makan, sudah bilang begitu." Sultan meraih piring kosong yang tadi diletakkan Hanum begitu saja. Kemudian mulai mengisi piring tersebut dengan nasi dan membubuhkan beberapa macam lauk di atasnya, " Coba dulu, aa ... ayo buka mulutmu, biar aku suapi." menyodorkan sesendok nasi ke mulut istrinya.


Hanum menutup rapat mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


" Katanya lapar, ayo makanlah, kasihan dede bayi nanti kelaparan lho." meletakkan sendoknya tepat di bibir Hanum.


" Tidak mau." ucapnya pelan sambil menangkis tangan suaminya.


" Ini ada babat gongsonya loh, bukannya kamu suka? tadi aku perhatikan makanmu lahap, kamu bahkan hanya menyisakannya sedikit tadi."


" Nggak mau Mas."


" OK." meletakkan piringnya, menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya Hanum sedang menguji kesabarannya kali ini, gadis itu, selain sudah mengganggu tidurnya, juga membuatnya harus berdebat di meja makan, di dini hari buta begini, " Baiklah kalau begitu." mengusap perut istrinya, " Jadi, anak ayah mau makan apa sayang?"


" Buah potong saja." jawab Hanum.


" Kenapa tidak bilang dari tadi?" Sultan sudah bangkit dari sana, mengusap puncak kepala Hanum, hendak menuju kulkas dan baru dua langkah, istrinya kembali memanggilnya.


" Mas."


" Ya."


" Aku mau stroberi, kiwi sama melon." pintanya, manja.


" Ya baiklah."


Sultan membuka pintu lemari es, matanya jeli, memeriksa setiap sudut kulkas, berusaha mencari keberadaan buah yang di pesan khusus oleh istrinya. Bagaimana tidak, dia yang tadi masih mengantuk harus mengakhiri tidurnya hanya demi menuruti kemauan Hanum.


Senyumnya terkembang begitu melihat buah yang dicarinya ada disana, dia mengambilnya dengan antusias. Membawanya ke sink, mencuci buah itu untuk memastikan kebersihannya sebelum sampai ke tangan istrinya.

__ADS_1


Kemudian dia duduk di bangku, tangannya cekatan mulai memotong buah itu satu per satu, meletakkannya di atas piring.


" Enak." kalimat itu muncul sejak Hanum memasukkan potongan buah itu ke dalam mulutnya.


" Ya sudah makanlah."


Sultan meletakkan pisau yang dipegangnya setelah berhasil memotong buah terakhir yang di bawanya. Mengambil lap makan untuk membersihkan tangannya, dia mulai menguap, matanya merah dan berair manakala menahan kantuk yang kembali menyergapnya.


" Maafkan aku, gara-gara aku tidurmu jadi terganggu." ucap Hanum di sela-sela mengunyah buah yang terasa begitu menyegarkan mulutnya.


" Bukan masalah, apapun akan aku lakukan selama hal itu membuatmu senang."


" Ya sudah ayo." Hanum menuntun tangan suaminya, " Ini yang terakhir." mengambil potongan terakhir buah yang ada dalam piringnya. " Kita bisa langsung tidur." berjalan terburu-buru agar bisa cepat sampai di kamar.


" Pelankan jalanmu, sudah kubilang untuk lebih berhati-hati, ingat sayang ... sekarang kamu bukanlah seorang gadis. Ada malaikat kecil di rahimmu yang saat ini sangat bergantung padamu. Jadi hindari melakukan hal yang bisa membahayakan dirimu juga calon anak kita."


" Iya ... iya, Mas."


Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, Hanum bergayut manja di lengan suaminya.


.


Fajar menyingsing, hangatnya sinar mentari muncul menggantikan cahaya rembulan yang telah sepanjang malam menyinari bumi.


Orang-orang mulai kembali disibukkan dengan rutinitas harian mereka masing-masing.


Hanum yang pagi itu bangun lebih awal, memutuskan untuk segera bergabung dengan keluarga besar di meja makan. Meninggalkan suaminya yang dilihatnya tadi, baru saja memasuki kamar mandi.


" Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Ratih.


" Baik Mi." sahut Hanum.


" Kamu masih mual-mual?"


" Tadi?"


" Tidak, rasa mualnya memang sering mendadak muncul, tapi tidak menentu."


" Ya sudah kalau begitu, nanti habis sarapan, pergilah memeriksanya ke rumah sakit."


" Baik Mi." Hanum mengangguk.


" Mulai sekarang, kurangi aktivitas yang bisa membuatmu kecapekan." Burhan menimpali, "Teman kakek bilang, kamu lemah, sementara ada dua janin yang bergantung padamu, kakek mau kamu lebih berhati-hati lagi, jagalah cicitku dengan baik. Kakek tidak mau kejadian dulu terulang lagi?"


" Hah?" Hanum melongo.


" Dulu kan kamu sempat keguguran, jadi mulai sekarang, kamu harus hati-hati dalam segala hal. Jangan sampai melakukan hal yang bisa mengancam keselamatanmu dan calon cicitku." lelaki tua itu menggenggam jemari Hanum, " Kakek sudah lama mendambakannya, kakek ingin sekali bisa menghabiskan sisa umur kakek dengan hidup bersama cicit-cicitku. Terimakasih." meraih kepala Hanum dan mencium kening gadis itu.


Hanum tersenyum jika mengingat kejadian konyol itu dulu, padahal itu hanyalah darah menstruasinya yang menembus seprai, tapi semua orang mengira kalau dirinya keguguran. Lebih parahnya lagi, Sultan melarangnya menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada mereka dengan alasan yang tidak masuk akal. Tapi, ya sudahlah ... toh saat ini juga kebahagiaan itu benar-benar sudah ada di depan mata. Tinggal menunggu waktu saja, semoga tidak ada halangan berarti sampai waktunya Hanum melahirkan bayinya dengan selamat, nantinya.


" Rupanya berandal kecil itu mau membuatku mati kelaparan." Burhan mendecih, " Anak kurang ajar itu sudah membuat kita menunggu lama, berapa lama lagi kita harus menunggu."


" Sebaiknya kakek makan saja dulu." bujuk Hanum.


" Ya sudah." Arya pun mengangguk, memberi kode kepada orang yang duduk di sana untuk segera memulai acara sarapan pagi tersebut.


Hanum yang memang sejak awal kehamilan tidak bisa menelan nasi, memilih menggantinya dengan potongan buah. Perutnya tidak akan bereaksi jika diisi dengan berbagai macam jenis buah, jadilah buah buahan menjadi makanan wajib yang ada di meja makan.


Tangannya lincah menguliti apel yang di pegangnya di tangan kiri, dia menaruh sebuah apel, pisang dan jeruk Baby Java di atas piringnya.


" Sepagi ini kamu sudah makan jeruk?" tanya Burhan, dia bahkan merinding, dan seketika merasakan giginya ngilu saat melihat Hanum mengunyah potongan jeruk itu.


" Ini manis kek." kekehnya sambil melanjutkan aksinya mengupas apel.

__ADS_1


" Astaga! apa yang kau lakukan?"


Hanum yang tidak menyadari kedatangan suaminya, terkejut saat pria itu merebut pisau yang ada di tangannya.


" Tentu saja sedang mengupas apel, memangnya apa lagi?"


" Kau tahu, apa ini?" menunjukkan pisau itu di depan Hanum.


" Memangnya aku bayi apa? tentu saja aku tahu kalau itu pisau."


" Kau tahu ini benda tajam?"


" Ya."


" Kalau kau tahu ini benda tajam, kenapa kau masih berani memegangnya?"


" Ya ampun, aku hanya sedang mengupas apel, bukannya sedang memegang samurai dan berperang melawan musuh." Hanum mendengus kesal.


" Jadi kau pikir ini lucu?"


" Apa masalahnya sih mas?"


Semua orang hanya terdiam, mereka mengawasi sepasang suami istri yang entah sedang meributkan apa.


" Ini benda tajam, akan sangat berbahaya kalau sampai kamu tidak berhati-hati menggunakannya." Sultan menarik bangku di sebelah Hanum, lalu mendaratkan bokongnya disana.


" Kan tadi sudah kubilang, aku sedang mengupas apel, bukan sedang bermain dengan benda tajam."


" Sama saja, kau akan terluka nanti, bagaimana kalau sampai tanganmu tergores?"


" Buktinya tanganku masih baik-baik saja."


" Apa kau akan terus membantahku?"


" Ya ampun." gumam Hanum, makin kesal dengan sikap suaminya.


" Kau bisa menyuruh pembantu di rumah ini untuk mengupasnya untukmu, atau kau bisa menungguku sampai aku datang, aku juga bisa mengupas apel ini untukmu." merebut apel dari genggaman Hanum.


" Keburu aku kelaparan, tanya kakek saja, beliau juga sampai kelaparan menunggumu selesai mandi dan berdandan."


" Apa katamu? berdandan?" menatap tajam istrinya, " Aku berdandan?" ulangnya.


" Dasar manusia menjengkelkan." Hanum memundurkan kursinya, bangun dan kemudian pergi meninggalkan Sultan," Tidak jelas masalahnya apa, malah marah-marah. Masih pagi tapi sikapnya sudah membuat aku jengkel." gumam Hanum sambil melangkahkan kakinya, kembali menuju kamar.


" Kalian juga, kenapa diam saja, bukannya membantuku." Sultan menatap kakek dan kedua orang tuanya bergantian.


" Memang barandal sepertimu membutuhkan bantuan?" ucap kakek dengan nada menyindir, lalu tersenyum mengejek.


" Hah?"


" Lagipula kau berlebihan, istrimu itu hanya sedang hamil, bukannya pesakitan yang tidak boleh melakukan apa-apa." Arya, ayah Sultan angkat bicara.


" Aku hanya sedang berusaha menjaga keselamatan anak dan istriku saja, apa itu salah?" tanya Sultan.


" Dari apa?" sahut Burhan, " Dari musuh yang mengintai? dari bahaya penjahat? atau ..."


" Kalian semua sama saja." Sultan pun bangkit, " Sama-sama menjengkelkan." lalu pergi dari sana, menyusul istrinya ke kamar.


.


**Holla sayang-sayangku 🥰🥰🥰 gimana ceritanya? datar? gak asyik? kurang seru? atau mau lanjut?


Jangan lupa Vote sama likenya dong, kalian cuma ngomog doang, suka Thor ... suka ceritanya kak, tapi gak mau vote 🤭 ups ... kelepasan. 🤣🤣🤣 kan kalo kalian rajin vote, aku jadi makin semangat buat up nya.

__ADS_1


Pokoknya aku selalu tunggu dukungan dari kalian. Terimakasih 🙏 🙏🙏 😘😘😘**


__ADS_2