
"Ketawa terus aja, nggak takut bibirmu kering apa Mas, heran deh," dumel Cinta. Sepanjang perjalanan wanita itu terus mengomeli suaminya.
"Iya maaf, janji deh nggak ketawa lagi."
Yang diucapkan William tentu saja sebuah kebohongan besar karena faktanya pria itu masih tertawa lepas.
Cinta melipat kedua tangannya di depan dada, mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Pemandangan yang dilewati membuatnya sedikit melupakan kejadian memalukan tadi.
"Mas," desis Cinta karena lagi-lagi ia mendengar tawa suaminya.
"Iya maaf. Hm, Sayang ..."
"Apa!" ketus Cinta.
"Kita mampir ke mall yuk, sekalian beli keperluan buat si kecil. Rania bilang kan kemungkinan bayi kita lahir dalam minggu-minggu ini," kata William.
Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Cinta dan bayi dalam kandungannya karena mereka berdua dalam keadaan baik. Cinta sempat merasa sedih karena sepanjang pemeriksaan berjalan tadi, Raisa tak henti-hentinya menangis.
Raisa trenyuh melihat betapa aktifnya bayi Cinta ketika Rania memperlihatkan layar monitor pada saat USG tadi. Layar yang sangat jernih membuatnya melihat dengan jelas bayi Cinta tengah tersenyum sambil menghisap ibu jarinya. Saat itulah tangis Raisa makin tak bisa dikendalikan, ia kembali teringat pada janinnya yang harus meninggal bahkan sebelum sempat dilahirkan ke dunia.
Selepas dari rumah sakit, dua pasang suami istri itu pun memutuskan untuk kembali dengan mobil masing-masing.
"Mas, aku kasihan sama Rai, dia nangis terus dari tadi. Apa sekarang kondisinya sudah membaik ya?"
William dapat menangkap kecemasan dari setiap ucapan istrinya. "Dia akan baik-baik saja. Willmar pasti bisa membujuknya, kamu tenanglah."
Cinta menyandarkan kepalanya di bahu kursi.
"Jadi ke mall ya? anak kita sebentar lagi lahir, masa belum ada persiapan apa-apa."
"Ya udah."
"Nanti kalau misalnya kamu capek, kita istirahat. Kamu cukup duduk diam, biar aku yang pilihkan nanti."
"Hm."
Seperti biasa, William akan membantu melepas sabuk pengaman Cinta dan membukakan pintu untuknya.
"Awas kepalamu!" menaruh telapak tangannya di atas kepala Cinta agar kepala wanita itu tak membentur atap mobil.
"Kamu udah lapar belum? mau cari makan dulu," tawar William. Beberapa bulan hidup bersama Cinta membuatnya tahu wanita itu mudah sekali lapar.
"Enggak, masih kenyang Mas."
"Nanti kalau misalnya kamu lapar, haus, capek atau apa pun itu, bilang sama aku ya."
"Oke."
William menelusuri toko khusus perlengkapan bayi. Selang dua jam dia berada di sana, pria itu pun kembali dengan membawa banyak kantong berisi beberapa keperluan bayinya. Tujuan utamanya telah selesai, sambil menyelam minum air, William mengajak istrinya memasuki toko pakaian dalam.
"Kenapa kita ke sini sih Mas," protes Cinta.
"Ya mau beli underwear buat kamu lah Sayang. Kan punyamu udah pada nggak muat."
"Tapi aku malu Mas.".
"Kenapa mesti malu?"
__ADS_1
"Ukurannya super jumbo," jawab Cinta, ketus.
William tersenyum simpul menyadari ketidakpercayaan diri istrinya. "Ya udah, tunggu bentar ya, aku akan kembali lagi."
"Mau ke mana?"
William tak sempat menjawab dan pergi begitu saja. Tak lama, dia kembali dengan satu cup besar es krim.
"Sementara kamu duduk di sini dulu sambil makan es krim, urusan membeli pakaian dalam kamu serahkan aja sama aku." menyodorkan cup es krim itu pada istrinya.
"Emangnya Mas tau ukurannya apa?"
"Tau lah," jawab William dengan santainya.
"Kok bisa?" Cinta menatap suaminya penuh curiga.
"Iya, tinggal kira-kira aja. Ukuran brallete kamu itu kira-kira segini." William memperegakan tangannya yang seolah sedang menangkup sesuatu di udara.
"Ya ampun Mas," decak Cinta, geram.
"Iya, aku rasa ukuranmu segitu. Pas aku pegang segini soalnya kira-kira."
Plak!
"Auw! Sakit Cinta ..."
"Ya lagian Mas ngaco."
"Udah pokoknya kamu tenang aja. Kamu taunya udah beres aja gitu ya?" mengusap puncak kepala Cinta sebelum dia mulai menjelajah.
"Udah habis esnya?"
"Udah," jawab Cinta, singkat.
"Hebat."
"Kamu nyindir aku Mas?"
"Kok nyindir? aku kan cuma bilang kamu hebat udah habisin es sebanyak itu."
"Sama aja, kamu cuma nggak ngomong secara terang-terangan aja kalau aku makannya banyak," tukas Cinta.
"Ya ampun, wajar lah kalau kamu banyak makan, kan buat dua orang. Kamu sama anak kita."
'Mulut sialan, bisa-bisanya kalau ngomong nggak disaring dulu, udah tahu istri mood swing juga.' William merutuki dirinya dalam hati.
"Aku haus, botol minumnya mana?"
"Ada, sebentar." William mengambil botol yang dia taruh dalam ranselnya.
'Semoga aja dia nggak inget masalah tadi, bisa kacau urusannya.'
"Kita cari makan dulu?"
"Makan di rumah aja, masih kenyang. Sini, aku mau lihat pakaian dalam seperti apa yang kamu pilih buat aku?"
"Jangan!" reflek William mendekap paper bag itu. "Maksudku, kamu lihatnya nanti di rumah aja ya," imbuh pria itu.
__ADS_1
"Oke."
Sepasang suami istri itu tak sadar jika ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka dengan tatapan penuh kebencian.
William menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan roda empatnya itu membelah jalanan. Musim pancaroba membuat cuaca tak bisa ditebak. Pagi tadi sangat cerah, matahari bersinar terik, tapi kemudian dengan cepat awan hitam menggantung di langit.
"Sepertinya mau turun hujan Mas," gumam Cinta.
"Iya. Sebentar lagi sampai rumah, habis makan kita bisa langsung istirahat."
.
.
Langit masih terus menangis. Tetesan air dari langit tak kunjung reda meskipun telah lebih dari empat jam hujan berlangsung. William terbangun dari tidurnya ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.
"Mas, bangun udah sore."
Pria itu mengerjapkan matanya pelan, dilihatnya Cinta telah wangi dan juga rapi. "Kamu udah mandi?"
"Udah lah, udah wangi gini juga."
"Kok nggak bilang sih?"
"Aku cuma mandi, masa iya musti pamit Mas, kecuali aku keluar rumah baru aku akan pamit sama kamu."
"Ya tapi kan aku mau kamu pakai dalaman yang tadi aku beli. Aku udah langsung cuci biar bisa langsung kamu pakai."
Cinta tersenyum miring. "Udah."
"Apanya?" tanya William.
"Udah aku pakai."
"Nah makanya sih, sia-sia deh aku langsung cuci kalau ujung-ujungnya kamu pakai dalaman yang lama," dumel William.
"Bukan itu maksudku Mas. Aku udah pakai dalaman yang Mas beli tadi."
"Hah? seriusan?"
"Iya, yang warna merah kan?"
"Seriusan?" sorot mata William berbinar.
"Iya," tegas Cinta. "Nakal, udah tahu istri hamil tua, masih aja disuruh pakai daleman centil. Kalau nggak demi kamu, aku nggak mau pakai Mas, malu."
"Kamu nggak ingat yang dibilang Rania apa, kita disuruh rajin buat olahraga malam. Selain menyenangkan suami, itu juga terapi alami agar bayi dalam kandunganmu itu bisa cepat lahir."
"Modus," cetus Cinta.
William terkekeh, ia mencubit pucuk hidung istrinya gemas sebelum ia lari ke kamar mandi.
"Tunggu aku ya, aku mandinya sebentar kok," ujar William sesaat sebelum pria itu menutup pintu.
Bersambung ....
*Happy reading Dears, maaf nggak bisa balas komentar kalian satu per satu. Cuma mau bilang makasih buat kalian yang udah menyempatkan waktu untuk membaca tulisanku yg amburadul ini. Aku tanpa kalian bukan apa-apa. Membaca komentar positif dari kalian adalah sumber semangatku. Aku lagi kebut aja nulisnya demi kalian. Maaf kalau masih ada banyak kekurangan ya, bagi waktu sama di platform sebelah soalnya. Aku ada deadline di sana. Sekali lagi makasih. ❤️❤️❤️
__ADS_1