
Saat pagi datang, semua orang di kediaman Sultan sibuk bersiap untuk menyambut kepulangan Cinta dan bayinya. Para orang tua dan pelayan menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut keluarga kecil William, sementara Willmar dan istrinya menjemput kakaknya di rumah sakit.
"Nanti nggak usah mampir-mampir ya, langsung pulang aja Dek," kata Hanum pada putra bungsunya.
"Iya Ma."
"Kamu juga jangan kecapekan Rai, kamu jg mau urus baby boy kan?"
"Iya Mama, aku nggak capek kok."
"Ya udah sana berangkat, takut kakakmu nungguin."
"Kami pergi dulu ya Ma," pamit Willmar.
"Ya Sayang."
Hanum kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Willmar melajukan kereta besinya menuju rumah sakit.
Sesekali pria itu melirik ke samping, melihat Raisa duduk dengan gelisah merupakan kesenangan tersendiri bagi Willmar. Bukan karena Raisa mengkhawatirkan Jayden, atau hal lain, bukan. Melainkan gelisah karena tak nyaman. Raisa masih dapat merasakan sensasi panas pada pusat inti tubuhnya akibat perbuatan Willmar semalam. Pria itu tak ubahnya singa kelaparan yang terus menerkam Raisa hingga habis tak tersisa. Tak Willmar biarkan istrinya menganggur barang sejenak. Keduanya merasakan ritual itu menjadi lebih menggebu-gebu ketimbang sebelum-sebelumnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" tanya Raisa, tak suka.
"Kamu cantik," bisik Willmar.
"Yakin? kamu nggak puji aku karena habis melakukan kesalahan kan?"
"Ya ampun Sayang, orang aku jujur juga malah dituduh yang enggak-enggak. Kamu tuh."
"Ya lagian kamu aneh. Melirik sebentar ke arahku, terus senyum, wajar dong kalau aku curiga."
"Aku cinta kamu."
Raisa menghentikan sejenak ocehannya, menatap tajam suaminya. "Apa?"
"Nanti malam lagi ya? baby boy biarin tidur sama mamanya, lagian kan Kak Cinta pasti masih ingin tidur bersama bayinya setelah dia bangun dari tidur panjangnya," jelas Willmar.
"Enggak."
"Kenapa enggak?"
"Badanku aja masih pegal semua, mau ditambahin lagi. Ini juga jadi lecet gara-gara kamu," dumel wanita itu.
"Sekarang aja ngomel, lupa kalau semalam terus minta nambah. Ah ... faster Will," ucap Willmar menirukan gaya bicara istrinya semalam.
"Will," desis Raisa. Ia membuang muka ke arah jendela, menyembunyikan raut wajahnya yang sudah semerah tomat ranum.
"Apa? nggak usah teriak-teriak. Simpan aja tenaga kamu buat teriak nanti malam."
"Ih, Willmar."
Pria itu terkekeh. Akhirnya dia bisa melihat tawa Raisa kembali, tawa yang telah lama terkubur bersama kesedihan usai mereka kehilangan bayi yang masih dalam kandungan.
.
.
William merapikan barang-barangnya dan memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal di sana. Pria itu mengerjakan semuanya sendirian, dan tak mengizinkan Cinta ikut ambil bagian. Cinta hanya dia perbolehkan menggendong bayi mereka.
"Udah beres Mas?"
"Udah Sayang. Administrasi udah aku urus, semua barang juga udah aku kemas, tinggal nunggu Uncle Willmar datang, ya kan Sayang?" pria itu mengecup pipi Jayden, gemas.
Cinta membingkai senyum di wajahnya yang ayu tapi masih nampak kuyu. Kondisinya sudah jauh lebih membaik meski ia mengeluh menjadi mudah lelah sekarang.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya William, menyadari tatapan Cinta padanya yang tak biasa.
__ADS_1
"Kamu kelihatan bahagia banget Mas," ujar Cinta.
"Ya jelas lah. Aku memilikimu, dan dengan lahirnya Jayden membuat kebahagiaan kita menjadi lebih berwarna."
William mengusap pipi istrinya, melihat bibir merah jambu yang sedikit terbuka itu membuatnya tak tahan. Ia memajukan wajahnya, menyergap bibir Cinta dengan penuh kelembutan seolah begitu menikmati setiap detik yang berlalu. Keduanya saling berbagi rasa, mencecap manis lidah masing-masing hingga pertukaran benang saliva itu harus terputus ketika Jayden menangis.
"Lihat dia, masih bayi saja sudah cemburuan," kekeh William.
"Ayahnya aja yang nakal, udah tahu anaknya sedang melihat orang tuanya malah sengaja nyium segala."
Semula Jayden memang tertidur, tapi mungkin karena merasa terganggu dengan aktivitas orang tuanya, membuat bayi itu pun akhirnya menangis.
"Lho, kenapa kesayangnku menangis? Kakak apakan dia?" sembur Willmar.m yang baru saja tiba di sana.
Melihat situasi di sana membuat Willmar curiga kalau saudara kembarnya lah yang menjadi tersangkanya.
"Kamu apain dia Kak?" kata Willmar lagi, tak terima Jayden menangis.
"Cemburu dia Dek," jawab William asal.
"Cemburu? kamu nggak usah ngada-ngada deh Kak, masa iya bayi sekecil ini cemburu. Cemburu sama orang tuanya? nggak mungkin."
"Dibilangin nggak percaya kamu." William terkekeh.
"Gimana Kak? udah sehat?" Raisa dan cinta saling menempelkan pipi.
"Udah jauh lebih baik. Oh ya, aku belum sempat berterima kasih padamu," sahut Cinta.
"Untuk apa?"
"Semuanya. Karena kamu udah urus dan jagain Jayden selama ini."
"Nggak usah berlebihan gitu Kak, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku boleh anggap Jayden seperti anak kandungku sendiri."
"Aku tahu kamu adalah ibu yang baik."
"Oke."
Mereka berempat berjalan bersama menuju tempat parkir. Willmar mengemudi dengan saudara kembarnya duduk di samping, sementara para wanita duduk di kursi belakang.
"Hm, omong-omong baby mau disuruh panggil kalian apa Kak?" tanya Raisa, membuka perbincangan.
"Ayah bunda," jawab Cinta.
"Wah, bagus. Terus panggil aku sama Willmar apa?"
"Papa mama aja, biar ada pembedanya. Nanti kalau misalnya kamu dipanggil bunda juga, kita bingung dia manggil siapa kalau pas kita lagi kumpul," saran Cinta.
Raisa yang dibuat terperangah bahkan tak sanggup berkata-kata.
"Kenapa? ada yang salah?" tanya Cinta, menyadari perubahan di raut wajah adik iparnya.
"Enggak Kak. Aku cuma nggak percaya kamu sebaik ini membiarkan aku dan Willmar dipanggil begitu oleh anakmu."
"Seperti yang sering aku bilang padamu, kalian juga orang tua kedua bagi Jayden. Kalian mempunyai hak yang sama untuk menjaga dan merawat Jayden. Kita rawat dia sama-sama," lanjut Cinta.
"Iya Kak, terima kasih." Raisa menyeka sudut matanya.
"Hm, Jayden sama Mama Raisa dulu ya, Bunda capek," kata Cinta, memindahkan bayi itu ke dalam gendongan Raisa.
Yang dilakukan wanita itu tentu saja demi menjaga perasaan Raisa. Faktanya, selelah apapun Cinta, dia merasa sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Jayden. Cinta hanya tak ingin membiarkan Raisa larut dalam perasaannya dengan membiarkan fokusnya tertuju pada bayinya.
Willmar memarkirkan mobilnya di pelataran rumah, sementara William gegas membuka pintu mobil untuk sang istri. Semua orang telah menunggu kepulangan mereka di teras rumah. Senyuman juga sambutan hangat Cinta dapatkan dari keluarga besar suaminya.
"Selamat datang kembali di rumah ini Nak, semoga panjang umur, senantiasa bahagia dan diberkahi." Arya mengecup puncak kepala cucu menantu pertamanya.
__ADS_1
"Terima kasih Opa."
"Semoga dijauhkan dari mara bahaya dan segala bencana." giliran Sultan memeluk Cinta.
"Terima kasih Papa." hanya itu yang sanggup Cinta ucapkan.
"Udah, ngobrolnya nanti lagi di dalam, sebaiknya kita masuk dulu. Cinta kan juga belum boleh terlalu lelah." Hanum menyela.
Semua orang masuk. Mereka duduk bersama di ruang keluarga sambil berbincang. Jayden menjadi pusat perhatian. Bayi gembul itu menjadi rebutan para orang tua. Kehadirannya yang telah lama dinantikan, memberi warna baru di rumah itu. Bahkan saking bahagianya, Arya sampai telah menyusun rencana masa depan untuk bayi yang belum genap berusia satu bulan itu dengan memberikan beberapa aset atas namanya. Semua orang bahagia dengan kehadiran penerus garis keturunan Pradipta.
"Eh, sini! Gantian dong Dek, ayahnya juga mau gendong. Aku dari pagi belum gendong dia lho," kata William, protes saat adik kembarnya kembali mengambil alih bayi itu.
"Nggak bisa, ini giliran Opa, enak aja main rebut-rebut gitu, tunggu giliran." Arya menyahut tak terima.
Willmar berdiri di tengah dua pria beda generasi yang merebutkan Jayden.
"Berikan dia pada Opa, Dek!" titah Arya.
"No! aku ayahnya, aku belum menggendongnya sejak tadi jadi sudah seharusnya dia ikut denganku," jawab William tak mau kalah.
Astaga.
Semua orang yang ada di sana menertawakan kekonyolan antara kakek dan cucunya itu, tak terkecuali Cinta. Dalam hati wanita itu tak henti mengucap syukur karena telah diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah memiliki Jayden.
"Berikan dia pada Opa."
"Tidak boleh! berikan dia padaku!" tegas William.
Raisa yang tak tega Jayden menjadi rebutan pun berinisiatif untuk membawa pergi bayi itu. Sigap dia mengambil alih Jayden dari gendongan suaminya dan membawanya masuk ke kamarnya.
"Tidak ada yang boleh mengganggu Jaydenku, sudah saatnya dia tidur," kata Raisa.
"Sayang."
"Cucu menantu, berikan dia pada Opa."
Raisa terus membawa kakinya melangkah ke kamarnya, tak menghiraukan suami dan kakeknya yang terus berteriak memanggilnya, sementara Hanum, Ratih dan yang lainnya hanya menggeleng pelan.
"Kekanak-kanakan!" sembur Arya pada cucu kembarnya.
"Nggak salah? Opa itu yang kekanak-kanakan," balas Willmar.
"Lihat saja besok jika kalian sudah kembali ke kantor, Opa akan bermain dengan bayi tampan itu sampai puas, seharian penuh."
"Sepertinya Opa bermimpi, biarpun kami ke kantor, bukan berarti Opa bisa bermain dengan si ganteng. Saingan Opa bahkan lebih berat." Willmar melirik ke arah ibu dan nenek neneknya.
Arya mendengus sebal. "Akan aku buat dua perempuan cerewet itu sibuk di dapur seharian," gumamnya sambil meninggalkan ruangan itu dan masuk ke kamarnya.
Drama itu pun berakhir, masing-masing orang kembali ke kamarnya. William menggendong istrinya untuk beristirahat di kamar.
"Mas, kita masih tidur di kamar ini?" semenjak pindah ke sana memang keduanya memutuskan untuk tidur di kamar tamu dengan alasan kehamilan Cinta.
"Iya Sayang, Willmar juga pindah ke kemar di samping kita agar bisa leluasa melihat Jayden katanya."
Ada satu kamar lagi yang memang telah disulap menjadi kamar khusus bayi itu dan letaknya tepat di tengah antara kamar William dan Willmar.
"Hm, suasana rumah ini menjadi sangat ramai dan ceria."
"Berkat dirimu," balas William. "Sekarang tidur ya, kita harus menyiapkan tenaga untuk nanti malam."
"Mas, masih belum boleh, aku belum selesai melewati masa nifasku," balas Cinta.
"Tenaga untuk begadang menjaga Jayden, memang apa yang kamu pikirkan?"
Cinta luar biasa malu. Wanita itu terkikik geli dengan wajah memerah. Rasanya seperti tertangkap basah seakan dia yang sedang menginginkan ritual suci di ranjang, dan itu sangat memalukan.
__ADS_1
"Sepertinya aku yang harus waspada karena bisa saja kamu yang akan memperkossaku setelah masa nifasmu selesai," goda William. Pria itu sukses membuat Cinta kembali dilanda rasa malu yang sangat menggelikan.
Bersambung ....