Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Keajaiban


__ADS_3

"Dokter! Dokter ..." teriakan Willmar menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Bagaimana pria itu tak sebegitu khawatirnya saat melihat aliran darah yang mengalir dari pangkal paha Raisa makin deras. Setelah membaringkan istrinya di bangsal pesakitan, dokter meminta Willmar segera keluar agar petugas paramedis bisa segera menangani Raisa.


Cukup lama Willmar berdiri di depan pintu kaca dengan perasaan gusar. Sebagian kaca yang memang tak tembus pandang membuatnya semakin gila. Ketakutan demi ketakutan mulai menghampirinya. Pikiran Willmar kacau, bayangan buruk pun menghantuinya hingga rasanya dia tak sabar menunggu dokter untuk keluar dan menjelaskan kondisi istrinya.


Ceklak.


Bak tersiram air dingin, Willmar mulai merasa lega begitu pria bersneli itu menghampirinya, tapi tak lantas membuat ketakutan dalam diri pria itu lenyap.


"Anda suaminya?" dokter tampan itu membetulkan letak kacamatanya.


"Iya Dok, saya suaminya. Bagaimana dengan kondisi istri saya?"


Dokter yang Willmar perkirakan berusia mendekati kepala empat itu terdiam sejenak.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya? tolong katakan sesuatu Dok," desak Willmar. Keterdiaman dokter itu justru membuatnya semakin cemas.


"Bisa ikut saya sebentar, karena ... karena saya perlu menjelaskannya pada Anda, tapi tidak di sini."


"Baik Dok."


Tanpa membuang waktu lagi, Willmar gegas mengikuti dokter itu ke ruangannya. Keduanya duduk saling berhadapan, Willmar makin tak sabar menunggu penjelasan dari dokter.


"Saya sudah siap mendengarnya Dok." Willmar sampai berucap demikian saking jengahnya.


"Sebenarnya istri Anda ..."


.


.


Willmar berjalan dengan terseok. Seluruh tulang dalam dirinya serasa dilolosi hingga untuk berjalan ke ruangan Raisa saja terasa begitu lamban dan melelahkan. Dengan sisa-sisa tenaganya, Willmar terus menggapai apa saja yang bisa ia raih untuk berpegangan. Berjalan merambat hingga akhirnya dia tiba di sebuah kamar rawat di mana Raisa telah dipindahkan.


Tangan pria itu gemetar hebat ketika menyentuh gagang pintu, Willmar membukanya perlahan hingga wanita cantik belahan jiwanya itu bisa dia lihat sepenuhnya.


"Mas, kamu dari mana aja? kata suster kamu pergi menemui dokter, tapi kenapa lama sekali?"


Willmar menarik sudut bibirnya, kembali melanjutkan langkah. Ia langsung memeluk Raisa, kemudian tangisnya terdengar memenuhi ruangan itu.


"Mas, ada apa? apa dokter mengatakan sesuatu yang buruk?" tanya Raisa.


Willmar masih larut dalam tangisnya hingga ia tak mampu sekedar berucap. Kerongkongannya serasa terganjal batu, belum lagi perasaannya yang berkecamuk.


"Apa yang dokter katakan? apapun itu, aku akan mendengarkannya Mas." Raisa mengeratkan pelukannya, tapi malah bukannya menjadi tenang yang ada tangis Willmar makin menjadi-jadi.


"Aku bahkan pernah merasakan ketakutan yang amat sangat dalam. Saat mengetahui aku harus kehilangan bayiku juga rahimku diangkat, saat itu juga aku merasa duniaku runtuh dan hancur seketika." Raisa dapat merasakan suaminya terus menggeleng dalam pelukannya.


"Katakan hal buruk apa lagi yang menimpaku Mas, aku sudah siap mendengarnya."


Willmar mengendurkan pelukannya, menatap wajah sayu Raisa dan menangkupnya. Kecupan bertubi-tubi Willmar berikan di kening wanita itu.


"Maafkan aku." kalimat pertama yang lolos dari bibir Willmar saat dia mulai bisa menguasai dirinya.


"Tidak apa-apa Mas, aku yang seharusnya minta maaf karena selalu merepotkanmu. Aku memang tidak bergun ..."


"Sssttt! jangan pernah mengatakan apapun lagi." lagi, Willmar mengecup dahi istrinya, lalu berpindah menuju bibir wanita itu dan menyesapnya sebentar.


"Aku siap mendengarmu Mas, jangan tunda lagi," kata Raisa.


Willmar mengangguk. "Setidaknya biarkan aku minum dulu." tangisnya hampir pecah lagi.


Raisa terkekeh geli. "Harusnya aku yang sedih Mas, bukannya kamu. Aku ambilkan minum ya."


"Jangan! kamu nggak boleh ke mana-mana, tetap diam di sini! aku bisa mengambil minum sendiri." Willmar beringsut menuju nakas dan menenggak sebotol air mineral yang ada di sana hingga tandas. Terlalu lama mendengarkan penjelasan dokter membuat tenggorokannya kering kerontang, belum lagi akibat terlalu lama menangis.


Willmar naik ke bed istrinya dan duduk di sebelah Raisa. "Kamu sungguh siap mendengar apa yang akan aku katakan?"


"Tentu saja, memang apa lagi yang harus aku takutkan Mas? cukup katakan saja penyakit ganas apa yang telah menggerogotiku?"


"Hust! sembarangan!" seru Willmar tak suka.


"Ya udah makanya cepat cerita. Ada apa sebenarnya," desak Raisa.


Willmar membingkai wajah Raisa, entah sudah berapa kali kecupan dia berikan di sana sampai istrinya yang cantik jelita itu kesal dibuatnya.


"Kamu tahu kalau tadi kamu pendarahan?"


"Tahu, tapi aku rasa bukan pendarahan. Semenjak rahimku diangkat bukankah aku memang sering mengalami telat datang bulan?"


"Kenapa nggak bilang sama aku?"


"Apa separah itu?" bukannya menjawab, Raisa balik bertanya.


"Ish! kenapa kamu menjengkelkan sekali?"


"Kamu yang kenapa? kenapa marah-marah sekarang, harusnya aku yang sedih dan kamu berkewajiban untuk menghiburku. Sekarang katakan apa yang terjadi? penyakit apa yang membuatku harus mengalami hal seperti ini?"

__ADS_1


"Berhenti membicarakan masalah penyakit, Yang."


"Terus aku harus ngomong apa lagi Mas?"


"Karena kamu hamil, dan bukannya sakit," cetus Willmar.


Bak mendengar petir di siang hari bolong, tubuh Raisa membeku di tempatnya. "Kam ... kamu salah ngomong Mas?"


Willmar dengan tegas menggeleng. "Kamu pendarahan karena kamu terlalu kecapekan, padahal kamu dalam kondisi hamil muda dan kita malah bulan madu ke Raja Ampat sampai kita nggak melewatkan satu malam pun dengan tidak berhubungan badan."


"Tap ... tapi bukannya rahimku sudah diangkat? aku nggak mungkin bisa hamil lagi Mas, kamu bercanda, kamu pasti salah." raut wajah Raisa menunjukkan jika dia sama sekali tak mempercayai ucapan suaminya.


"Awalnya aku juga nggak percaya Rai, aku bahkan hampir meninju dokter itu karena berpikir dia telah membohongiku, tapi faktanya kamu memang sedang hamil Sayang," tegas Willmar.


"Aneh." satu kata itu yang dilontarkan Raisa.


"Ternyata kamu cuma dioperasi untuk mengeluarkan bayi kita yang telah meninggal dalam kandungan waktu kamu jatuh di kamar mandi," jelas Willmar.


"Lalu?"


"Kamu ingat waktu itu hanya ada dokter muda pengganti Dokter Rania yang sedang seminar kan?" Raisa mengangguk. Seingatnya dia memang hanya bertemu asisten dokter Rania saja pasca operasi itu.


"Ternyata suster salah memberikan data riwayat pasien hingga data kamu tertukar Sayang."


"Hah? mustahil." Raisa masih tetap tak percaya.


"Tapi begitu kenyataannya. Aku sampai harus menemui beberapa dokter tadi untuk memastikan keberadaan kejadian ini."


"Dan kamu percaya?"


"Tentu saja, dengan hasil pemeriksaan dokter, juga setelah melewati berbagai macam sesi tanya jawabku dengan beberapa dokter yang aku temui tadi. Faktanya kamu memang sedang hamil Sayang," beber Willmar.


"Kamu bohong kan Mas?" genangan di telaga bening Raisa mulai berjatuhan.


"Aku berani bersumpah demi apapun. Kamu hamil Sayang, aku serius dan aku nggak sedang berbohong," ujar Willmar berusaha meyakinkan istrinya.


"Tapi bagaimana bisa?"


"Kamu masih mendapat tamu bulananmu usai operasi itu kan?"


Raisa kembali mengangguk.


"Dokter Rania bilang, perempuan yang rahimnya diangkat nggak akan mungkin bisa mendapatkan jadwal menstruasinya karena itulah dia tidak bisa punya anak."


"Itu dia!"


"Jadi?"


"Kamu hamil, karena kesalahan suster yang salah memberikan data riwayat pasien membuat dokter muda pengganti Dokter Rania juga salah memberikan informasi."


"Jadi aku beneran hamil Mas?"


"Iya," jawab Willmar mantap. "Dokter bilang setelah sadar kamu harus melakukan tes USG untuk memastikan keadaan calon bayi kita karena kamu sempat mengalami pendarahan hebat tadi."


"Sekarang Mas? lakukan sekarang juga biar aku yakin!" Raisa menatap suaminya dengan tatapan memohon.


"Tentu. Aku akan segera memanggil dokter ke mari." Willmar memencet tombol merah di samping bed istrinya.


Kedua anak manusia itu kembali berpelukan. "Entah karma baik apa yang dulu pernah aku lakukan sehingga aku dipercaya untuk menjadi pendamping hidupmu, menjadi bagian terpenting dalam hidupmu. Aku sungguh sangat berterima kasih," lirih Willmar.


Raisa menangis dalam diam. Betapa ia larut dalam rasa haru yang membuat isi hatinya campur aduk tak karuan. Ia memejamkan mata saat merasakan dahinya basah terkena air mata Willmar. Pria konyol itu bahkan sampai menitikkan air mata saking bahagianya.


"Mas, hubungi mama gih! dia pasti khawatir karena aku belum juga pulang. Aku janji akan pulang jam dua dan sekarang bahkan jam kerja sudah berakhir."


Willmar menyeka wajahnya yang basah, dia mengangguk dan mencari keberadaan benda pipih yang sejak tadi ia lupakan. "Hampir lupa," cicit Willmar.


.


.


Setengah jam berlalu, semua orang berdiri dengan tegang menantikan hasil pemeriksaan Rania. Ternyata bukan hanya Hanum saja yang datang ke rumah sakit, tapi juga Sultan dan William yang memang sengaja Hanum hubungi agar bisa langsung meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di sana, sebelum memasuki ruang periksa juga Willmar telah menceritakan informasi yang baru saja didengarnya dari dokter, kepada keluarganya.


Ketegangan begitu nyata terpancar di wajah semua orang, tak terkecuali Rania dan dua perawat di belakangnya, tapi di antara semua orang itu, Raisa lah yang paling tegang.


"Nggak apa-apa sayang, jangan tegang!" Willmar mengusap puncak kepala istrinya, genggaman tangannya pada wanita itu semakin menguat.


"Hm, di sini dia," gumam Rania.


"Apanya Dok?" tanya Willmar tak sabar..


"Bayi kalian, saya sudah menemukannya," imbuh Rania.


"Apa? Raisa benar-benar hamil Dok?" Hanum pun tak kalah kagetnya.


"Iya Bu Hanum, menantu ibu memang sedang hamil. Biar saya jelaskan." dokter cantik itu meletakkan kembali peralatan medisnya, sementara suster membantu merapikan Raisa dan bangun dari tempatnya.

__ADS_1


"Pak Willmar silakan duduk."


"Dokter jangan bikin saya takut, mau kasih tahu Raisa hamil aja wajahnya tegang begitu. Saya jadi ikut deg-degan ini," cetus Willmar.


Rania terkekeh. Semua orang telah siap di tempatnya masing-masing.


"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan pada Bapak sebagai suami dari Ibu Raisa."


"Iya, buruan Dok," sambar Willmar, tak sabar.


"Hal buruk atau hal baik dulu yang ingin Bapak sekeluarga dengar?" tanya Rania.


"Ada hal buruknya juga?" Willmar mendelik tak percaya.


"Iya." Rania mengangguk.


"Kabar buruknya dulu saja Dok." Hanum menyahut. Semua orang mengangguk setuju.


"Kabar buruknya adalah karena Bu Raisa sempat mengalami pendarahan hebat maka dia harus bedrest total, dan ... mohon maaf juga sebelumnya, Bapak belum boleh menyentuh istri Bapak selama kurang lebih tiga bulan."


Semua orang hampir terbahak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rania. William sampai terkekeh-kekeh sambil memukuli dinding di sampingnya.


"Pendarahan yang terjadi pada Ibu Raisa juga merupakan salah satu akibat dari perbuatan Anda yang pasti sering mengajaknya olahraga malam, benar begitu?"


Raut wajah Willmar berubah menjadi sangat merah. Apa yang salah jika dia terus menggauli istrinya, Raisa kan memang menggoda. Pria itu terpaksa mengangguk pelan sambil menahan malu. Raisa juga sama menunduknya karena merasa tertangkap basah.


"Nah, makanya, demi kebaikan bersama maka akan lebih baik bagi Anda untuk berpuasa setidaknya sampai usia kandungan Bu Raisa lebih dari empat bulan," jelas Rania.


"Baik Dok." Willmar tersenyum kecut. "Lalu kabar baiknya apa?"


Rania meraih print out hasil USG nya tadi dan menunjukkannya pada Willmar sekeluarga. "Kalian bisa lihat dua titik hitam ini." menunjuk bulatan kecil berwarna hitam.


"Maksudnya apa Dok?"


"Saya melihat dua kantung bayi dalam rahim Bu Raisa, yang artinya istri Anda mengandung bayi kembar."


"Apa!" semua orang berteriak, lalu dengan cepat membungkam mulutnya.


Hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan bagi keluarga besar Sultan.


"Ya, Bu Raisa sedang mengandung bayi kembar, tapi perlu saya ingatkan sekali lagi untuk lebih menjaganya lagi. Pendarahan yang sempat dia alami tadi cukup berpengaruh pada kehamilannya meski janin kalian masih cukup kuat."


"Lalu apa yang harus kami lakukan Dok?"


"Untuk sementara waktu, Bu Raisa sebaiknya dirawat di rumah sakit sampai saya nyatakan boleh pulang. Saya akan memberikan vitamin dan juga obat penguat kandungan."


"Baiklah Dok, lakukan apa yang sekiranya baik menurut Dokter. Terima kasih." Willmar menjabat tangan dokter Rania.


Hanum menitikkan air mata di bahu suaminya. Wanita itu terus tersedu sebelum akhirnya memeluk Raisa dan mencium wajahnya berulang kali.


"Selamat Sayang. Mama turut bahagia untukmu."


"Terima kasih Ma."


Dua wanita itu kembali menangis. semua orang kembali ke ruang rawat Raisa. Wajah-wajah berseri menghiasinya.


Willmar baru saja duduk setelah membaringkan tubuh istrinya di bed dan memberikan minum. Luar biasa kejadian hari ini sungguh membuat tenaganya terkuras habis. Tak hanya menguras tenaga tapi juga emosi. Willmar benar-benar dramatis tadi karena terlalu menghayati kebahagiaannya.


"Bangun!" teriak Hanum. Semua orang dibuat kaget, Willmar terperanjat.


"Ada apa Ma?" tanyanya bingung.


"Kamu harus dihukum!" sedetik kemudian pria itu mengaduh saat Hanum menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi dengan clutch-nya.


"Ma, kenapa aku dipukul?" Willmar hanya bisa menangkis, tapi gerakan Hanum yang gesit sudah pasti membuatnya tak bisa menghindar.


"Apa yang sudah kamu lakukan sama anak kesayangan Mama? Raisa kamu makan setiap malam, Rania sendiri yang bilang. Karena itulah dia sampai mengalami pendarahan. Dasar anak nakal!" Hanum terus menyerang putra bungsunya membabi buta.


"Mama, ampun Ma. Sakit," rengek Willmar.


"Beruntung Rania menyuruhmu puasa sampai tiga bulan! rasakan kamu Dek! tapi awas ya kamu sampai macam-macam sama Raisa. Jangan harap bisa memakannya karena mencoleknya saja Mama akan hajar kamu!"


"Ampun Ma, aku janji nggak akan makan Raisa seperti yang Rania bilang."


"Tentu saja, karena Raisa akan tidur sama Mama mulai malam ini," cetus Hanum.


"Apa! Ma, masa Mama tega sih? kalau Raisa tidur sama Mama terus aku tidur sama siapa dong?"


"Sama papa, atau sama opamu."


"Ma, kejam banget."


Semua orang tertawa. William sampai terpingkal. Sekarang adik kembarnya itu akan menjadi bulan-bulanannya. William akan gantian menggoda Willmar, seperti Willmar menggodanya selama ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2