Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Menyiksa Diri


__ADS_3

Jayden berlari ke arah ayahnya begitu melihat kedatangan William di ruang tengah. Seluruh keluarga sedang berkumpul di sana, minus William yang memang baru pulang karena harus lembur di kantor tadi. Bocah laki-laki kecil yang beberapa bulan lalu baru latihan berdiri itu kini telah bisa berjalan dengan baik, bahkan bisa berlari meski masih sangat lamban dan terkadang jatuh.


"Hap! Jayden kena, Ayah berhasil nangkap Jayden," ujar William, memeluk bocah itu dan menggendongnya.


"Mandi dulu Mas." Cinta menyela, agak kesal karena suaminya melupakan kebiasaan yang mengharuskan pria itu membersihkan diri dulu sebelum mendekat dan menyentuh Jayden.


"Sebentar doang," balas William. Memangku Jayden dan ikut bergabung keluarga. "Baju ganteng, baru lagi?"


Jayden mengangguk, mengoceh dengan suaranya yang khas, memberitahukan pada William jika kaos bergambar Iron Man yang dipakainya itu pemberian Raisa.


"Mama Rai beliin Jayden baju lagi?"


"Bukan cuma Mama Rai aja yang beliin dede baju, kakek buyut juga barusan beli emas batangan dan dikasihkan buat Jayden." Hanum mengadu. Di antara semua orang yang ada di sana, hanya Cinta dan Hanum lah yang seringkali protes setiap kali ada yang memanjakan Jayden sedemikian rupa.


"Cuma lima keping emas, dan bukannya pesawat," jawab Arya.


"Besok-besok bisa jadi Papi belikan anak itu pesawat," omel Hanum.


"Nanti jika dia sudah besar. Masa orang tuanya aku beri perusahaan, tapi cicit kesayanganku tidak diberi apa-apa."


"Jayden baru lima belas bulan, Papi ..." ibu si kembar itu mendesis.


"Apa salahnya?" pria berambut putih itu membetulkan letak kacamatanya dan meraih cangkir di meja, meminum isinya dengan pelan nan anggun sebelum kembali berucap.


"Calon bayi kembar Raisa juga mau sekalian Papi belikan tadi seandainya kamu tidak melarangnya," lanjut Arya.


"Pamali Papi," balas Hanum. Antara menantu dan mertua itu terus beradu mulut.


"Kata siapa," jawab Arya dengan entengnya.


"Huh, dulu Papi selalu memikirkan hal seperti itu. Harus menuruti aturan dan adat budaya kita sebagai orang Jawa, sekarang dengan mudahnya Papi mengatakan itu." Hanum menggelengkan kepalanya, heran.


"Zaman sudah berbeda Nak."


"Kenapa baru sekarang Papi mengatakan hal itu?"


"Sudah ... sudah ... kamu ngalah aja Num, sudah. Kamu kayak nggak tahu papimu saja," sela Ratih.


"Pokoknya Hanum nggak suka Papi manjakan cucu-cucuku, mereka itu masih terlalu kecil Papi ... mereka harus diberi arahan dan didikan yang baik."


"Lalu apa Papi harus memberikan didikan militer pada cicit Papi? Papi rasa Papi sudah terlalu tua untuk itu Nak," dalih pria itu lagi, membuat Hanum tak henti menghela napas.


Ada ungkapan bahwa orang tua akan lebih menyayangi cucu atau cicitnya, dan mungkin ungkapan itu memang benar adanya, Hanum sendiri sudah membuktikannya.


.


.


Willmar membantu istrinya berbaring di kasur. Perut wanita itu yang sudah mulai membesar membuat gerakan Raisa menjadi lebih terbatas, terlebih posisinya yang tengah mengandung dua bayi sekaligus, menjadikan perut Raisa lebih besar jika dibandingkan ibu hamil pada umumnya.


"Kamu mau apa? Nanti Mas ambilkan," tawar Willmar.


"Aku mau tidur aja, udah ngantuk Mas."


Willmar hampir saja meledakkan tawanya, tapi urung dilakukan karena tak ingin membuat perkara dengan wanita yang kini berubah menjadi pemarah. Semenjak hamil, Raisa memang berubah menjadi tukang tidur. Tak peduli waktu, kapan wanita itu ingin tidur, maka saat itu juga dia akan tidur. Seperti saat ini misalnya, jarum jam baru bertengger di angka sembilan pagi dan Raisa sudah mengeluh mengantuk.


"Oke." Willmar memutuskan untuk menuju sofa dan mengecek pekerjaannya yang sejak kemarin terbengkalai, tapi kemudian cekalan tangan wanita itu di lengannya membuat Willmar urung pergi dari sana. "Ada apa?" tanyanya lembut seraya mengusap kepala Raisa.


"Mas di sini aja, temani aku tidur," rengek wanita itu.


"Tapi kan Mas nggak ngantuk."


"Ya nggak apa-apa, asal di sini aja temani aku," kata Raisa lagi.


Pasrah, Willmar pun membaringkan tubuhnya. Ia sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa memeluk Raisa, kemudian satu tangannya terus membelai perut buncit wanita yang amat dia cintai itu.


"Kamu sayang nggak sama anak-anak kita nanti, Mas?" Raisa membenarkan posisi kepalanya, makin merapat ke dada suaminya.


"Pertanyaan kamu itu ngaco, ya udah jelas aku sayang lah, Rai. Jayden aja aku sayangi, apalagi anak-anak kita, darah dagingku sendiri."


"Tapi aku takut Mas," cicit Raisa dalam dekapan suaminya.


"Memang apa yang kamu takutkan, heum?"


"Aku takut nggak bisa adil sama anak-anak kita nantinya Mas."


"Bisa. Kita pasti bisa adil. Kita bisa belajar sama mama dan papa nanti. Mereka lebih berpengalaman dalam hal ini, mereka sangat adil padaku dan Kak Willi, Rai. Kita bisa belajar untuk menjadi orang tua yang baik nanti," kata Willmar.


"Ya, aku berharap seperti itu meski sejujurnya aku sangat takut nggak bisa berlaku adil pada mereka nantinya."


"Udah, nggak usah ngomongin hal seperti itu. Mending sekarang kamu istirahat, tadi katanya ngantuk."

__ADS_1


"Tapi aku masih ingin cerita, Mas," tolak Raisa.


"Cerita apa lagi? ya sudah sini, ceritakan sama aku."


"Hm, kamu udah siapin nama buat anak-anak kita belum, Mas?"


"Udah dong," jawab Willmar.


"Siapa?"


"Rahasia." Willmar tersenyum penuh arti.


"Ih, kasih tahu dong Mas. Please ..."


"Nggak sekarang, soalnya masih bisa berubah Yang, masih aku otak atik." tangan pria itu masih bergerak mengusap perut istrinya.


"Ya makanya kasih tahu dong," rengek Raisa.


"Nggak mau," kata Willmar, kekeuh dengan pendiriannya.


"Ayolah Mas, kasih tahu."


"Ya udah, tapi ada bayarannya lho, dan itu nggak murah."


"Nggak masalah, palingan kamu mau minta jatah karena udah hampir dua Minggu kita nggak melakukannya," seloroh Raisa.


"Lho, kok kamu tahu sih Yang?" Willmar tersenyum canggung.


"Tahu lah. Sekarang kita udah nggak perlu cemas lagi kalau mau melakukannya karena bayi kita udah aman."


"Ya, tapi meski begitu tetap saja aku harus hati-hati saat melakukannya agar tidak melukai anak kembar kita."


Usia kandungan Raisa telah berjalan delapan bulan, seharusnya sisa beberapa Minggu lagi maka bayi-bayi dalam kandungannya akan lahir, tapi berhubung melihat kondisi Raisa dan demi keselamatan bersama. Rania memutuskan agar Raisa melakukan operasi sesar sebagai satu-satunya pilihan yang tepat untuk wanita itu melahirkan kedua bayinya. Raisa sudah memutuskan tanggal operasi untuk Raisa dan kini wanita itu dalam proses menyiapkan mental dan fisik sebelum menjalani operasinya.


"Mas, tiba-tiba aku kepikiran kita belum beli persiapan apa-apa buat si kecil," kata Raisa, tiba-tiba.


"Kamu nggak usah panik gitu kali, masih ada sisa waktu tiga mingguan lagi sebelum jadwal operasi kamu, Sayang."


"Ya tapi kan tetap aja. Masa anak pertama nggak siap apa-apa Mas."


"Jadi gimana mau kamu?"


"Gimana kalau kita beli perlengkapan bayinya?" mata Raisa berbinar terang.


"Aku siap-siap dulu," cetus Raisa, sedikit kesulitan bangun dari kasur.


"Hah!" Willmar terperanjat bukan main. Pria itu keget melihat reaksi istrinya. Willmar mengira Raisa akan mengajaknya pergi berbelanja keperluan bayi mereka lain waktu dan bukannya sekarang. "Sayang, kamu serius ini? kita berangkat sekarang?"


"Ya Mas, emang kapan lagi? aku nggak suka mengundur sesuatu," jawab Raisa, cepat. Wanita itu bahkan sudah berdiri di depan lemari dan sibuk memilih pakaian yang hendak dia kenakan.


"Yang, katanya ngantuk." Willmar menuruni kasur dengan wajah tertekuk sempurna.


"Sudah nggak ngantuk, Mas. Mumpung aku masih belum lahiran, aku mau puas-puasin jalan-jalan di mall, keliling-keliling, cari makan. Pokoknya aku mau senang-senang hari ini," ucap wanita itu bersemangat.


Willmar masih berdiri membeku di tempatnya, memindai penampilan Raisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Luar biasa bersemangat sekali wanita itu, padahal dengan perut sebesar itu untuk berjalan saja sudah cukup membuat Raisa kewalahan. Willmar menggeleng pelan, menghalau pikiran buruk yang kini mulai bergelayut manja di benaknya.


"Mas, ayo! kamu siap-siap juga dong, masa iya mau aku yang bantuin kamu ganti baju, iya?"


Suara Raisa yang begitu melengking mampu mengembalikan kesadaran suaminya yang sempat melamun untuk beberapa waktu.


"Mas," teriak Raisa lagi.


"Iy ... iya, oke. Ini, aku ganti baju sekarang ya." Willmar berjalan lesu mengganti pakaiannya.


Begitu selesai bersiap-siap, Raisa dengan bersemangat menggandeng lengan suaminya dan keluar dari kamar.


'Semoga ada keajaiban dunia ya Tuhan, lihat dia jalan kayak gini aja aku ngeri banget dan dia bilang mau keliling mall, katanya.'


Berbeda dengan raut wajah Raisa yang terus cerah berseri, sebaliknya, wajah Willmar nampak masam.


"Hei, mau ke mana cucuku yang cantik?"


Mata Willmar berbinar saat melihat kakek kesayangannya tengah duduk di ruang tengah. Biasanya pria tua itu akan membawa kebaikan untuknya, dan semoga saja kali ini juga demikian.


"Opa, aku sama Mas Willmar mau jalan-jalan ke mall, mau cari perlengkapan bayi," jawab Raisa, sumringah.


"Oh ya? apa Opa nggak salah dengar?" Arya melipat koran di tangannya dan menaruhnya kembali di meja. "Kamu mau jalan-jalan?"


"Iya." Raisa mengangguk cepat.


"Enggak salah?" tanya pria berambut putih itu lagi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Opa?"


"Kamu mau jalan-jalan ke mall?" sekali lagi Arya menanyai cucu menantunya.


"Iya, Opa."


"Yakin kamu?" pria tua itu menguji Raisa.


"Maksud Opa?"


"Di mall itu banyak orang, panas, gerah, nanti di sana kamu desak-desakan lho sama pengunjung lain."


Raisa diam mencerna ucapan kakek dari suaminya, sementara Willmar mulai senyum-senyum sendiri karena paham dengan apa yang sedang dilakukan Arya saat ini.


"Dengan kondisi kamu yang sedang hamil sebesar ini, Opa sih yakin kamu masih kuat jalan-jalan, tapi apa kamu yakin kamu kuat kalau pas ada pengunjung yang nggak sengaja nyenggol kamu? bagaimana kalau kamu jatuh?" Arya terus melancarkan aksinya menggagalkan rencana cucu menantunya untuk berjalan-jalan di mall.


Willmar menuntun istrinya, dan tanpa sadar wanita itu menurut dengan duduk di sofa.


"Kamu udah lama banget lho menunggu kehadiran seorang anak kan? Tuhan masih sayang sama kamu, sekali dikasih langsung dua, tapi coba bayangkan kalau seandainya kamu nekat tetap pergi, terus amit-amitnya kamu jatuh kesenggol pengunjung lain terus jatuh. Badanmu itu udah nggak selangsing dulu lagi lho, kamu mengandung bayi kembar. Coba kamu pikir seberapa besar perutmu?"


Sementara sang kakek tengah asyik melancarkan aksinya, Willmar terus menyemangati pria tua itu dalam hatinya. Sebaris doa dia ucapkan tanpa suara, berharap istrinya mengurungkan niatnya pergi ke mall.


Raisa mulai terpengaruh. Wanita itu duduk gelisah seraya memegangi perutnya, dan Willmar benar-benar menikmati pertunjukan ini.


"Coba lihat ini," kata Arya. Pria itu bangkit dan memasukkan dua bantal sofa sekaligus di balik kaos yang ia pakai. "Opa ibaratkan ini kamu ya."


"Apa perutku sebesar itu, Opa?" tanya Raisa tak percaya. Wanita itu menatap perutnya dan perut Arya bergantian.


"Sungguh, Opa tidak bohong. Opa rasa kamu sering bercermin kan?"


"Mas," rengek Raisa menatap suaminya.


"Itu sebabnya aku mencemaskanmu jika sampai kita jadi pergi," tukas Willmar.


"Opa, masa perutku sebesar itu?" wanita itu kembali menatap kakeknya.


"Iya, bayi yang kamu kandung pasti sangat sehat dan lincah, Opa yakin itu, makanya perutmu sampai sebesar ini," ulang Arya. Pria tua itu terus memegangi perutnya yang besar karena dua sofa bantal yang dia sembunyikan di balik kaosnya.


"Ya udah nggak jadi, aku nggak mau bayiku kenapa-kenapa. Mereka adalah cucu laki-laki pertama di keluarga besar orang tuaku," putus Raisa sambil mengusap perutnya.


"Ka ... ka ... kek ..." ucap Jayden terbata. Bocah itu berlari menghampiri kakek buyutnya. Di usianya yang sekarang, Jayden memang baru bisa mengucapkan beberapa patah kata dengan jelas, sisanya masih banyak yang belum terucap dengan baik.


"Hei kesayangan Kakek buyut. Kemari Sayang." Arya merentangkan tangannya, tapi Jayden lantas menghentikan kakinya melihat perut pria tua itu.


"Hua ... Hua ..." bocah itu menangis ketakutan.


"Oh, Sayang. Kenapa nangis?"


"Opa membuatnya takut," timpal Willmar.


"Hm, baiklah Sayang. Kakek akan buang bantal yang menyeramkan ini, oke? berhenti menangis." Arya buru-buru mengeluarkan bantal sofa dari dalam perutnya dan mengembalikannya ke sofa. "Ayo, sini Sayang, biar Kakek buyut gendong."


Jayden menggeleng dan terus menangis. Tangan mungilnya terus menepis tangan Arya.


"Sama Papa, Sayang. Cup, anak manis nggak boleh nangis Sayang." Willmar berusaha menenangkan bocah itu tapi tangis Jayden makin menjadi-jadi.


"Gendong dan berikan dia padaku Mas." Raisa menyahut.


"Kamu nggak mungkin gendong dia Yang."


"Cukup dudukkan dia di sampingku Mas."


Willmar pun menurut, ia mendudukkan Jayden di samping Raisa, membiarkan Raisa memeluk bocah itu dan mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Sayang, berhenti menangis. Sama Mama Rai, ya?"


"Sayang," panggil Cinta yang baru saja muncul di ruangan itu.


"Bunda, Jayden nangis dan nggak mau diam sama mamanya," kata Willmar.


"Sebenarnya dia udah ngantuk dan memang waktunya tidur, tapi tadi nyari-nyari ayahnya, mau tidur sama ayah katanya. Aku tinggal sebentar ambil susu, dianya kabur dan ternyata lari ke sini," lapor Cinta.


"Ih, Sayang. Cup, cup ... sini. Bobo sama Papa aja ya?" tanya Willmar.


Dengan wajah basahnya, Jayden menatap kembaran sang ayah itu.


"Mau ya, tidur sama Papa?" ulang Willmar hingga detik berikutnya bocah laki-laki itu mengangguk.


Cinta menghembuskan napas lega. Ia biarkan Willmar menggendong Jayden dan membawanya masuk ke kamar bocah itu.


"Sepertinya dia tidak akan mengalami kesulitan jika kau melahirkan nanti, Rai. Lihat, dia sudah sangat luwes menjadi seorang ayah," kata Arya.

__ADS_1


"Iya, Opa." Raisa tersenyum menatap Arya dan Cinta bergantian.


Bersambung ....


__ADS_2