
Setelah mengemudikan mobilnya agak lama, William memarkirkan kendaraan roda empat itu di depan sebuah kedai bakso terkenal.
Cinta tak banyak bicara saat William membimbingnya memasuki bangunan itu hingga kini keduanya saling duduk berhadapan.
"Kamu mau pesen apa Cinta?" Tanya William, lembut.
"Saya nggak lapar," jawab Cinta tanpa menatap pria itu.
"Tapi seenggaknya coba sedikit, perutmu perlu diisi."
"Tapi saya nggak lapar Mas," ulang Cinta.
William menatap manik mata wanita itu. Hatinya seolah tertusuk jarum ketika menyadari Cinta kembali berbicara formal padanya.
"Kita pesan dulu ya, nanti kalau misalnya kamu nggak mau, kita bisa pulang. Kebetulan aku belum makan," lirih William.
Kebisuan kembali melanda. Cinta hanya mengaduk isi mangkuknya, sementara William terus menatap wanita yang sedang mengandung benihnya itu.
"Kenapa Bapak lihatin saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah saya? Saya tidak memakai riasan apapun, tolong berhenti menatap saya seperti itu Pak," ucap Cinta sembari menundukkan kepalanya.
'Akhirnya aku merasakannya Cinta. Ternyata rasanya memang sangat menyakitkan ketika mendengar orang yang kita cintai berbicara formal pada kita. Ini yang kamu rasakan dulu, dan sekarang semuanya berbalik padaku.'
William menghirup napas panjang. "Nggak ada yang salah dengan wajahmu Cinta, masih sama seperti dulu. Hanya bedanya ..."
"Pipiku tembam? Kusam atau ..."
"Tak seceria dulu," cetus William.
Keduanya saling bertatapan, tapi tak bertahan lama karena Cinta dengan cepat membuang muka.
"Maaf, maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu dulu."
"Lupakan! Semua yang telah terjadi tidak akan bisa kembali sekalipun Anda meminta maaf." Cinta menaruh sendoknya. Suasana begitu canggung, membuatnya bingung harus berbuat apa.
"Tapi setidaknya dengan mendapatkan maaf darimu, aku tidak akan hidup dalam penyesalan seperti ini."
"Sudah saya maafkan. Hidup dan terus berjalan sampai Anda menemukan kebahagiaan."
"Jika kebahagiaanku adalah kamu, apa yang harus aku lakukan?"
Cinta tercekat. Tenggorokannya serasa tercekik hingga dia tak dapat berkata-kata.
William mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, sementara matanya tak lepas barang semenitpun dari wajah Cinta. Ada ketakutan tersendiri baginya, takut tak bisa menatap wajah itu lagi.
Hari ini, akan dia puaskan menatap wajah Cinta, wanita yang akhir-akhir ini selalu memenuhi ruang hatinya. Mata, pikiran, semua tertuju pada Cinta.
"Saya berhenti menatapku seperti ini Pak! Makanan Anda berada di hadapan Anda."
"Izinkan aku untuk bisa melihatmu, hanya itu saja," lirih William.
William teringat dulu ketika Cinta meminta bakso rusuk, mungkin saat itu Cinta sedang mengidam, itu sebabnya William mengajak Cinta makan di sana.
__ADS_1
"Kenapa nggak dimakan?"
Cinta menggeleng. "Saya tidak lapar."
"Dulu kamu lahap sekali memakan itu. Aku ingat saat kita makan bakso dan kau menukar dengan mangkukku, mungkin saat itu kau sedang mengidam," kata William.
"Sekarang tidak lagi."
"Lalu apa yang sedang ingin kau makan?"
"Tidak ada," balas Cinta.
"Ayolah, mumpung ada aku. Katakan apa yang ingin kau makan, masa dari sekian banyak makanan yang ada, tidak ada satupun yang menarik minatmu?"
"Saya ingin pulang dan istirahat."
"Baiklah. Biar aku antar!"
William membayar makanan lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Ke mana aku harus mengantarmu?" William melirik wanita di sebelahnya.
"Lurus aja, traffic light kedua dari sini belok kiri."
Hening.
Suasana canggung kembali terasa. Cinta duduk diam menghadap jendela, pun dengan William yang sibuk dengan pemikirannya.
William membukakan pintu mobil untuk Cinta begitu mobilnya terparkir di depan sebuah rumah sederhana.
Cinta mengangguk. "Silakan duduk Pak, saya buatkan teh dulu," kata Cinta.
Belum sempat Cinta melangkahkan kakinya, tangan William sudah menahan pergerakannya.
"Tidak usah! Duduklah, aku ingin bicara."
Dengan sangat terpaksa Cinta mendaratkan bokongnya di di sofa dengan hanya meja sebagai pembatas.
"Izinkan aku kembali," cetus William. "Izinkan aku memperjuangkanmu Cinta."
"Saya sudah bahagia dengan hidup saya sekarang. Saya juga akan mengizinkan Bapak beserta keluarga Bapak menjenguk anak ini sewaktu-waktu, karena saya sadar, saya tidak bisa memisahkan antara ayah dan anak."
"Kau sedang menolakku?"
"Perkataan saya yang mana yang mengatakan saya menolak? Saya sudah pernah berada di posisi itu, saya tahu rasanya, jadi sebisa mungkin saya tidak akan melakukan itu," balas Cinta.
"Izinkan aku menebus semua dosa-dosaku Cinta," ucap William penuh sesal.
"Tidak ada yang berdosa, begitu juga Bapak. Saya hanya terjebak dalam situasi yang serba sulit dan ini sama sekali bukan salah Bapak."
"Apa sudah nggak ada lagi cinta dihatimu buatku Cinta?"
__ADS_1
"Saya sudah pernah mencintai, tapi balasannya hanyalah sakit yang tak berkesudahan. Sekarang saya hanya sedang berusaha menjaga diri saya dari rasa sakit itu."
"Aku janji nggak akan pernah melakukan itu lagi Cinta. Aku mencintaimu, tolong ... Beri aku satu kesempatan lagi. Kumohon," pinta William.
"Jika Anda merasa kasihan pada saya, Anda tidak perlu melakukan itu. Saya baik-baik saja, dan sudah saya katakan pada Anda jika Anda dan keluarga boleh menemui bayi ini sesuka hati kalian."
"Aku ingin kita merawatnya bersama-sama."
"Kita masih bisa merawatnya bersama tanpa hidup bersama," jawab Cinta.
"Sebegitu dalamkah kau membenciku?" William menatap nanar wanita itu.
Cinta menarik napas panjang. "Ya. Saya sangat membenci Anda. Menyadari jika suami saya mencintai perempuan lain mungkin masih bisa saya terima, tapi untuk menerima bahwa lelaki yang sangat saya cintai adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ibu saya, saya tidak bisa menerimanya."
Deg.
Ucapan Cinta bagai ribuan panah yang menghujam jantung William. Embun yang sedari tadi menggenang dan William tahan mati-matian, kini jatuh bak air bah.
"Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau memaafkan saya."
"Apa Anda bisa mengembalikan ibu saya?" Cinta tersenyum satir. "Keadaan tidak akan kembali seperti semula sekalipun Anda meminta maaf ribuan kali. Luka yang Anda torehkan begitu dalam dan membekas hingga saya sendiri tidak tahu apakah saya bisa menyembuhkannya atau tidak. Hidup saya sudah sangat tenang sebelum pertemuan kita terjadi, dan asal Anda tahu, kedatangan Anda hanya menambah luka batin saya."
Cinta terdiam, menatap pria yang masih tergugu. Biarkan saja dia dianggap jahat karena mengatakan hal yang kejam pada William, bukankah apa yang dilakukan lelaki itu padanya jauh lebih kejam?
"Silakan pergi, saya mau istirahat! Dan tolong, jangan pernah datang sebelum anak ini lahir. Saya anggap kita tidak pernah bertemu, dan Anda akan saya hubungi ketika bayi ini sudah lahir."
Cinta beranjak dari duduk, hingga kedua tangan William melingkar di kakinya.
"Maafin saya Cinta. Maaf ..." William tersedu.
"Anda tidak pantas menangisi gadis seperti saya. Ada banyak perempuan yang jauh lebih baik dari saya di luaran sana."
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi Cinta. Kumohon," pinta William. "Apapun akan aku lakukan asal kamu mau memaafkanku."
"Kenapa Anda melakukan ini? Anda malah makin menyulitkan saya," racau Cinta.
"Aku mohon Cinta. Aku mohon ..."
William menurunkan kepalanya. Jangankan mencium kaki wanita itu, apapun akan William lakukan demi mendapatkan satu kesempatan dari Cinta.
"Mas, apa yang kamu lakukan!" Hardik Cinta ketika wajah William sudah sangat dekat di kakinya.
"Aku mau cium kaki kamu, apapun akan aku lakukan asalkan kamu mau memberiku kesempatan. Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, aku nggak bisa Cinta," William meraung.
Cinta memundurkan kakinya, membiarkan William menangis di lantai. Tak berselang lama, Cinta merasa pandangannya menggelap, kepalanya terasa berputar-putar.
"Mas ..."
William terkejut melihat wajah Cinta pucat pasi. Dengan cepat dia menangkap tubuh Cinta.
Cinta jatuh dalam pelukan lelaki itu, sayup-sayup dia mendengar jeritan William memanggil namanya, lalu setelahnya dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1
Bersambung ....
Happy reading Kesayanganku, maaf bgt ya aku telat up, kesibukan RL gak bisa ditunda. sekali lagi mohon maaf buat kalian yang udah nungguin kelanjutan kisah ini. Makasih banyak, love se-provinsi Purbalingga buat kalian, Salam sayang 😘😘😘😘 aku tanpa kalian bukan apa-apa.🙏🤗❤️❤️❤️