Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Budak cinta


__ADS_3

"Kenapa kau kemari?"


Kalimat pertama yang berhasil lolos dari mulut Dion begitu melihat Wina memasuki kamar rawat inapnya. Sejujurnya Dion menyesal telah berucap demikian, tidak seharusnya dia berkata begitu tapi rasa gugup yang melandanya membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


Dion terus mengusap tengkuknya, dilihatnya wanita yang saat ini sedang sibuk membuka bungkusan plastik yang dibawa olehnya. Sama sekali tak ada yang keluar dari wanita berbibir tipis yang terpoles lipstik warna mauve itu. Kenapa rasanya begitu canggung ketika mereka hanya berdua saja di sana, kemana hilangnya Dion yang slengekan seperti tadi.


"Makanlah!"


Dion membuang nafas nafas panjang dari mulutnya begitu mendengar Wina berbicara kemudian menyodorkan semangkuk nasi tim ayam yang masih mengepul, padanya.


"Bagiamana kau tahu kalau aku sedang kelaparan?" Dion menatap lekat wajah wanita yang sejak datang kemari terus saja menunduk.


"Seorang pasien akan merasa lapar jika kondisi kesehatannya mulai membaik, terlebih kau baru saja sadar dari tidur panjangmu. Aku rasa semangkuk nasi tim itu tidak akan cukup untuk membuatmu kenyang."


Tangan Dion mulai terulur untuk menyambut mangkuk yang masih menggantung di udara. Terus menatap nasi itu lama-lama membuatnya makin lapar saja, terlebih ketika dia menghirup aroma sedap yang terus menggelitik hidungnya.


"Kau masih bisa makan sendiri kan? atau perlu aku suapi?" tawar Wina.


"Kau pikir aku anak kecil?" Dion merebut mangkuk tersebut kemudian langsung memasukkan satu sendok penuh nasi tim itu ke dalam mulutnya. "Aaah ...," Dion terus memekik merasakan lidahnya terbakar.


Dion terus membuka mulutnya, membiarkan udara masuk dan berharap bisa mendinginkan seluruh rongga mulutnya yang telah memanas.


"Jika kau memang bukan anak kecil, kenapa kau sampai ceroboh begitu?" Wina kembali merebut mangkuk dalam genggaman Dion. "Sudah tahu panas malah langsung di makan." Wina menggelengkan kepalanya.


Dion menerima segelas air yang disodorkan oleh Wina, untuknya.


"Biar aku suapi saja." Wina mulai meniupi sesendok nasi tim, merasai di bibirnya untuk memastikan suhunya pas untuk kemudian dia berikan pada Dion. " Kenapa tidak mau?" tanyanya saat melihat Dion terus menutup rapat mulutnya sambil menggeleng pelan. "Tadi katanya lapar?" bujuk Wina lagi, masih menyodorkan sendok tersebut tepat di depan mulut Dion.


"Sekarang sudah tidak lapar lagi," cicitnya bak anak kecil.


"Siapa suruh memakan makanan yang masih panas begini hah? sekarang lidahmu terbakar jadi kau tidak mau makan padahal kau lapar, begitu kan? makanya jangan ceroboh! lain kali lebih berhati-hati lagi dalam segala hal. Kau selalu saja ceroboh, tidak pernah berubah sampai sekarang," cerocos Wina.


"Aku sedang sakit dan aku juga pasienmu kenapa malah kau memarahiku di saat seperti ini?"


"Lagipula kau membuatku kesal!"


"Aku?" Dion menunjuk dirinya sendiri.


"Memang siapa lagi yang ada di sini selain kita berdua, yang membuatku kesal tentulah dirimu karena tidak ada orang lain lagi disini. Bagaimana mungkin aku membuat diriku sendiri menjadi kesal, kau ini ada-ada saja."


"Kapan aku membuatmu kesal?"


"Sudahlah! cepatlah makan, mulutmu itu seharusnya bisa kau gunakan dengan baik. Jangan hanya kau gunakan mengomel atau memberikan alibi saja!"


"Sesuatu yang baik? apa misalnya?" Dion membuka mulutnya, tak mau melihat Wina berubah menjadi singa yang menakutkan jika dia tidak menurut pada wanita itu.


"Salah satunya seperti yang sedang kau lakukan saat ini, makan," Wina kembali meniup nasi tim itu, dia terus melakukannya hingga berulang kali.


"Contoh lainnya?"

__ADS_1


"Kau pikir saja sendiri!" Wina mencebik.


"Sesuatu yang baik ya ...," Dion terus bergumam sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya. "Apapun itu?" mendongak dan menatap Wina.


"Apapun itu, selama kau menggunakan mulutmu dengan baik dan tidak akan membuat orang lain merasa dirugikan, itu jauh lebih membuatmu bahagia."


"Seperti ...,"


"Sebaiknya kau berpikir sebelum berucap!" Wina masih setia menyuapi Dion, nasi tim dalam mangkuk tersebut masih sisa setengahnya.


"Bagaimana kalau aku menggunakan ini untuk membungkam mulut bawelmu itu?" Dion memonyongkan bibirnya, mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Wina.


Seketika Wina dapat merasakan pipinya memanas, dia kemudian berpaling, menoleh ke sembarang arah. Tidak tahu akan seperti apa malunya jika Dion sampai melihat raut wajahnya yang tersipu malu saat ini. Dan ya ... tentu saja Dion sudah bisa menduganya meski dia tak bisa melihat wajah Wina secara langsung karena gadis itu terus saja menyembunyikan wajahnya.


.


Siang itu, cuaca sangat terik. Matahari dengan sinarnya yang menyengat telah gagah mencapai puncak singgasananya.


"Kalian sudah dengar putusan sidang perdana terkait kasus penculikan yang dilakukan oleh Mau ...," Adam menepuk dahinya. "Sidang perdana wanita siluman itu di gelar kemarin, katanya tidak ada kerabat atau orang yang datang ke pengadilan sekedar untuk menjenguk atau mendampinginya."


"Cih! memang siapa juga yang akan sudi melihat wanita itu?" seru Raka.


"Iya, terlebih setelah kita memastikan kalau dia tidak akan mendapatkan satu pun pengacara yang akan mau untuk membela kasusnya," kata Adam lagi.


"Kira-kira berapa lama masa tahanan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum untuknya?"


"Kenapa hanya dua belas tahun saja? itu terlalu singkat untuknya. Tidak sebanding dengan semua perbuatan jahatnya selama ini."


"Kan tadi sudah kubilang itu batas waktu minimal, lagipula dia kan terkena pasal berlapis juga. Selain penculikan, dia juga menyekap dan merencanakan untuk membuat Hanum mati pelan-pelan. Hukuman dua belas tahun penjara itu saja hanya untuk kasus penculikan yang dia lakukan, belum terhitung dengan pasal lainnya," terang Adam.


"Menurutmu kira-kira hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh hakim pada perempuan itu?"


"Penjara seumur hidup mungkin." Adam bersandar pada bahu sofa.


"Hukuman mati," gumam Raka.


"Tidakkah itu terlalu kejam dan berlebihan?" Adam menarik kembali tubuhnya dari bahu sofa, menatap wajah temannya.


"Menurutku hanya itu hukuman yang pantas untuknya. Itu setimpal dengan perbuatannya yang tidak manusiawi."


"Huh ... omong-omong kenapa Sultan lama sekali?" Adam melirik arlojinya.


Membuat Raka pun melakukan hal yang sama.


"Iya juga ya? kita sudah setengah jam disini, gila saja kalau kita masih harus menunggu."


"Cepat telepon dia!" perintah Adam.


"OK!"

__ADS_1


Raka mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Woi ... kampret ! lama banget sih?" teriak Raka begitu dirinya mendengar suara Sultan.


"Sabar, ini masih di jalan," jawab Sultan yang masih fokus menyetir.


"Di jalan mana? sejak tadi kau bilang masih di jalan, bukankah kau berangkat sejak satu jam yang lalu? jalan mana yang membuatmu lama? jalan tol menuju Semarang?" sindir Raka.


"Cerewetmu kumat lagi."


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" teriak Raka yang masih merasa kesal.


Bagaimana dia tidak kesal, sejam yang lalu Sultan mengabarinya kalau dia baru akan jalan. Dan setelah satu jam berlalu pria itu masih saja mengatakan kalau dia masih berada dalam perjalanan, padahal Raka tahu betul jarak dari rumah temannya menuju ke kafe Adam tidaklah memerlukan waktu selama itu.


"Dion jadi ikut?" tanya Sultan.


"Ya, dia bilang sudah hampir sampai. Awas kalau kau masih lama! jangan salahkan aku kalau kami akan meninggalkanmu."


Raka mematikan ponselnya.


"Aku heran dengan atasanmu itu, jika menyangkut soal pekerjaan, dia bisa tepat waktu. Tapi dalam hal lain, jamnya seperti karet, mulurnya tidak tanggung-tanggung," gerutu Adam.


"Tepat waktu apanya? kau saja yang tidak tahu kalau semenjak dia menjadi budak cinta istrinya, dia sering terlambat masuk kantor. Sesuka hatinya dia menyuruh Mira untuk mengatur ulang jadwal rapat atau pertemuan penting yang sudah di susun rapi jauh-jauh hari. Mengakibatkan semuanya menjadi molor, nanti giliran dikejar deadline, baru dia marah-marah, kalang kabut meminta anak buahnya untuk menambah jam kerja."


"Sampai sebegitunya?" tanya Adam.


"Ya, Mira sampai dibuat kewalahan mengurusi Sultan kalau anak itu sedang bertingkah."


Tawa Adam pecah, tak menyangka pria sedingin Sultan yang biasanya selalu menjalani kehidupannya dengan normal dan teratur bisa berubah menjadi kacau.


"Jangan menggerutu begitu, biar bagaimanapun juga kita tetap harus berterimakasih kepada Hanum. Melihat Sultan yang sekarang telah hidup bahagia bersama wanita yang sejak dulu diimpikannya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada melihat teman kita sendiri hidup bahagia bukan?"


"Pasti! bukankah kita bertiga sudah menyatu menjadi satu? jika salah satu diantara kita ada yang menderita maka kita semua akan merasakannya juga. Kita bagi rata suka duka dalam setiap lima liku kehidupan kita, kita akan selalu mendukung satu sama lain," Raka menyahut.


"Ya, dan selama ini Sultan lah yang paling menderita diantara kita. Jadi sekarang, biarkan anak itu menikmati indahnya hidup."


"Dan sepertinya kita melupakan satu hal," kata Raka.


"Soal apa?"


"Sepertinya kita harus mulai terbiasa untuk berbagi dengan satu orang lagi."


"Siapa?"


"Kau akan tahu sebentar lagi." Raka terus melemparkan pandangannya ke arah sebuah pintu kaca di ruangan tersebut.


Baru saja Raka selesai mengatakannya dan benar saja, seseorang masuk ke sana. Pria dengan senyum khasnya, mencerminkan dirinya yang jenaka.


.

__ADS_1


__ADS_2