
Hanum memasukkan gelang kaki bintang laut itu ke dalam saku celananya, dia lalu pergi meninggalkan ruang kerja suaminya. Mengayunkan langkah untuk mencari Mbok Darmi, wanita tua yang telah menghabiskan lebih dari separuh usianya, mengabdi pada keluarga Pradipta. Hanum rasa, wanita yang telah mengasuh suaminya sejak kecil itu, pastilah mengetahui segala hal tentang Sultan.
Dapur menjadi tujuan utamanya, dia mengedarkan pandangannya begitu sampai di sana. Lastri, asisten rumah tangga, yang saat itu melihat kedatangan Hanum pun mendekat.
" Apa nona butuh sesuatu?" tanyanya, sopan.
" Mbak Lastri, lihat mbok Darmi tidak?"
" Oh, mbok Darmi sedang membersihkan kolam di belakang non, mau saya panggilkan?"
" Tidak usah mbak, biar saya saja yang kesana." Hanum mengusap bahu Lastri. "Mbak Lastri selesaikan saja pekerjaan mbak, terimakasih."
" Iya non."
Hanum mempercepat langkahnya menuju kolam renang yang terletak di bagian belakang bangunan rumah itu. Dia melihat mbok Darmi tengah memegang jaring untuk mengambil dedaunan yang jatuh di atas kolam. Hanum pun berlari, mendekati wanita itu.
" Jangan lari-larian begitu non, bahaya." ucap wanita paruh baya itu begitu melihat Hanum berlari ke arahnya.
" Mbok, ada yang mau Hanum tanyakan." ucapnya tanpa basa-basi.
" Tanya opo toh?" tangan wanita tua itu masih memegang galah panjang, menjaring daun yang mengambang di atas kolam berukuran besar tersebut.
" Hanum mau tanya mbok." meraih galah yang di pegang mbok Darmi, menaruhnya sembarang dan menuntun wanita itu menuju gazebo yang ada di samping kolam.
" Iya, mau tanya apa? wong tinggal bilang saja kok, si mbok belum selesai ini lho."
" Tidak enak kalau si mbok sambil mengerjakan sesuatu."
" Yo wis." wanita tua itu mengalah, duduk di samping Hanum. " Kelihatannya penting sekali non?"
Hanum mengangguk.
" Mbok Darmi kan yang selama ini mengasuh mas Sultan? mbok Darmi yang sejak kecil mengurusi suami saya?"
" Iya non, memangnya ada apa? langsung saja non, jangan bikin si mbok takut."
" Ada yang ingin Hanum tanyakan sama Mbok." Hanum meraih tangan wanita itu. "Kalau Hanum bertanya sesuatu tentang masa lalu mas Sultan, Mbok mau jawab jujur?"
" Iya non, si Mbok akan jawab kalau memang si mbok tahu."
" Seperti yang Hanum tahu Mbok, mbok Darmi kan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan masa Sultan, mbok Darmi pasti tahu segala hal tentang mas Sultan kan? termasuk masalah pribadinya?"
" Si Mbok tahu non, karena setiap apa yang sedang den Sultan alami, entah itu sedih atau senang, apa yang sedang dia rasakan ... dia selalu membaginya sama si Mbok."
" Baguslah kalau begitu." Hanum tersenyum, lalu merogok saku celananya. " Jadi si Mbok pasti tahu perihal gelang ini?" Hanum menyodorkan gelang kaki yang baru saja dia temukan di dalam kotak musik yang ada di laci meja kerja suaminya.
Dia langsung bisa menebak akan seperti apa reaksi mbok Darmi, wanita itu membelalakkan matanya, menutup mulutnya, merasa sangat terkejut.
" Da ... dari mana non mendapatkan gelang ini?" terbata, dipandanginya logam mulia berwarna putih dengan batu permata di atas hiasan berbentuk bintang laut.
__ADS_1
" Tidak penting Mbok, Hanum hanya ingin tahu, dari mana mas Sultan mendapatkan gelang itu?" gadis itu menunduk. " Kenapa sepertinya mas Sultan banyak sekali menyimpan rahasia dari saya."
" Bukan begitu non, jangan salah paham. Den Sultan orang baik."
" Ceritakan sama saya Mbok, apa yang Mbok ketahui, semuanya ... rahasia tentang masa lalu suami saya, apa saja yang Mbok ketahui tentang mas Sultan, ceritakan semuanya Mbok." Hanum memohon.
" Hah ..." wanita tua itu menghembuskan nafasnya, panjang. " Si Mbok bingung, seharusnya den Sultan yang menceritakannya langsung sama non Hanum, dia yang lebih berhak karena non Hanum kan istrinya."
" Hanum mohon Mbok, setidaknya jangan biarkan saya berpikiran buruk pada mas Sultan, jangan buat saya berasumsi dan mengambil kesimpulan sendiri." ucap gadis itu memelas.
Melihat Hanum yang begitu kecewa, membuat mbok Darmi akhirnya membuka suara.
" Tapi janji ya non, setelah mbok ceritakan semuanya,non Hanum tidak boleh marah, kecewa atau sejenisnya. Si Mbok tidak mau terjadi hal buruk pada hubungan kalian."
" Iya mbok, Hanum janji." meremas jemari mbok Darmi dengan mata berbinar.
" Non Hanum pasti tahu, gelang kaki ini milik siapa."
" Tahu lah mbok."
" Si mbok lupa kejadiannya, kurang lebih tujuh tahun yang lalu, den Sultan pergi dari rumah. Dia pergi dalam keadaan marah, tuan besar dan juga tuan sepuh memarahinya habis habisan, menghukum den Sultan karena waktu itu dia memilih untuk kuliah jurusan bisnis." mbok Darmi memberi jeda sejenak, tatapannya kosong melayang jauh, ingatannya kembali pada masa lalu. " Non Hanum tahu betul kan, tuan besar itu tentara yang memiliki pangkat tinggi, tuan sepuh juga pensiunan tentara angkatan darat yang sangat disegani di Semarang. Mereka murka begitu mendengar keinginan den Sultan, dia lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan dia menjadi seorang tentara, mengikuti jejak mereka."
Hening sesaat.
" Lalu?" tanya Hanum tak sabar.
Astaga.
Hanum sampai membungkam mulutnya sendiri, pantas saja mbok Darmi menangis, dia tak menyangka di kehidupan modern seperti sekarang ini ada saja hukuman cambuk seperti itu, seolah masih hidup di zaman kerajaan saja.
Tapi kalau dipikir-pikir, tidak mengherankan juga kalau Sultan harus mengalami hukuman seperti itu. Dilihat dari sejarah keluarga mereka yang hidup dalam aturan dan didikan militer sangat ketat, hukuman fisik seperti itu pasti sudah melekat dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
" Itu salah satu hukuman yang harus di jalani oleh den Sultan." melanjutkan ceritanya.
" Masih ada lagi Mbok?" Hanum terkejut begitu mendengar kata ' salah satu ' yang di ucapkan wanita tua itu.
" Den Sultan harus pergi dari rumah itu, dengan tidak di beri sepeser uang, tidak membawa apapun dari rumah itu. Den Sultan memutuskan untuk hijrah ke ibu kota, dia berjuang sendiri untuk membiayai semua kebutuhannya. Bertahun-tahun dia tidak pernah pulang, dia lalu merintis usahanya dari nol, sampai berkembang menjadi perusahaan besar seperti sekarang."
" Gelang ini?" tanya Hanum hati-hati.
" Setelah di cambuk, den Sultan pergi dari rumah, memakai motor yang di belinya dengan uang tabungannya sendiri." mbok Darmi melirik Hanum. " Meskipun den Sultan hidup berkecukupan, orang tuanya tidak pernah memanjakannya sama sekali. Lagi-lagi, disiplin luar biasa yang terkesan berlebihan yang di terapkan di keluarga itu."
" Apa tidak ada seorang pun yang berani mencegah Mbok? dan ... sewaktu kejadian itu terjadi, apa tidak ada yang menghentikan, agar supaya mas Sultan tidak di cambuk?"
" Tidak." mbok Darmi menggeleng pelan. " Tidak ada yang berani menghentikan hukuman itu, si mbok sama nyonya juga sudah memohon, tapi tidak ada yang bisa kami lakukan lagi, tuan sepuh tetap menyelesaikan hukuman itu." perempuan itu mengambil nafas panjang sebelum kembali bercerita. " Dengan punggung penuh luka dan berdarah, den Sultan bersikeras meninggalkan rumah. Dia pergi hari itu juga. Den Sultan pergi mengendarai motor kesayangannya, mungkin karena rasa sakitnya yang tidak tertahan, dia mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan menuju rumah temannya, den Adam. Mereka kan berteman sejak masih duduk di bangku TK, dia mengalami kecelakaan di pantai Marina."
Deg.
Hati Hanum berdesir ketika mendengar nama pantai yang di sebut Mbok Darmi.
__ADS_1
" Pantai Marina mbok?"
" Iya." tersenyum pada Hanum. " Saat itu ada seorang gadis yang sedang berwisata di pantai itu, gadis itu yang sudah susah payah menolong den Sultan. Jalan pintas yang di ambil den Sultan waktu itu, terlihat begitu sepi,tidak banyak orang yang akan melewati jalanan itu. Gadis itu muncul, menyelamatkan nyawa den Sultan. Dia mencari ponsel yang dibawa den Sultan untuk menelpon Adam, temannya, lalu menelpon ambulans."
Hanum menatap wajah sendu mbok Darmi, wanita tua itu tersenyum padanya sambil mengusap air mata yang sesekali jatuh membanjiri sebagian wajahnya yang telah berkeriput.
" Singkat cerita, den Sultan jatuh cinta pada gadis itu, gadis yang telah menyelamatkan nyawanya." mbok Darmi meraih tangan Hanum dan menciumnya. " Setelah sadar dan sembuh, den Sultan bercerita pada si mbok, bagaimana dia yang saat itu setengah sadar, di tolong si gadis, Sultan terpesona pada pandangan pertama, terlebih lagi saat gadis itu susah payah menggendong tubuhnya yang berat untuk di bawa ke gazebo dan memberikan pertolongan pertama padanya. Sampai den Sultan sembuh dan memutuskan untuk kembali ke ibukota untuk mengejar cita-citanya. Den Sultan baru menyadari kalau rasa cinta itu muncul dan semakin menjadi, bukan hanya rasa yang timbul karena rasa terimakasihnya atas bantuan gadis itu."
" Hah ..." Hanum menghembuskan nafas panjang.
" Masih mau lanjut?"
" Mau dong, mbok." serunya.
" Berbekal gelang kaki yang sempat ditemukannya setelah kejadian itu, dia mencari gadis itu. Den Sultan selalu menyempatkan untuk pulang ke Semarang, berkunjung ke pantai Marina, berharap bisa menemui gadis yang sudah menolongnya karena dia belum sempat berterimakasih pada gadis itu. Susah payah dia mencoba mencari gadis itu tapi ... dia tidak pernah mengetahui dimana keberadaan nya. Sampai ..."mbok Darmi menggantung ucapannya.
" Sampai apa Mbok?"
" Sampai suatu hari, dia pulang untuk menghadiri pernikahan adiknya. Si Mbok kaget begitu melihat den Sultan menemui si mbok sambil menangis. Dia sangat terpukul, dia merasa frustasi saat melihat calon mempelai adiknya. Dia memutuskan untuk tidak melihat acara pernikahan itu,dia mengurung diri di kamar. Melihat kenyataan kalau cinta pertamanya menikah dengan pria lain, terlebih pria itu tidak lain adalah adik kandungnya, membuatnya sangat tersiksa. Si mbok sama hancurnya, tapi mau bagaimana lagi, sudah suratan takdir harus begitu. Non Hanum pasti tahu siapa gadis itu?"
Perlahan, Hanum menganggukkan kepalanya.
" Tapi sungguh Mbok, saya benar-benar tidak ingat kejadian itu."
" Non Hanum masih berusia sekitar tujuh belas tahun waktu itu,dan kejadiannya sudah berlangsung lebih dari lima tahun, wajar kalau non Hanum lupa."
" Iya mbok."
" Setelah mengetahui semua kebenarannya, kenyataan tentang masa lalu suami non Hanum. Si mbok harap, non Hanum tidak pernah meragukan cinta den Sultan lagi, anak itu sangat mencintai non Hanum, dia telah jatuh cinta sejak lama, non Hanum menjadi cinta pertamanya, dan menjadi satu-satunya perempuan yang ingin dijadikan belahan jiwa dan mendambakan hidup bersama, bahagia selamanya."
Hanum berkaca-kaca, dia menangisi kebodohannya selama ini yang tidak peka dengan setiap perlakuan Sultan padanya. Dia tidak bisa membayangkan betapa pria itu tersiksa karena memendam rasa itu cukup lama. Di tambah lagi dengan ujian rumah tangga yang datang silih berganti, yang sempat membuat bahtera cinta mereka hampir karam.
" Maafkan Hanum mbok."Hanum menangis di pangkuan wanita tua di hadapannya.
"Sudah ... sudah, jangan menangis. Yang terpenting sekarang adalah masa depan kalian. Jangan menyesali masa lalu yang sudah terjadi, si mbok yakin, kalian memang di takdirkan untuk hidup bersama. Buktinya, kalian bisa bersatu dengan cara Tuhan yang luar biasa. Hidup berbahagialah bersama suamimu, lahirkan anak yang bisa menghangatkan suasana rumah ini." mengusap rambut Hanum dengan lembut, penuh kasih sayang.
" Doakan kami ya mbok." lirihnya, masih terisak.
" Si mbok selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, semoga segera diberi momongan. Rasanya si mbok sudah tidak sabar untuk menggendong Sultan kecil."
Hanum bangkit, mbok Darmi mengusap air matanya.
Banyak sekali rahasia yang kamu simpan dariku mas, kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku?
.
OK fiks, episode kali ini cuma dipenuhi dengan pidatonya si mbok yes 🤭
Semoga kalian suka dan tidak bosan baca ceritaku, jangan lupa dukungannya ya 😍😍 Terimakasih buat kalian yang sudah vote 😘😘😘
__ADS_1