Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terimakasih


__ADS_3

"Hanum ... Num, Hanum tunggu ..." Ajeng tersengal, dia berlari mengejar Sultan yang tengah menggendong tubuh Hanum.


Ternyata setelah selesai mengganti popok bening di toilet, Ajeng dan juga pengasuh bayinya mencari-cari Hanum. Ajeng tidak menemukan keberadaan temannya di tempat terakhir kali mereka berpisah. Ajeng yang sangat cemas akhirnya memutuskan untuk mengecek ke seluruh tempat di dalam toko tersebut. Dia dan Sari terus berputar-putar menelusuri setiap ruangan untuk mencari gadis itu sampai Ajeng melihat kerumunan orang yang sedang berkumpul untuk menyaksikan keributan yang terjadi di sana. Ajeng pun terkejut begitu melihat Sultan keluar diantara kerumunan banyak orang.


Sultan membalikkan badannya, kemudian menatap wajah orang yang terus memanggil nama istrinya.


"Hanum? ada apa denganmu? apa yang terjadi?" tanya Ajeng, dia cemas melihat wajah pucat temannya yang masih basah dengan butiran air yang melesat dari sudut mata gadis itu.


"Telah terjadi sedikit masalah tadi, tapi semuanya sudah berlalu, Hanum baik-baik saja jadi kamu tidak perlu cemas." Sultan sedikit mengulas senyum di bibirnya.


"Maafkan aku, ini semua salahku. Seandainya saja aku tidak ke toilet dan meninggalkan Hanum sendirian, ini semua tidak akan terjadi. Aku menyesal, aku sungguh minta maaf." Ajeng semakin trenyuh saat melihat raut wajah Hanum yang terlihat begitu ketakutan. Rasa penyesalan menyeruak begitu saja dan memenuhi hatinya, terasa begitu menyesakkan dada.


"Sudah kubilang untuk jangan menyalahkan dirimu, ini semua telah terjadi dan aku tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. Segera pulanglah, lain kali Hanum pasti akan menceritakan kejadian ini padamu. Hati-hati ya."


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf."


"Titip salam buat Adam ya."


Ajeng mengangguk, air matanya menetes melihat kepergian temannya. Dia merasa begitu menyesal, secara tidak langsung kejadian buruk yang menimpa Hanum adalah akibat kelalaiannya. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri, sampai Sari mendekat karena Bening terus menangis, mungkin bayi itu dapat merasakan perasaan yang sama seperti yang sedang dirasakan oleh ibu kandungnya. Kalau saja Bening tidak menangis, mungkin saja Ajeng masih larut dalam tangisnya tapi sekarang ada hal yang lebih penting yaitu menenangkan anaknya.


.


"Kita mampir ke rumah sakit ya? aku takut kejadian tadi membuatmu terguncang." Sultan mengusap puncak kepala istrinya, "Kau kelihatan ketakutan, biar dokter memeriksa kondisimu nanti."


"Tidak usah," jawab Hanum singkat, dia menyadarkan kepalanya yang terasa berdenyut di bahu kursi.


"Tapi kamu perlu di periksa untuk mengetahui kondisimu. Aku takut kesehatanmu terganggu karena kejadian tadi." Sultan terus membujuk istrinya.


"Aku tidak apa-apa, sungguh ... aku hanya sedikit pusing."


"Tuh kan? kalau begitu ikutlah ke rumah sakit. Aku takut kamu kenapa-napa."


"Tidak mau."


Ish ... kenapa dia banyak berubah semenjak hamil, jadi sering berteriak, keras kepala, dan tingkahnya yang terkadang mendadak berubah menjadi sangat menakutkan bagiku.


"Mas ..."


Panggilan Hanum membuyarkan lamunan Sultan, pria itu menoleh kemudian memberikan senyum terbaiknya pada sang istri.


"Ada apa?" tanyanya.


"Bagaimana bisa kamu tiba-tiba datang kesana?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Seharian ini perasaanku tidak enak, aku tidak bisa fokus bekerja dan malah terus memikirkanmu. Dan ternyata feelingku benar kan?"


"Lantas darimana kamu tahu kalau saat itu aku sedang berada di toko perlengkapan bayi, tadi?"


"Kamu tidak membalas satu pun pesan dariku dan itu membuatku semakin khawatir, itu sebabnya aku memutuskan untuk pulang dari kantor dan menyusulmu di rumah Adam."

__ADS_1


"Lalu?" Hanum masih penasaran dengan kronologi kejadiannya, bagaimana Sultan bisa sampai di toko perlengkapan bayi yang tadi dia singgahi.


"Aku langsung menyusul kamu ke sini setelah pembantu di rumah Adam bilang kalau kamu dan Ajeng sedang pergi berbelanja." Sultan mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Aku pikir kalian pasti akan kesini karena hanya ini pusat perbelanjaan yang paling dekat dengan rumah temanmu. Dan ..."


"Dan apa Mas?"


"Kamu pasti akan mengataiku tukang gombal kalau tahu bagaimana caranya aku bisa mengetahui posisi keberadaanmu." Sultan mencebik.


"Memangnya bagaimana? coba ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa ada di sana?"


"Ada perasaan dalam hatiku yang seolah menuntunku untuk masuk ke dalam toko tadi. Aku juga tidak habis pikir, otakku masih belum bisa menerimanya tapi entah kenapa aku tergerak untuk secepatnya masuk ke dalam toko itu. Dan sejauh yang aku tahu, hatiku tak pernah salah jadi aku mempercayainya. Aku selalu mengikuti kata hatiku, dan benar saja, aku melihatmu sedang di aniaya perempuan jahat itu tadi."


"Terimakasih," cicit Hanum, matanya masih sembab meskipun sudah tidak ada air mata yang mengalir dari sana.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, terimakasih." Sultan meraih tengkuk Hanum kemudian mengecup keningnya sekilas.


"Untuk apa?" tanya Hanum yang dibuat heran dengan ucapan terimakasih dari suaminya.


"Terimakasih karena sudah berjuang untuk terus bersamaku, terimakasih sudah mau menemani pria dengan banyak kekurangan sepertiku. Terimakasih atas segala sikap sabarmu menghadapiku selama ini." ucapan Sultan begitu tulus, keluar begitu saja dari mulutnya.


"Tidak perlu berterimakasih begitu, aku kan istrimu jadi sudah sewajarnya kalau aku berbuat demikian."


"Apa yang membuatmu bertahan untuk terus hidup bersamaku, selama ini?"


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Kau hanya perlu menjawabnya saja."


Mendengar perkataan istrinya membuat perasaan Sultan menjadi berbunga-bunga, dia sangat bahagia hingga bibirnya terus membentuk lengkungan ke atas untuk waktu yang lama.


"Hm, bagaimana tadi?" tanya Sultan pada istrinya.


"Apanya?"


"Pertunjukan di toko tadi, aku sudah terlihat maksimal belum?"


"Keren." Hanum mengacungkan dua jempolnya pada pria yang tengah mengemudi di sampingnya.


"Sungguh?"


"Hm, aku seperti bukan melihat Mas Sultan tadi. Biasanya kamu itu lemah lembut, tidak pernah berbicara dengan nada setinggi itu, aku juga belum pernah melihatmu terbakar emosi seperti tadi."


"Itu wajar, memang suami mana yang tidak akan marah jika mengetahui istrinya di sakiti oleh orang lain?"


"Aku terharu, bolehkah aku menangis karena saat ini aku sungguh sangat tersentuh?" Hanum melancarkan aksi gombalnya pada suaminya.


"Tidak, aku tidak punya tisu dan kemejaku juga sudah basah terkena air matamu jadi aku tidak punya sesuatu untuk menyeka air matamu kalau sampai kau menangis lagi."


"Kau kan punya ini." meraih tangan Sultan dan mengecupnya mesra. "Kau akan menyeka air mataku dengan tanganmu ini. Terimakasih untuk yang tadi, aku sangat tersanjung, kamu sampai sebegitunya melindungiku."

__ADS_1


"Ini semua berkat dirimu, aku tidak akan seberani tadi jika bukan karenamu."


Mata Hanum kembali berkaca-kaca.


"Berhentilah menangis, mulai sekarang, aku ... Sultan Chandra Pradipta, suami dari Hanum Salsabiela Himawan, aku melarangmu untuk menangis. Aku tidak mengizinkanmu mengeluarkan air mata kecuali untuk menangisi kebahagiaan yang akan aku berikan padamu. Dan kalau sampai ada orang yang berani menyakitimu dan membuatmu meneteskan satu butir air mata saja, aku akan membuat orang itu membayar mahal dan mengganti setiap tetes air mata yang keluar dari matamu."


Sultan menepikan mobilnya, dia melepas sabuk pengamannya dan memeluk istrinya.


"Aku akan memberlakukan peraturan ini mulai detik ini juga, kalau kau masih menangis maka aku akan memberikan hukuman padamu."


"Curang, yang seharusnya di hukum kan kamu, bukan aku."


"Tapi kan aku sudah mengeluarkan titahku sebagai seorang raja, dan tugasmu adalah menuruti semua perintah suamimu. Kamu lupa kalau suami adalah raja?"


"Kalau suami adalah raja, maka raja juga jangan lupa kalau istri itu ratu. Raja juga tahu kan kalau raja memegang kekuasaan penuh di jagad raya, tapi kalau di istana, siapa yang paling berkuasa? jawabannya tentu saja ratu. Raja boleh menyombongkan kekuasaannya di luaran tapi kalau sudah memasuki wilayah istana, jangan berani-beraninya mau melawan kekuasaan ratu. Itu berarti kamu harus menurut padaku kalau sedang dirumah."


"Kenapa kita malah main raja dan ratu? dan kenapa malah aku terperangkap oleh kata-kataku sendiri? dasar gadis nakal, aku akan menghukummu nanti." Sultan menyeringai.


"Bagaimana kamu akan menghukumku? bukankah aku sedang hamil jadi kamu tidak bisa berbuat macam-macam padaku."


"Siapa yang mau macam-macam? aku cuma mau satu macam saja denganmu."


"Apa?" tanya Hanum polos.


"Dua ronde untuk nanti malam aku rasa cukup untuk menghukummu."


"Mana ada hukuman seperti itu?itu sih akal-akalan kamu saja Mas. Memangnya kamu lupa, kamu harus berpuasa?"


"Tidak mau. Enak saja menyuruhku puasa, memang apa enaknya puasa? No!" Sultan menggerakkan jari telunjuknya sebagai bentuk protesnya.


"Lakukan saja kalau berani?"


"Kau menantangku? kau pikir aku tidak sanggup melakukannya? aku bahkan masih bisa melakukan itu tiga sampai lima ronde dalam semalam, kau mau bukti?"


"Percaya, hanya saja bagaimana kalau kakek mengetahuinya?" Hanum mengerling nakal.


"Dasar gadis nakal." Sultan mencubit pipi istrinya.


"Apa kita akan terus disini?"


"Tentu saja tidak, baiklah kita akan segera pulang." Sultan kembali memasang sabuk pengamannya dan mengemudikan mobilnya.


"Lapar ..." Hanum memegangi perutnya.


"Kasihan sekali istriku sampai kelaparan, mau makan apa? kita bisa mampir ke restoran, aku juga butuh untuk mengisi tenaga setelah mengeluarkan hampir seluruh tenagaku karena pertikaian sengit tadi."


"Terimakasih." lagi-lagi kalimat itu meluncur dari bibir tipis Hanum.


"Mau berapa banyak lagi kau mengatakannya padaku? kau sudah sering mengucapkan kata-kata itu sejak tadi. Aku sampai bosan mendengarnya, berhenti mengucapkan terimakasih padaku atau aku akan berubah pikiran. Aku tidak bertanggung jawab kalau sampai aku menurunkanmu di hotel dan bukannya di restoran." Sultan terkekeh.

__ADS_1


.


Di bab ini kalian ngerasa ini agak lebay gak sih guys? aku kok ya agak malu nulisnya 🤭 tapi mungkin begitulah orang kalau lagi kena demam bucin. Kayak Sultan sama istrinya 🥰🥰🥰 Biar tahu rasa tuh si Sultan 🤣🤣🤣


__ADS_2