Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Barter


__ADS_3

Beberapa kali Sultan menghela nafas panjang, di pandanginya wajah sang istri yang terlihat begitu pias.


Dia kembali teringat saat seorang dokter memarahinya tadi, karena menganggap Sultan tidak becus menjaga istrinya. Baru saja Hanum pulang dari rumah sakit pagi ini, dan sekarang sudah kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi yang menghawatirkan.


Sultan memijat pelipisnya, kepalanya kembali berdenyut, dia merasa semakin pusing. Belum juga masalah rumah tangganya selesai, sudah di tambah lagi dengan kejadian sore tadi.


Hanum membuka matanya perlahan, dia mendesis, merasakan sakit. Kali ini bukan hanya kepalanya saja yang nyeri, hati dan seluruh tubuhnya juga merasakan hal yang sama, sakit.


" Mas ..." lirihnya.


" Kamu sudah sadar?" Sultan terkejut.


" Aku haus." suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar.


Untunglah Sultan melihat gerakan bibir istrinya, dia langsung menyambar sebotol air mineral yang tergeletak di atas nakas. Menyodorkan botol berisi sedotan itu pada Hanum.


" Sudah."


" Kamu masih lemah, sebaiknya kamu istirahat. Tidur lagi, saja." Sultan membantu istrinya berbaring kembali.


" Ada yang ingin aku tanyakan."


" Kamu bisa bertanya sepuasmu, tapi besok ya! sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu. Tubuhmu masih sangat lemah."


" Tidak mas, aku baik-baik saja."


Sultan paham betul kalau sebenarnya istrinya sedang berbohong, kejadian tadi membuatnya sangat syok, sampai-sampai gadis itu jatuh pingsan.


Sultan menghembuskan nafasnya panjang, bersiap memikirkan jawaban karena dia yakin, sesi tanya jawab akan segera di mulai. Istrinya sudah pasti akan mengintrogasi dirinya mengenai kejadian di taman.


" Apa benar yang kamu katakan tadi mas?" Hanum menatap suaminya penuh selidik. "Benar dia pelakunya? orang yang masuk diam-diam ke dalam apartemen, dulu?"


Sultan mengangguk.


" Siapa dia? apa yang menyebabkan dia melakukan tindak kejahatan padaku mas? aku ... aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi?"


" Dia suaminya Mau ..." Sultan berhenti sejenak. " Dia suami dari perempuan itu."


" Apa? Dion ... dia ... dia suami perempuan itu."


Lagi, Sultan hanya mengangguk.


" Tunggu!" Sultan teringat sesuatu. " Darimana kamu tahu namanya? apakah kalian berdua sudah saling kenal?"


" Mas ingat, kejadian waktu kamu marah sama aku gara-gara ada nomor asing mengirimkan pesan dengan emoticon hati ke nomor ponselku?"


" Jadi dia orang itu?" Sultan teringat ketika Hanum menceritakan tentang pria itu, pria yang sering memberikan donasi bantuan ke panti asuhan tempat tinggalnya dulu di Semarang. " Kebetulan macam apa ini? gila! dunia benar-benar sempit. Apa dari sekian banyak pendatang yang singgah di Jakarta kebanyakan orang-orang dari Semarang?" Sultan mendengus kesal. " Masih banyak pendatang baru yang datang ke sini, kenapa juga kita harus selalu bertemu dengan, hah ..." Sultan memekik, merasa sangat frustasi.


" Lalu kenapa dia ingin berbuat jahat padaku? aku merasa tidak pernah berbuat salah padanya. Dan lagi, kejadian itu juga sudah lama, sementara aku baru melihatnya sekitar sebulan ini. Itu berarti ... dia sudah lama merencanakan kejahatan ini?"


" Kemungkinan begitu."


" Yang tidak bisa aku mengerti, kenapa dia ..."


" Aku juga tidak tahu." Sultan menyela. " Apa penyebabnya? kenapa dia sampai berbuat nekad padamu."


" Hah ..." Hanum mendengus, kesal. " Lucu sekali."


" Sudah, jangan berpikir terlalu keras. Aku akan mencari tahu nanti. Alasan di balik dia melakukan semua ini."


" Bagaimana aku bisa tidur? bagaimana kalau nanti tiba-tiba dia muncul? menyakitiku atau yang lebih parah lagi, membunuhku?"


Melihat Hanum begitu ketakutan, mendramatisasi kejadian yang ada di pikirannya, membuat Sultan terkekeh.


" Kenapa tertawa? apa kamu senang kalau aku mati? kamu jadi bisa berdua sama perem ..."


" Sstt ..." belum sempat Hanum menyelesaikan kata-katanya karena Sultan menaruh jari telunjuknya di depan bibir istrinya. " Jangan bicara sembarangan!"


" Kenapa memangnya? bukankah kamu akan senang kalau aku mati? kamu jadi bisa ..."

__ADS_1


" Kalau hal buruk itu sampai terjadi, aku bersumpah untuk tidak akan pernah menikah lagi seumur hidupku."


" Pembohong."


" Kamu tidak percaya padaku?"


" Setelah semua yang telah terjadi, kamu masih berharap kalau aku bisa mempercayaimu?"


" Hah ..." Sultan tidak tahu harus menjawab apa.


.


Empat hari kemudian.


Sultan yang saat itu sedang berbincang dengan Adam dikejutkan oleh mbok Darmi yang mengatakan kalau ada tamu yang datang untuk bertemu dengannya.


" Siapa mbok?" tanyanya penasaran.


" Si mbok juga tidak tahu den, baru pertama kali ini si mbok lihat dia?"


" Suruh masuk saja mbok."


" Baik den."


Adam menatap temannya, seakan bertanya siapa yang datang, dan Sultan membalas dengan menggendikan bahunya.


Tak lama, mbok Darmi kembali masuk dengan seorang pria di belakangnya.


" Silahkan duduk." kata Sultan pada pria itu. "Mbok tolong buatkan minuman ya?"


" Baik den, permisi."


Sultan mengangguk, memastikan bayangan wanita tua itu telah lenyap dari pandangannya. Setelahnya, berganti menatap tamunya, sengit.


Adam yang melihat wajah Dion membiru dan bengkak pun terkejut.


Waduh ... rugi aku sampai tidak melihat mereka bertarung. Lagi-lagi pemenangnya Sultan, Dion lebam sampai parah begitu sedangkan Sultan hanya bibirnya saja yang pecah. Anak ini masih saja sama seperti dulu, akan jadi singa gila kalau menyangkut kepunyaannya di usik orang. Adam berdecak dalam hati, menggelengkan kepalanya keheranan.


" Aku perlu mengobati lukaku, dan lagi, aku malu keluar dengan wajah babak belur begini." jawab Dion dengan santainya.


" Cih, alasan! aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan! apa yang ingin kamu sampaikan." tegas Sultan.


Hening.


Cukup lama, sampai membuat Adam berkali-kali berdecak tak sabar. Pria itu telah menghabiskan minumannya karena merasa lelah menunggu Dion yang tak jua membuka mulutnya.


" Astaga, apa kalian akan terus berdiam diri begitu?" Adam menaikkan volume suaranya.


Untuk sesaat Dion memejamkan matanya, dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat, perlahan mulutnya mulai bergerak.


" Awalnya aku hanya ingin balas dendam padamu." lirih pria itu tertunduk.


" Apa maksudmu? kesalahan apa yang pernah aku perbuat sampai kamu berani melakukan itu pada istriku?"


" Mauryn, dia tidak pernah tulus mencintaiku, dia hanya mencintaimu."


" Apa? omong kosong." Sultan sama sekali tak mempercayai ucapan Dion.


" Dia terpaksa menerima lamaranku lantaran kecewa padamu, telah lama dia memendam rasa cinta yang sangat mendalam padamu."


" Berhenti bicara omong kosong." hardik Sultan.


" Aku bicara jujur, aku berani bersumpah demi apapun kalau aku bicara jujur saat ini. Terserah padamu mau percaya atau tidak, yang jelas, aku hanya ingin menjernihkan permasalahan ini saja."


Sultan dan Adam saling bertatapan, selama lebih dari sepuluh tahun mereka hidup bersama dan terlibat hubungan pertemanan, keduanya sama sekali tak menyangka kalau jauh dari dalam lubuk hati Mauryn, ternyata ada rasa cinta yang begitu membuncah dari gadis itu kepada Sultan.


" Dia menjalani hubungan ini dengan terpaksa, menjadikan aku sebagai pelarian, berharap dengan hidup bersamaku akan memupus rasa cintanya terhadapmu." Dion menelan ludahnya kelat, merasa kesulitan saat berbicara mengenai hal yang membuat dadanya terasa begitu sesak.


" Tidak mungkin." lirih Sultan, dia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


" Hampir setiap hari dia lewati dengan terus memikirkanmu, suatu hari, aku menemukan sebuah foto yang diambil saat kalian berdua di wisuda. Foto kalian sedang berpelukan, aku tak sengaja melihatnya ada di balik lipatan baju Mauryn saat itu." Dion memejamkan matanya sebelum kembali melanjutkan ceritanya. " Tulisan tangan yang ada di balik foto itu membuatku tersadar, kalau ternyata selama ini dia tidak pernah mencintaiku sama sekali. Hanya ada kamu yang selamanya akan ada di dalam hatinya, sampai kapanpun."


" Bagaimana mungkin? kenapa bisa seperti ini ceritanya?"


Sultan benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dion, pasalnya Mauryn bersikap biasa saja selama ini. Meskipun diakui Sultan kalau gadis itu sangat manja dan begitu menempel padanya, Sultan berpikiran kalau sikap gadis itu dilandasi karena rasa kehilangan orang tuanya. Sultan merasa bahwa Mauryn butuh seseorang untuk membagi perasaannya, dan saat itu, diantara empat sekawan itu memang dirinyalah yang paling dekat dengan Mauryn dibandingkan dengan Adam maupun Reno.


" Dia memutuskan untuk menerima lamaranku, setelah mengetahui kenyataan bahwa kamu mencintai gadis lain. Gadis yang sangat kamu cintai, gadis yang menjadi cinta pertamamu."


Deg.


Sultan dan Adam hanya saling berpandangan ketika mendengarkan hal yang mengejutkan dari mulut Dion.


" Aku marah saat itu, kecewa, aku merasa harga diriku di lukai dengan sikapnya yang dingin padaku, dia bahkan tidak pernah sekalipun berusaha untuk mencintaku. Setelah segala apa yang telah aku lakukan untuk membuatnya jatuh cinta padaku, sekeras apapun itu, aku tidak pernah berhasil. Dan puncaknya, dia menyerah, pergi meninggalkan aku tanpa pamit, tanpa memberitahuku. Sekarang katakan! dimana letak kesalahanku? kalian selama ini bersikap seolah aku ini bersalah pada kalian."


Butuh waktu sampai hampir lima jam untuk Dion mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya. Dion sengaja menceritakan semuanya, tak menyisakan rahasia satu pun di hatinya yang hanya akan membuat batinnya tersiksa.


" Mari kita buat kesepakatan." ucap Dion di akhir ceritanya.


" Hah?" kening Sultan berkerut.


" Awalnya aku hanya ingin membalas dendam padamu, aku pikir aku bisa melakukannya lewat istrimu. Tapi ternyata ... aku kalah."


Ucapannya masih belum bisa di mengerti baik oleh Sultan maupun Adam. Kedua pria itu menatap tajam pada satu titik, orang yang saat ini berada tepat di depan mereka.


" Ternyata aku jatuh cinta pada istrimu, aku tergila-gila padanya." Dion mengatakan hal yang membuat Sultan emosi. " Mari kita barter, kau ceraikan Hanum, dan aku akan menceraikan Mauryn, sebagai gantinya aku akan menikahi Hanum. Aku tahu kalian menikah karena sebuah kecelakaan, aku rasa dengan bertukar pasangan akan membuat kita hidup bahagia, tidak tersiksa seperti ini."


Byuuurr ...


Segelas air dingin berhasil Sultan tumpahan di wajah pria itu.


" Dasar tidak waras! kamu pikir aku mau mengikuti keinginan gilamu itu? dengarkan aku baik-baik. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikan istriku, kami tidak akan berpisah, hanya maut yang bisa memisahkan kami. Kau dengar itu!"


" Ayolah, jangan berpura-pura begitu di depanku, aku tahu hubungan kalian tidak layaknya pasangan menikah pada umumnya. Pernikahan kalian tidak sehat."


" Keparat! pergi dari hadapanku sekarang juga! pria tidak tahu diri, selama ini aku menahan diri untuk tidak membawa kasus ini ke pengadilan karena aku masih punya hati, aku tidak mau memisahkan seorang anak dengan ayahnya."


" Apapun yang kamu katakan, tidak akan bisa merubah keinginanku. Aku memutuskan untuk tetap maju, akan aku rebut Hanum dari sisimu dan membuatnya menjadi milikku."


Secepat kilat Sultan bangkit dari duduknya, dia lalu mencengkeram erat kerah baju Dion dengan kedua tangannya. Emosinya benar-benar sudah berada di puncaknya saat ini, matanya memerah menahan amarah. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing dengan setiap kata-kata Dion namun kali ini, habis sudah kesabarannya.


Dia mengangkat tangannya ke udara, bersiap memberikan pukulan pada Dion namun tiba-tiba tangannya di cekal.


" Minggir!" dia mendorong tubuh Adam hingga membuat Adam kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Adam tersungkur dan jatuh di atas sofa.


" Hentikan!"


Sultan yang sudah mengambil posisi untuk memukul Dion, kembali mengurungkan niatnya.


" Dia hanya sedang berusaha memancing emosimu saja Tan." Adam kembali mencekal lengan temannya. " Cepat pergi! sebelum kesabaranku habis, jangan membuatku melakukan kekerasan fisik padamu." Adam menatap Dion.


Seolah tak terjadi apa-apa, Dion bangkit dan berlalu pergi dari sana tanpa rasa berdosa sedikit pun.


Sultan meronta, dia berusaha menepis tangan Adam, hendak berlari menyusul Dion dan memberikan pelajaran lagi pada pria kurang ajar itu.


" Tenangkan dirimu!" bentak Adam. " Dia hanya berusaha memancing emosimu saja, kau tahu itu?"


" Bagaimana aku bisa tenang? dia terang-terangan menyatakan perang denganku, dia mau merebut Hanum dariku." Sultan tak kalah menaikkan volume suaranya.


"Apa pentingnya itu semua? Hanum akan tetap menjadi milikmu, selamanya, apapun yang Dion lakukan, tidak akan pernah bisa merubah kenyataan kalau selamanya Hanum hanya akan menjadi milikmu." Adam menegaskan kata-katanya.


" Bagaimana aku bisa yakin setelah semua kejadian buruk dan masalah yang terus berdatangan di dalam rumah tangga kami."


" Kamu lupa? ada campur tangan Tuhan di dalam hubungan kalian. Kamu lupa kejadian setahun yang lalu? saat kamu begitu terpukul mengetahui wanita yang kamu cintai menikah dengan pria lain? tapi aku harap kamu tidak lupa, betapa dengan cara Tuhan yang luar biasa agung menyatukan kamu dengan Hanum. Setelah semua yang kalian lewati selama ini? itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau kalian memang berjodoh. Kalian di takdirkan untuk hidup bersama, saling memiliki satu sama lain. Jangan sampai hanya karena hal bodoh, membuatmu meragukan kebaikan Tuhan yang selama ini selalu menyertaimu. Berdosa kamu!"


" Kamu tidak tahu rasanya, aku takut." Sultan terduduk di sofa. " Aku takut kehilangan Hanum, aku pernah sekali merasakan sakitnya kehilangan dan aku tidak mau hal itu sampai terulang kembali." Sultan menundukkan kepalanya.


" Dan lihat sekarang apa yang terjadi? kalian bisa bersatu sekarang. Tuhan hanya sedang menguji, sejauh mana perasaan cinta diantara kalian." Adam menepuk pundak temannya. " Ini hanya sebuah ujian, penguat rasa saling mencintai, mengasihi, rasa saling berbagi di antara kalian yang sudah mengucapkan sumpah suci ikatan pernikahan. Jadi berusahalah, berjuang lebih keras lagi, jangan sampai kalah, malu sama Tuhan yang selama ini sudah terlalu baik padamu."

__ADS_1


.


__ADS_2