Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Aku kalah


__ADS_3

" Apa reaksinya begitu melihat kalian tertangkap basah sedang berduaan dalam satu ruangan?" Adam tersenyum sinis, ingin rasanya dia mentertawakan Sultan namun di urungkannya.


Ajeng menelpon suaminya, memberitahukan kejadian yang menimpa sepasang suami istri yang sedang berdebat di dalam pantry butik pagi tadi.


Adam memutuskan untuk segera memboyong istrinya pulang, kejadian tak terduga itu sedikit banyak telah mengusiknya. Adam sampai tak bisa bisa bekerja dengan baik karena fokusnya terpecahkan, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Padahal baru satu jam yang lalu dia pulang untuk mengantar sang istri, tadinya dia berpikir, menyibukkan diri dengan bekerja adalah hal terbaik yang bisa di lakukan. Kenyataannya malah, bukannya bekerja, dia malah terus memikirkan masalah rumah tangga temannya yang selalu saja dilanda masalah yang cukup pelik.


Dia merasa semakin risau, tak tahan berlama-lama untuk berdiam diri di rumah, jadilah tengah malam begini dia menelpon Sultan, mengajak pria itu bertemu.


" Apa yang harus aku lakukan? demi Tuhan Dam, aku sama sekali tidak tahu menahu kalau Mauryn akan datang. Aku juga tidak menyangka kalau Hanum ... ah ..." Sultan yang terlihat begitu frustasi itu pun menjambak rambutnya kasar.


" Lantas, kamu pikir dengan kamu menjelaskan panjang lebar sama dia, dia akan percaya sama kamu? setelah apa yang sudah kamu lakukan?" Adam meletakkan gelasnya kasar. " Kamu pikir dia bodoh apa? mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya saja sudah membuatnya syok, apalagi dengan embel-embel ketika dia di suguhkan pemandangan yang membuatnya kembali mengingatkannya akan masa lalunya? kamu pernah membuatnya sakit hati dulu, aku harap kamu tidak lupa akan hal itu?"


" Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? aku harus bagaimana?"


" Sorry, kali ini aku angkat tangan." ucap Adam dengan kedua tangan yang terangkat. "Bukannya aku tidak mau membantumu, aku mencoba berpikir realistis saat ini. Kalau aku jadi Hanum, sudah pasti aku layangkan surat gugatan cerai padamu."


" Dam ..." pekik Sultan, matanya mendelik karena mereka kesal dengan ucapan temannya.


" Aku sudah jengah, aku sangat bosan menghadapi tingkahmu yang ke kanak-kanakan. Lebih dari itu, aku sudah sering mengingatkanmu untuk menjaga jarak dengan Mauryn."


" Tapi aku tidak tahu kalau dia akan datang ke kantor, kami sudah lama tidak bertemu dan aku juga terkejut saat mengetahui dia datang menemuiku."


" Bicara begitu sama Hanum sana ! aku tidak butuh penjelasan darimu."


" Bagaimana aku bisa bicara kalau dia tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan semuanya?"


" Kesempatan selalu ada, kamunya saja yang kelewat bodoh." Adam menyandarkan punggungnya di bahu kursi. " Sudah aku bilang berkali kali kan, cepat katakan semuanya pada istrimu, ceritakan padanya begitu dia mengutarakan isi hatinya. Ketika dia menyerahkan diri sepenuhnya padamu, tidak akan begini jadinya kalau kamu sudah berterus terang padanya saat itu. Kau terlalu keras kepala, lambat, bertele-tele, lihat sekarang ! apa akibatnya karena kamu terlalu lama mengulur waktu. Menunda hal yang seharusnya bisa menjadi kebaikan atas hubungan kalian, hah ..." Adam meraup wajahnya kasar.


Adam terus menatap Sultan yang terlihat begitu menyedihkan, pria itu sampai tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab serangan darinya.


" Jika Hanum melayangkan surat gugatan perceraian padamu."


" Dam ..." teriaknya, menghentikan ucapan Adam yang tajam bak belati, menikam tepat di jantungnya. " Kamu tahu betul apa saja yang telah aku lewati demi mendapatkannya, betapa kerasnya perjuanganku, aku bahkan hampir gila saat mengetahui dia dulu menikah dengan ..."


" Itu masa lalu, dan sekarang dia sudah menjadi milikmu, kenapa disaat semua impianmu untuk hidup bersamanya sudah terwujud, kamu malah menyia-nyiakannya? Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pernah memperdulikan wanita lain, siapapun itu termasuk teman dekatku, atau saudara perempuanku, aku akan tetap mengutamakan istriku. Aku akan berjuang mati-matian menjaganya karena begitu selesai mengucap janji suci pernikahan, hanya dia satu-satunya wanita yang patut dijadikan prioritas utama dalam hidupmu, setelah ibumu." Adam bangkit dan meraih jaketnya yang terlampir di bahu kursi. " Pikirkan bagaimana hancurnya Hanum, kamu pikir dia akan mudah memaafkanmu setelah apa yang kamu lakukan? setelah kamu melakukan kesalahan yang sama? dia juga wanita biasa, yang punya amarah, punya batas kesabaran. Aku bahkan akan melakukan hal yang lebih gila lagi dari sekedar mendiamkanmu, kalau aku jadi dia. Sekarang pikirkanlah ! kesalahan yang kamu lakukan sangat fatal, ingatlah ! kedepannya kamu akan menghabiskan sisa hidupmu dengan istrimu, bukan dengan temanmu." Adam menepuk bahu Sultan. "Kalau dengan mengesampingkan belas kasihmu pada Mauryn bisa membuatmu bertahan hidup bahagia dengan wanita pilihanmu, kenapa tidak kau lakukan? kau harus lebih mengutamakan istrimu, dia segala-galanya dibandingkan dengan Mauryn yang hanya temanmu kan?" sindir Adam. " Camkan itu, aku pergi dulu."


Sultan mendesah panjang, dadanya terasa begitu sakit, seperti ada yang menikam jantungnya.


Pedih.


Amat sangat pedih.


.


Dua hari kemudian.


Pagi-pagi sekali sebelum Sultan berangkat ke kantor, dia menemui mbok Darmi di kamarnya.


" Mbok." Sultan mengetuk pintu kamar wanita tua itu.


Tak menunggu lama, pintu pun terbuka seketika.


" Den bagus, ada apa?"


" Minta tolong berikan ini sama Hanum ya mbok." Sultan mengulurkan box besar berwarna ungu dengan tali pita di atasnya. "Dia masih marah dan belum mau bicara sama saya mbok, pastikan nanti dia membukanya. Saya akan mengajaknya makan malam romantis nanti malam. Kami harus bicara agar permasalahannya tidak berlarut-larut." Sultan meremas jemari tangan kiri mbok Darmi yang tengah kesusahan memegang box tersebut. "Tolong bantu saja mbok, bujuk dia untuk mau datang ya mbok."


" Iya den."


" Minta pak Dadang untuk mengantarnya ke restoran ya mbok." Sultan menyodorkan secarik kertas. " Sudah saya catat alamatnya disitu mbok."


" Baik den."


" Saya pamit dulu mbok."


Wanita paruh baya itu pun mengangguk, di pandanginya punggung anak asuhnya yang sekarang telah tumbuh dewasa, hingga bayangannya lenyap di balik tembok yang memisahkan antara kamarnya dan ruang tengah.


Mbok Darmi pun bersiap untuk membangunkan Hanum, sejak kejadian itu, gadis itu lebih senang mengurung diri di kamar.

__ADS_1


Dia sampai mengambil cuti sakit karena memang tubuhnya belum benar-benar sehat meskipun dokter telah memeriksa dan meresepkan obat pereda nyeri untuknya.


" Apa ini mbok?" tanya Hanum saat melihat mbok Darmi masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sebuah box besar.


" Hadiah dari den Sultan buat non Hanum." jawabnya sambil meletakkan box itu di atas ranjang.


Hanum memutar bola matanya malas, kesal rasanya mendengar hal itu. Dia sama sekali tidak berminat untuk mengetahui apa isi dalam box itu, sekedar untuk membukanya pun, dia enggan.


" Non, den Sultan bilang mau mengajak non Hanum makan malam, pukul delapan malam nanti."


" Tidak mau." jawabnya cepat.


" Jangan begitu non." mbok Darmi mengambil posisi dengan duduk di samping Hanum. "Masalah kalau dibiarkan berlarut larut itu tidak baik, sebaiknya cepat di selesaikan."


" Tapi mbok !"


" Si mbok tahu, tahu betul perasaan non Hanum bagaimana. Tapi setidaknya beri kesempatan pada den Sultan untuk menjelaskan semuanya. Meskipun non Hanum sama sekali tidak ingin mendengarkannya, berilah kesempatan sekali saja pada den Sultan non." mbok Darmi mengelus punggung Hanum lembut.


Merasakan perhatian dari mbok Darmi yang begitu tulus memberikan kasih sayang padanya, membuat Hanum merasa tidak tega. Dia merasa kejam kalau membiarkan wanita itu terus memohon padanya.


" Hanum masih kecewa sama mas Sultan mbok."


" Maka dari itu, datanglah nanti malam, katakan semua yang non Hanum rasakan pada den Sultan, kalau perlu marahi dia, salahkan dia untuk semuanya. Kalau non Hanum tidak datang, non Hanum sendiri yang rugi."


" Maksud mbok?" Hanum mengernyitkan keningnya, bingung.


" Utarakan kekesalan non Hanum pada den Sultan, katakan semua yang ingin non Hanum ceritakan. Luapkan semuanya, rugi kalau non Hanum terus menerus diam begitu, den Sultan bisa keenakkan nantinya. Jangan mau diperlakukan begitu non, maki den Sultan kalau perlu. Kalau dia saja bisa bikin non Hanum sakit hati, kenapa non Hanum tidak bisa berbuat seperti itu? balas den Sultan, si mbok dukung." ucapnya begitu bersemangat.


Hanum masih merenungi setiap perkataan mbok Darmi, untuk sesaat dia merasa bimbang.


Mbok Darmi terus menatap mata Hanum, mencoba mencari arti dari tatapan mata Hanum saat ini. Perlahan Hanum menoleh ke arahnya, dan dia bersorak gembira dalam hatinya saat melihat Hanum mengangguk pelan.


Yes, berhasil. Ternyata mempan hasutanku. Maafkan si mbok ya cah ayu, ini semua demi kebaikan kalian.


Mbok Hanum tersenyum riang, membuat Hanum menatapnya curiga.


.


Hanum mematut diri di depan cermin, melihat riasan wajahnya yang sempat dioleskan tipis olehnya tadi. Menyentuh rambutnya yang di sanggul rapi, beralih menatap gaun berwarna silver dengan perpaduan sedikit warna maroon di bagian dada dan juga bagian bawah gaun itu. Gaun yang terlihat begitu indah dan menurut Hanum, sedikit berlebihan. Pasalnya gaun yang berkilauan dengan hiasan Swarovski di bagian depan itu sangat berkilau.


Tadinya dia menolak memakai gaun itu, tapi setelah mbok Darmi sedikit membujuknya, dia mau juga memakainya. Mbok Darmi berdalih kalau Hanum akan makan malam romantis di restoran mewah dan terkenal, jadi wajar kalau Sultan memberikan gaun itu secara khusus malam ini. Mbok Darmi juga berpesan pada Hanum agar dia merias diri dengan sebaik mungkin.


Akhirnya setelah satu jam berkutat di depan meja rias, Hanum pun memutuskan untuk segera pergi ke tempat yang telah di reservasi oleh suaminya.


Sultan sengaja menyuruh pak Dadang untuk mengantar istrinya karena jadwalnya sangat padat hari ini, membuatnya tidak bisa pulang terlebih dahulu, untuk menyingkat waktu. Dia pun mandi di kamar mandi pribadi yang ada di dalam kamar tidur ruang kerjanya. Memakai kemeja dan jas dengan warna senada dengan gaun yang dipakai istrinya.


Hanum sampai lebih dulu di sebuah restoran mewah berlantai lima, dengan langkah kaku dia menyeret kakinya, mengikuti seorang pelayan yang entah sejak kapan sudah menunggu Hanum tepat di depan pintu. Pria berdasi kupu-kupu itu mengarahkan Hanum pada sebuah Private dining room.


Sialan.


Lagi-lagi dia mengumpati kebodohannya selama ini, ketika dirinya kembali diingatkan akan hal-hal mewah yang berhubungan dengan suaminya.


Kakinya sedikit tertatih mengikuti langkah pria di depannya, dia kesulitan berjalan karena heels setinggi sembilan centi yang di pakainya.


Begitu sampai, dia terpukau dengan pemandangan yang tersaji di depannya, ini pertama kali dalam seumur hidupnya singgah ke restoran yang sangat mewah.


Tak ingin terlihat kampungan, dia segera tersadar dari kekagumannya, gegas dia duduk di bangku. Bertingkah layaknya wanita anggun nan berkelas yang terbiasa datang ke sana.


Selang lima menit kemudian, sosok pria berpawakan tinggi datang, wajahnya sangat tampan. Tampilannya terlihat sangat sempurna dengan jas berwarna silver yang membalut tubuh kekarnya.


" Maaf, jalanan macet jadi aku terlambat datang." ucapnya begitu sampai disana dan duduk tepat di depan Hanum.


Hanya anggukan kepala dari Hanum sebagai jawabannya.


" Hanum." panggilnya lembut, sementara yang di panggil hanya diam dengan terus menatap manik mata suaminya. " Aku akui kalau aku salah, tidak seharusnya aku menyembunyikan hal sekecil apapun darimu. Aku minta maaf, sungguh aku tulus meminta maaf padamu, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membohongimu. Sebenarnya ... aku sudah berencana untuk menceritakan semuanya padamu, dengan makan malam seperti ini, aku sudah merencanakan makan malam romantis sebagai hadiah anniversary pernikahan kita yang sempat tertunda karena kepindahan kita ke rumah baru kemarin."


Sultan menatap bola mata bening istrinya, wajahnya begitu sendu, gadis itu berbalik menatap Sultan dengan tatapan penuh arti yang Sultan tidak bisa memahaminya.

__ADS_1


" Soal Ma ... " Sultan menggantung ucapannya, dia ingat kalau Hanum anti, mendengar nama itu keluar dari mulutnya. "Aku tidak tahu kalau dia akan datang ke kantor. Aku berani bersumpah demi apapun Num, aku sudah lama tidak bertemu dengannya dan ... dia datang dengan tiba-tiba ke kantorku."


Hanum mengalihkan pandangannya pada steak yang ada di depannya, tangannya tergerak untuk memotong daging dengan balutan bumbu dan aroma yang sangat menggoda. Bukan karena lapar, dia sedang berusaha mengendalikan diri, rasanya dia ingin meluapkan kekesalannya jika mengingat kejadian itu lagi. Dan memotong daging steak di piringnya, dia jadikan sebagai ajang pelampiasan.


" Aku hanya kasihan padanya, tidak ada yang menanggung biaya hidupnya saat ini, dan lagi ... sebentar lagi juga, dia akan melahirkan bayinya. Aku sebagai teman ..." Sultan belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat dia mendengar suara getaran dari ponselnya.


Dia melirik layar ponselnya yang berkedip itu, bimbang untuk mengangkatnya atau tidak, akhirnya dia putuskan untuk mengabaikan panggilan masuk itu begitu melihat ekspresi wajah Hanum yang terlihat sangat kesal.


Sultan baru akan membuka mulutnya namun lagi-lagi panggilan masuk dari nomor tak dikenalnya itu membuat Sultan kembali menelan kata-katanya.


Dia bahkan terdiam sejenak namun masih dengan menatap layar ponsel, dan nomor yang sama masih tetap menghubunginya berulang kali.


Merasa marah karena nomor tersebut terus menghubunginya, Sultan pun meraih ponselnya, dia lalu menekan ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk tersebut.


Meletakkan benda pipih canggih itu di daun telinganya, laku bergerak mundur, sedikit menjauh dari Hanum.


Cukup lama pria itu berdiri di sana dan berbincang dengan si penelepon, Hanum hanya bisa menatapnya, melihat suaminya yang terlihat berubah mimik wajahnya begitu menerima sebuah panggilan masuk. Sultan yang kebingungan pun memijit pangkal hidungnya, rasa pening tiba-tiba menggerogoti kepalanya.


Hanum yang sudah hilang kesabarannya memilih bangun dari duduknya, dia lalu meraih tas tangan yang di letakkannya tadi di bangku sebelahnya. Dengan langkah gontai berjalan keluar, meninggalkan tempat itu, meninggalkan makanan yang belum sempat masuk satupun ke dalam perutnya.


Dia begitu terkejut saat menguping pembicaraan Sultan, dia bergerak mendekati suaminya begitu pria itu membalikkan badannya ke arah lain. Dan lamat-lamat dia mendengar suara seseorang menangis yang diyakininya berasal dari si penelepon.


Hancur sudah semuanya, kalah ... aku telah kalah.


Hanum tak bisa menghentikan air mata yang memaksa turun dari sudut matanya, rasanya dia sudah tidak sanggup lagi. Dia tidak sanggup untuk terus diperlakukan seperti ini oleh suaminya.


Dia pikir dengan kedatangannya memenuhi undangan makan malam dari suaminya, adalah awal yang baik untuk hubungan mereka.


Tapi kenyataannya ...


Dia harus kembali menelan pil pahit kekecewaan.


Dia menyetop taksi, memerintahkan pada sang supir untuk membawanya pulang, hanya terdengar suara isak tangisnya di dalam mobil sepanjang perjalanan.


Dia sudah mengambil keputusan kali ini.


Mbok Darmi yang begitu terkejut saat melihat Hanum pulang sambil menangis, wanita tua itu terus mengikuti Hanum sampai di kamarnya.


Hanum bergerak membabi buta,meraih sebuah koper, lalu mulai memasukkan tumpukan baju miliknya di sana. Dia sama sekali tidak menghiraukan mbok Darmi yang mengajukan berbagai pertanyaan padanya, wanita tua itu pun sudah berlinangan air mata karena panik. Belum pernah dilihatnya Hanum semarah itu, sampai memasukkan separuh isi lemarinya dan memindahkan ke dalam koper berukuran besar tersebut.


Selesai.


Hanum berjalan keluar kamar dengan koper yang terseret di tangannya, belum sampai dia keluar dari kamar tersebut, Sultan sudah lebih dulu menghadangnya.


" Biarkan kami bicara empat mata mbok." pintanya.


Wanita tua itu pun pergi tanpa berucap sepatah kata, Hanum hendak menyusulnya namun Sultan bergerak lebih cepat dengan mengunci pintu kamarnya.


" Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanyanya.


" Apa maumu sebenarnya mas !" bentak Hanum, tangisnya kembali pecah.


" Apa yang harus aku lakukan? katakan !"


" Kenapa kamu tidak pergi saja dan hidup bersama perempuan itu kalau itu bisa membuatmu bahagia." tubuh Hanum lunglai, dia jatuh di lantai. " Apa salahku mas? kenapa kamu begitu tega memperlakukan aku seperti ini? apa selama ini ada yang kurang dalam diriku? apa aku tidak bisa melayanimu dengan baik sampai kamu mencari kesenangan di luar sana?"


" Ya Tuhan." Sultan menggeram. " Sampai kapan akan terus salah paham begini?" tubuhnya pun merosot, dia terduduk di lantai dan bersandar pada daun pintu. " Katakan, apa yang harus aku lakukan? aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengatakannya padamu."


Di tatapnya Hanum, bahunya berguncang hebat karena tangis yang tak kunjung reda, dia melihat Hanum mulai bergerak menaikkan kepalanya.


Dan dengan lantangnya, Hanum mengucapkan kalimat yang membuatnya hancur lebur seketika. Kalimat yang sangat di takutkan olehnya selama ini, akhirnya keluar juga dari mulut istrinya.


" Ceraikan aku."


.


Masih kuat bacanya? masih mau lanjut?

__ADS_1


__ADS_2