Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Sudah Jelas


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa Rai? Apanya yang dirasa? Kenapa nggak ke dokter aja sih!" Berondong William begitu Raisa yang dipapah Bik Rohmah itu duduk di ruang tengah.


"Nggak apa-apa kok Kak, cuma pusing biasa," Raisa menyahut.


"Jangan dibiasakan, penyakit parah itu berawal dari penyakit ringan yang selalu diabaikan."


Cinta hanya bisa mengelus dada melihat tingkah suaminya. William benar-benar seperti dua sosok pria yang berbeda. Jika berada berdua dengannya, William cenderung penyayang dan lembut akan tetapi jika ada Raisa, William seolah lupa dengan posisi Cinta sebagai istrinya.


"Ya, Kak. Besok aku periksa. Kalian kapan pulang? Kak Cinta sehat kan?" 


Cinta tersenyum simpul. "Sehat, kamu yang sepertinya kurang sehat.


"Iya nih, kecapekan kayaknya."


"Besok aku antar ke dokter ya kalau misalnya sakitmu masih belum membaik," ujar William.


"Ya Kak, makasih."


"Permisi, tehnya Tuan, Non." Bik Rohmah menaruh tiga cangkir berisi teh juga satu toples kue kering.


"Terima kasih Bik," balas William dan Cinta bersamaan.


"Sama-sama. Bibik ke belakang dulu ya," pamit wanita itu.


"Iya Bik."


"Emang Willmar lagi dinas di mana sih?"


Sesekali Cinta melirik suaminya, melalui ekor matanya dapat Cinta lihat sorot mata lelaki itu penuh kekhawatiran.


"Ke Singapura Kak, harusnya sih hari ini pulang, tapi barusan nelepon aku katanya baru bisa pulang besok."


"Oh, ya Rai. Ini ada oleh-oleh buat kamu." Cinta menyodorkan paper bag pada gadis itu.


"Yaah, malah ngrepotin, tapi makasih ya Kak."


"Iya sama-sama."


Dering ponsel mengalun indah, menginterupsi pembicaraan dua gadis itu. William melirik gawainya yang sejak tadi dia biarkan tergeletak begitu saja di meja.


"Dari Daniel, mungkin mau bahas soal kerjaan, Mas tinggal dulu ya," pamit lelaki itu pada Cinta, lalu melemparkan senyum pada Raisa sebelum beranjak dari sana.


Kecanggungan tercipta. Meskipun sering bertemu, tapi Cinta tak begitu akrab dengan Raisa. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuknya memulai rencananya.


"Tehnya diminum Kak," tawar Raisa.


"Ya Rai." Cinta meraih cangkirnya, menyesap sedikit cairan berwarna kecoklatan itu dan kembali menaruhnya ke tempat semula.


"Ehm, Rai."


"Ya Kak," Raisa menyahut.

__ADS_1


"Aku boleh ngomong serius nggak sama kamu?"


"Boleh, silakan Kak. Memang soal apa?"


"Tapi sebelumnya aku minta maaf ya, aku nggak ada maksud apa-apa ngomong gini ke kamu."


"Santai aja lagi kak, kenapa emangnya?"


Cinta terlihat salah tingkah, beberapa kali dia celingukan dan memilin tangannya.


"Ngomong aja Kak!" Desak Raisa.


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, hm ... Bisa nggak kamu jangan terlalu dekat dengan suamiku?"


"Maksudnya gimana?"


"Rai, kita ini sesama wanita, aku yakin kamu tahu betul apa yang sedang aku bicarakan. Mas Willi itu sebenarnya ada rasa sama kamu."


Deg.


Raisa terdiam. Otaknya sibuk mencerna ucapan Cinta.


"Bagaimana bisa Kak Cinta menyimpulkan begitu?"


"Please Rai, kamu pasti tahu soal ini. Sikap dan perhatian Mas Willi tuh beda ke kamu. Aku harap kamu nggak salah paham dengan ucapanku, tapi aku mohon sama kamu, ini demi kelangsungan rumah tanggaku."


"Jadi?"


"Mas Willi cinta sama kamu Rai!" Tegas Cinta. "Aku minta tolong, kamu jaga jarak ya sama dia. Ak ... Aku nggak tahu musti ngomong dari mana, dan bagaimana menjelaskannya ke kamu. Aku takut Rai, aku takut Mas Willi ..."


"Aku percaya sama kamu, makanya aku sengaja bicara dari hati ke hati sama kamu. Kamu juga perempuan Rai, kamu oasti paham gimana perasaan aku," lanjut Cinta.


"Iya Kak, tenang aja. Mulai sekarang aku akan jaga jarak sama Kak Willi, aku juga nggak mau terjadi sesuatu pada rumah tangga kalian."


Cinta meraih jemari Raisa dan menggenggamnya. "Makasih ya Rai."


"Sama-sama Kak."


"Cukup kita berdua saja yang tahu tentang masalah ini ya?"


"Tentu." Raisa mengulum senyum. "Tehnya diminum Kak, aku mau ke belakang sebentar ya."


"Ya, kuat nggak? Kalau nggak aku bantu."


"Ya Kak."


Cinta bangkit dari kursinya, membantu Raisa berjalan menuju kamar kecil, tapi baru beberapa langkah tubuh Raisa ambruk.


"Rai! Raisa!" Cinta begitu panik. "Mas Willi! Mas!"


Mendengar teriakkan istrinya sontak membuat William berlari menuju ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Raisa." William mengangkat tubuh mungil itu. "Bagaimana bisa dia jatuh pingsan, apa yang sudah kamu lakukan Cinta!"


Cinta membeku di tempatnya. Ucapan yang dilontarkan William biasa saja, tapi terdengar sangat menusuk jantungnya. Menembus hingga membuat segumpal daging bernama hati itu teriris.


Bik Rohmah tergopoh-gopoh, wanita paruh baya itu langsung berlari menuju sumber suara begitu mendengar keributan.


"Ya Tuhan, Non Raisa."


"Kita bawa ke rumah sakit," ujar William.


Detik berikutnya, Cinta merasa dunianya hancur. William pergi begitu saja, mengabaikannya yang masih terpekur di lantai dengan berderai air mata.


.


.


William terus berjalan mondar-mandir. Lelaki itu tak tenang sebelum mendengar penjelasan dari dokter terkait kondisi Raisa.


"Keluarga Nona Raisa." Dokter wanita paruh baya ke luar dari ruang periksa.


"Saya Dok!" William gegas mendekat.


"Anda suaminya?"


"Bukan, saya kakak iparnya?"


"Di mana suaminya?"


"Sedang dinas di luar negeri, kemungkinan baru pulang besok. Saya kakak suaminya, maaf kalau boleh tahu, Raisa sakit apa Dok?"


"Tidak seperti yang Anda pikirkan. Pasien jatuh pingsan karena tekanan darahnya rendah, Nona Raisa sedang hamil. Selamat ya Tuan, tolong sampaikan pada suaminya untuk menjaga istrinya dengan baik."


"Raisa hamil Dok?" Tanya William, memastikan.


"Iya. Untuk sementara waktu Nona Raisa harus dirawat dulu mengingat kondisinya masih sangat lemah. Nanti akan kami pindahkan ke ruang rawat inap."


"Terima kasih Dok."


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."


William gegas menyambar ponselnya, menghubungi orang tuanya, lalu menghubungi Willmar yang saat itu sedang ada di Singapura.


Mendengar berita menggembirakan ini, tentu saja membuat Willmar girang bukan main. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk pulang malam ini juga dengan mengambil penerbangan terakhir.


.


.


Jarum jam menunjukkan angka dua dini hari. Cinta bergelung di bawah selimut dengan mata yang masih terjaga. Kilas kejadian di rumah Raisa masih terasa begitu membekas, seolah kejadian itu baru saja terjadi.


Cinta tak menduga sebelumnya. Karena terlalu mencemaskan Raisa, William sampai menaikkan suara dan menyalahkannya.

__ADS_1


Kristal bening itu kembali berjatuhan. Batin Cinta nelangsa. Kini, apalagi yang bisa dia lakukan? Semuanya sudah jelas bagi Cinta. Sudah sangat jelas.


Bersambung ....


__ADS_2