Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bandara


__ADS_3

Semenjak kepulangan temannya, Hanum terus berpikir keras. Terkadang dia merasa takut jika bayangan kelam kisah cintanya bersama suaminya dulu, terulang kembali pada Wina.


"Apa terjadi sesuatu?" 


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Burhan membuyarkan lamunan Hanum.


"Kakek perhatikan kamu menjadi pendiam sejak kepulangan temanmu itu," imbuh pria tua itu.


"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, Kek," jawab Hanum.


"Memang apa yang menganggu pikiranmu?" Burhan meletakkan tongkatnya di samping.


"Hm ...," Hanum terlihat ragu.


"Ceritakan saja pada kakek, siapa tahu kakek bisa membantumu memecahkan masalah sekaligus mencari jalan keluarnya."


Hanum menjentikkan jarinya, dia teringat sesuatu dan itu bisa dia gunakan untuk menghindari pertanyaan kakeknya.


"Kenapa Mami tidak jadi datang kemari, Kek?" tanya Hanum.


"Eh, bukankah kemarin aku sudah memberitahukannya padamu apa yang membuat Mamimu itu menunda keberangkatannya kemari?" 


"Iya kah?"


"Ya, seingatku kakek sudah memberitahumu kemarin."


Hanum hampir saja tertawa begitu melihat Burhan masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang kuasa penuh ada dalam tangannya, dia yang akan mengendalikan permainan sesi tanya jawab bak introgasi yang biasanya dikendalikan oleh kakeknya.


.


Kantor Dinasty Group.


Sultan merengangkan tubuhnya, meluruskan punggungnya sejenak dengan tidur di sofa panjang yang ada di depan meja kerjanya. 


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sebentar lagi dia bisa pulang untuk segera bertemu dengan tambatan hatinya.


"Kau mau langsung pulang atau bagaimana?" 


Sambil mengemasi barang-barang pribadinya, Raka bertanya.


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatiku," sahut Sultan dengan sorot mata berbinar.


Pria itu memang kelelahan akibat pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga, dan itu tergambar jelas di wajah tampannya betapa dia sudah tidak sabar ingin tidur di tempat favoritnya. Dimana lagi kalau bukan di peraduannya.


Semburat warna kemerahan muncul di pipi Sultan manakala fantasinya mulai liar mengajaknya mengembara. Bayangan wanita cantik dengan perut buncit memakai lingerie seksi sedang menanti di tepi ranjang, begitu menganggunya.


Astaga, bisa-bisanya aku berpikiran mesum begini, batin Sultan. 


Pria itu terus menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran kotor yang mulai menjajahi otaknya.


Hal seperti itu tidak akan baik bagi kesehatannya mengingat dia masih membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga empat jam lagi agar bisa melampiaskannya.


Sultan pun bangkit dari sofanya, beralih ke meja kerja kemudian mulai memunguti benda penting lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


Sementara Raka menunggu sambil berdiri di depan pintu.


Hal yang terbiasa dilakukan oleh kedua pria itu adalah turun menuju parkiran dan pulang bersama. Kebiasaan itu sudah berlangsung sejak lama dan berlanjut hingga sekarang.


"Sudah?" tanya Raka, memastikan kalau tidak ada satupun barang milik temannya yang tertinggal di sana.


"Sultan mengangguk. "Ayo!" 


Raka meraih gagang pintu dan belum sempat dia memutar knopnya, mendadak pintunya terbuka. Seseorang telah mendorong daun pintu dengan kasar hingga mengakibatkan benturan keras di kepala Raka.


"Setan alas!" maki Raka sambil memegangi dahinya yang terasa panas.


Amarah pria itu meledak begitu melihat siapa yang muncul secara mengejutkan di depannya.


"Kebiasaan banget kamu Dam, bisa ketuk pintu dulu tidak, sih? Kalau sampai ada apa-apa denganku, kalau misalnya aku mengalami gegar otak, apa kau mau tanggung jawab? Aku tidak mau mati muda!" makinya pada Adam.


Sultan yang sejak tadi masih berdiri di belakang Raka pun masih terbahak begitu juga dengan Adam.


"Sorry," cicit Adam. "Aku terburu-buru karena tadi sekretaris mu mengatakan kalau kalian sedang berkemas.


"Aku sampai kehabisan stok kata-kata untuk memaki dirimu karena terlalu sering kau melakukan ini padaku!" sambung Raka.


Pria itu masih meringis kesakitan sambil memegangi keningnya kemudian duduk di sofa.


"Awas saja seandainya hal yang akan kau bicarakan ini tidak penting!" 


Adam terkekeh mendengar Raka yang sepertinya masih menyimpan dendam padanya.


"Malah tertawa, minta dihajar?" sentak Raka.


Semakin Raka mengoceh malah akan semakin mengundang tawa Adam dan juga Sultan. Sultan sampai terpingkal-pingkal sambil terus memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Jadi kedatanganmu kemari hanya untuk mengajak kami ke rumah sakit? Menjenguk Mauryn?" tanya Sultan.


Raka melongo di tempatnya, tangan kanannya dia gunakan untuk memegang handuk berisi es batu yang dia kompreskan di dahinya. Sultan sempat meminta itu pada Mira sebelum sekretarisnya itu pamit pulang. 


"Bukan untuk menjenguk Mauryn sebenarnya, tapi untuk melihat bagaimana kondisi Dion setelah seminggu ini dia terus menginap di rumah sakit," cetus Adam.


"Dan ini semua salahmu! Seandainya saja kau tidak mengatakan apa-apa pada dion, waktu itu," kata Raka.


"Huh ...," Adam membuang nafas kasar. "Biar bagaimanapun juga Mauryn kan hidup sebatang kara. Memang kau pikir siapa yang harus menjaga perempuan itu? Sultan ... Aku? Atau malah kamu yang seharusnya melakukan itu?"


"Dih! Amit-amit. Saudara bukan, teman bukan," gerutu Raka.


"Ya sudahlah, sebagai wujud rasa persahabatan. Kita mampir sebentar ke rumah sakit," ajak Sultan. 


"Aku tidak mau ikut!" cetus Raka.


"Kenapa?" 


Sultan dan Adam bicara bersamaan.


"Malas aku," balas Raka.


"Jangan begitu, jika tidak mau ikut bersama kami, anggap saja kau kesana untuk memberikan dukungan moral untuk Dion. Bagaimana?" bujuk Sultan.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama kita disana."


Ketiga lelaki itu pun bangkit dari duduknya kemudian melangkah beriringan menuju lift.


.


Di rumah sakit.


Dion baru saja meninggalkan kantin, dia terlambat untuk makan siang jadilah dia makan di jam-jam tanggung begini padahal jam makan malam tinggal beberapa jam lagi. 


Suasana rumah sakit sore itu cukup lengang. Bunyi sepatu yang dipakai oleh Dion ketika beradu dengan lantai terdengar menggema.


Dion terus berjalan menuju lift, dia perlu menggunakan alat angkut tersebut untuk membawanya naik menuju lantai lima. Rencananya dia akan membawakan makan malam untuk calon istrinya yang biasanya baru akan pulang pada jam enam.


Masih ada banyak waktu, pikir Dion.


Seolah ditakdirkan untuk bertemu, Dion tak menyangka jika Wina muncul bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Kebetulan hanya ada Wina seorang di dalamnya. 

__ADS_1


Dion setengah menarik tangan Wina, dia terkejut melihat Wina yang secepat itu keluar dari ruangannya.


"Kau pulang lebih awal?" tanya Dion.


"Hm." 


Perempuan cantik yang masih memakai snelli itu pun mengangguk.


"Tadinya aku mau membawakan makan malam untukmu." Dion mengangkat tangannya dan memperlihatkan bungkusan makanan yang ia bawa untuk Wina.


"Untukmu saja," tolak Wina secara halus. "Aku bisa makan malam dirumah nanti."


"Aku juga baru makan. Tumben kamu pulang lebih awal, bukankah jam praktekmu masih lama ya?" telisik Dion.


"Itu, ada dokter lain yang menggantikanku."


Sedetik kemudian Wina menyesali ucapannya, akan panjang urusannya jika dia berkata demikian karena yang jelas Dion akan bertanya lebih banyak lagi.


"Menggantikanmu? Memang mau kemana kamu? Mau apa?"


Benar kan apa yang dipikirkan oleh Wina. Dan sekarang dia harus berpikir keras untuk memberikan alasan kepulangannya yang lebih awal hari ini.


"Aku sengaja meminta izin untuk pulang lebih awal."


"Kenapa? Apa kau sakit?" 


Wina terus memaki dirinya sendiri dalam hati, menyalahkan mulutnya yang tidak bisa dia ajak kerjasama.


"Tidak, hanya saja ... Itu ...," Wina bingung memikirkan hal apa yang bisa ia gunakan sebagai alasannya.


"Itu apa? Apa kau sakit?" reflek Dion menyentuh kening Wina untuk mengecek suhu badan perempuan itu.


"Tidak, mungkin hanya terlalu letih itulah sebabnya aku meminta izin pulang cepat agar aku bisa istirahat lebih lama lagi," kilah Wina.


"Tapi sepertinya kamu memang agak demam, badanmu panas," ujar Dion.


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena baru selesai beraktivitas makanya suhu tubuhku sedikit panas. Aku juga memang merasa cuaca hari ini sangat panas dan mungkin itu yang membuatmu mengira aku sedang demam."


"Biar aku antar kamu pulang."


"Tidak perlu," sambar Wina. "Aku bisa pulang sendiri jadi jangan terlalu mencemaskanmu. Sebaiknya kau cepatlah kembali ke kamar Mauryn."


"Dia sudah sadar, ada polisi yang menjaganya juga. Rencananya juga malam ini aku mau pulang. Hm ... Wina,"


"Apa?"


"Kalau boleh sih aku maunya tidur di apartemen kamu," celetuk Dion.


"Enak saja, kita belum menikah!" sewot Wina.


"Ya sudah kalau begitu ayo, kita menikah secepatnya saja!"


"Memang kau pikir pernikahan itu apa?"


"Memang apa? Orang kalau mau menikah ya tinggal menikah saja kan?" Dion tersenyum hingga menampilkan barisan giginya yang rapi.


"Tidak semudah itu," cebik Wina.


.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ketiga pria itu tidak ada yang membuka mulutnya. Baik Sultan, Adam dan Raka asyik mengembara dengan pemikirannya masing-masing.


Perjalanan menuju rumah sakit menyisakan waktu sepuluh menit lagi, jarak yang ditempuh memang cukup lama.


Di tengah kebisuan yang melanda, Sultan merasakan ponsel dalam saku jasnya bergetar. Sedetik kemudian benda pipih persegi panjang itu sudah berada dalam genggamannya. Bibirnya terus melengkung ke atas ketika mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini.


"Ya, sayang. Ada apa?" tanya Sultan begitu dia meletakkan ponselnya di telinga.


Sultan tersenyum membayangkan betapa menggemaskan jika Hanum sedang mengintrogasi dirinya secara langsung.


"Masih di jalan, kenapa? Apa ada sesuatu yang perlu aku belikan?" 


"Tidak, memang kamu masih lama pulangnya?" 


Entah kenapa hanya dengan mendengar suara istrinya saja sudah membuat Sultan merasa sangat bahagia. 


"Maafkan aku, sepertinya aku akan terlambat pulang. Aku lupa mengabarimu kalau aku dan temanku mau mampir ke rumah sakit," jawab Sultan.


"Jadi kamu mau bertemu dengan Dion?"


"Ya, apa kau keberatan?"


"Bukan itu maksudku, kebetulan malah."


"Memangnya kenapa kalau aku akan  bertemu dengan Dion? Kedengarannya kamu girang sekali."


"Tentu saja, dengarkan ucapanku baik-baik," perintah Hanum.


"Ya." Sultan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Cukup lama dia diam karena terus mendengarkan ocehan istrinya di ujung sana.


Tiga menit berlalu, ponsel Sultan telah kembali bersarang dalam saku jasnya.


"Kau bisa menyetir lebih cepat lagi!" perintah Sultan pada temannya.


"Memangnya ada apa?" tanya Adam, santai.


"Ikuti saja perkataanku! Kita harus secepatnya sampai di rumah sakit," sambung Sultan.


"Apa Mauryn sudah mati?" celetuk Raka, pria yang dahinya memar itu terlihat begitu bahagia.


"Bukan! Kalian akan segera tahu nanti, aku lelah jika harus menjelaskannya terlebih dulu pada kalian. Yang terpenting saat ini adalah kita harus secepatnya sampai di rumah sakit," papar Sultan.


Seketika wajah Raka berubah menjadi masam. Dia sendiri merasa geli dengan dirinya, kenapa juga dia begitu menantikan kabar kematian Mauryn? Dasar konyol.


Baik Sultan, Adam dan juga Raka makin mempercepat langkahnya.


Dalam perjalanan tadi Sultan tidak memberikan penjelasan apapun selain hanya meminta Adam agar segera sampai di rumah sakit.


Hal itu disebabkan karena Sultan telah mendengar kabar tidak sedap dari Hanum mengenai Dion. 


Sepanjang jalan pun Raka terus merutuki Sultan dalam hati. Entahlah, Raka merasa akhir-akhir ini Sultan dan Adam sedang suka bermain kucing-kucingan dengannya. Senang memberikan perintah tanpa maksud yang jelas. Lihatlah kini Raka dan Adam yang terus berlari tanpa mengetahui apa sebenarnya yang membuat mereka tergesa-gesa seperti ini. Yang mereka berdua tahu hanyalah terus berlari mengikuti kemana perginya Sultan.


Keberuntungan seolah sedang memihak Sultan. Dia dan juga temannya berpapasan dengan Dion di koridor rumah sakit karena kebetulan Dion hendak pulang. 


Tabrakan pun tak terelakkan lagi, kali ini bukan Adam dan Raka melainkan Sultan dan Dion yang menjadi korbannya.


"Apa kau berjalan tidak pakai mata?" umpat Dion.


"Kau yang buta, jelas saja aku berjalan menggunakan kaki dan kenapa kau menyuruhku berjalan dengan menggunakan mata? Ck, yang benar saja!" balas Sultan tak kalah kasar.


"Sudahlah, kenapa kita mesti berdebat."


"Kau sendiri yang memulainya!" seru Sultan.


"Hei! Sudah cukup!" sela Adam "apa kau lupa tujuan kita sampai berlari sejauh ini untuk apa?"


"Tidak! Dimana Wina?" tanya Sultan langsung.

__ADS_1


"Dia sudah pulang, sekitar setengah jam yang lalu mungkin, memang ada apa?" tanya Dion, bingung.


"Kenapa kau tidak mencegahnya!" hardik Sultan.


"Mana mungkin aku mencegahnya untuk pulang dan istirahat dirumah!" Dion menaikkan volume suaranya.


"Dasar bodoh, apa kau tidak tahu?" 


Adam dan Raka berdiri mematung, menjadi penonton setia yang melihat pertunjukan panas antara dua pria yang entah sedang meributkan masalah apa.


"Tahu apa?" tanya Dion masih dengan nada tinggi.


"Cepat susul dia! Wina bukannya mau pulang tapi dia mau pergi ke luar negeri," terang Sultan.


"Apa? Mustahil!" geram Dion, tak percaya.


"Wina mengatakan pada Ajeng dan Ajeng mengatakannya pada istriku kalau dia akan berangkat ke luar negeri. Dia akan pergi ke Korea dan jadwal penerbangannya jam tujuh," beber Sultan.


Dion terpaku dengan bibir bergetar seolah hendak berkata 'mustahil' namun kata tersebut tak kunjung keluar dari mulutnya.


"Kenapa malah diam, cepat pergi! Susul dia sebelum terlambat atau kau akan menyesal!" sentak Sultan.


Detik berikutnya Dion berlari seperti orang hilang akal. Pria itu sampai beberapa kali menabrak orang yang berpapasan dengannya.


"Benar yang kau katakan tadi?" tanya Adam.


"Memang ada tanda-tanda kejahilan, keisengan atau main-main diwajahku?" Sultan balik bertanya.


Sepi sejenak.


"Kenapa Ajeng tidak memberitahu aku soal ini," cicit Adam.


"Istrimu beranggapan dengan kepergian Wina bisa menyadarkan kebodohan Dion. Itu sebabnya dia tak membiarkan seorang pun tahu mengenai rencana kepergian Wina ke Korea kecuali istriku," papar Sultan.


"Lantas ...," 


"Hanum sengaja memberitahukan soal ini agar Dion menghentikan keberangkatan calon istrinya itu ke luar negeri." Sultan menjeda sejenak kalimatnya, susah payah menelan salivanya yang seolah tercekat di tenggorokan. "Dia bilang, dia tidak mau Wina bernasib sama seperti dirinya," sambung Sultan.


Hening.


Sebenarnya mereka benci jika harus saling diam begitu, tapi mau bagaimana lagi mereka juga bingung mau berkata apa.


"Kemana perginya Raka?" 


Sultan celingukan begitu menyadari tinggal dirinya dan Adam saja yang ada disana.


"Kita pulang, barangkali saja dia sudah berada di mobil," ajak Adam.


Keduanya tertunduk lesu,  dengan langkah gontai mereka berjalan meninggalkan rumah sakit. Lutut Adam saja seakan mau copot karena dia berusaha mengejar Sultan bagaimana dengan lutut Sultan yang tadi berlari seperti seorang atlet.


Sesampainya mereka di tempat parkir, Sultan menghentikan langkahnya sejenak sambil berkacak pinggang. 


"Kenapa berhenti?" 


Bukannya menjawab, Sultan malah menunjuk Raka dengan dagunya dan detik berikutnya tawa Adam pun pecah.


Dilihatnya Raka tengah bersandar pada kap mobil sambil menyeruput es boba-nya.


.


Dion menggila karena begitu sampai di apartemen Wina, dia mendapatkan rumah itu telah sepi. Berkali-kali dia menekan bel namun Wina tak kunjung keluar untuk membukakan pintu. Hal itu semakin membuat pikirannya berkecamuk.


Masih sambil berlari dia menyusuri lorong panjang untuk menuju lift. Secepatnya dia harus sampai di bandara, berharap kalau Wina masih berada disana.


Dia terus memaju mobilnya hingga kecepatan penuh. Dia sama sekali tak memikirkan tentang keselamatannya sendiri, betapa berbahayanya berkendara dengan kecepatan tinggi. Yang dia inginkan hanyalah dia sampai di bandara sebelum semuanya terlambat.


Dion kembali menyeka peluh yang membanjiri dahinya menggunakan lengan bajunya.


Pria itu masih terus berlari ketika dirinya telah sampai di bandara. Dengan sorot mata tajam dia terus mengedarkan pandangannya, mengawasi setiap sudut ruangan itu. Tak ingin ada satu titik yang dia lewatkan, dia harus bertemu dengan Wina. 


Harus.


Dion terus melihat jam tangannya secara berkala, masih ada sisa waktu sepuluh menit lagi yang bisa dia gunakan untuk mencari dimana keberadaan calon istrinya.


Dia benar-benar bisa gila jika terus seperti ini. Dion kembali menyisir tempat pertama yang dia datangi tadi, ini kali kedua dia berkeliling di sana. 


Di sisi lain, seorang wanita yang memakai topi dan juga kacamata hitam sedang berdiri mengawasi setiap pergerakan Dion. Posisinya yang berada di belakang kerumunan orang membuatnya mudah bersembunyi.


Hatinya sakit setiap kali butir bening yang keluar dari sudut matanya itu berjatuhan membasahi pipinya yang putih bersih. Baju yang dipakainya pun telah kusut karena sejak tadi dia terus mencengkeram erat bagian bawahnya.


Untuk beberapa saat lamanya gadis itu membiarkan Dion tetap berkeliaran seperti orang gila. Dia ingin menikmati saat-saat yang membuatnya merasakan sedih dan juga bahagia secara bersamaan. Satu sisi dia bahagia karena Dion terlihat begitu ketakutan ketika lelaki itu belum juga menemukan keberadaannya, menandakan kalau Dion takut kehilangan dirinya. Di sisi lain dia juga sedih, tak rela rasanya jika pria yang sangat dia cintai itu masih memberikan perhatiannya pada mantan istrinya.


Hampir meledak, Dion berteriak memanggil nama kekasihnya. Dia terus berteriak sambil berlarian kesana kemari, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


Merasa sudah tidak sanggup lagi, Wina pun mulai berjalan mendekat.


Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu jadi tidak seharusnya aku lari darimu. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hatimu. Aku tidak rela jika harus kembali kehilangan dirimu, batin Wina.


Dengan mantap dia melangkah maju. Dia sudah bertekad dalam hati untuk bisa memiliki Dion seutuhnya.


"Di ...," panggilnya dengan bibir bergetar dan diiringi deraian air mata.


Merasa begitu akrab dengan suara seseorang yang memanggilnya membuat Dion membalikkan badannya.


Pria itu segera menghambur dan mendekap erat tubuh Wina. Dion menangis, dia hampir putus asa tadi tapi begitu melihat wanita cantik pujaan hatinya berdiri di depannya, kembali membuatnya semangat menjalani hidup.


Mereka masih saling mendekap, membiarkan puluhan pasang menatap keduanya dengan tatapan sulit di mengerti. 


Orang-orang di sana hanya tidak tahu saja apa yang sedang terjadi sebenarnya. Mereka pikir tontonan di depannya saat ini adalah momen romantis sepasang kekasih. Bisa dilihat dari beberapa orang yang bersorak meneriaki mereka sambil tepuk tangan. Malah ada juga orang yang bersiul, sudah seperti film India saja.


"Beraninya kau pergi tanpa meminta izin dariku!" seru Dion begitu mereka saling melepaskan diri.


"Maaf." hanya itu yang bisa dikatakan oleh Wina sebagai bukti penyesalannya.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun, kau tahu!" seru Dion, lagi.


Wina membungkam rapat mulutnya.


"Karena kamu sudah membuatku marah, jadi kau harus dihukum," kata Dion dengan nada mengancam.


Dia menarik koper Wina menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih mencengkeram erat pergelangan tangan wanitanya.


"Kau mau membawaku kemana, Di?" cicit Wina, gadis itu sedikit takut melihat Dion menyeretnya keluar dari bandara.


"Kau harus dihukum atas kesalahanmu!" tegas Dion.


"Di ... dihukum bagaimana? Aku tahu aku salah tapi jangan seperti ini caranya. Kau mau membawaku kemana?" teriaknya.


"Kau mau tahu apa hukumanmu?" Dion menghentikan langkahnya sejenak, ditatapnya tajam bola mata Wina yang masih dilapisi cairan bening.


Wina menunduk, dia tak bisa berlama-lama menatap netra cokelat Dion, takut perasaan cintanya semakin meledak.


"Apa?" lirihnya hampir tak terdengar.


"Menikah. Ayo kita menikah, sekarang juga!" teriak Dion dengan lantangnya.


Sedetik kemudian suasana di sana kembali ramai. Ada banyak orang yang bertepuk tangan sambil meneriaki keduanya, mengucapkan selamat.


Dion tersenyum miring manakala melihat Wina masih tak berkedip.

__ADS_1


.


__ADS_2