Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Sesal


__ADS_3

Cinta duduk di bibir ranjang. Tak henti ia menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada yang berubah dari kamar ini, semua tatanannya masih sama.


Meraih pigura dari atas nakas, Cinta mengusap potret ibunya yang sedang tertawa lepas. Gambar itu Cinta ambil pada saat merayakan hari wisudanya, waktu itu Tania mengajaknya mengunjungi pantai.


Banyak kenangan indah yang antara anak dan ibu itu lalui. Meskipun hidup serba kekurangan, tapi mereka sangat bahagia.


"Maafkan Cinta Bu, bahkan di akhir hidup Ibu pun hanya kesedihan yang bisa aku berikan." Tak peduli sekuat apapun Cinta berusaha menahannya, tapi bulir bening itu luruh juga.


Sudah setengah jam yang lalu Cinta sampai di rumahnya. Usai menaruh kembali barang-barangnya di kamar, Cinta buru-buru masuk ke dalam kamar ibunya.


Tok ... Tok ... Tok.


Cinta kembali meletakkan pigura itu ke tempat semula, penasaran dengan tamu yang datang. Gadis itu mempercepat langkahnya mendengar daun pintu kembali diketuk. Memutar anak kunci, Cinta gegas membuka pintu.


Buru-buru Cinta hendak menutup kembali pintunya, tapi pria itu begitu kuat hingga tenaga Cinta tak sebanding dengannya.


Gadis itu mendengus kesal saat pria yang amat dia benci memasuki rumahnya.


"Saya mau bicara Cin."


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" Tolak Cinta.


"Cin ..."


"Apa? Apa yang mau Anda jelaskan bagi saya tidak penting. Segeralah angkat kaki dari rumah ini karena saya mau istirahat."


Cinta mengayunkan kakinya hendak menuju kamar, bermaksud meninggalkan lelaki itu begitu saja di ruang tamu akan tetapi tiba-tiba William memeluknya dari belakang.


"Lepaskan saya! Lepaskan saya Pak!" Cinta berusaha memberontak.


"Maafkan saya Cinta."


"Akan saya maafkan, tapi lepaskan dulu saya."


"Tolong beri kesempatan untuk saya bicara," ucap William memelas.

__ADS_1


"Kesempatan seperti apa yang Anda maksud Pak? Setelah ribuan kesempatan dari saya berikan selama ini terbuang percuma. Tolong jangan perlakukan saya seperti ini! Sudah cukup Pak!" Cinta meraung.


Tubuhnya merosot ke lantai, masih dalam pelukan William. Lelaki itu begitu trenyuh mendengar tangisan istrinya. Butakah ia sampai tak dapat melihat kepedihan Cinta selama ini? William sendiri tak tahu jawabannya.


"Izinkan saya menebus kesalahan saya selama ini Cinta, saya mohon."


"Pergilah! Pulanglah! Karena apapun yang akan Anda katakan, tidak akan pernah bisa merubah keputusan saya. Sampai bertemu di pengadilan."


Cinta berlari ke kamar dan mengunci rapat pintunya begitu ada kesempatan. Bersandar di pintu, tubuhnya kembali merosot. Meletakkan kepalanya di tempurung lututnya, tangisnya kembali pecah.


Bayangan William sedang mengutarakan cinta pada Raisa kembali terngiang, ya, pasalnya Cinta juga mendengarkan kejadian itu. Ia juga menyusul Tania dan Hanum yang waktu itu akan mengambil teh, atas perintah Sultan.


"Cinta aku mohon, kita masih harus bicara," ucap William.


"Pulanglah Pak, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Ini kan yang Anda mau? Saya sudah mengabulkannya, saya tidak akan menghalangi Anda untuk mendapatkan wanita yang Anda cintai. Seharusnya Anda senang karena Anda tidak perlu berpura-pura menjadi suami yang baik di depan saya lagi. Saya sudah membebaskan Anda, Anda juga harus membebaskan saya. Jangan mempersulit proses perceraian kita nanti."


Dengan bibir bergetar Cinta mengucapkannya. Perasaan, hati dan harga dirinya hancur, sakit tak terperi saat mendengar sang suami dengan mudahnya mengatakan cinta pada wanita lain. Sementara pada dirinya, pada istrinya sendiri yang sudah mengabdikan diri dengan sepenuh hati, tak pernah sekalipun William mengucapkan kata itu padanya.


Sakit.


Rasanya sangat menyakitkan.


Tiga jam lamanya William terus memohon, tapi Cinta sama sekali tak tersentuh. Ah, salahkan dirinya yang telah begitu dalam meninggalkan luka di hati gadis itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Perjuangannya untuk mendapatkan maaf dari Cinta masih panjang, William harus mempersiapkan diri.


Keesokan harinya.


Alarm yang berbunyi nyaring membuat William terbangun dari tidurnya. Entah jam berapa lelaki itu baru dapat memejamkan mata, seingatnya sampai jam tiga dini hari pun ia masih terjaga. William memegangi kepalanya yang berdenyut, lagi-lagi ia teringat Cinta.


Gadis itu akan memberinya secangkir kopi di pagi hari. Saat ia bangun, sudah ada setumpuk pakaian kerja dengan selembar handuk di atasnya. Air hangat dalam bak telah tersedia.


Malangnya gadis itu.


Ritual mandi William percepat. Tak ada lagi istri yang akan membuatkan simpul dasinya. William termenung untuk sesaat, membayangkan apa yang tengah dilakukan Cinta saat ini.


William membawa tas kerjanya menuju ruang makan. Membuka tudung saji, tak ada apapun yang terhidang di sana. Hal itu tentu jauh berbeda dengan saat ada Cinta. Nasi goreng, roti lapis atau roti tawar yang dioles selai, tiap pagi Cinta pandai mengatur menu sarapan agar dia tak bosan.

__ADS_1


Setitik cairan melesat dari sudut mata William. Ia tertawa satir membayangkan bagaimana kelakuannya dulu, hari pertama Cinta meninggalkannya, dia sudah seperti hilang arah.


William buru-buru melajukan mobilnya menuju rumah Cinta. Rencananya dia akan menjemput Cinta agar mereka bisa berangkat ke kantor bersama. Akan William pergunakan waktunya sebaik mungkin.


Usai sarapan dengan satu bungkus nasi uduk yang dibelinya di warung dekat rumah, Cinta merapikan tanaman hias yang ada di depan rumahnya. Ranting mawar yang sudah menjalar, dia pangkas menggunakan gunting agar tanamannya menjadi rapi.


Cinta menoleh saat mendengar deru mesin mobil, lalu detik berikutnya ia berlari dan gegas mengunci pintu. Cinta tak ingin melihat wajah lelaki yang telah melukainya begitu dalam itu.


"Cin! Tunggu Cinta!"


Percuma saja William mengejarnya, karena Cinta sudah lebih dulu mengunci pintu.


"Cinta, buka pintunya! Saya mau jemput kamu Cinta, kita ke kantor sama-sama, lalu pulang ke rumah. Ayolah Cinta!"


'Kenapa kamu datang? Kenapa kamu datang lagi di saat aku sedang mengobati lukaku? Kehadiranmu justru seperti menabur garam di atas lukaku karena itu bisa membuatku teringat caramu memperlakuan Raisa.'


Hampir satu jam William berdiri di sana, dia berteriak agar Cinta mau membukakan pintu. Sampai menyita perhatian orang-orang yang melintas di jalan depan rumah Cinta.


Namun, William tak peduli. Kali ini mungkin dia belum berhasil, tapi dia akan terus kembali sampai Cinta mau memaafkannya.


Dengan kekecewaan, William kembali melajukan kendaraan roda empatnya menuju kantor. Andai saja tidak ada rapat penting pagi ini, ingin rasanya dia terus berada di sana, membujuk Cinta.


Rapat telah usai. William kembali ke ruang kerjanya, melintasi meja kerja Cinta di depan ruangannya yang kosong.


Siksaan bagi William masih terus berlanjut. Segala sesuatu yang membuatnya teringat akan Cinta, menimbulkan sesak di rongga dada yang menghimpitnya. Sejuta sesal kian mendera. William tak bisa terus seperti ini.


"Permisi Pak!"


Setelah mengetuk pintu, Daniel langsung menghadap.


"Ada apa?"


"Saya diberi amanah dari Cinta untuk memberikan ini pada Bapak." Lelaki itu menyodorkan sebuah amplop.


Mendengar nama Cinta disebut, tanpa membuang waktu William pun langsung membuka isi dalam amplop tersebut. Dibukanya lipatan kertas itu dan seketika tubuhnya menegang.

__ADS_1


'Apa-apaan ini Cinta,' batinnya menjerit, tak terima.


Bersambung ....


__ADS_2