
Terdengar derap langkah beberapa orang yang memasuki bangunan tua tersebut, ketiga pria itu segera menoleh begitu melihat siapa yang datang.
"Kenapa lama sekali? bagaimana jika sampai ada nyawa yang melayang di sini?" Adam terus meneriaki beberapa pria berseragam coklat yang datang beriringan.
"Apa yang telah terjadi?" tanya salah seorang anggota polisi.
"Apa matamu buta hah? tidakkah kau lihat teman kami terkapar bersimbah darah di sana?" Adam menunjuk tempat di mana Dion terbujur di pangkuan Raka. "Jangan diam saja, bawa perempuan jahat itu dan segera bantu kami membawa teman kami ke rumah sakit!" Adam seolah tak ada takutnya menghadapi polisi, bisa-bisanya dia terus meneriaki dan memaki mereka.
"Jadi pelaku kejahatannya dia?" polisi bertubuh kurus tinggi itu bertanya sambil menunjuk Hanum.
"Telingamu tuli? kan sudah ku bilang dari tadi! cepat bantu kami membawa korban ke rumah sakit, atau kau mau menunggu dia mati dulu!"
Setelah tadi Adam sempat mengatai para polisi itu buta, sekarang dia menambahkan kata tuli, nanti kata apalagi yang akan dia gunakan untuk memaki mereka jika mereka terus menguji kesabarannya.
Raka yang masih setia memangku kepala Dion di atas pahanya sampai menggelengkan kepalanya berulang kali. Di lihatnya pria kebapakan yang selalu saja seperti kebakaran jenggot jika mengetahui temannya dalam bahaya. Jiwa garang pria itu muncul jika menyangkut nyawa temannya, dan tindakannya kali ini makin membuat Raka mengagumi pria itu. Bagiamana dia pasang badan demi melindungi teman yang memang selalu di anggap adik oleh nya. Kali ini Dion, Raka paham betul siapa Dion dan apa arti pria itu namun dengan penuh percaya diri Adam mengerahkan seluruh kekuatan dalam dirinya demi menyelamatkan Dion yang tengah sekarat.
Selang beberapa menit kemudian, wajah Adam kembali bersinar,ada secercah harapan dalam dirinya begitu melihat bala bantuan yang datang.
"Cepat tolong bantu dia, periksa orang itu! dia masih hidup kan?" kata Adam bertubi-tubi pada petugas paramedis yang berlari mendekat ke arahnya.
"Dia mengeluarkan banyak darah." seorang perawat mulai memeriksa keadaan Dion. "Cepat bantu angkat tubuhnya ke atas brankar! kita harus berburu dengan waktu. Keadaannya sangat lemah, nyawanya bisa tidak tertolong kalau sampai kita terlambat ke rumah sakit."
Keadaan di ruangan itu begitu kacau, dua orang anggota polisi sudah berhasil melumpuhkan Mauryn dengan memasang borgol di tangan perempuan itu.
Petugas kesehatan pun gerak cepat memberikan pertolongan pertama pada Dion juga Hanum yang masih belum sadarkan diri. Adam sedikit bernafas lega begitu melihat dua buah brankar yang berisi pasien sudah pergi di bawa ambulans.
Tinggallah Adam dan Raka yang masih berdiri di sana, melihat Mauryn di giring menuju kantor polisi.
"Tunggu Pak!" Adam meminta waktu untuk berbicara sebentar dengan Mauryn.
__ADS_1
"Orang seperti dirimu sungguh tidak pantas di sebut sebagai manusia, terlebih sebagai wanita. Kau jauh terlihat seperti iblis ketimbang seperti seorang wanita, kelakuanmu sudah mencoreng martabat wanita yang begitu mulia. Kau sangat menjijikkan, aku tidak sudi melihat wajah pendosa seperti dirimu! bersiaplah untuk membusuk di penjara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahat yang sudah kau lakukan pada Hanum juga Dion." Adam menghirup nafas panjang sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Aku pastikan tidak ada satu pun pengacara yang mau membantu kasusmu. Bawa iblis ini pergi dari sini Pak! aku takut terkena kutukan jika aku terlalu lama berada di dekatnya."
Raka merangkul Adam, berusaha memberikan kekuatan pada temannya, dia tahu betul perasaan Adam saat ini pasti campur aduk tak karuan, sama seperti dirinya.
.
Adam dan Raka, kedua pria itu terus membisu sepanjang perjalanan. Lain halnya dengan ketika mereka datang ke tempat terkutuk itu tadi, kali ini Adam terlihat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, kecepatan mobil normal seperti biasa yang tak lagi membuat Raka ketakutan. Entahlah, setelah banyaknya drama yang terjadi sepanjang hari ini yang menguras habis tenaganya, membuat Raka mulai di serang rasa kantuk. Setidaknya sudah dua hari dua malam mereka tidak memejamkan mata barang semenit pun.
"Jangan terlalu dipikirkan, Dion laki-laki yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja," kata Raka, dia tahu betul apa yang sedang ada di pikiran Adam saat ini dan dia berusaha untuk menghibur nya.
"Aku hanya sedang menyesal, kenapa semuanya terbongkar setelah kejadiannya sudah memburuk seperti ini. Aku sempat berpikiran buruk mengenai dia, hah ... kasihan sekali nasib anak itu. Padahal dia sudah banyak berkorban untuk Mauryn, dia juga tidak mempermasalahkan status sosial dan juga usia Mauryn yang memang jauh di atasnya. Untuk ke sekian kalinya, kita memang tidak bisa menilai kedewasaan seseorang dari usianya." ada sebuah senyum getir yang terukir di bibir Adam.
"Tuhan tidak tidur, Dia akan selalu memberikan balasan dari setiap perbuatan hambaNya, entah itu perbuatan buruk atau perbuatan baik, semuanya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Pun sama seperti Dion, aku yakin di balik semua kejadian buruk yang menimpanya, dia pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang membuatnya terus tertawa di akhir cerita. Ini hanya masalah waktu, percayalah." Raka menyodorkan sebotol air pada pria di sampingnya.
"Terimakasih," lirih Adam menerima botol yang tutupnya telah terbuka itu dan segera membasahi kerongkongannya.
Raka kembali menutup botol tersebut dan menaruhnya ke tempat semula, mereka berdua harus saling menguatkan satu sama lain. Itu terjadi sepanjang mereka hidup bersama hingga menimbulkan kedekatan emosional seperti seorang adik kakak.
"Kau pikir di sini hanya kau saja yang punya keluarga apa? aku juga, aku pun sama sepertimu. Kira-kira mereka sedang apa ya? rasanya aku sudah tak sabar ingin segera pulang."
"Sepertinya kau harus mengubur anganmu untuk segera pulang dan tidur di kasur yang nyaman dengan istrimu, kita masih belum bisa pulang malam ini. Masih ada satu hal lagi yang perlu kita urus, ke rumah sakit. Kabari saja istrimu agar dia tidak mengkhawatirkanmu. Ponselmu masih terisi baterai kan? aku juga harus menelpon Ajeng."
"Ya, aku akan telepon Disha dulu, setelah ini kamu bisa memakainya untuk menelpon istrimu."
Adam mengangguk, dia kembali fokus menatap jalanan di depannya. Perjalanan menuju rumah sakit masih menyisakan waktu yang cukup lama. Lagi-lagi dia meringis manakala mengingat kembali kejadian demi kejadian yang terjadi di bangunan tua tempat Hanum di sekap. Semuanya berjalan dengan begitu cepat seperti sebuah mimpi, dia menepak dahinya jika teringat dirinya yang seperti orang gila memaki para anggota polisi. Tingkah tadi benar-benar berlebihan, tapi siapa yang peduli, yang Adam pikirkan saat itu hanyalah keselamatan Dion.
"Kau melewatkan satu hal." kalimat pertama yang lolos dari mulut Raka begitu pria itu selesai menelpon istrinya.
"Apa?" tanya Adam, kedua alisnya bertaut.
__ADS_1
"Reno."
"Haah ...," Adam mendesah panjang. "Jangan membahas manusia terkutuk itu lagi, aku benar-benar tidak habis pikir dengannya. Bagaimana bisa dia berbuat hal menjijikkan dengan Mauryn, padahal setauku hubungan persahabatan yang terjalin diantara kami sangatlah suci dan murni tanpa adanya embel-embel apapun. Mereka berdua telah menodai sebuah hubungan persahabatan yang terjadi selama hampir sepanjang hidup kami. Aku dan Sultan sudah seperti orang yang bodoh saja sampai tidak mengetahui kebusukan mereka. Ish, membayangkannya saja membuatku ingin muntah, ingin rasanya aku menghabisinya tadi."
"Bagiamana dengan istrinya? apa perlu kita ke sana untuk mengabarkan bahwa suaminya telah di tangkap polisi?"tanya Raka sedikit ragu.
"Kita urus masalah itu besok saja. Kepalaku rasanya hampir meledak gara-gara kejadian tadi."
"Kau baru merasakannya sekarang? tadi sewaktu kau seperti seorang dewa yang berani memaki-maki polisi polisi itu, kau terlihat sehat-sehat saja. Kau sungguh hebat, keren." Raka mengacungkan dua buah jempolnya pada pria yang masih sibuk menyetir.
"Itu karena perasaanku sangat kacau tadi, aku sampai tidak bisa berpikir dengan jernih." Adam yang terlihat frustasi memijat pelipisnya.
"Untung saja waktu itu Mauryn menjatuhkan ponselnya di ruangan tempat Hanum di sekap dan untungnya Hanum segera menghubungi kita. Coba bayangkan jika dia tidak menelepon, terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi selanjutnya." Raka bergidik ngeri membayangkan kejadian buruk yang bisa saja menimpa istri temannya itu.
"Sudahlah jangan membahas soal itu lagi."
"Memang kau mau kita bahas soal apa? pekerjaan? beda jalur Bos!" Raka mencebik.
"Coba cari di internet, apa ada tempat spa atau salon? ya ... tempat sejenisnya yang bisa di kunjungi oleh pria seperti kita."
"Salon khusus pria maksudmu?" tanya Raka memastikan kalau tebakannya benar.
"Iya, setelah dua hari dua malam kita berada di medan perang, pergi untuk memanjakan diri di salon aku rasa akan menjadi hal yang paling kita butuhkan besok," ujar Adam.
"Ya baiklah, akan aku cari salon khusus pria nanti."
"Cari salon terbaik yang memberikan pelayanan berkelas. Uang tidak masalah, berapa pun dana yang dibutuhkan aku akan bayar jika setelah pulang dari sana membuat kita segar dan berseri seri seperti wajah istri kita jika menghabiskan waktu berjam-jam di salon." Adam tersenyum ceria, itulah hal yang bisa dia lihat jika Ajeng pulang setelah melakukan perawatan di salon. Ya, mengingat hal itu membuatnya kembali merindukan istrinya.
"OK!"
__ADS_1
Mobil mereka masih berjalan menyusuri gelapnya malam jalanan Ibukota, berkali-kali Adam menguap, menandakan bahwa dirinya pun mulai terserang kantuk. Tapi perjalanan masih panjang, dia harus memastikan keadaan Dion dan Hanum sebelum dia berniat untuk mengistirahatkan raganya yang lelah.
.