Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Suami selalu salah dan istri selalu benar


__ADS_3

Pagi ini Sultan terbangun karena merasakan tangan kirinya kebas, berulangkali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela dan menyilaukan matanya.


Lelaki itu mengangsurkan kakinya di lantai kemudian mulai berjalan setelah berhasil menemukan sandal rumahannya. 


Sempat melirik jam dinding dengan ekor matanya, pantas saja Hanum sudah tidak ada di atas tempat tidur, sudah pukul delapan pagi.


Pintu terbuka dan secara bersamaan suami istri itu sama-sama sudah berada di depan pintu.


"Aku baru saja akan membangunkanmu," celetuk Hanum.


"Kau sengaja ya membuatku keletihan lalu akhirnya bangun kesiangan?" Sultan mencebikkan bibirnya.


"Tadinya aku mau membangunkanmu pagi-pagi tapi kakek melarangku, beliau mengatakan untuk membiarkanmu istirahat lebih lama lagi." 


Hanum melewati suaminya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


"Tumben sekali si tua bangka itu berbaik hati padaku, dulu sewaktu remaja malah aku sering di siram air jika jam lima pagi masih berada di atas kasur," cibir Sultan


"Hust! sudah aku katakan untuk jangan berbicara kasar tentang kakekmu!"


"Aku kan hanya ...," 


"Tadi itu apa, kata apa yang tadi Mas gunakan untuk memanggil kakek? kata-kata seperti itu tidak baik, memang kau mau mengajari anak-anakmu kelak dengan bahasa kasar seperti itu?"


"Iya baiklah, aku minta maaf."


"Jangan hanya minta maaf! jangan di ulangi, kamu mengerti?" seru Hanum.


Sultan harus diam jika dia tidak mau mendapatkan masalah sepagi ini. Akan rumit jadinya bila dia terus meladeni perkataan istrinya yang dirasa menjadi lebih cerewet semenjak berbadan dua.


"Pergilah mandi, setelah itu kau bisa sarapan," kata Hanum sambil masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil baju ganti suaminya.


"Hm, apa kau sudah makan?" tanya Sultan yang saat itu hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku sudah sarapan bersama kakek, tadi."


Pembicaraan keduanya pun terputus karena kesibukan masing-masing di ruangan yang berbeda.


Sepuluh menit berlalu.


Sultan melihat istrinya yang sedang duduk di sofa sambil membaca novel begitu dia selesai membersihkan diri.


"Kenapa kau mengambilkan aku kaos? aku kan akan berangkat kerja, Raka akan mengomel seperti ibu-ibu jika aku kembali tidak masuk kantor. Bukankah datang terlambat lebih baik daripada tidak masuk sama sekali." Sultan tertegun melihat kaos berwarna peach dan celana pendek warna navy yang Hanum letakkan di atas kasur.


"Memang siapa yang akan ke kantor pada akhir pekan seperti ini?" Hanum meletakkan novelnya kemudian berjalan mendekati suaminya.


"Akhir pekan?" Sultan mengerutkan dahinya.


Hanum tertawa melihat tingkah suaminya, apa karena pekerjaan yang menumpuk dan juga akibat kejadian kemarin hingga membuat suaminya itu menjadi pelupa. 


"Jadi kau benar-benar tidak tahu kalau hari ini adalah hari Minggu?" tanya Hanum.


"Jadi sekarang ini hari Minggu?" bukannya menjawab, Sultan malah balik bertanya.


"Mana mungkin aku menyuruhmu memakai baju santai jika memang ini adalah hari kerja? kau ini ada-ada saja Mas. Sudahlah, lupakan saja! aku akan turun untuk melihat Alea."


"Tunggu dulu! setidaknya tunggulah aku selesai berpakaian. Kita akan turun ke bawah sama-sama, nanti," cegah Sultan.


"Baiklah, aku beri waktu lima menit," balas Hanum.


.


Setelah menghabiskan sarapan paginya, Sultan bergegas menuju taman belakang. Hanum berpesan padanya agar segera menyusulnya ke sana jika dia ingin bertemu dengan Alea. 


Sultan bisa mendengar sayup-sayup suara tawa istrinya ketika dia hampir mencapai taman. Pria itu mempercepat langkahnya, tak sabar rasanya untuk segera melihat hal lucu apa yang membuat Hanum sampai tertawa lepas begitu.

__ADS_1


Sultan menghentikan langkahnya sejenak begitu dirinya sudah berada di taman, bibirnya terus melengkung menikmati pemandangan indah yang tersaji di depan matanya.


Melihat Hanum yang tertawa bahagia ketika sedang bermain dengan Alea membuat hatinya pun tak luput dari kebahagiaan. Ia menyadari jika selama ini dirinya cenderung lebih memberikan gadis itu tangis kesedihan jika  dibandingkan dengan kebahagiaan. Tak jauh berbeda dengan wajah istrinya, rona kebahagiaan pun jelas terpancar di wajah kakeknya. Pria tua itu terlihat begitu menikmati kebersamaannya dengan Alea.


Apakah sebahagia itu rasanya jika sedang bermain dengan anak kecil, begitu pikir Sultan. 


Pria itu kembali mengayunkan kakinya menuju bangku dimana istri dan kakeknya tengah bersenda gurau.


"Berikan dia padaku!" ucap Sultan begitu dia telah sampai di dekat istrinya.


"Kau harus menunggu giliran, bocah!" Burhan mendelik ketika melihat cucunya baru datang tapi sudah langsung meminta untuk menggendong Alea.


"Jadi sejak tadi kau terus menggendongnya?" tanya Sultan pada Hanum.


"Ya, ternyata menggendong bayi itu sangat menyenangkan," seloroh Hanum.


"Cepat berikan dia padaku!" paksa Sultan. "Melihatmu menggendongnya membuatku takut. Perutmu sudah membesar kau tentu kesulitan melakukannya dan bagaimana jika dia menekan bayi dalam kandunganmu?"


"Dasar suami posesif tidak tahu malu!" seru Burhan menatap cucunya. "Kemana saja kau kemarin hah? kau sudah membuat istrimu kelelahan sepanjang hari karena mengurusi Alea dan juga kau buat pusing karena memikirkan keadaanmu, apa belum cukup sampai disitu? kau bahkan pura-pura buta dengan tidak melihat penderitaannya!"


"Maksud kakek apa?" Sultan menatap sinis kakeknya.


"Setelah seharian Hanum di buat lelah, kau masih saja membuatnya tidak tidur semalaman?" cetus Burhan.


Tunggu, bagaimana pria tua ini tahu kalau kami terjaga semalaman, batin Sultan.


"Matamu itu mau aku congkel!" hardik Burhan. Betapa marahnya lelaki uzur itu melihat bola mata Sultan yang terus berputar terlihat sedang berpikir keras.


"Kami memang semalaman tidak bisa tidur, Kek. Aku masih terus mengingat Reno," kelakar Sultan.


"Jangan coba-coba cari alasan untuk menipuku anak muda!" 


Sultan hampir terkekeh begitu mendengar kakeknya berkata demikian. Dia lupa jika sejak dulu kakeknya itu memang sudah memiliki insting cukup kuat. Jiwa penuh selidik dalam diri Burhan itu cukup tinggi, sebagai panglima perang, pantas jika Burhan mendapatkan gelar tersebut. Pola pikir lelaki yang telah berumur itu selalu jauh dari standar kebanyakan orang. Pemikirannya terlalu rumit untuk bisa dipahami oleh manusia biasa seperti Sultan. Tak heran jika Sultan dibuat mati kutu olehnya, bahkan orang-orang seantero Semarang begitu menaruh hormat pada Burhan.


Burhan bangkit dari tempat duduknya kemudian mendekati Sultan.


Sultan serasa tercekik, ia kesulitan bicara ketika mendengar kakeknya setengah berbisik mengatakan hal pribadi seperti itu padanya.


"Ada apa Mas?" tanya Hanum.


Dilihatnya wajah Sultan memerah bak kepiting rebus semenjak Burhan membisikkan sesuatu di telinga suaminya sebelum pria tua itu pergi dari sana. Perubahan pada wajahnya terlihat begitu kentara.


Memang apa yang dikatakan oleh Burhan hingga membuat Sultan terlihat menahan malu begitu, sungguh Hanum sangat penasaran.


"Mbak Indah sudah boleh masuk," ucap Sultan, sambil melirik wanita yang sejak tadi setia berdiri di belakang istrinya. 


"Baik Tuan, silahkan panggil saya jika membutuhkan sesuatu," sahut Indah sambil membungkuk.


Sultan mengangguk.


Hanum melirik kebingungan, dia sampai tak sadar ketika Sultan berusaha mengambil alih Alea yang sejak tadi berada dalam gendongannya.


"Memangnya ada apa Mas?"  Hanum mengulangi pertanyaannya begitu Indah telah pergi dari sana.


Dia seolah tahu jika suaminya ingin berbicara tentang hal pribadi berdua dengannya. Menganggap keberadaan Indah di sana yang mungkin akan menjadi pengganggu. Hanum tahu betul jika suaminya tak suka obrolan intens mereka diketahui orang dan sampai menjadi konsumsi publik. Sebisa mungkin tak boleh ada orang yang tahu, oleh asisten rumah tangga mereka sekalipun.


Untuk sesaat Sultan terdiam sambil terus menatap istrinya dari atas hingga ke bawah. Dan seketika mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O manakala pandangannya tertuju pada satu titik.


Pantas saja kakek tahu jika semalam aku telah berbuat nakal pada cucu menantu kesayangannya. Kakek tua itu benar-benar juara dalam segala hal, aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat tanda cinta di tempat yang tak terlihat. Lagi pun aku membuatnya sangat kecil kenapa beliau masih saja bisa melihatnya? benar-benar tidak bisa dipercaya, salah besar jika aku meremehkannya, Sultan membatin sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Mas?"


Sultan terlonjak begitu mendengar istrinya kembali mengajukan pertanyaan yang sama padanya.


"Ah, itu ..., hm tidak seharusnya kau memakai dress dengan kerah pendek begitu," cetus Sultan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? tidak ada yang salah dengan dress yang aku pakai hari ini." 


Hanum memeriksa kain yang melekat ditubuhnya itu dengan seksama, dan dia memang tidak menemukan lubang atupun cacat pada kain berwarna kuning motif polkadot tersebut.


"Bukan itu, tapi ini!" seolah mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran istrinya, Sultan sedikit menyibakkan kerah leher istrinya.


Awalnya Hanum tak begitu mengerti dengan apa yang dilakukan oleh suaminya namun detik berikutnya dia dibuat terkejut ketika melihat tanda merah keunguan yang tercetak di sekitar tulang selangkanya.


"Astaga," gumam Hanum lirih disusul sebuah pijatan kecil di pelipisnya.


Pantas saja suaminya itu mengusir Indah untuk pergi dari sana secara halus, dan ternyata itu semua diawali dari kakek Burhan yang telah berhasil mendapatkan bukti jika semalam memang telah terjadi sesuatu di antara kedua cucunya itu.


"Kau tidak perlu malu begitu jika sedang didepanku," goda Sultan.


Menggoda Hanum dan membuatnya tersipu malu begitu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Sultan.


"Ini semua salahmu, sudah aku katakan untuk tidak membuatnya di tempat yang terjangkau oleh penglihatan kakekmu," ucap Hanum sebal sambil menggosok bagian bertanda merah tersebut.


"Kenapa menyalahkan aku? memang siapa yang bisa mengontrol tindakan seseorang jika sedang dalam puncak ga ...,"


"Ssttt ...!" geram, Hanum memotong perkataan suaminya dengan membekap mulutnya. "Sudah jangan diteruskan, bahaya kalau nanti di dengar sama Alea," ucapnya dengan nada memperingatkan.


"Ya baiklah."


Sultan kembali pada posisinya semula, fokusnya teralihkan pada wajah menggemaskan Alea yang saat ini tengah berusaha untuk membalikkan badannya agar bisa menatap wajah dirinya.


Melihat Alea yang tengah kesusahan membuat Sultan tergerak untuk kemudian memutar tubuh bayi mungil itu.


"Mulai sekarang, kau bisa memanggilku dengan sebutan ayah. Kau akan mendapatkan empat ayah sekaligus, akan aku pastikan kau tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun," tuturnya sambil mengelus kepala Alea. 


"Semangat, agar Reno bisa berisitirahat dengan tenang, tunaikan kewajibanmu! Laksanakan apa yang telah menjadi wasiatnya." Hanum mendekat kemudian mendekap tubuh Sultan dan Alea berbarengan.


"Hm. Oh ya, hampir lupa. Pergilah! Ganti pakaianmu karena kita akan pergi ke suatu tempat," titahnya pada Hanum.


"Memangnya kita mau pergi kemana?" tanya Hanum penasaran.


"Nanti juga kau akan tahu sendiri," timpal Sultan.


"Ish, kalau aku tidak tahu kemana kita akan pergi, mana bisa aku memilih baju  yang hendak aku pakai? Bagaimana jika nanti salah kostum? Bisa-bisa kamu malu nanti karena telah mengajakku."


"Bicara apa kamu ini? Apapun yang kau pakai akan selalu terlihat indah dimataku apalagi jika kau tidak memakai penutup tubuh sama sekali."


"Kyaaa ...!" Hanum berteriak kemudian tak lama setelahnya, Sultan meringis. Merasakan sensasi panas karena Hanum mencubit lengannya.


Tubuh Alea sampai terlonjak begitu bayi mungil itu mendengar suara dengan nada tinggi yang dikeluarkan oleh Hanum untuk pertama kalinya.


"Ya ampun Sayang, maafkan Tante ya." membelai kepala Alea dan menciumi wajahnya beberapa kali.


"Jangan terlalu panik begitu, dia hanya terkejut mendengar teriakanmu tadi."


"Ini semua gara-gara kamu Mas!" kata Hanum setengah berbisik.


"Ya baiklah, salah lagi kan? Suami memang selalu salah dan istri selalu benar." Sultan mencebik. "Ya sudah sana, lekas ganti bajumu. Alea biar aku menyuruh Mbak Indah untuk mempersiapkan segala keperluannya."


"Hm." Hanum hanya berdehem.


"Sayang," panggil Sultan menghentikan istrinya yang baru berjalan beberapa langkah dari sana.


"Ada apa lagi?" dengan rasa malas Hanum memutar tubuhnya.


"Setidaknya pakailah baju dengan bagian leher yang tertutup ya." lagi-lagi Sultan meledek istrinya.


"Dasar!" geram Hanum.


Sultan tertawa begitu melihat Hanum kembali bereaksi ketika ia berhasil menggodanya.

__ADS_1


Gadis itu beberapa kali menghentakkan kakinya di tanah sambil meremas bajunya hingga kusut.


.


__ADS_2