
Dalam jarak sedekat ini, minim pencahayaan. Ada gelombang yang membuat tubuh William bergetar hebat. Perlahan William mulai memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga wajah ayu Cinta kini dapat dia lihat dari jarak sangat dekat. Satu centi.
Cinta memejamkan mata bersiap menerima sesuatu yang kemungkinan akan mengubah kehidupannya nanti. Wanita itu pasrah jika memang William akan meminta haknya sebagai seorang suami malam ini juga.
Cup.
Tubuh Cinta menegang. Ini kali pertama dia bersentuhan dengan lawan jenis. Cukup lama William mendaratkan bibirnya di kening Cinta.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur."
Cinta reflek membuka matanya, dia melongo saat melihat suaminya sudah berbaring di sampingnya.
'Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan,' rutuk Cinta dalam hati. Gadis itu tak jua dapat memejamkan mata meskipun telah berusaha keras. Ada banyak pertanyaan yang bergelayut dalam benaknya.
Lagi, hampir dua Minggu setelah pernikahan. William masih belum juga menjamah istrinya.
Malam ini, Cinta kembali harus bersabar. Dia akan menunggu saat itu tiba, terlebih dia telah bertekad untuk dapat mengambil hati suaminya. Malam kian merambat, seiring dengan kantuk yang mulai menyerang hingga akhirnya Cinta pun berlabuh di pulau mimpi.
Pagi-pagi sekali, Cinta sudah bangun dan menyiapkan keperluan selama menginap di rumah Tania. Rumah pun telah selesai dia bersihkan. Cinta menitipkan kunci cadangan pada Nur untuk memudahkan wanita itu jika datang untuk beberes rumah.
"Mas mau sarapan apa? Saya nggak masak," ucap Cinta. Mendekati suaminya yang sedang memasang dasi, lalu mengambil alih kain bermotif itu.
"Apa saja, saya bukan orang yang suka memilih-milih makanan, Cinta." Lelaki itu menurut saja saat Cinta membantunya membuat simpul dasi.
"Roti panggang?" Tawar Cinta.
"Boleh."
"Mau dioles selai apa?"
"Cokelat kacang."
"Ada." Tangan Cinta lincah memainkan kain itu. "Selesai," imbuhnya setelah memastikan dasi telah terpasang rapi pada kerah kemeja suaminya.
"Rapi dan sangat bagus," puji William seraya meraba ikatan dasinya.
"Kita turun sekarang."
"Iya. Biar aku saja yang bawa kopornya."
William mengekori wanita itu. Mendaratkan bokongnya di kursi, dia melihat bagaimana terampilnya Cinta melakukan pekerjaannya. Rumah bersih, pakaian rapi, wangi dan licin, pandai memasak, dan poin paling penting nya adalah Cinta melakukan semuanya dengan begitu cepat. Namun begitu, hasilnya sangat memuaskan. Seperti saat ini misalnya, menunggu roti matang dari toaster, Cinta membuat dua gelas susu.
Tak lama kemudian, harum roti yang menggugah selera bersanding dengan segelas susu segar sudah tersaji di depan William.
"Apa kau terbiasa melakukan semuanya sendiri, Cinta?"
"Maksud Mas?" Cinta berhenti mengunyah roti dalam mulutnya, menatap William sejenak.
"Iya. Pekerjaan rumah tangga, semuanya. Kau bahkan masih bisa bekerja dengan sangat profesional di kantor, padahal sebelum berangkat kau juga pasti sudah lelah mengurus semua pekerjaan rumah. Saya bisa meminta Bik Nur untuk mencari orang yang mau bekerja dengan menginap di sini."
"Tidak usah Mas! Selama saya masih bisa melakukannya sendiri, kenapa tidak? Sayang uangnya, kan bisa ditabung untuk mengantisipasi jika kita ada kebutuhan mendesak."
'Uangku bahkan tidak habis sekalipun aku jadi pengangguran Cinta. Hasil jerih payah perusahaan yang aku bangun dari nol, di tambah pemberian Papa, belum lagi warisan yang diberikan Opa dan Kakek Buyut. Kau memang gadis yang tepat untuk dijadikan sebagai istri. Kau tahu bagaimana mengambil sikap,' William terus memuji istrinya.
"Membayar sepuluh asisten rumah tangga saja saya bisa," cetus William.
"Saya tahu, tapi saya tidak bisa memanfaatkan itu semua."
"Kenapa?"
"Karena saya takut dengan banyaknya orang yang Mas pekerjakan di rumah ini, akan dapat mengurangi tanggung jawab saya sebagai seorang istri. Memang apa gunanya Mas menikahi saya jika bukan untuk mengurus semua keperluan Mas?"
William merasa tertampar mendengar jawaban istrinya. Ia sungguh terpana dengan kecantikan hati gadis itu. Bagaimana Cinta membuatnya tersanjung dengan jawabannya yang cerdas dan juga bijaksana.
"Mas," panggil Cinta.
"Ya." William terkesiap. Kekagumannya pada gadis itu harus berakhir bersamaan dengan kenyataan yang ada di depan mata. Faktanya, bukan Cintalah penghuni kerajaan hatinya.
__ADS_1
'Semoga saja cinta itu lekas hadir sebelum kamu mengetahui kenyataan ini Cinta. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, untuk itulah aku akan terus berusaha untuk mencintaimu.'
"Mas."
Lagi-lagi William melamun.
"Rotinya nggak enak?"
"Siapa bilang? Enak kok," William menyahut.
"Terus kenapa diam?"
"Serius kamu mau tahu?" William balik bertanya.
Cinta mengangguk. "Memang apa yang Mas pikirkan?"
"Sedang memikirkan masa depan kita," jawab William.
"Maksudnya?"
"Ya, saya sedang memikirkan masa depan rumah tangga kita."
"Ada masalah?"
"Masalahnya justru ada padaku. Kamu terlalu sempurna sebagai seorang istri, maukah kamu membimbingku menjadi suami yang baik untukmu?"
Cinta membeku di tempatnya. Ucapan William terdengar sederhana akan tetapi begitu menyentuh relung hatinya. Gadis itu mengangguk begitu tersadar William masih menunggu jawabannya.
"Tentu."
"Jangan segan untuk menegurku jika saya salah."
Masih menggunakan kata formal, tapi Cinta bersyukur. Setidaknya dengan bicara dari hati ke hati seperti ini, akan dapat memperbaiki hubungan mereka agar lebih baik ke depannya.
Usai menghabiskan sarapannya, mereka pun gegas berangkat ke kantor. Begitulah kehidupan mereka sehari-hari, benar-benar datar dan biasa-biasa saja. Baik di kantor maupun di rumah, hampir tidak ada perbedaan sama sekali.
Petang pun datang. Malam mendekap bumi saat rintik air menjatuhkan diri dari langit. Cinta menutup telinganya melihat kilatan petir menyambar di langit. Pun sesekali mendekap erat lengannya. Kemeja kerja yang dipakainya memang berlengan panjang, akan tetapi dari bahan chiffon yang lembut dan jatuh tak cukup menghalau angin nakal yang membelai kulitnya.
Cinta terdiam saat suaminya membalutkan jas di tubuhnya.
"Jangan sampai kau kedinginan, aku tidak mau kau sampai jatuh sakit," ujar lelaki itu, sukses membuat rona merah menyembul di kedua pipi Cinta.
Belum lagi gadis itu menguasai diri atas keterkejutannya, William mendekap bahu Cinta. Kini keduanya berjalan dengan tubuh saling berhimpitan.
Sepanjang perjalanan Cinta terus terdiam. Ia begitu menikmati perlakuan manis William padanya.
"Kita mampir ke toko kue dulu ya, nggak enak kalau nggak bawa oleh-oleh buat Ibu," cetus William.
"Terserah Mas saja."
"Habis dari toko kue kita ke restoran."
"Mau ngapain?"
"Beli makanan buat Ibu," jawab William, datar.
"Nggak usah Mas, tadi Ibu bilang sudah masak banyak buat kita makan malam, nggak enak takutnya nanti ..."
"Ya sudah nggak apa-apa. Tadinya saya pikir mau menyenangkan hati Ibu."
"Terima kasih Mas."
"Untuk apa?"
"Semuanya."
William tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah bergelut dengan hujan dan jalanan yang juga macet, akhirnya tibalah mereka di rumah Tania. Wanita itu terlihat gembira saat mendengar deru mesin mobil di pelataran rumahnya.
William turun dari mobil terlebih dulu, jas yang tadi sempat dia berikan pada Cinta dia pakai untuk menghalau air hujan. Senyuman terus terkembang di bibir Tania saat melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Menantunya begitu perhatian. William membukakan pintu mobil untuk Cinta, lalu menutupi kepala cinta dengan jasnya.
"Malam, Bu. Maaf saya baru sempat berkunjung." Setelah mengibaskan jas dan menaruhnya di kursi rotan, William mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Nggak apa-apa, Nak. Ibu tahu kamu sibuk. Ayo cepat masuk!" Tania menutup pintu. "Cinta, cepat siapkan kebutuhan kamu."
"Iya Bu."
"Saya permisi ke kamar dulu, Bu," izin William.
"Ya, silakan. Jangan sungkan! Anggap saja rumah sendiri, tapi mohon maaf kalau rumahnya nggak senyaman rumah Nak Willi."
"Sama saja Bu. Kami masuk dulu."
Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam kamar yang dulunya di tempati Cinta.
"Mas bisa mandi di sini, nanti saya mandi di kamar mandi belakang saja."
"Baiklah."
Satu jam kemudian.
Hujan masih mengguyur bumi. Keluarga kecil itu duduk di ruang tengah sembari menikmati secangkir teh dan beberapa potong bolu pandan buatan Tania.
"Tahu begitu tadi nggak usah beli kue Mas, Ibu juga bikin kue."
"Ya nggak apa-apa, kan saya memang niat kasih."
"Ya benar. Nggak apa-apa Nak Will," Tania membela menantunya.
"Tapi kan sayang Bu, kita juga nggak bisa menghabiskan semuanya."
"Bisa dikasih ke tetangga, Sayang. Gitu aja kok repot."
"Hm, Bu. Mas Willi mau ngomong sama Ibu."
"Soal apa?" Tania menatap menantunya lekat.
"Sebelumnya saya minta maaf Bu, jika Ibu tidak keberatan, saya mau ajak Ibu pindah ke rumah kami," ucap William, hati-hati.
Tania mendesah panjang, ditatapnya Cinta dan William bergantian. "Ibu juga mau minta maaf sama kalian. Ibu tahu kalian melakukan ini demi kebaikan Ibu, tapi dengan terpaksa harus Ibu katakan, Ibu akan tetap tinggal di sini. Bukan karena Ibu nggak sayang sama kalian, juga bukan karena Ibu nggak menghormati keputusan kalian. Ibu hanya ingin menikmati masa tua Ibu di sini, satu-satunya tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang ayah kamu Cinta, bapak mertua Nak Willi."
William melirik istrinya sekilas seolah bertanya, yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan.
"Maafkan Ibu ya, Nak, Cinta."
"Nggak apa-apa, Bu. Asalkan Ibu sering mengabari kami, kami akan sering menginap jika ada kesempatan," balas William.
"Terima kasih atas pengertiannya, Nak."
William meraih cangkir tehnya.
"Oh ya, omong-omong ... Kapan kalian akan kasih Ibu cucu?"
"Uhuk ... Uhuk ..." William tersedak.
"Pelan-pelan Mas." Cinta mengusap punggung suaminya dengan lembut.
'Kami saja belum melakukan apa-apa, mana bisa kasih cucu. Aku ingin melakukannya setelah memastikan aku benar-benar cinta pada putrimu, Bu.'
"Ada yang salah ya dengan ucapan Ibu? Nak Willi sampai tersedak begitu."
"Ehm. Tidak ada yang salah Bu, doakan saja agar kami segera dapat memilikinya," ujar William. Lelaki itu termangu menyadari Cinta sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
'Bagaimana aku bisa hamil sedangkan kami juga belum melakukan itu bahkan setelah dua Minggu pernikahan kami,' Cinta membatin.
__ADS_1
Bersambung ....
*Happy reading Kesayanganku 😍😍😍 tinggalkan jejak kalo kalian suka dengan cerita ini. mohon dukungannya ya. Membaca komentar positif dari kalian adalah sumber semangatku untuk terus menulis, melanjutkan kisah ini. Makasih buat kalian yang sudah like, Vote dan komen. 😘😘😘 🙏🤗